Intermezzo

December 19, 2008 at 11:23 am (Sastra dan Cinta)

Dua tahun ternyata belum cukup,
Dua tahun ternyata takkunjung kuncup
Dua tahun,
tahun ini dan tahun itu
tahun sebelumnya dan sebelumnya itu
Dua tahun,
antara aku dan masa lalu
Dua tahun, maya dan realita
Sudah lupa aku, apa itu dunia
apa pula cinta ?
Aku hanya tahu, nama itu takpernah layu,
pun juga takkuncup
ditelan desah yang makin sayup

~Bagimu dua tahun itu hanya masa lalu, bagiku dua tahun itu tangis sendu~
~Untukmu; abadku, tahunku, bulanku, mingguku, hariku, dan waktuku~

Permalink 5 Comments

Wanita = Penipu Ulung (I)

October 29, 2008 at 11:58 am (Sastra dan Cinta)

Prolog


Mengapa Wanita Sebagai Objek Seksualitas ?

(Sebenarnya, sang adam dijadikan budak seksual oleh hawa, sayangnya hawa adalah penipu ulung )
Hawa berteriak, “Aku diperkosa”, tapi dalam hati berkata, “Aku beruntung”;
sama halnya ketika hawa di taman eden
saat itulah surat setan untuk adam diteken
Adam selalu dipersalahkan untuk seksualitas dan pornografi,
Mengapa tidak hawa yang mengumbar tubuh indah dan wangi ?
Manusia adalah hewan yang malu mengakui jika ia hewan
Inilah yang menjadikan hawa bangga akan keindahan tubuh dan kemolekan

Mengapa Iklan Fashion Memenuhi Majalah Wanita ?

Hawa penipu ! Ia bersembunyi dalam keindahan lain…
Hawa yang itu palsu ! Diam dalam balutan kain
Malu dia mungkin.
Bagaimana tidak ? Hanya luar yang ia punya !
Karena apa ?
Dia malu mengakui kelemahan dalamnya !
Padahal, itulah rantai pengikat Adam
Bukankah Adam satu-satunya harapan hawa untuk hidup ?
Apa daya hawa jika tanpa Adam ?
Bukan takdir, hanya kejujuran hawa yang redup !
Hawa merasa tidak berarti tanpa aksesoris emas, berlian, atau permata
Katanya, itu membuat mereka menawan, indah rupawan.
Tolol seperti kontol ! Justru mereka malu
Bajingan setan ! Lupa mereka, Aku menciptakan
Serupa dan segambar dengan Aku
Kalau hawa malu dengan semua itu,
Hawa malu dengan Aku ?
Jembut vagina ! Aku menciptakannya !
Malu dengan ciptaanKu, berarti malu dengan sang pencipta !
Makin mereka tutup diri, makin jauh keberadaanKu yang abadi !



Read the rest of this entry »

Permalink 1 Comment

Serpihan-Serpihan Masa Lalu

July 30, 2008 at 10:27 am (Sastra dan Cinta)

Entahlah, sudah berapa lama serpihan-serpihan ini berserakan. Mungkin hampir 2 tahun. Serpihan-serpihan ini kembali aku temukan di lembaran-lembaran kertas yang terbengkalai dan puluhan memori yang tersembunyi jauh di ujung pikiranku. Serpihan-serpihan ini jika kamu mau menatanya, tak ayal, mereka pasti membentuk satu kesatuan utuh. Satu kesatuan yang banyak orang menyebutnya sebagai masa lalu. Bukan sekedar masa lalu yang telah bau dan bisu. Serpihan-serpihan itu jika disusun rapi, mereka mampu menciptakan masa lalu yang hidup; berbicara dengan lancar, bahkan mungkin ia bisa koar-koar. Entahlah, tapi yang pasti aku enggan untuk menyusunnya kembali. Kenapa ? Karena kalau ia tersusun utuh, bisa-bisa ia membunuhku. Lha koq bisa ? Jelas bisa. Ini serius. Masa lalu itu sengaja aku pecah menjadi serpihan-serpihan kecil karena saat itu ia mau membunuhku. Emangnya aku gila sehingga mau dikejar-kejar oleh pembunuh manusia nomor satu ?
Read the rest of this entry »

Permalink Leave a Comment

Kapan Berdaulat ?

July 30, 2008 at 7:24 am (Sastra dan Cinta)

Kapan Berdaulat ?

Katamu takbenci aku ?
Tapi, untuk mengajar pun takmampu.

Katamu, ini negara damai ?
Semalam kau acungkan pisau belati.

Katamu, harus menghormati ?
Toh juga kamu malah provokasi.

Katamu, katamu, dan kataku.
agamamu, agamamu, dan agamaku.

Aku tidak beragama !!!
Bebas dari katamu dan kataku sendiri.

Aku tidak beragama !!!
Lepas dari belenggu bodoh ideologi

Aku tidak beragama !!!
Terserah aku mau membunuh atau mencuri

Yang pasti,
aku tidak lena
akan dogma agama
yang membuat sengsara,
yang membungkam dogma beda
yang tenggelamkan kebebasan manusia
bersama surga dan neraka buatan mereka

~Yesalover, 28 Juli 2008~
~Bajingan dan asu orang yang mengatasnamakan agama untuk membenarkan penindasan kedaulatan orang lain~

Permalink 3 Comments

Aku Iri Sama Kamu, Yesa…….

November 28, 2007 at 9:06 pm (Asal Ngomong dan Curhat, Sastra dan Cinta)

Kenapa kmu bisa sembunyi di balik si
bangsat Jesus itu ?

Kenapa kmu bisa bersembunyi di balik
kemegahan tembok GBI KA yg membiusmu ??

Aku iri karena kmu mampu menyembunyikan
lukamu….
Sedangkan aku, di sini semakin tertatih,
bernanah, dan lukaku membusuk

Aku memang tidak pintar dan tidak mau
menyembunyikan lukaku…

Aku tidak ingin seperti kamu, yang
mencari obat bius religi untuk
menghilangkan sakitmu…

Tapi kamu lupa kalo itu hanya sementara…

Ketika kamu sendiri, kembali harus
berhadapan dengan dirimu yang
sesungguhnya , kamu akan melihat
luka-luka itu lagi….

Aku iri, kmu tahu ? Aku di sini harus
mencari penyembuhan sejati, penyembuhan
yang tidak akan membawa lukaku kembali…

Aku tidak ingin berlari mencari Jesus
yang banci, yang bekerja di bawah
bayang2 agama samawi….

Aku tidak ingin menjadi kharismatik,
atau berbahasa roh seperti orang gila…

Itu sama saja aku menjadi buta akan
realita…kharismatik hanya akan
membuatku mati kritik, mati takberkutik

Andai aku mampu membunuhmu, memotong
kemaluan mu, atau bahkan memperkosamu…
Aku rela masuk penjara daripada menderita…

Tapi sayang, aku terlalu cinta….

~Jam 2 pagi, aku iri dan ingin mati
bersama sang sunyi~

Powered by ScribeFire.

Permalink 4 Comments

Sonet Untuk Yesa II

September 19, 2007 at 3:29 am (Sastra dan Cinta)

 

Aku takmau tenggelam pada
rembulan

Terombang-ambing oleh angin malam

Yang menyapa pasangan dalam peraduan

Menyambut datangnya sang kalam

 

Aku takingin lepas bebas ditelan sepi,

Hanyut akan liur binatang-binatang jalang

Mencoba menggerogoti sisa-sisa cinta ini

Yang masih tersisa dari ladang gersang

 

Aku taksanggup lama-lama berendam

Pasrah 
pada lumpur yang menghisap habis

Tiap jengkal jejak-jejak asa; terpojok diam

Menanti tali surga mengecup sang gadis

 

Aku takmau, takingin, taksanggup jika harus

Meretas pagi, menjemput senja tanpa mimpi

 

~Broken Hearted, 17 September 2007~

~Vera, Yesa, sama
saja suatu yang menyesakkan dada~

Powered by ScribeFire.

Permalink 2 Comments

Sonet Untuk Yesa I

September 19, 2007 at 1:29 am (Sastra dan Cinta)

 

Matamu  berbinar merah

sangat marah

mungkin lebih malah

kaubuat ku terluka berdarah

 

Lemah, akupun  susut

berharap ajal ‘kan surut

Menghela nyawa yang tercabut

Sisih dalam padatnya kabut

 

Aku yakin telah lenyap tiada

Menapaki lantai-lantai surga

Menyapa dia, sang mahakuasa

Yang menyepuh penat jiwa

Dengan seribu bahasa nirwana

Lalu kataku, “kau tuhanku, Yesa !”

 

~Broken Hearted, 18
Septermber 2007~

~Yesa, sudahkah aku
beribadah padamu ?~

Powered by ScribeFire.

Permalink Leave a Comment

Untuk Yesa II

September 18, 2007 at 1:58 am (Sastra dan Cinta)

Kutenun kabut,
yang aku cabut
bersama dingin
dan tiup angin

Aku ‘kan serahkan
semua kenangan
dan kurelakan
dirimu tuk setan

Powered by ScribeFire.

Permalink 1 Comment

Untuk Yesa

September 13, 2007 at 8:54 am (Sastra dan Cinta)

Mengerjap kerlip bintang, lamunkan angan kenangan yg bermuara akan
kekaguman sosok ayu yang bersembunyi di balik tirai lugu. Ketika itu,
kalbu menderai sepi, sembari memasung satu hati. Luluh dalam sorot
mentari dan janji terpatri, menggulung seribu mimpi bersanding mesra
pada memori senja. Hanya sekali aku bersua, tuk menggenggam jiwa.

~Broken Hearted, 13 September 2007~
~Yesa, aku masih ingin menggenggam jiwa~

Powered by ScribeFire.

Permalink 1 Comment

Sonet Untuknya

September 10, 2007 at 11:11 am (Sastra dan Cinta)

Katamu aku buta tak punya mata
toh aku tak merasa redup
atau bahkan gelap gulita
toh kutetap mendengar angin sayup

Katamu aku tuli, takdapat mendengar
Tidak, aku dapat menyimak setiap
dengkur kuncup yang mekar
dari jiwa lelah dan tertidur lelap

Aku selalu diam, pasrah, dan hening
saat kau perkosa kuncup itu
di balik bilik dan dinding

Ketika aku melihat, mendengar
kamu melengos penuh nafsu
aku mengerti dan akhirnya sadar !

~Broken Hearted, 10 September 2007~
~Siapa yang buta, siapa yang tuli, hanya hati yang mengerti~

Powered by ScribeFire.

Permalink Leave a Comment

Memoar Aku

September 10, 2007 at 2:58 am (Sastra dan Cinta)

Aku…
menatap nirwana
mengurai warna dunia
bergelut melawan duka

Aku…
melawan waktu
mengangkangi nafsu
mencari dia satu

Aku…
tertatih letih
menyisir butir kasih
walau trus tersisih

Aku…
diam, kelu, teronggok
sampah yang terpojok
hina penuh borok

Aku..
menanti tiap luka
menjadi bara
tuk kembali padanya

~Broken Hearted, 10 September 2007~
~Sajak untuk jelitaku kelak~

Powered by ScribeFire.

Permalink Leave a Comment

Indonesiaku

September 8, 2007 at 1:46 am (Sastra dan Cinta)

Indonesia raya!!!
kutertawa mendengar itu
Kudengar mereka berteriak;
‘Indonesia’, aku pun terisak!

Lucu, saat kata bangga
melantun di mulut mereka
apa kata dunia?
bangga akan apa?

Lihat, bocah lapar dahaga
mereka tidak butuh retorika
apa kita bangga?

Pengemis itu tertawa bung!
Ketika koruptor merajalela
dan kita ? diam takberdaya

Apa kita bangga?
basuh mulutmu dengan utopia,
yang penuh luka menganga

Indonesia tidak perlu retorika,
atau simbol belaka
Indonesia perlu aksi nyata
bukanlah arogansi swasta !!!

~Bandung, 8 September 2007~
~Arogansi swasta, kebodohan nyata Indonesia~

Powered by ScribeFire.

Permalink Leave a Comment

Sang Dara

September 8, 2007 at 1:18 am (Sastra dan Cinta)

Senyummu…
membuatku kaku
diam lesu

Tatap sayu
menjadikanku bisu,
diam kelu

Inikah cinta itu ?
atau hanya nafsu,
atas tubuh mungilmu

Melambai dan mengalir
jatuh dan tertunduk
mengurai ulir
pasrah bak anjing buduk

Terhenti nalar
rapuh pula pikir
Diam dan nanar
menerka takdir

~Bandung, 8 September 2007~
~Ketika ia kutemukan di sela-sela kesibukan PMB~

Powered by ScribeFire.

Permalink 1 Comment

Dedicated 4 Her

September 8, 2007 at 12:47 am (Sastra dan Cinta)

Bersama matahari senja,
kutoreh sejenak penat,
 luka yang merupa

Seiring dengan tangis para perawan
kulepas segala harapan
yang berdiam;teronggok kelam

Lamunan terhenyak reda
tatkala ia berlari cepat
menyepuh beranda luka

~Bandung, 8 September 2007~
~Relung hati dengan luka pasti~

Powered by ScribeFire.

Permalink Leave a Comment

Solidaritas Kampungan

June 26, 2007 at 5:58 am (Sastra dan Cinta)

Kurasa tetes peluh jatuh
ketika ku terus mengais
diselingi tawa mereka

Kuterka mereka tak membasuh
darah yang tersapu gerimis,
korban dari sebuah nama

Kudengar mereka mengeluh
atas darah korban yang amis,
mereka mungkin telah lupa

darah itu bagian solidaritas
tapi mereka anggap itu sampah
dari eksistensi komunitas

Kurasa peluhku semakin deras
ketika kucoba mencari sampah
dengan takut dan cemas

kalau-kalau mereka telah amblas
terkubur bersama ucap pongah
mereka atas nama senioritas

~Broken Hearted, 26 Juni 2007~
~Kepada mereka yang mengaku solider~
~Solider kampungan~
~Didedikasikan utk manusia yang dianggap sampah~

Powered by ScribeFire.

Permalink Leave a Comment

tuhanku

May 28, 2007 at 8:50 am (Sastra dan Cinta)

Malam ini, tuhanku muncul kembali

Mencuri kelopak bunga malam yang seharusnya layu dan

membawanya pergi;

 

Entah, mungkin ia telah meninggalkan,

sepucuk surat keabadian yang bertuliskan

kenangan-kenangan dari tuhanmu yang agung, Read the rest of this entry »

Permalink Leave a Comment

Bunga dan Ilalang

May 27, 2007 at 6:47 am (Sastra dan Cinta)

Desah angin kering menyambut;
Bunga yg mekar lembut
Tegak menantang ilalang yg kusut;
Yang mereka jadikan kasut

Ku petik setangkai ranum,
Bunga yang membuat iri ilalang
Menaruhnya di perapian tanpa senyum.
Kataku : kau lebih layak hilang
Read the rest of this entry »

Permalink Leave a Comment

Apa Surga Itu ?

May 26, 2007 at 8:51 am (Sastra dan Cinta)

Aku bertanya padanya, di mana surga itu
Yang kudapat hanya setetes embun kalbu
Kucari di balik bangunan tua, yang katanya
Banyak lagu dan doa khusuk padanya
Tapi, yang kudapati hanya sekerat
Mayat, terpaku pada tiang salib

Aku bertanya padanya, apa bentuk surga itu
Yang kutahu ia hanya mengacungkan jarinya padaku
Kucoba lihat di sebuah buku tebal, yang katanya
Banyak orang berpegang teguh pada tiap kata
Tapi, yang kudapati taklebih dari
Tulisan membingungkan penuh doktrin

Read the rest of this entry »

Permalink Leave a Comment

Sofa

March 4, 2007 at 4:45 am (Sastra dan Cinta)

Padanya, ompolku masih berbekas,

Pesing, basah, dan berlendir

Keluar tanpa sadar, liar, dan ganas

Merangkak keluar mereka, membasahi bibir;

Saat hati ini sudah takmungkin lagi mangkir

 

Read the rest of this entry »

Permalink 4 Comments

Sepi Sang Bulan

March 3, 2007 at 10:45 am (Sastra dan Cinta)

Kepada langit, kepala ini menengadah

Mengintip bulan mengerang lemah

Kepada langit, kepala ini menengadah

Mengintip bulan mengerang lemah

Diam, sembilu, pucat, mungkin juga lelah

Read the rest of this entry »

Permalink 2 Comments

Next page »