Substansi Representative Di Balik Simbol Religiusitas II (Simbol, Semiotika, Atau Apalah Namanya)

November 24, 2008 at 10:19 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

II. Simbol, Semiotika, Atau Apalah Namanya

Tuhan sebenarnya, hanyalah symbol, atau semiotika (bagi beberapa kalangan), atau substansi representative (istilah saya) yang semuanya berhulu pada sosok transenden berupa logos, yaitu entitas absolute yang diberikan predikat takterbatas oleh keterbatasan (manusia). Dalam perkembangannya, manusia telah mencoba menuhankan (memberikan predikat takterbatas) berbagai hal dengan segala derivasinya, mulai dari Allah SWT, Yesus, Nabi, Budha, rasio, akal budi, atau monad hingga atom-atom sederhana. Umumnya, pemikiran logosentris semacam ini merupakan konformitas dengan perkembangan social, budaya, serta keyakinan suatu komunitas. Idealnya, hal ini terbentuk oleh kombinasi iman dan akal, yang lebih sering didominasi oleh akal. Pada akhir renaissance, dan memasuki aufklarung, manusia mulai meninggalkan kepatuhan nilai yang sebelumnya merupakan wujud konformitas masa itu. Tetapi, hal ini malah menimbulkan konformitas dan bentuk kepatuhan baru yang tersusun rapi di atas fondasi nilai sebelumnya. Di sinilah, proses kritis-evaluatif sangat diperlukan. Sejatinya, kita mesti menilai posisi eksistensi dari subjek penilai dan pengevaluasi nilai tersebut –yang memang berperan sebagai parameter baku bagi nilai dan dipergunakan sebagai fondasi nilai-.

Saya berpendapat, jika symbol religiusitas perlu dibaca dan dikaji ulang atas entitas yang dilekatkan manusia pada sosok transenden dan ilahi itu. Mustinya, fenomena kehadiran tuhan dan manifestasi tidak sekedar dibaca sebagai symbol (tanda dalam semiotika), melainkan lebih kepada penekanan maknanya. Tetapi, masalahnya, ‘makna’ mengandung berbagai macam gagasan kompleks manusia, mulai dari pluaritas,konstelasi, suksesi rumit yang malah sering terjebak dalam ruang ambiguitas dan ambivalensi. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya melakukan intrepretasi atas symbol itu. Mungkin sebagian orang mengatakan jika symbol itu bermakna a, sedangkan yang lain bermakna b, dan yang lainnya malah mengatakan symbol itu di luar ranah a dan b. Tetapi, di balik makna yang beranekaragam itu, malah tersimpan banyak hal penting saat proses penginterpretasiannya. Maksud saya adalah sebagai berikut, ketika Anda membaca sebuah kata ‘mati’, lantas apa yang terlintas di benak Anda pertama kali ? Sebagian besar akan menjawab, jika ‘mati’ yang dimaksud adalah mati fisik –nyawa terlepas, tubuh lemas, dan tidak bernafas-. Nah, sekarang, coba Anda pergi merenung sebentar, lalu pikirkan pertanyaan saya berikut, “Berapa kali Anda sudah mati selama ini ?”. Nah, apa yang terpikir di benak Anda ? Anda bingung ? Pasti yang pertama kali Anda lakukan adalah mempertimbangkan kembali makna ‘mati’ itu. Dan mungkin –sekali lagi mungkin, tergantung keterbukaan pikiran Anda-, Anda akan menemukan sebuah arti baru. Hingga pada suatu titik, di mana Anda akan menemukan banyak persamaan dari makna ‘mati’ yang telah Anda pikirkan selama ini. Intinya adalah pada pembacaan ulang gagasan akan makna kata itu. Makna sebuah kata akan sangat tergantung pada kekuatan pikiran orang yang menguasai kata itu. Semakin dangkal kekuatan pikiran manusia, maka semakin sedikit pula pemahamannya akan makna kata itu. Dan inilah poin masalah saya, sebuah substansi representative akan memiliki arti tergantung dari kemampuan pikir orang yang menguasainya. Maka, sebenarnya saya tidak heran, ketika orang hanya mampu menjawab pertanyaan controversial saya berdasarkan dogma yang sudah ada sebelumnya. Ini sebenarnya cukup menjelaskan kemampuan berpikir mereka yang masih dangkal, belum bisa memaknai kata dengan lebih bermakna.

Pandangan saya mengenai makna kata yang relative serta kemampuan pikir manusia, ternyata juga menjadi pokok pikiran seorang penulis bernama Audifax. Dia mengatakan bahwa ada berbagai ‘daya’ yang bersaing dan mencoba mengambil alih kekuasaan atas makna kata tersebut. Dan kata tadi juga termasuk suatu daya, minimalnya ekspresi terhadap daya itu sendiri. Dia mencontohkan sebagai berikut, makna tanda salib akan sangat terpengaruh oleh ‘daya’ yang menguasainya, katakanlah gereja. Makna tanda salib yang dipegang oleh gereja memiliki daya yang lebih kuat daripada –misalkan- daya tanda salib pada penyanyi hip-hop Amerika. Ok, terlepas dari daya eksternal yang mempengaruhinya, tanda salib juga memiliki daya internal. Sebagai contoh, ketika tanda salib mengarah pada “Aku”, tanda salib akan ‘terbaca’ dan seketika itu ia akan masuk ke dalam pikiran si pembaca dan menstimulasi sesuatu dalam diri si pembaca hingga membuatnya bereaksi untuk memunculkan daya eksternal lainnya. Saya setuju dengan sebagian besar pendapat bung Audifax ini. Setiap benda dapat memancing pemaknaan seseorang terhadap dirinya, hanya saja, saya tidak setuju jika benda itu memiliki daya internal, karena sebenarnya, benda itu kosong, tidak bermakna apapun dan tidak berdaya apapun. Yang membuat benda itu memiliki daya internal, adalah taklebih dari proses listrik statis otak manusia yang mengolah informasi visual dari inderanya. Andaikata manusia tidak dapat berpikir, maka dia pun tidak dapat memproses informasi visual dari inderanya, sehingga ‘daya internal’ itu tidak akan muncul, dan benda itu akan hadir tanpa makna apapun, sekedar gambaran kosong belaka.

Pemaknaan kata oleh subjek yang mengolahnya juga dipengaruhi oleh kualitas serta kuantitas eksternal di sekitar subjek itu. Sampai di sini, saya agak kesulitan untuk menjelaskan kualitas yang dimaksud, karena sebenarnya kualitas dan kuantitas hanya memiliki perbedaan tipis. Kuantitas adalah reduksi dari kualitas yang absurd dan undefined. Tetapi, karena kuantitas hanya reduksi, maka ia pun tidak dapat mendeskripsikan kualitas dengan sepenuhnya (meaningfull). Kuantitas tidak hanya bicara mengenai besaran saja, tetapi bisa juga berupa hierarki atau tataran social yang tidak terperikan oleh besaran tertentu. Katakanlah, pengaruh yang dikeluarkan paus akan berbeda dengan uskup, atau jemaat biasa. Lalu, apakah ini bukan kualitas ? Saya rasa bukan, karena status mereka saja yang membedakan, dan status itu bersifat eksternalistik. Sedangkan definisi kualitas yang beredar kebanyakan bersifat internalistik. Ini mengindikasikan bahwa kuantitas merupakan konsep abstrak yang memiliki kecenderungan mengidentifikasi dengan menyamakan kesatuan yang membentuknya serta meniadakan perbedaan dalam kesatuan (difference in unity). Sedangkan kualitas, menurut Audifax, adalah pembedaan antara dua daya yang saling berhubungan. Keduanya ini tidak mampu memberikan pemahaman secara komprehensif terhadap kebermaknaan suatu kata. Di sinilah perlu adanya pembacaan terhadap pemaknaan suatu kata secara berulang dan pendekonstruksian ‘Derrida’ untuk merombak ulang paradigma yang kita pegang selama ini.

Sulitnya membedakan ‘sesuatu’ dari kata yang disusunnya telah menjadi perdebatan panjang dalam dunia filsafat. Manusia mampu berbicara tentang ‘sesuatu’ dan mengetahui ‘sesuatu’ berdasarkan kata / symbol. Dalam hal ini, berarti manusia telah mengganti ‘sesuatu’ dengan kata/symbol yang telah disesuaikan dengan ‘sesuatu’ pula. Masalahnya, kita jadi semakin buyar dengan esensi dari sesuatu itu. Contohnya adalah esensi dari ‘mati’. Apa yang tergambar dalam pikiran manusia belum pasti dapat tergambar jelas oleh kata ‘mati’ itu. Sama halnya ketika ‘mati’ disimbolkan dengan gambar tengkorak atau kuburan. Semua itu belum berarti bahwa ‘mati’ dapat full represented by kata/symbol yang disusun oleh akal-budi manusia. Dasar pemikiran inilah yang menyebabkan Charles Sanders Pierce, bapak semiotika modern, untuk mengembalikan ‘sesuatu’ itu ke dalam ‘sesuatu-dalam sesuatu itu sendiri-. Tetapi di luar itu, apa yang telah diterima sebagai sebuah symbol dapat diterima tanpa harus melalu sebuah perenungan. Misalnya, kebenaran Alquran/Injil yang diterima mentah-mentah sehingga mereka meyakini hal-hal di dalam situ sebagai sesuatu yang sacral dan holistic. Sebaliknya pula, orang dapat menginterpretasikan hal-hal di dalam situ sebagai pembenaran atas pembunuhan atau tindakan tidak rasional (seperti mencemooh blog saya, mengancam untuk membunuh saya, dll). Rekognisi terhadap peran apparatus simbolik dalam aktivitas manusia selama ini telah mendasari berbagai macam cabang ilmu, sialnya, bahkan pendefinisian symbol yang selama ini saya jabarkan pun tidak memuaskan diri saya. Karena apa yang saya tuliskan di sini adalah bentuk kata-kata yang sepenuhnya juga merupakan bagian dari symbol itu sendiri. Semacam symbol dalam symbol. Oleh karena itu, saya tidak selalu terpaku pada kata-kata, karena sejatinya apa yang saya maksud sulit untuk saya utarakan dalam symbol/kata-kata. Itu hanya merupakan penggeseran realitas dari apa yang direpresentasikannya.

To be continued

7 Comments

  1. yesalover said,

    Artikel ini saya persembahkan untuk sahabat elektro saya yang lebih pintar dari saya, sehingga berkali-kali memberitahu saya betapa bodohnya diri saya ini.

  2. Someone said,

    Nice artikel..berat, dari tulisan ini terlihat jika kmu memang intelek…aku jadi mengerti apa yang kmu maksud dalam artikel tentang muhammad…Coba kmu nulisnya gini dari dulu…:)

  3. wijooyoo said,

    lanjutannya mana? lama banget nulisnya….
    pengen baca 3,4,9 dan 10 niy…

    wkwkwkw….*cabut*

  4. yesalover said,

    @ wijooyoo :
    Sabar bung, saya sedang sibuk dengan kuliah dan urusan KSEP…tahu sendirilah bagaimana sibuknya KSEP itu…

  5. bayu ahadi artanggaprana said,

    wah, ternyata yesalover tuh wijen toh. Sorry, baru tau. Btw sekalian mau megomentari artikel kamu yang ini. Menurutku manusia memang menggunakan sesuatu untuk memperoleh sesuatu. Contohnya, manusia menggunakan simbol untuk menginterpretasikan sesuatu hal dengan menggunakan simbol. Walau pada akhirnya mungkin ada ambiguensi pada tiap orang dalam menginterpretasikan simbol tersebut. Dalam mendeklarasikan suatu simbol manusia menggunakan akal dan pikiran. Saya mengasumsikan penggunaan akal adalah penggunaan logika, rasio serta ilmu terdahulu yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sedangkan pikiran adalah hasil pengolahan dan penerimaan atas apa yang tidak diketahui sebelumnya dan keberterimaan itu datang bukan dari ilmu yang dirumuskan manusia, misalnya pikiran bahwa semua manusia adalah keurunan Adam.

    Maka dari asumsi saya ini, saya menyarankan untuk mebebaskan orang lain untuk berpikir (mengolah) tetang simbol-simbol religius yang ada. Biarlah orang tersebut menerima simbol-simbol keagamaannya setelah ia berakal dan berilmu. Namun bila kita dari pihak yang menganjurkan simbol religius tertentu hendaknya memberi kebebasan (bukan paksaan, bukan tradisi komunitas, bukan simbol orang tua dll) orang lain memilih.

    Saya memang berpegang teguh ,dalam penularan makna simbol keagaamaan kepada pihak yang sama sekali belum memegang simbol apapun, akan kebebasan. Saya hanya sebatas pemberi arti dari makna simbol2 tersebut bila saya mampu.

    Bila berhadapan dengan pemakna simbol yang lain, tentunya tidak sampai menimbulkan perselisihan akibat interpretasi yang berbeda simbol2 tersebut. Saran saya jangan terlalu diambil pusing akan ancaman tersebut. Karena sebenarnya kita diberi kebebasan untuk berpendapat tetapi tidak untuk memaksakan kehendak.

    Peace with you.

  6. geni13 said,

    say setuju….apalagi di tanah air kita yg tercinta….peninggalan dari Nenek2 Moyang kita dan Leluhur2 kita banyak sekali simbol2 yg diperkenalkan ..banyak arti dan maknanya ,tergantung kita bagaimana kita membacanya dan mengartikannnya………..,yang jelas sangat LUHUUUR………….,jadi nggak usah jauh2 kenegri orang untuk mempelajari di negri sendiri banyak simbol2 yang harus dikuak dan perkenalkan kpda saudara2 kita ditanah air ini……….

  7. reza said,

    Maaf mas, saya kebetulan lewat ke tahun 2009 dan tidak sengaja ikut baca tulisan mas yesalover sekitar “simbol” dan “makna”. Karena saya faham (“nah… cara memahami ini bentukan dari mana? saya juga tidak lebih tahu dari Descartes…. pokoknya faham aja”) apa yg ingin disampaikan, maka tulisan itu (“tentu saja”) jadi bermakna dan merangsang untuk ditanggapi.
    Betapa nyamannya bisa saling berkomunikasi, menyampaikan gagasan, berdiskusi…. (“kadang-kadang malah bertengkar”)… sehingga menambah tebal kesadaran kita sebagai manusia yang senantiasa berupaya menggampai kesempurnaan. Tapi pendapat anda bhw “symbol religiusitas perlu dibaca dan dikaji ulang atas entitas yang dilekatkan manusia pada sosok transenden dan ilahi itu”… tiba-tiba mengacaukan “tatanan” yg sudah dibangun sejak kemunculan manusia di Bumi. Lebih “gawat” lagi tiba-tiba anda berlagak jadi polisi bahasa verbal/tulisan dengan mengatakan “Mustinya, fenomena kehadiran tuhan dan manifestasi tidak sekedar dibaca sebagai symbol (tanda dalam semiotika), melainkan lebih kepada penekanan maknanya”. Lho?! kata-kata itu anda tujukan kepada siapa? Jika tidak jelas, maka implikasinya pernyataan anda itu bisa jadi omong-kosong yg membuat ironi bagi tulisan anda sendiri. Bahkan (nyatanya) anda sendiri membuat batasan (kalau bukan “penjara”) untuk “makna” dangan mengatakan… “Tetapi, masalahnya, ‘makna’ mengandung berbagai macam gagasan kompleks manusia, mulai dari pluaritas,konstelasi, suksesi rumit yang malah sering terjebak dalam ruang ambiguitas dan ambivalensi. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya melakukan intrepretasi atas symbol itu.” Nah.., kalau cara pandang ini konsisten anda terapkan pada semua sisi dan kondisi kehidupan anda….. (bahkan untuk sebuah pernyataan cinta pun….. mungkin akan anda dekonstruksi pula?). Maaf mas, saya tidak bermaksud meremehkan intelektualitas anda (pasti tidak), justeru saya belajar kepada anda apa itu maunya Derrida dgn dekonstruksinya itu.
    Kembali ke tulisan anda…… disitu ada kesan tersirat bahwa anda menganggap diri anda lebih mengetahui bagaimana cara memaknai sebuah kata… seolah-olah andalah orangnya yg memperoduksi kata-kata dan maknanya sekaligus. Dgn begitu anda malah jadi seorang panatis yg bisa menyalahkan apa saja kecuali cara pandang anda. Kalau tidak, perlukah pernyataan seperti ini anda tuliskan… “Dan inilah poin masalah saya, sebuah substansi representative akan memiliki arti tergantung dari kemampuan pikir orang yang menguasainya. Maka, sebenarnya saya tidak heran, ketika orang hanya mampu menjawab pertanyaan controversial saya berdasarkan dogma yang sudah ada sebelumnya. Ini sebenarnya cukup menjelaskan kemampuan berpikir mereka yang masih dangkal, belum bisa memaknai kata dengan lebih bermakna”. Pernyataan yg bisa dibilang “nekat” jika tidak ada bukti (filosofis atau logis) yg tersedia untuk anda sodorkan.
    Mungkin demikian sekedar komentar saya. Maaf kalau ini jadi sebuah ganggguan bagi anda. Saya hanya kebetulan lewat….membaca dan menulis.
    Terimakasih mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: