Substansi Representative

November 21, 2008 at 3:38 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Berkaitan dengan komentar saya mengenai pemuatan kartun muhammad, saya ingin menyampaikan bela sungkawa atas matinya nalar pikir manusia, atas matinya independensi akal manusia -yang katanya membawa manusia ke peradaban-. Sepertinya, manusia (atau orang Indonesia kebanyakan ?) terlalu bodoh untuk dapat melihat substansi representative. Mungkin, mata mereka kena katarak, jadi hanya dapat melihat figur saja, padahal substansi representative yang ada di belakang figur itu malah ndak terlihat. Terlalu munafik, andai saja saya mengatakan agama itu tidak diperlukan oleh manusia. Beberapa substansi di dalamnya telah menjadi tuntunan orang selama ribuan tahun. Tetapi ironisnya, karena manusia telah lama dituntun oleh agama, sehingga kaki mereka menjadi lumpuh dan otak mereka menjadi tumpul. Manusia tidak mampu untuk berjalan sendiri, bahkan manusia pun tidak mampu untuk mencari tahu apa penyebab agama diperlukan sebagai penuntun mereka. Yang manusia tahu (manusia di sini adalah manusia kebanyakan, tetapi tidak semua) adalah bahwa mereka tidak perlu berjalan sendiri. Agama sudah menuntun mereka. Manusia tinggal bergelanyut saja padanya. That”s enough. Maka itu dari, ketika saya bertanya, “Mengapa Anda dituntun oleh agama ?”. Mereka malah meludahi saya, sembari berkata, “Apa urusanmu ? Kamu menghina penuntun saya ? Kamu kira penuntun saya ini babu ? Atau malah kamu kira penuntun saya ini tidak mampu lagi menuntun saya ?”. Lalu, seketika saya akan menukas, “Tidak. Bukan maksud saya meragukan kapasitas penuntunmu. Saya hanya meragukan jika Anda sebenarnya memang benar-benar membutuhkan penuntun itu. Karena apa ? Karena saya melihat, sebenarnya kaki Anda masih utuh, fisik Anda masih kokoh, dan penglihatan Anda belum rabun. Lalu mengapa Anda butuh penuntun ?”.

Begitulah, percakapan pun berlangsung, dan berikut ini adalah cuplikannya.

Mereka : “Anda buta ya ? wong saya sedang dituntun. Berarti kalau saya dituntun, saya butuh bantuannya !”

Saya     : “Apakah Anda sudah mencoba untuk berjalan sendiri ?”

Mereka : “Anda buta ya ? Kalau saya dituntun, berarti saya tidak mampu berjalan sendiri. Jadi, mengapa saya harus repot-repot mencoba berjalan sendiri ?”

Saya    : (Tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin mereka tahu whether mereka bisa jalan sendiri atau tidak, wong mereka tidak pernah mau mencoba !) “Ok. Kalau begitu, saya ingin bertanya, mengapa penuntun Anda membawa Anda pergi ke arah timur ?”

Mereka : “Mana saya tahu ? Itu terserah penuntun saya. Syukur-syukur penuntun saya mau menggendong saya. Coba kalau tidak ? Saya sudah tidak dapat pergi ke mana pun ! Lagian, apa pula urusannya dengan Anda ? Ini kan penuntun saya. Kalau Anda iri, minta saja kepada penuntun Anda untuk melakukan hal yang sama ?”

Saya    : “Oh begitu, jadi Anda tidak tahu mengapa penuntun Anda membawa Anda ke timur ? Lalu mengapa tidak bertanya padanya ? Bukankah Anda yang memiliki hidup ini ? Mestinya Anda memiliki kebebasan untuk memilih arah tujuan Anda bukan ? Mengapa harus ditentukan oleh penuntun Anda ? I just don’t get it ! By the way, saya memang memiliki penuntun, tetapi saya saat ini memang tidak sedang bersamanya, karena saya memang tidak membutuhkannya. Saya takut merepotkan dia. Biarlah dia istirahat sejenak.”

Mereka : “Anda konyol. Bukankah memang sudah lazimnya di bumi ini, kalau orang yang dituntun dan digendong oleh penuntunnya harus taat kepada sang penuntun itu ? Anda tidak boleh mempertanyakan itu. Itu sudah sesuatu yang lazim !!! Wong ini sudah dituliskan koq. Anda tidak baca selebaran-selebaran yang beredar ? Itu kan tertulis, ‘DARI YANG MAHA KUASA’. Anda bego ya ? Saya jadi tidak percaya dengan kapasitas Anda sebagai pemimpin ! Saya lihat, Anda sendiri malah mencampakkan penuntun Anda ! Anda tidak care dengan penuntun Anda. Anda tidak pernah beribadah kepadanya. Tidak seperti saya, yang jelas-jelas menggantungkan hidup saya kepadanya.”

Saya    : “Memangnya Anda tahu betul siapa penuntun Anda ? Saya lihat Anda pun sungkan untuk bertanya padanya”

Mereka : “Jelas ! Saya kenal siapa penuntun saya ! Penuntun saya terlalu suci kalau ditanya mengenai hal-hal keseharian. Walau saya nyaris tidak pernah berkomunikasi dengannya, tetapi, saya akrab dengan dia. Betul itu ! Buktinya, saya setiap hari tertentu selalu memuja sang maha kuasa, sama seperti yang dituliskan di selebaran itu”

Saya    : “Anda yakin dengan selebaran itu ? Tahu darimana kalau selebaran itu otentik ?”

Mereka : “Anda kurang ajar ! Anda meragukan apa yang tertulis di selebaran itu !”

Saya     : “Sudah, jawab saja darimana Anda tahu kalau itu benar-benar ditulis oleh sang maha kuasa ?”

Mereka : “Anda sialan, saya akan bunuh Anda karena melecehkan sang maha kuasa. Jelas-jelas di selebaran itu tertulis, ‘INI ASLI DARI SANG MAHA KUASA’. Mengapa Anda masih meragukannya ?”

Saya    : “Saya heran, kalau itu asli dari sang maha kuasa ? Mengapa harus ia tulis di selebaran ? Bukankah mestinya dia dapat menaruh pesannya di benak masing-masing orang ? Dia maha kuasa bung ! Dia pasti mampu melakukannya !”

Mereka : “Kurang ajar betul Anda ini. Sang maha kuasa itu merakyat, dia ingin menyampaikan pesannya dengan cara manusia normal ! Agar manusia merasa familiar dengan caranya itu !”

Saya     : “Mengapa dia menginginkan manusia harus familiar dengan dia ? Bukankah dia mestinya dicari oleh manusia ? Karena dia maha kuasa, sedangkan manusia tidak sempurna. Kalau dia ingin manusia familiar dengannya, saya malah semakin ragu kalau dia maha kuasa. Mestinya dia tidak butuh pengakuan dan rasa itu dari manusia”

Mereka : “Anda kurang ajar sekali. A**u Ak*r !!! Puji T*han !!! Atas namanya, saya akan bunuh Anda ! Toh di selebaran itu juga tertulis kalau saya boleh menghakimi orang keras kepala seperti Anda !!!”

Saya     : (Lari sembari tertawa puas !)

Bagaimana ? Apakah Anda sudah menangkap pesan dari judul artikel saya kali ini ? SUBSTANSI REPRESENTATIVE ? Atau saya memang harus menjabarkannya dengan bahasa anak TK ? Saya takut, kalau Anda juga tidak akan mengerti. Saya takut, Anda malah tidak mau tahu dan akhirnya meludahi saya seperti mereka yang ada dalam dialog di atas.

Best Regards,

Wijen Pontus

3 Comments

  1. Substansi Representative (II) « This is dedicated for her…. said,

    […] 21, 2008 at 5:36 am (Filsafat dan Gaya Hidup) Masih bingung dengan artikel saya sebelumnya ? Semoga video singkat ini bisa menjelaskan 70 % apa yang saya […]

  2. rekayasasistemkerja said,

    postingan bodoh.tidak menggambarkan apapun
    apa yang anda tanyakan, anda jawab sendiri..
    justifikasi sepihak
    tentunya ini semua sesuai dengan skenario telah anda siapkan sedemikian rupa, hinga menggiring opini bahwa penganut agama itu salah.
    nice try dude, but try again next time
    btw muka lo jelek.mending fotonya pake topeng deh biar gantengan

  3. amzahamid said,

    Postingan apa ini…?? sok pintar..saya yakin otak kamu ini sudah di racuni oleh iblis kafir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: