Pertanyaan Keheranan (I)

November 21, 2008 at 4:50 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

– Saya heran, mengapa kalau artikel saya mempertanyakan tentang Yesus, maka saya dianggap muslim, dan orang yang komentar di blog saya juga mencemooh saya. Tetapi, kalau saya mempertanyakan Islam, orang mengira saya non-muslim dan saya juga dicemooh oleh mereka.

– Saya heran, mengapa orang di dunia ini selalu meributkan sesuatu yang mereka buat sendiri, sesuatu yang mereka anggap buatan sang ilahi. Bukankah jelas, kalau agama itu sebagian besar disusun oleh manusia ? Mana bukti otentik yang menyebutkan kalau agama itu dari ilahi ? Tidak ada selain keyakinan manusia. Dan bukankah keyakinan manusia itu berasal dari dalam manusia ? Dengan kata lain, keyakinan itu dibuat oleh manusia ? Kalau tidak, mana mungkin sekarang banyak berkembang isu tentang “the power of mind” ? Jadi, bukankah agama itu rekaan manusia ? Masih tidak percaya ? Kalau agama itu sesuatu yang berasal dari sempurna, tidak mungkin ada cacatnya, maka tidak mungkin juga menjadi bahan perdebatan orang banyak. Coba lihat substansi “kesempurnaan” itu sendiri. Adakah yang mendebatnya ? Tidak ada bukan ? Karena “kesempurnaan” adalah sempurna dan tidak bercacat. Musykil bagi otak manusia yang tidak sempurna untuk mendebatnya. Dan musykil pula kalau kesempurnaan itu divisualisasikan, baik dalam berupa tulisan, gambar, maupun ajaran.

– Saya heran, mengapa orang tidak mau mengakui bahwa dirinya seorang fanatis ? Padahal, jelas-jelas, ketika saya mempertanyakan hal yang diyakininya, orang tersebut malah marah dan bahkan ada yang mengancam untuk membunuh saya. Bukankah ini aneh ? Semua serba kontradiktif. Katanya, ajaran A itu ajaran yang tidak mau diidentikkan dengan terorisme dan kekerasan, tetapi masih banyak orang dengan mengatasnamakan ajaran itu, melakukan perbuatan yang bertolak belakang. Aneh memang. Katanya enggak keras dan tidak teroris, kok malah mengeluarkan statement yang seakan-akan membenarkan kekerasan ?

– Saya heran, mengapa orang sulit sekali membedakan antara ketidaktoleransian dengan keingintahuan filosofis.

– Dan saya masih banyak menyimpan keheranan…

Best Regards,

Wijen Pontus

7 Comments

  1. Andri Haryono said,

    “Saya heran, mengapa orang di dunia ini selalu meributkan sesuatu yang mereka buat sendiri, sesuatu yang mereka anggap buatan sang ilahi. Bukankah jelas, kalau agama itu sebagian besar disusun oleh manusia ? Mana bukti otentik yang menyebutkan kalau agama itu dari ilahi ? Tidak ada selain keyakinan manusia”

    ini kan pendapatmu tentang agamamu sendiri, jangan mengeneralisisr..
    kalo kamu “merasa” nyaman dengan pernyataan BODOH itu, ya makan aja bulat2 sendiri, jangan ngajak2 orang ambil bagian..

    “Jadi, bukankah agama itu rekaan manusia ? Masih tidak percaya ? Kalau agama itu sesuatu yang berasal dari sempurna, tidak mungkin ada cacatnya, maka tidak mungkin juga menjadi bahan perdebatan orang banyak”

    sesuatu yang sempurna itu akan jadi sempurna kalau dijalankan dengan benar, apa kamu pikir bumi ii tidak sempurna??lalu kenapa sekarang orang mengeluh ozon bocor, sini panas situ panas??itu karena mereka mengorganisir bumi yang sempurna dengan jalan yang ga benar..
    trus kalo dijadikan perdebatan orang banyak..
    hanya orang bodoh, tidak tahu dan sok tahu yang mencoba menyalah2kan sesuatu yang benar..
    apakah untuk sesuatu yang benar selalu diterima dengan gampang oleh semua orang???
    kamu kan anak elektro..
    tau berapa lama enstein ditentang dengan teori relativitasnya??dl banyak org yang menentang dia, karena mereka ‘bodoh’, otaknya ga nyampe mikir yang gituan..

    apakah mau sesuatu yang seperti itu terulang lagi untuk kasus ini???
    renungkan sobat…

  2. yesalover said,

    @ Andri –>
    1. Saya tidak pernah mengajak orang untuk berpikir sama dengan saya. Coba buktikan kalimat saya yang merupakan kalimat ajakan.

    2. Kalau Anda educated people, saya menantang Anda untuk membuktikan keyakinan Anda pada tulisan…Silakan ! Saya juga akan segera menulis essai keterangan lebih lanjut mengenai pemikiran saya. Saya yakin Anda mampu. Masakan anak ITB tidak mampu menerima tantangan orang yang dianggapnya lebih BODOH ?

  3. flashit said,

    quote andri :
    “ini kan pendapatmu tentang agamamu sendiri, ..”

    AFAIK, penulis blog ini ga beragama kok. CMIIW.

  4. yesalover said,

    saya spendapat dgn anda bahwa agama di dunia itu rekaan manusia,,tapi saya yakin tidak semua agama demikian..,Tanggapan : Maaf, maksudnya bagaimana ? apakah tidak semua agama itu rekaan manusia atau tidak semua agama itu bagaimana ? kalo anda memang netral, tidak bias, dan mau menerima pandangan masing2 agama (trbuka),cobalah anda kaji secara mendalam agama2 yg ada di dunia..saya yakin anda akan menemukan bahwa pendapat anda keliru..(i really mean it) Tanggapan : Jelas, saya tidak mendalami semua agama secara sungguh, saya masih dalam taraf mencari, baru ke kyai, ke aktivis agama, dan belajar sedikit dari beberapa pemeluk agama yang berlainan. Tidak mau disebut fanatis? saya kira itu karena definisi ‘fanatis’ yg diterima oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia = melupakan dunia seutuhnya untuk agama (sprti apa yg dilakukan para biksu atau pastor) atau tidak toleran trhdp agama lain…padahal kalau dilihat dari definisi fanatik sebenarnya,banyak orang Indonesia yang sebenarny fanatis dengan agamanya…Tanggapan : Bagaimana ini ? Berarti Anda mengakui kalau banyak orang Indonesia yang sebenarnya tidak toleran terhadap agama lain ? Perlu dikoreksi di sini, berdasarkan cerita dari biksu/pastor, toh mereka sama sekali tidak tertutup terhadap dunia luar, atau melupakannya. Bagaimana ini ? Anda juga jangan berpikir kasuistik..perilaku seseorang tidak lantas mutlak mencerminkan apa yang dia percaya..kalau anda ingin yakin apakah suatu ajaran itu tidak identik dengan kekerasan dan terorisme,yang anda harus observasi adalah ajarannya, bukan penganutnya..karena (sprti yg anda pasti yakini) tidak smua orang menjalankan ajaran agamanya dengan sempurna (dan tidak smuanya benar2 paham dengan agamanya sendiri)..Tanggapan : Tidak. Pada tulisan saya di atas, jelas-jelas subjek kalimatnya adalah “banyak orang” dan konteks tulisan saya adalah menanggapi komentar di blog ini dan pernyataan dari hizbut tahrir. Sedangkan dua pihak yang saya sebut tadi, sebelumnya telah mengklaim kalau keyakinannya adalah penuh damai. Saya harus akui kalau masih banyak orang berkeyakinan yang baik. Dalam konteks ini, saya setuju dengan pendapat Anda, bahwa yang diobservasi adalah ajarannya. Bahkan, mayoritas penganut agama mayoritas di Indonesia saja sebenarnya tidak memahami secara komprehensif dari agama mereka sendiri..kbanyakan dari mereka hanya melihat agama mereka sekadar status dan ritual tanpa memperhatikan seberapa dalamny pemahaman mereka ttg agama/seberapa kuatnya iman mereka..Tanggapan : Setuju. Justru ini yang ingin saya pertanyakan kepada mereka. Tidak masalah bagi saya, apakah dia berkeyakinan sama dengan saya atau tidak. Yang penting, pemaknaan mereka terhadap keyakinannya, keblinger tidak. Tidak toleransi dengan keingintahuan filosofis? Kalau niat anda memang hanya “ingin tahu”,anda cukup melontarkan kalimat ‘pertanyaan’ tanpa perlu menambahkan kalimat2 yang menunjukkan pendapat anda bahwa apa yang anda tanyakan adalah salah..yang saya lihat dalam artikel anda,selain anda bertanya, anda juga seolah mengatakan bahwa apa yang dipercaya oleh orang2 adalah salah dan harus dibenarkan..kalau anda sudah menyatakan pernyataan2 normatif atas suatu kondisi, berarti anda bukan ingin tahu, tetapi ingin ‘mempengaruhi orang lain’..Tanggapan : Ok, kita misalkan begini saja Bung…Andaikata Anda ingin tahu akan bentuk bumi. Anda pasti akan bertanya, “Bentuk bumi itu seperti apa ?”. Orang akan menjawab, “Bundar”. Karena Anda tidak melihat secara langsung, maka Anda tidak akan langsung percaya bukan ? Lantas Anda akan mempertanyakan kembali, apa buktinya. Sama Bung. Yang saya lakukan adalah mengadu pemikiran dan argumen saya. Untuk apa ? Bukan untuk mempengaruhi orang lain, tetapi mendengarkan pemikiran dan argument mereka. Untuk apa ? Jelas, agar saya mengkoreksi pemikiran saya, jika memang argument mereka itu betul dan kuat (dapat meruntuhkan argument saya sebelumnya), pasti saya akan menerimanya. Untuk apa ? Jelas, agar saya semakin mendekati kebenaran. Kalau ada yang merasa terpengaruh, ya berarti argumentnya lebih lemah dari punya saya. Ini kan konsep dasar diskusi, koq masih ditanyakan. Jangan-jangan menurut Anda, diskusi itu tidak berhubungan sama sekali dengan rasa ingin tahu ? Repot kalau seperti itu. Karena saya ingin tahu, maka saya berdiskusi. Kalau sudah sampai pada pernyataan normatif yg subjektif,,wajar jika ada orang yang merasa tidak setuju atau tersinggung, karena setiap orang punya subjektifitas sendiri2..Di situlah terjadi “intoleransi”… Tanggapan : Tentu saja tiap orang berhak untuk tidak setuju, bahkan tersinggung. Tetapi, masalahnya, seberapa dewasa kah orang itu untuk menyikapi rasa tersinggungnya ? Apakah lantas menteror ? Atau mengajukan argument lain untuk mematahkan argument saya ? Apakah menurut Anda saya tidak pernah tersinggung dengan komentar-komentar yang ada pada blog ini ? Tentu saja pernah, tetapi, meskipun komentar tersebut pedas, asalkan masih berhubungan dengan topic yang saya ungkapkan, toh saya tetap menyikapinya dengan kepala dingin. Saya kira anda tidak perlu repot2 untuk menjauhkan orang2 dari agama, karena “orang2 yg mengaku tidak beragama lalu mengajak orang lain untuk tidak beragama” sebenarnya hanyalah boneka dari sejumlah kelompok2 orang2 beragama yang ingin memenangkan kompetisi antar agama..heheh..Tanggapan : Anda mispersepsi. Coba tunjukkan kalimat saya yang menyebutkan kalau saya mengajak Anda untuk tidak beragama. Saya mengajak teman-teman lain untuk berpikir sekali-kali keluar dari ranah agama. Out of the box. Apakah lantas itu menyiratkan saya meminta Anda untuk tidak beragama ? Ada kalanya berpikir dengan mendekonstruksi yang ada itu lebih baik. Smoga anda bukan termasuk “boneka” yang sudah dipermainkan itu..  

  5. yesalover said,

    – Saya heran, mengapa kalau artikel saya mempertanyakan tentang Yesus, maka saya dianggap muslim, dan orang yang komentar di blog saya juga mencemooh saya. Tetapi, kalau saya mempertanyakan Islam, orang mengira saya non-muslim dan saya juga dicemooh oleh mereka. ya iyalah.itu karena anda tidak cuma mempertanyakan Yesus atau Islam soalnya.anda mengusik, bahkan menyerang.mau bukti?baca tulisan2 anda sendiri.orang awampun tau kalo anda menulis tidak dalam kondisi kepala netral, tapi sudah dengan tendensi2 negatif duluan.itu sangat tersirat di tulisan2 anda. Tanggapan : Anda maunya tulisan saya seperti apa ? Bisa tolong berikan satu contoh saja, asalkan pemikiran saya dapat tersampaikan dengan baik, saya rela mengubah gaya penulisan saya. Tapi, saya mohon tolong diberikan contoh, karena berdasarkan pengalaman saya di dunia maya, terdapat banyak forum yang di dalamnya tertulis gaya penulisan yang lebih pedas. Menurut saya, sepertinya dengan saya bertanya ‘apakah seseorang meyakini kalau keyakinan yang dipegangnya benar’ saja, bagi sebagian orang itu sudah bertendensi negative. Ingat bung, tendensi negative itu buah dari pikiran, yang berarti buah dari kedewasaan manusia. – Saya heran, mengapa orang di dunia ini selalu meributkan sesuatu yang mereka buat sendiri, sesuatu yang mereka anggap buatan sang ilahi. Bukankah jelas, kalau agama itu sebagian besar disusun oleh manusia ? Mana bukti otentik yang menyebutkan kalau agama itu dari ilahi ? Tidak ada selain keyakinan manusia. Dan bukankah keyakinan manusia itu berasal dari dalam manusia ? Dengan kata lain, keyakinan itu dibuat oleh manusia ? Kalau tidak, mana mungkin sekarang banyak berkembang isu tentang “the power of mind” ? Jadi, bukankah agama itu rekaan manusia ? Masih tidak percaya ? Kalau agama itu sesuatu yang berasal dari sempurna, tidak mungkin ada cacatnya, maka tidak mungkin juga menjadi bahan perdebatan orang banyak. Coba lihat substansi “kesempurnaan” itu sendiri. Adakah yang mendebatnya ? Tidak ada bukan ? Karena “kesempurnaan” adalah sempurna dan tidak bercacat. Musykil bagi otak manusia yang tidak sempurna untuk mendebatnya. Dan musykil pula kalau kesempurnaan itu divisualisasikan, baik dalam berupa tulisan, gambar, maupun ajaran menurut saya, sangat mungkin sebuah agama yang sempurna bisa mengundang perdebatan sengit diantara para pengikutnya.karena memang otak manusia terkadang memiliki keterbatasan dalam mencerna dogma2 agama yang terkadang menimbulkan intrepetasi berbeda.itu yang kami alami. Tanggapan : Nice. Saya setuju dengan adanya perbedaan intrepretasi. Tetapi, saya kurang setuju jika sesuatu yang sempurna dapat menimbulkan perdebatan. Contoh nyatanya adalah kata sempurna. Adakah kelemahan dalam maknanya ? Mungkin memang terdapat kelemahan dalam linguistic, tetapi tidak dalam makna yang ingin disampaikan ? Apa yang tergambar dalam benak Anda tentang “sempurna” ? Saya yakin gambaran kita pasti sama. Berdasarkan pernyataan Anda tersebut, bukankah wajar pula jika saya berbeda persepsi dengan Anda ? Yang jadi masalah adalah ketika orang lain tidak dapat menerima perbedaan persepsi itu sebagai hal yang wajar. sebagai seorang muslim.saya tau anda pintar.tapi mohon jangan serampangan kalau menulis sesuatu.SAYA TANTANG ANDA UNTUK MEMBERI BUKTI BAHWA ISLAM HANYALAH KUMPULAN HUKUM2 YANG DIBUAT SENDIRI OLEH MANUSIA.berikan buktinya! Tanggapan : Sumber keyakinan tertentu pasti dipengaruhi oleh geografis, kultur, politik, dsb. Nasrani dan Yahudi percaya kalau “bangsa terpilih” adalah yahudi, begitu juga dengan Islam dengan bangsa Arab. Saya tidak ingin memberikan bukti dari suatu kitab tertentu, saya ingin menggunakan common sense saja. Jelas, dalam kitab (kata ‘kitab’ di sini tidak merujuk suatu kitab tertentu) terdapat campur tangan manusia, kalau tidak bagaimana mungkin tuhan –pasti Anda setuju kalau tuhan itu milik semua to ?- mengklaim suatu golongan sebagai “anak emas”. Bukankah gaya bahasa juga membuktikan bahwa terdapat campur tangan manusia dalam kitab keyakinan itu ? Kitab A, katakanlah mempunyai gaya bahasa sama dengan daerah A juga, dst. Tetapi, kalau yang Anda minta adalah statement dari kitab tertentu yang mengatakan bahwa kitab tersebut buatan manusia, jelas tidak ada. Dalam konteks ini, saya harus akui saya tidak dapat menemukannya, wong itu sama saja ngasih tahu kebobrokannya sendiri-nanti malah ada yang kontradiktif dengan bagian lain dalam kitab itu, kan malah jadi repot ?-. Mohon maaf, saya sebisa mungkin untuk tidak menyebutkan suatu keyakinan tertentu secara eksplisit. Ini juga berdasarkan saran dari teman-teman yang memberikan komentar pada blog saya. Ini juga membuktikan bahwa tidak selamanya saya tidak mau mengalah. Toh lagipula, saya tidak berada dalam posisi untuk membela suatu keyakinan (maaf, pengertian keyakinan di sini adalah agama) tertentu. – Saya heran, mengapa orang tidak mau mengakui bahwa dirinya seorang fanatis ? Padahal, jelas-jelas, ketika saya mempertanyakan hal yang diyakininya, orang tersebut malah marah dan bahkan ada yang mengancam untuk membunuh saya. Bukankah ini aneh ? Semua serba kontradiktif. Katanya, ajaran A itu ajaran yang tidak mau diidentikkan dengan terorisme dan kekerasan, tetapi masih banyak orang dengan mengatasnamakan ajaran itu, melakukan perbuatan yang bertolak belakang. Aneh memang. Katanya enggak keras dan tidak teroris, kok malah mengeluarkan statement yang seakan-akan membenarkan kekerasan ? apakah bila saya marah2 mendengar celotehan anda mempertanyakan agama islam berarti saya adalah seorang fanatis?hahah.belum tentu kawan.yang perlu digaris bawahi disini adalah, anda sering kali mempertanyakan suatu keyakinan dengan provokatif.masi butuh bukti?baca sendiri tulisan2 anda.mungkin ini berperan besar atas kemarahan org2 tersebut. Tanggapan : Tidak. Saya tidak pernah mengklaim orang seperti Anda adalah fanatic, orang yang saya maksud adalah orang yang melontarkan ancaman maupun pendiskreditan. Tidak adil itu namanya. Tanggapi komentar saya sama seperti saya menanggapi komentar Anda donk J. Btw, sepertinya Anda tidak peduli dengan orang-orang yang mengancam saya. Apakah menurut Anda hal ini dapat dibenarkan ? Mengapa ? disisi lain banyak org indonesia yg (dengan sangat terpaksa) saya akui bahwa mereka jauh dr kata well educated. mereka cenderung memakai otot dan kekerasan ketika terdesak oleh suatu argumen atau situasi.dan itu tidak terjadi pada anda saja, saya juga pernah hancur babak belur ketika saya menolak dijambret dan berdebat dengan preman.yang ingin saya tulis besar2 disini, bila anda ingin mendapatkan jawaban atau setidaknya berdiskusi dengan layak, maka: CARILAH LAWAN BERARGUMEN YANG SEPADAN. Tanggapan : Oleh karena itu, saya tidak menanggapi komentar-komentar yang menurut saya tidak perlu ditanggapi, karena itu tidak sepadan dengan saya. Saya sudah mencoba saran Anda. Apa Anda menginginkan saya untuk membungkam blog ini ? itu kalau niat anda memang murni untuk bertanya atau berdiskusi.kalau sekedar menggoyahkan iman seseorang (seperti yang anda tulis di postingan lain), disini jelas sekali apa motif anda. bukan untuk bertanya, tapi untuk menggoyahkan iman orang lain. Tanggapan : Ok. Silakan Anda kemukan argument Anda untuk menyanggah argument saya. anda tidak akan berhasil menggoyahkan iman saya, dan orang2 seperti saya.   Best Regards,   Sapere Aude !  

  6. geni13 said,

    saya tertarik dengan tulisan2 dan pemahaman anda masalah Keyakinan yg sedang dijalani oleh saudara2 kita,terutama di indonesia ini…,karena saya banyak bertanya dan mendengarkan masalah agama dan Rohani..akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa yang selama ini di ributkan dan dipertanyakan hanyalah masalah “SEBUTAN”…….marilah kita sama2 CERDAS dalam berkeyakinan..disini saya melihat tidak ada paksaan untuk ssorang mempercayai apa yg diyakini..saya melihat anda berusaha mengajak kita smua untuk berfikir obyektif dan tidak ikut2an……

  7. numpang lewat said,

    selama manusia masih hidup, manusia bebas berbuat & berkata apapun, akan tetapi jika ruh telah lepas dari jasad, maka kita akan tau mana yang benar & mana yang salah menurut versi Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: