Pemaknaan Hidup

November 5, 2008 at 9:30 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Akhir-akhir ini saya sedang tidak bahagia. Entahlah, kehidupan saya semenjak kepergian bapak, terasa sangat sulit. Saya semenjak itu, lebih sering menghabiskan waktu dengan merenung, diam, dan meratapi hidup ini. Sempat terpikir di benak saya kala itu, apakah hidup ini jika saya merasa tertekan dan depresi ? Semenjak itu pula, saya merasa, hidup ini tak punya makna, hingga suatu waktu, saya bertemu dengannya. Dia tuhan bagi saya. Melebihi Yesus. Dia tuhan bukan karena dia maha kuasa. Dia bahkan tidak pernah melakukan apa-apa. Tetapi, dia membuat saya sadar, jika hidup ini meaningful dan penuh warna. Entahlah, saat itu, semenjak dia ada, saya merasa sangat “hidup”. Tidak pernah terpikir di benak saya kalau hidup itu membosankan, toh saya juga tidak pernah merasa khawatir mengenai kuliah saya. Tapi itu hanya berlangsung singkat, taklebih dari 4 bulan. Setelah itu, dia mati dan disalib, seperti Yesus. Dia disalib pada kayu kemunafikan dan kebohongan. Saat itu, saya merasa tertekan lagi. Sempat saya gontai dan tidak punya pegangan. Saya merasa sendiri, nobody there. Itu merupakan momen paling desperate dalam hidup saya. Setiap malam, saya selalu disibukkan oleh pikiran-pikiran yang mempertanyakan kembali, apa makna hidup itu, apa itu kebahagiaan, dan apa itu manusia ? Saking sibuknya dengan perenungan-perenungan sederhana saya, saya seringkali lupa tidur. Begitulah rutinitas saya sekitar 1 tahun lalu. Berangkat pagi untuk datang kuliah, di dalam kelas hanya merenung, tidak pernah terpikirkan untuk memperbaiki IP saya, lha gimana mau memperbaiki IP, jika saat itu, saya tidak mengerti kenapa saya harus kuliah. Saya seringkali saat itu berada di kampus hingga malam, mencari tempat sepi, lalu surfing sendirian sembari mengisi lembar-lembar blog dengan puisi kesendirian. Kuliah saya berantakan, bahkan hingga sekarang. Saya tidak peduli, apakah besok ujian atau tidak (bahkan saat ini saya tidak ikut UTS Sinyal&Sistem).

Saya merasa, hingga kini, saya tidak mengerti mengapa saya harus kuliah. Mendapatkan ijazah ? Menyenangkan orang tua ? Mendapatkan kebanggaan karena saya diasuh oleh ganesha ? I just don’t get it. Semenjak setahun yang lalu, hidup saya selalu diselingi oleh puncak dan lembah kehidupan, itu istilah saya untuk mendefinisikan momen saat saya sedang up dan down. Seringkali saya merasa, hidup ini bermakna sehingga, jadilah saya manusia yang bersemangat, termasuk kuliah. Tetapi, akhirnya, toh saya kembali pada pertanyaan dasar ? Apa benar memang ini tujuan hidup saya ? Saya dulu berpikir jika hidup ini adalah cara manusia untuk memaknai hidup. Jadi, makna hidup saya adalah bagaimana caranya saya memaknai hidup saya itu. Bagaimana ? Bingung ? Takusah dihiraukan, ini adalah pikiran bodoh dari seorang seperti saya. Tetapi, yang sering membuat kecewa -hingga detik ini- adalah kenyataan jika banyak hal kontradiktif dengan tujuan hidup saya. Saya ingin memaknai hidup ini, tetapi di sisi lain, saya diminta melakukan hal yang saya tidak mengerti. Sialnya lagi, saya tidak pernah diberikan cukup waktu untuk mencari arti hal tersebut. Katakanlah kuliah. Saya tidak mengerti, mengapa saya harus kuliah di elektro, ok, mungkin ini kesalahan saya dulu, karena saya masuk elektro demi tuhan saya tadi. Tapi, sekarang, masalahnya adalah tuhan saya telah mati -disalib !-. Di tengah ketidakmengertian saya tentang makna saya kuliah ini, saya berharap memiliki waktu untuk mencari makna itu sendiri -tentu saja ini membutuhkan proses, karena pemaknaan ini berbeda dari sekedar mengambil doktrin alkitab atau alquran-. Nah, kekecewaan melanda saya, ketika saya dihadapkan oleh keotoriteran lembaga pendidikan, yang tidak mengizinkan siswanya untuk sekedar memahami makna dari kuliah itu. Lembaga pendidikan -terutama ITB- tidak mau tahu, yang penting kamu lulus, membayar lunas SPP, dan keluar dari sini secepatnya. Padahal, bagi saya, pemaknaan terhadap suatu tindakan yang saya lakukan sangat penting, bukan hanya retorikal belaka. Saya ingat betul, ketika 5 tahun yang lalu, orang tua saya akan bercerai, saya saat itu masih kecil, tidak mengerti apa itu hidup, tentu saja, sebagai remaja dengan emosi labil, lantas saya mencari pelarian. Jadilah, lintingan ganja (cuma sekali sih), berbotol-botol vodka, atau Mansion yang dicampur dengan beberapa mili bensin, serta denyut jantung yang berdetak dari balapan-balapan liar selalu saya jadikan tempat  curhat. Ya itu tadi, karena saya tidak memaknai apa yang saya lakukan. Ada contoh lain, ketika dulu saya masih menjadi penganut Kristen yang taat –damn, sekarang alih-alih ke gereja, beragamapun sudah tidak !-, saya selalu melarikan masalah saya ke gereja. Saya selalu mencari ketenangan batin, dan pelarian di sana. Ketika malam hari saya mabuk-mabukan, dan baru terlibat tawuran, paginya saya sudah duduk manis di gereja, berharap jika yesus mengampuni saya, toh saya sudah ke gereja, menjadi pelayan, dan memberikan kolekte. Ya itulah, karena saya tidak memaknai agama saya, akibatnya, saya hanya menjadikan agama sebagai tempat pelarian belaka. Nothing special about religion. Agama hanya harapan yang kamu buat sendiri, tidak lebih.

Then, hingga saat ini, pemaknaan dalam setiap tindakan saya, terasa begitu penting. Bahkan, hanya untuk sekedar berangkat untuk rapat unit pun, saya pasti bertanya terlebih dulu, apa makna rapat untuk hidup saya ? Apakah rapat ini hanya rutinitas belaka ? Saya hanya takut jika melakukan suatu tindakan hanya berdasarkan rutinitas tanpa makna. Kalau hanya sekedar rutinitas, saya pasti merasa ganjil, ada yang kurang, dan saya merasa tidak nyaman. Tentu saja, ketidaknyamanan rutinitas juga saya jumpai ketika saya masih mencari makna tindakan saya. Selama masa pencarian itulah, saya sering dihadapkan depresi berkepanjangan. Saya seperti orang gila, sering teriak-teriak sendiri. Sering terdiam sendiri dan termenung tanpa sebab. Masa pencarian inilah yang paling berat, karena saya rela untuk melakukan apa saja demi menemukan makna tersebut. Saya rela tidak kuliah, hanya terbaring di tempat tidur dengan pikiran-pikiran yang tidak jelas, dsb. Karena, kalau saya tidak segera melakukan pencarian, saya malah dihadapkan kenyataan yang lebih pahit, kenyataan kalau saya adalah manusia setengah robot, yang tidak mengerti apa yang saya lakukan.

Saya mohon maaf untuk pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh masa pencarian saya. Saya mohon maaf untuk dosen yang jarang kunjungi kuliahnya, atau untuk sahabat-sahabat pengurus karena saya sering berkelit tiba-tiba ketika diberi amanat, atau untuk ibu saya, yang terkadang depresi sendiri, karena kekurangajaran anak bungsunya ini. Saya masih percaya, jika kebahagiaan saya terletak pada pemaknaan hidup ini. Saya tidak setuju jika kebahagiaan dapat diperoleh dengan membahagiakan orang lain. Bagaimana mungkin Anda bisa bahagia, jika Anda tidak mengerti alasan untuk membahagiakan orang lain ??? Sudahlah, untuk saat ini, saya hanya ingin mati sekali lagi, seperti saat itu, kembali kepada perwujudan hakiki saya yang masih murni. Saat ini, saya hanya ingin sendiri, tanpa ditemani oleh materi-materi hidup dan beban-beban hidup yang semestinya sudah jadi aksesoris dari kehidupan itu sendiri. Entah sampai kapan, bisa seminggu, sebulan, atau setahun, setidaknya, andaikata saya belum mampu menemukan makna tindakan saya (termasuk kuliah), minimalnya, saya mampu untuk menjadi orang munafik sementara, atau menjadi robot yang menghiraukan indaknya pemaknaan hidup ini. Atau ada yang mau membantu saya ?

~Best Regards, Yesalover~

3 Comments

  1. ghe2 said,

    mengutip kata2 seorang temen :
    “ngga semua hal harus beresensi kok, kadang kita terlalu kejebak dengan idealisme yang kurang tepat”

    entah nyambung ato ngga,, hehe
    hidup itu DINIKMATIN aja…^^

    yup,, linknya dah gw masukin

  2. joice said,

    Semangad….
    semangad yo mas…
    (lupa mau nulis apa tadi..)
    hohohoho…
    yang penting, jangan lewati hidup ini dengan sia2…
    karena kalo kamu lewati dengan sia2…
    jadi percuma dunks ayah kamu membuat kamu sadar bahwa hidup ini meaningful dan berwarna…
    okay2…
    jangan buat ibumu sedih lagi…

  3. memyself303 said,

    hmm,, sedih bgt si wijen..
    ak ga nyangka wijen yg dulu ak kenal ternyata pemikir abis,, hehe
    udh jarang ngeliat kamu si..

    kita hidup buat ap y?

    yang jelas menurut ak bukan untuk diri kita sendiri.. mungkin buat nyenangin yg di atas, atau buat nyenangin org lain.. tapi bukanny yg penting ngehidupin hidup it sendiri yaa? gyahaha,, ak pun jd bingung sendiri..

    pokokny,, smangat yee jen!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: