Kemenangan Obama dan Pembelajaran Bagi Indonesia

November 5, 2008 at 8:00 am (Berita Nasional)

Obama, hari ini sudah dapat dipastikan menang. Hasil terakhir dari Electoral Vote menyatakan jika Barrack Hussein Obama telah berhasil mengantongi 338 suara. Ini sangat mengejutkan, saya rasa, karena jumlah ini berbeda jauh dengan yang diperoleh oleh McCain, yaitu hanya 160 suara. Sangat menarik memang pesta demokrasi yang diselenggarakan oleh Negara yang mengagungkan kedemokratisan ini. Wajar saja, jika seluruh dunia mau tidak mau tersedot perhatiannya oleh ajang pemilihan presiden 4 tahunan ini. Ada hal yang saya soroti dari proses kampanye lalu hingga proses pemilihan tadi berlangsung. Dan hal-hal tersebut saya kira dapat menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi kehidupan demokrasi di Indonesia, apalagi, sebentar lagi Indonesia juga akan mengadakan pesta serupa. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu digarisbawahi.

  1. Masa kampanye yang sangat fair. Ya, seperti yang telah kita saksikan belakangan ini, kampanye dua kandidat presiden AS berjalan sangat fair. Walaupun sering terjadi perang karakter, toh tetap saja mereka berdua melakukan kampanye, maupun debat dengan kepala dingin. Tidak ada teriakan-teriakan penuh emosi seperti debat-debat yang sering kita lihat di TV One. Tidak ada keengganan untuk saling memuji lawan mereka (Obama dan Mccain tidak melulu selalu melecehkan lawannya saja). Hal ini saya lihat tidak terjadi di Indonesia. Alih-alih untuk memuji, para politis lebih suka untuk saling mencari-mencari kesalahan lawan politiknya, layaknya seorang farisi, bahkan terkadang, kesalahan-kesalahan tersebut terlalu dibuat-buat dan tidak relevan lagi. Kita dapat melihat, akhir dari masa kampanye ditutup dengan melakukan “silahturahmi” antar dua kandidat itu. Kita juga sempat menyaksikan, ketika Obama dan McCain saling melempar pujian dan jokes dalam acara tersebut. Seingat saya, sejak saya lahir hingga sekarang, politikus Indonesia tidak pernah melakukan hal ini.
  2. Peran serta sukarelawan yang besar. Nah, ini adalah hal yang paling mencolok pada pemilu AS ini. Pemilu ini melibatkan banyak sekali sukarelawan dari berbagai golongan, ada yang mahasiswa, ibu rumah tangga, employee, hingga bos-bos perusahaan. Mereka dengan sukarela membantu keberlangsungan pesta ini, ini dapat terlihat dari election-election centre di tiap negara bagian, hingga maraknya lembaga-lembaga counter di sana. Berbeda dengan Indonesia, yang katanya menganut paham gotong royong, nyaris tidak ada sukarelawan yang dengan sepenuh hati mau membantu keberlangsungan pesta demokrasi semacam ini. Orang Indonesia mau membantu, asalkan dapat kaos, sembako, dan tentu saja, fresh money.
  3. Jumlah pemilih yang besar. Kabarnya, 65% dari total penduduk AS (tidak dihitung yang di luar negeri), atau sekitar 65 juta orang, memberikan suaranya pada pemilihan kali ini. Ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Coba perhatikan fenomena golput yang terjadi pada pemilihan di Indonesia akhir-akhir ini. Ada yang salah ? Jelas. Ini dikarenakan masyarakat merasa kandidat-kandidat pemimpin mereka sama sekali tidak kompeten dan kredibel. Bisanya cuma merayu masyarakat dengan uang dan janji sesaat belaka.
  4. Antusiasme warga US untuk turut serta. Nah, yang membuat pesta demokrasi di AS ini semarak adalah peran aktif warganya. Kita lihat saja, di jalan-jalan, bahkan di tembok rumah terpasang berbagai atribut kampanye. Dan hebatnya lagi, jika ada kandidat yang melakukan kampanye di suatu daerah, mereka berbondong-bondong datang, tanpa iming-iming uang. Berbeda sekali bukan dengan Indonesia ? Dapat dipastikan, jika ada kandidat yang melakukan kampanye di suatu daerah, dan banyak orang yang datang, itu dikarenakan adanya campur tangan uang lima puluh ribuan, atau campur tangan beberapa kilo sembako. Ironis sekali. Datang kampanye hanya untuk imbalan itu. Padahal, pilihan mereka terhadap calon pemimpin itulah yang sebenarnya sangat menentukan masa depan mereka sendiri. Ini salah satu pikiran praktisnya orang Indonesia kebanyakan.
  5. Sikap legowo (lapang dada) dari pesaing yang kalah. Hehehe, ini jelas sekali tidak ada di benak politikus kita. Alih-alih mengucapkan selamat kepada pesaing mereka  yang menang, politikus Indonesia yang kalah malah repot untuk mencari massa. untuk apa massa itu ? Ya apalagi kalau bukan untuk demo, atau bahkan melakukan tindak anarkis. Hayo, koq massa pendukung mereka mau ? Ya gimana ga mau kalau tiap orang diiming-imingi (lagi-lagi) uang, kaos, atau sembako. Inget ga kalau rakyat Indonesia itu miskin ??? Bahkan, Senator McCain rela mendapatkan olok-olok dari pendukungnya sendiri ketika memberikan ucapan selamat kepada Obama (baca pidato McCain).
  6. Demokratis tanpa memandang suku dan ras. Nah, ini dia, dengan terpilihnya Obama sebagai presiden AS berikutnya, berarti ia menjadi Presiden kulit hitam pertama di AS. Kapankah Indonesia mempunyai presiden dari non-Jawa ? WNI keturunan mungkin, atau orang batak , atau bahkan orang dengan latar belakang agama non Islam (katakanlah Kristen). Tetapi, kayaknya hal itu sulit terjadi. Apalagi mengharapkan presiden non Islam, wong wanita saja yang jadi pemimpin sudah jadi bahan perdebatan panjang, katanya sih melanggar akidah. Akidah gundulmu ??? Yah, orang Indonesia sudah telanjur jadi orang yang munafik. Agama boleh saja dipegang kuat, tetapi dasar-dasar kebajikan malah jadi sesat, makanya daripada beragama, lebih baik BERFILSAFAT !!!

So, kapan negara ini mau maju kalau begini terus ?

~Best regards. Yesalover~

2 Comments

  1. inikian said,

    terus kita dah berbuat apa eh saya dah berbuat apa ya? jadi sukarelawan? golput?
    sebenere di negara kita dah banyak yang sukarela…cuma untuk politik agak sulit ya.

    jadi saya dah berbuat apa ya?

  2. ikhsanputra said,

    saya rasa saudara yesalover nih terlalu mengagung agungkan amerika sana.
    begini. jumlah parpol yang ikut di pemilu indonesia itu jumlahnya banyak sekali. beda sama di amrik sana. bayangin disana cuman dua, disini calonnya saja ada 66. nah di sisi lain indonesia itu dipuja-puji karena dianggap sebagai negara yang paling demokratis (dilihat dari jumlah parpol peserta pemilu). padahal amerika cuman 2 tadi, inggris aja kerajaan, jerman adanya kanselir,dll. yang saya tahu demokrasi itu intinya bagaimana pemerintahan yang berkuasa dapat diberi feedback dengan mudah oleh rakyatnya. tidak melulu dengan pemilu ber-parpol segudang.
    lalu,orang indonesia itu kebanyakan masih mikirin perut. masih di strata terbawah kalo kata om Maslow. jadi wajar aja kalau mereka milih yang kasih mereka makan. pemikiran, sosok, track record, dll tidak lagi jadi pertimbangan.
    terus, disana kan makenya electoral vote. gak kayak disini, yang rakyat (laparnya) boleh milih langsung..jadi disana tuh pemilihnya emang orang2 tercerdaskan.. bukan pemilih yang lapar..
    saya ngeliat tidak adil aja ngebandingin pemilu indonesia dengan pemilu diluar sana..
    karena kondisinya:
    Indonesia:parpol banyak, mental korup, warganya laper semua, boleh millih lagi
    amrik:calon cuman dua, pemilihnya senator2 yang cukup pintar..
    mungkin ini perlu kajian lebih lanjut, tapi saya pribadi tidak sepakat dengan sistem demokrasi indonesia sekarang.
    apakah ada konspirasi sehingga sistem ini yang kita anut? saya sendiri hanya bisa menduga tanpa memberi bukti.
    tapi pada intinya kalau kita ingin sistem ini terbenahi, udah bukan masanya kita sampaikan hinaan..
    sekian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: