Serpihan-Serpihan Masa Lalu

July 30, 2008 at 10:27 am (Sastra dan Cinta)

Entahlah, sudah berapa lama serpihan-serpihan ini berserakan. Mungkin hampir 2 tahun. Serpihan-serpihan ini kembali aku temukan di lembaran-lembaran kertas yang terbengkalai dan puluhan memori yang tersembunyi jauh di ujung pikiranku. Serpihan-serpihan ini jika kamu mau menatanya, tak ayal, mereka pasti membentuk satu kesatuan utuh. Satu kesatuan yang banyak orang menyebutnya sebagai masa lalu. Bukan sekedar masa lalu yang telah bau dan bisu. Serpihan-serpihan itu jika disusun rapi, mereka mampu menciptakan masa lalu yang hidup; berbicara dengan lancar, bahkan mungkin ia bisa koar-koar. Entahlah, tapi yang pasti aku enggan untuk menyusunnya kembali. Kenapa ? Karena kalau ia tersusun utuh, bisa-bisa ia membunuhku. Lha koq bisa ? Jelas bisa. Ini serius. Masa lalu itu sengaja aku pecah menjadi serpihan-serpihan kecil karena saat itu ia mau membunuhku. Emangnya aku gila sehingga mau dikejar-kejar oleh pembunuh manusia nomor satu ?

Btw, sebenarnya, pembunuh manusia nomor satu itu bukanlah rokok, apalagi sakit jantung. Sudah pasti, pembunuh nomor satu manusia adalah masa lalu dia sendiri. Tidak percaya ? Coba saja korek-korek dalam pikiranmu, lalu kumpulkan tiap serpihan yang ada, kalau memang sudah terkumpul, gabungkan jadi satu. Aku jamin, niscaya kamu akan terbunuh olehnya. Sudahlah, ini aku sajikan sebagian dari serpihan-serpihanku. Semoga ini bukan semuanya, sehingga mereka tidak dapat disusun menjadi satu; jadi aku tidak dapat terbunuh oleh orang-orang usil yang sengaja mengumpulkan serpihan-serpihan itu dengan maksud untuk mengakhiri hidupku. Tak akan kubiarkan…

1.

Pagi itu, sebersit cahaya mentari menyeruak

mendapati kau dan aku berdua

mungkin iri akan kemesraan kita

Ia tak beranjak, bahkan

semakin garang malah pancarkan panasnya


Tapi kini, sebersit cahaya mentari,

itu kembali;

Ia tertawa girang, senang bukan kepalang

ketika mendapati aku tergolek lemas

di ranjang air mata…

~Bandung, 14 November 2006, 05.30 PM~

~Di bawah bayang-bayang siluet romantisme~

2.

Kudapati kau di antara serombongan anak kuliah,

kulihat sesosok tubuh putihmu berdiri dengan senyum manis terkembang

Lalu, kugapai dirimu dengan senyum lembut,

dengan tatap mesra ketulusan

Dalam hati terbersit aura kasih.


Kuyakin kau akan paham,

mengerti setiap gerak mata ini,

akan tiap butir ketulusan hati

Meski pesimisme menaungi pikirku,

apakah kau juga tulus terhadapku ?

~Bandung, 14 November 2006, 05.39 PM~

3.

Dia,

yang telah menikam hubungan kita…

Dia itulah, satu-satunya,

yang menjadi jurang pemisah…

menjadi pagar pembatas dan cadas,

terjal pantai romantisme


Siapa dia ?

Apa yang kau lakukan terhadapku ?

Apa salahku terhadapmu ?

Lalu,

Apakah kau senang ?

melihat sayat-sayat hati yang;

membekas padaku sekarang ?

~Bandung, 14 November 2006, 05.44 PM~

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: