Kasus SETIA = Dekadensi Kedaulatan Minoritas

July 28, 2008 at 5:08 am (Asal Ngomong dan Curhat)

Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak menggoreskan kata pada blog ini. Bukannya sibuk, hanya saja sekarang -entah kenapa- saya malas untuk terlalu berteoritis, ngurusi hal-hal non praktikal. Tetapi, tangan dan hati nurani saya tergelitik kembali untuk segera menjebak orang dalam hutan akademus tulisan-tulisan saya. Anda tahu, apa yang membuat saya geli untuk menulis ? sebuah –ooops, bukan sebuah, kumpulan- berita di televisi yang menyangkut masalah agama (atau apapun itu namanya). Sebagai seseorang yang tidak beragama, mestinya saya tidak usah repot-repot mikirin orang-orang bodoh yang mengaku beragama, padahal bahkan dia sendiri tidak tahu dirinya. Tolol. Tapi bagaimana lagi, cuma melalui tulisan-tulisan ini saja, saya dapat mengurangi kejengkelan terhadap orang-orang seperti itu. Apa pasal ? Beberapa bulan lalu, Ahmadiyah menjadi pergunjingan –maaf, mohon dibaca sebagai bahan pelecehan- orang banyak mengatasnamakan akidah. Dan sekarang, Anda bisa lihat sendiri, sekelompok penduduk kampung –yang memang kampungan- terlibat bentrok dengan mahasiswa SETIA (Sekolah Tinggi InjiliArastamar). Anda bisa baca sendiri beritanya di media-media massa belakangan ini, yang pasti, saya tidak akan membahas detil kronologisnya.

Ok, sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya tekankan kembali bahwa saya tidak beragama. So, tulisan ini adalah murni dari pemikiran seseorang yang objektif, tidak memihak agama/kelompok manapun, tetapi sekaligus juga subjektif, karena murni keluar dari sadar ketidakberagamaan saya. Anda pasti sudah tahu penyebab terjadinya bentrok itu, bukan ? Bentrok yang terjadi pada tanggal 26 Juli lalu, katanya disebabkan oleh tertangkapnya seorang oknum mahasiswa ketika ia hendak mencuri sebuah pompa air. What the hell is that ? Bentrok terjadi –lagi-lagi katanya- karena rekan-rekan mahasiswa sang pencuri itu tidak terima dengan penangkapan oleh penduduk kampung, so mereka melempari penduduk kampung dan terjadilah itu namanya bentrokan. Ada yang janggal dalam logika saya. Bagaimana mungkin penangkapan seorang pencuri malah berakhir ricuh. Coba Anda bayangkan saja, andaikata pencuri itu –yang masih mahasiswa SETIA- ditangkap baik-baik, dibawa ke polisi, tanpa dihakimi secara berlebihan, apa mungkin ada yang tidak terima ? Saya yakin sekali –kutuk saya jika salah-, ada beberapa kemungkinan yang terjadi di tempat pada saat itu yang menyebabkan teman-teman oknum itu tidak terima. Pertama, penduduk menangkap sang oknum tanpa dilandasi bukti kuat, lalu langsung dihakimi. Kedua, mungkin bukti sudah kuat, tapi tetap saja dihakimi bareng-bareng. Ketiga, dalam proses penghakiman oleh penduduk, mereka membawa-bawa kekesalan dan pendiskreditan terkait SETIA itu sendiri. Hmmm, saya malah meyakini kemungkinan terakhir inilah yang jadi biang keroknya. Ini berdasarkan pengakuan salah seorang penduduk saat diwawancarai salah satu televisi swasta. Kurang lebih, dia berkata begini, “Bentrokan ini terjadi bukan karena kami tidak suka akan kaum Nasrani, tetapi memang dari dulu kami tidak senang dengan keberadaan SETIA di tengah kampung seperti ini ”. Pernyataan inilah yang membuat saya tergelitik untuk menulis lagi. Dalam hati saya tertawa terbahak-bahak, betapa bodohnya orang-orang itu, mencoba untuk menutupi ketidaksukaannya terhadap Nasrani, padahal perkataannya secara eksplisit mencerminkan kebencian terhadap Nasrani. Mungkin perkataan penduduk itu dapat saya sederhanakan sebagai berikut, “Saya bukannya tidak suka dengan kamu, hanya saja saya tidak menyukai keberadaanmu –atau keluargamu, dll- di dekat saya. Bagaimana mungkin Anda menyukai seseorang jika bahkan Anda sendiri tidak tahan melihat orang itu berada di dekat Anda. Lelucon macam apa pula ini ? Ooops, mungkin saya salah. Memang benar, penduduk itu bukannya tidak menyukai orang Nasrani secara keseluruhan, tetapi “hanya” tidak menyukai orang Nasrani yang berada pada kampus itu. Ha3x. What the fuck is that ? Lagi-lagi, saya mengatakan hal ini bukan berarti saya berpikiran sempit, bukan berarti saya menyamaratakan antara penghuni kampus SETIA dengan kaum Nasrani seluruhnya. Saya tidak sebodoh itu untuk melihat secara subjektif saja. Justru sebaliknya, penduduk itu tidak melihat secara objektif. Damn you all !!! You can’t blame the existence of that campus to their students. Just blame the founder or people who’d supported its establishment. Pagi tadi, saya melihat berita di Metro TV yang menyatakan pihak rektorat SETIA sedang berdialog dengan walikota dan polisi untuk meninjau ulang pendirian kampus itu. Saya agak heran dengan kejadian itu. Loh, bukannya ini hanya sekedar kasus pencurian ? Koq malah berdialog tentang keberadaan kampus. Ooops, mungkin ini semakin membenarkan argument saya, jika bentrokan itu sebenarnya bukan sekedar masalah pencurian, tetapi masalah ketidaksukaan penduduk setempat dengan keberadaan kampus itu. Herannya lagi, masalah ini sebenarnya lebih gawat daripada masalah pembunuhan berantai si Ryan ataupun kampanye tertutup parpol. Masalah ini mengindikasikan semakin hilangnya kedaulatan minoritas Bung !!! Koq bisa-bisanya pers kurang perhatian terhadap masalah ini. Apa masalah ini kurang besar ? wong lebih dari 1000 orang diungsikan, wong lebih dari 2 barikade polisi dikerahkan, wong lebih dari 10 orang terluka. Mau tunggu apa lagi ? Apa pers baru akan menyorot setelah kampus dibakar massa ? atau setelah kaum Nasrani lenyap dari bumi Nusantara ? Terlihat sekali kalau pers memang selama ini tidak sepenuhnya menabdikan dirinya pada kebenaran dan edukasi. Tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar pengabdian akan ketenaran dan rating. Selain itu, saya yakin, kemarahan mahasiswa juga tidak hanya dipicu oleh penangkapan rekan mereka saja. Saya juga masih mempunyai keyakinan, jika perlakuan mahasiswa yang seperti itu juga dipicu factor dari penduduk itu sendiri. Sudahlah, Anda tidak perlu menafikannya. Bukankah sudah jelas bagaimana nasib kaum minoritas di tengah-tengah kaum mayoritas Indonesia ? Masih perlu contohkah ? Bagaimana dengan FPI, Ahmadiyah, pembakaran-pembakaran kuil di Sumatera, dsb ?

Jujur saja, untuk kasus ini, saya tidak bisa menyalahkan pihak SETIA saja. Saya lebih suka untuk menimpakan sebagian besar kesalahan kepada penduduk setempat. Why ? Because they’ve power and they’re the mighty of majority. Bukankah Marx pernah berkata, jika terjadi bentrokan antara kelas penguasa dan buruh, itu terjadi karena ketidakpuasan atas penindasan yang dilakukan oleh penguasa terhadap buruh ? Kejadian di atas, sekali lagi semakin menguatkan argument saya jika ide tentang Tuhan telah disalahkaprahkan sebagai landasan dan syarat dari hukum-hukum yang dibuat oleh para pengikutnya. Ok, pada tulisan saya berikutnya –yang tentu saja lebih tenang dari ini- akan dibahas bagaimana ide tentang Tuhan dan keabadian bukan merupakan syarat bagi hukum moral, sebaliknya, mereka hanyalah tujuan kehendak yang ditentukan oleh hukum moral tersebut. Beruntungnya saya sudah keluar dari jebakan agama buta semacam itu…

~ Yesalover, 28 Juli 2008 ~

4 Comments

  1. sesy said,

    hmmmm, another story like this ya??? jd inget jaman awal2 kuliah dulu.

  2. hamka said,

    IMHO hmm.. menurutku kasus2 seperti ini dikarenakan sikap eksklusivitas kelompok minoritas. Seberapa jauh kelompok mnoritas itu mau berbaur. Banyak kok kelompok2 nasrani yang keberadaanya (walau minor) diterima dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.
    Perlu dipahami juga budaya orang Indonesia ini peduli dengan lingkungan sekitar. Tidak seperti negara barat, yang tak peduli dengan tetangga. Jadi aksi2 seperti ini bisa dikatakan bentuk sifat peduli yang negatif.
    Nb: Contoh yang lain juga, ada kelompok pengajian tertentu dibakar massa (sama-sama muslim padahal). Ya, karena,mereka punya mesjid sendiri, pengajian sendiri, tanpa mempedulikan lingkungan.

    btw, eh bener jen lu kagak beragama?
    wa update blogroll el06 ya….

  3. yesalover said,

    Benar kalau sikap ekslusivitas itu menjadi boomerang. Tapi bung Hamka, saya pernah berada di tengah-tengah mayoritas. Dan betapa sulitnya untuk membina jalinan silahturahmi ideal dengan mereka. SETIA juga melakukan pembauran dengan masyarakat sekitar, semisal memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi karyawan mereka. Hanya saja, terkadang niat utk membaur itu memudar tatkala kaum minoritas mengalami tekanan dari mayoritas…Gimana mau membaur kalau dapat tekanan ?

  4. flashit said,

    Wew, kowe saiki wis ora beragama toh ?! Bingung meh comment opo ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: