Mawar Hitam (Bagian II)

June 2, 2008 at 3:16 am (Asal Ngomong dan Curhat)

Tahun kelima semenjak peristiwa itu.

Tidak seperti tahun-tahun biasanya, tahun ini aku agak kesulitan untuk memberikan 18 tangkai mawar merah kepada Yesa saat hari ulang tahunnya. Tahun lalu, aku baru saja mendapatkan kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi terkenal di Jakarta. Betapa sibuknya. Setiap hari, aku harus bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore, bahkan terkadang harus lembur. Aku selalu bekerja melebihi waktu kerja yang seharusnya. Aku ingin terus menyibukkan diriku. Aku takut bayangan Yesa akan hinggap lagi jika aku sedang menganggur. Itulah sebabnya, dari dulu aku selalu berusaha menghabiskan waktu hidupku dengan bekerja. Akibatnya, sampai saat ini aku belum pernah menjalin hubungan asmara dengan wanita lain. Mungkin juga, karena etos kerjaku yang sangat tinggi maka dalam waktu setahun, aku telah menjadi seorang manager di perusahaan itu. Kesibukan inilah yang terkadang membuat aku merasa tertekan sendiri, merasa menjadi satu-satunya manusia yang punya beban pikiran paling banyak.

Hari ulang tahun Yesa tinggal 3 hari lagi, tapi sampai hari ini, aku belum dapat menghubungi sahabat-sahabatku yang sudah 2 kali aku minta untuk memberikan tangkai mawar kepada Yesa. Mereka menolak. Bukan karena mereka egois, tetapi mungkin mereka memang telah sibuk pada pekerjaannya masing-masing, sama seperti aku. Sembari terus melamun, aku ayunkan pandangan ini ke setangkai mawar hitam yang layu. Aku masih menyimpan mawar itu. Kutaruh di atas meja kerjaku. Taklupa aku berikan wadah berisi air segar yang setiap harinya pasti diganti. Air tentu saja tidak dapat membuat mawar hitam yang sudah berumur lebih dari 5 tahun itu tetap segar. Tetapi, setidaknya, suntikan air keras yang kuberikan 5 tahun lalu mampu membuat mawar itu tetap awet. Toh tetap saja, mawar itu terlihat semakin layu dan kusut.

Betapa besar pengorbananku untuk menjaga mawar itu. Aku tetap punya harapan agar mawar itu dapat berubah menjadi putih kembali. Suatu harapan yang mustahil. Ya, inilah harapanku terhadap Yesa, setipis apapun kemungkinannya, pasti tetap akan aku perjuangkan. Dulu, mawar ini pernah nyaris terbakar ketika kamar kosku semasa kuliah terbakar. Saat itu, api sudah berkobar. Aku sadar, tidak mungkin dapat menyelamatkan semua barang yang ada. Entah karena aku sudah gila atau apa, tapi saat itu aku beranikan diri untuk menerobos kobaran api, hanya untuk mengambil tangkai mawar hitam itu. Beruntung, mawar itu masih belum hangus terbakar, hanya ada sedikit noda-noda kecoklatan karena suhu yang saat itu memang sangat panas. Pernah juga, mawar itu tertinggal saat aku pindah kos. Sialnya, aku baru sadar beberapa hari setelah kepindahanku. Lagi-lagi, ternyata aku masih jodoh dengan mawar hitam itu. Ibu kosku yang lama, masih menyimpannya, katanya karena beliau mengerti betapa aku sangat memperhatikan mawar itu. Dan sekarang, setelah lima tahun berlalu, aku masih belum melihat adanya perubahan warna pada mawar itu. Paling-paling yang ada malah warna coklat karena mawar itu perlahan-lahan terus layu.

Waktu saat ini telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Mata ini sudah sangat lelah. Dengan tenang, aku matikan seluruh lampu apartemenku yang terletak di Jalan Sudirman. Sesaat kemudian, aku sudah dikelilingi oleh kegelapan. Suasana yang sudah tidak asing lagi bagiku. Segera, aku melompat ke tempat tidur. Aku usahakan segala masalahku hari itu terbawa dalam tidurku yang singkat.

“Kucari dirimu di tetes embun, rintik hujan dan kembang kembang di taman
Kusapa bulan, kutanya segenap bintang dimanakah gerangan kenangan tersimpan
Meski ku tau waktu takkan mampu menjemput bayangmu. Selamat malam rindu…”

Pagi-pagi, dengan terburu-buru aku bergegas menuju kamar mandi. Hari ini, aku mestinya ada rapat dengan staff jam 10 pagi. Sekarang sudah jam 7 pagi. Ketika aku berjalan melewati meja kerjaku, aku merasa ada yang aneh. Aku mengamati keseluruhan meja kerja itu untuk mencari keanehan yang ada.

“Shit..”, teriakku kaget.

“Warna mawarku berubah….masih samar. Tapi aku tahu warna itu keputih-putihan…Belum semua memang, tapi aku yakin, warnanya berubah. Bagaimana bisa ? Aku harus segera pulang ke Jogja. Momen ini sudah kutunggu bertahun-tahun”, gumamku dalam hati.

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa mawar hitam yang sudah berusia tahunan, tiba-tiba,dalam waktu semalam bisa berubah menjadi putih. Terlihat betul, sudah 80% dari kelopak mawar itu berwarna keputih-putihan. Memang tidak putih benar seperti mawar yang segar. Aku rasa itu wajar, mengingat mawar itu pun sudah layu. Aku segera menelepon stafku untuk membatalkan rapat pada hari itu. Biarkan aku dipecat, atau apapun. Aku tidak peduli, yang penting aku harus segera mencari Yesa. Akan aku tunjukkan bunga mawar itu. Akan aku tunjukkan jika mukjizat itu nyata, aku masih berhak akan Yesa. Akhirnya pula, sebentar lagi rinduku akan pupus.

Hatiku berucap selamat tinggal pada rindu
Yang selama ini setia menghuni sudut kalbu
Ketika ingin kutitipkan cinta pada rindu
Ia enggan
“Supaya aku jangan pulang ?, hidup ini lah perjalanan, suatu saat pasti pulang.”
Baiklah rindu, biar rindu tetap disini
Semai damai di relung hati

******************************************************************************************************************

Bandara Adisutjipto, Jogjakarta, 10 : 43 AM

Dengan mawar yang sudah takhitam tergenggam, aku keluar dari bandara. Sesosok pria mendekati aku, menawariku “taksi gelap”, yaitu taksi dengan plat nomor hitam. Taksi seperti itu sangat mudah dijumpai di bandara ini.

“Den, mau ke mana ? Pakai mobil saya saja ? Kaliurang Cuma 100 ribu Den “, pria itu menawariku dengan sopan. Aku agak heran, mengapa pria itu tahu jika aku ingin langsung menuju rumahnya Yesa ? Itu di daerah Kaliurang.

“Mobilnya apa Pak ?”, tanyaku singkat.

“Kijang Innova”

“Ok, mana mobilnya ? Tolong barang saya dibawa sekalian Pak”. Aku mengiyakan tawaran pria itu. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah bagaimana agar dapat bertemu dengan Yesa.

Di dalam Kijang itu, kami berdua terlibat pembicaraan singkat. Pria itu mengatakan jika kota Jogjakarta sekarang semakin panas, karena kabarnya hutan-hutan di Gunungkidul telah dibabat habis akibat penemuan sumber tambang emas di daerah itu setahun yang lalu. Pria itu juga mengatakan jika sudah ada tambahan 3 mall baru dalam setahun belakangan. Jogja memang telah berkembang pesat, pikirku. Lalu lintasnya pun semakin ramai. Entah kenapa, aku berniat untuk menginap di kota ini hingga beberapa hari. Aku kangen juga dengan keluargaku, dengan mamaku. Aku pun sudah lama tidak nyekar ke makam ayahku. Pokoknya aku ingin tinggal lama di Jogja.

Sekitar 30 menit kemudian, Kijang itu telah memasuki Jalan Kaliurang. Lalu lintas di jalan ini terlihat sangat padat, kendaraan-kendaraan berjalan pelan merayap. Rumah yang akan aku tuju tinggal beberapa puluh meter dari sini. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Yesa. Perasaanku tidak karuan, campur aduk antara senang, takut, dan perasaan aneh yang lain. Begitu mobil ini melewati perempatan ringroad, aku sudah dapat melihat dari jauh rumahnya Yesa. Tapi, mataku terbelalak mendapati pemandangan yang aku lihat. Pemandangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Rumah itu terlihat sangat ramai. Dipenuhi banyak orang. Kendaraan-kendaraan berjejer rapi di sepinggir jalan. Aku yakin sekali, jika ada layatan. Tapi, siapa yang meninggal ?

Mobil ini akhirnya berhenti di pinggir jalan, tepat di seberang jalan rumah itu. Aku kaget setengah mati, ketika hiruk-pikuk orang memenuhi rumahnya Yesa. Sebuah ambulans pun terparkir rapi. Pasti ada yang meninggal. Tiba-tiba, rasanya aku mau pingsan saja tatkala melihat sebuah peti mati diarak keluar dari rumah itu. Peti mati warna putih dengan tanda salib di atasnya. Sebuah foto terpasang rapi tepat di depan peti mati itu. Isak tangis terdengar di mana-mana. Aku masih terpaku pada seberang jalan. Aku masih tidak percaya dengan foto itu. Foto itu adalah foto Yesa. Foto dirinya saat ia masih kuliah, menggunakan baju hitam dan sedang tersenyum. Aku kaget. Secara spontan, aku berlari menyebrang jalan. Aku nyaris tertabrak. Aku tidak peduli. Aku terus berlari menerobos kerumunan orang. Aku seperti orang gila, berteriak-teriak tidak jelas sambil terus menyebut nama Yesa.

“Yesica !!!! Kamu kenapa ? Yesica….!!! Jangan pergi !!!,” teriakanku mengagetkan seluruh pelayat. Beberapa orang mencoba menghalangi langkahku untuk mendekati peti matinya. Aku memberontak.

“Minggir !!! “, aku terus berteriak sambil tak segan memukul orang yang menghalangiku.

Aku terus memberontak, memukul, dan menendang kerumunan orang itu. Hingga akhirnya, pembawa peti mati itu pun tak berdaya menerima pukulanku. Peti mati itu jatuh.

“Brak ! “

“Hei, petinya jatuh…Tangkap orang itu !!”, teriakan keras terdengar di belakangku. Tentu saja, yang ia maksudkan adalah untuk menangkap aku. Tapi, aku sudah bertekad untuk melihat Yesa yang terakhir kalinya. Aku hampiri peti mati yang tergeletak itu, orang-orang yang semula berada di dekat peti mati segera menyingkir. Mungkin mereka tahu, andaikata mereka mendekatiku, maka mereka akan terkena pukulanku. Aku menangis ketika aku melihat sosok ayu terbaring lemah dalam peti itu. Yesa !! Sosok mungil itu masih cantik seperti dulu. Kali ini lebih cantik malah. Yesa terbaring dengan berbalut kain putih, gaun malam yang sangat indah. Ia bidadari pikirku. Apalagi kulitnya yang putih seakan-akan menambah kesempurnaan dirinya. Ia tidak layak untuk berada di kotak ini. Kotak ini terlalu hina untuk menampungnya kesempurnaannya. Kotak itu kecil, aku kasihan dengan Yesa. Kenapa sekarang ia harus terbaring di situ ? Tanpa ditemani apapun, hanya beberapa puluh tangkai mawar yang layu.

“Hah ? Mawar layu ? Jangan-jangan ini mawar yang tiap tahun aku kirim.”, pikiranku semakin kalut. Aku menghitung jumlah tangkai itu. Tepat 45 tangkai mawar merah. Ini berarti selama 5 tahun belakangan, Yesa mengumpulkan mawar-mawar yang aku berikan. Itu berarti, Yesa masih peduli dengan aku.

“Hajar saja pemuda itu ! Dia merusak peti mati anak saya !”, suara ancaman itu kembali terdengar. Selang beberapa detik kemudian, ada suara keras yang diikuti benturan di kepalaku.

“Prang !,”
Itu suara terakhir yang aku dengar, setelah itu aku pingsan.

******************************************************************************************************************

Waktu yang gesit tak lagi dapat dikejar
Dunia yang buas tak pernah mudah ditaklukan
Jiwa yang sunyi tak jua kunjung terisi
Hati yang jauh tak pernah kunjung mendekat
Waktu membunuhku
…sekarang…
…..disini…..
dalam peluk bayangmu

————————————————————————————————————————————————-

Nos jungunt rosae
~ Bunga mawarlah yang mempersatukan kita ~

Sebaris batu nisan…serombongan orang…sekelumit kata penghiburan…
sepenggal sambutan…secuil kenangan…seberkas harapan…
dan sekotak harum kembang serta sisa sisa pertikaian
Mengantarmu ke pembaringan suci
lantas tinggal pada kecilnya peti
dan aku yang tersedu sendiri
meratap dalam sunyi

Gelap. Aku buka mata pelan-pelan. Silau. Semuanya putih, di kiri kanan, atas bawah, semuanya putih. Apa aku sudah mati ? Apakah ini surga ? Kepalaku masih berat. Mata ini belum cukup kuat untuk menerawang seluruh keadaan di luar. Aku lelah. Masih teringat dengan jelas, raut sepi Yesa. Aku meraung-raung keras. Aku ingin bersama Yesa. Penyesalan ini terlalu dalam. Aku berguling-guling, menendang-nendang seperti orang gila. Nyaris tidak berhenti, sampai aku lihat, setangkai mawarku yang dulu, yang kini sudah memutih. Tangkai itu tergeletak lemah tak jauh dariku. Dengan merangkak, aku gapai tangkai itu. Kupeluk erat. Aku kembali menangis, meraung, dan menjerit saat aku sadar aku belum mati. Aku sekarang berada di ruangan sebuah rumah sakit jiwa di Jogjakarta. Tapi, justru itulah yang membuat aku semakin menyesal. Aku terus menjerit. Hingga tiba-tiba, aku mendengar sayup-sayup suara mungil Yesa. Ya, tak salah lagi, suara itu berasal dari ujung kelopak mawar yang aku genggam. Aku dekatkan kuping ini agar suaranya lebih jelas.

“Wijen, aku menunggumu di sini. Kesedihanmu tak akan lama lagi. Kita akan bersatu dalam kedamaian abadi..”

Suara itu begitu menentramkan. Damai sekali. Aku mulai tenang, kuucapkan dua patah kata padanya.

“Aku berjanji”

Mataku kembali terpejam, kali ini untuk selamanya. Mungkin. Kupeluk erat mawarku satu-satunya. Agar aku cepat kembali padanya. Agar rindu ini lepas sudah, aku sudah terlampau lelah.

Kupungut cerita terserak di sepanjang lorong waktu
Mengurai haru perjalanan meniti titik titik gerimis
Membelai pucuk cemara berbisik sambil menyisir pasir di pantai pelan pelan
Lalu dua bibir kita bertemu
Menyapa akrab saling bercengkerama diantara duri duri yang siaga untuk mengoyak
Seperti hari itu saat terakhir ku nikmati wajahmu



(Untuk Yesa. Dalam sunyi. Berharap andai kelopak itu menjadi putih kembali)

————————- The End ————————–

4 Comments

  1. sayapbarat said,

    walah.. bagus ini ceritanya.. diterbitin aja

    Anyway… kau mellow juga yah

  2. puthutp said,

    okeh

    bung Wijen makin yahud aja.

  3. sawung said,

    beuh masih ngejar yesa.
    turutin saran senior lo sibencup tuh.
    operasi plastik. :))

    piss jen.

  4. Chandra said,

    Bagus loh ceritanya, waktu awal baca, gw kirain cerita beneran. Kaget juga lu masi tingkat 2 uda jadi manajer, hahaha =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: