Mawar Hitam (Bagian I)

June 2, 2008 at 3:12 am (Asal Ngomong dan Curhat)

Inter vepres rosae nascuntur
(Ammianus Marcellinus)

~ di antara duri-duri itulah mawar itu mekar ~

Tiga tangkai bunga mawar sekarang sedang kupegang. Serasa ada darah yang mengalir pada tangkai-tangkai itu. Terasa hangat. Mungkin begitu juga dengan perasaanku saat ini. Aku gemetar. Tangkai- tangkai mungil itu semakin kupegang erat. Keringat terus meleleh jatuh di pelipisku, seolah akan disedot habis oleh teriknya sinar mentari siang di kota Gudeg ini. Mataku sayup memandang bangunan yang berdiri di depanku. Bangunan rumah dua lantai yang digunakan juga sebagai salon ini terletak di pinggir jalan Kaliurang. Lumayan besar. Di sekelilingnya terbentang pagar besi warna hijau. Sebuah papan nama “Christ Salon” terbentang tepat di pinggir bangunan itu.

“Mana motornya Yesa ya ? Apa dia masih kuliah ?”, gumamku dalam hati.

Bola mataku berputar, menelisik setiap kendaraan yang terparkir di halaman bangunan itu. Hanya ada 3 buah sepeda motor, sebuah sepeda, dan sebuah Hyundai Accent GLS keluaran tahun 1998 yang masih diselubungi cover warna abu-abu. Aku sudah sangat mengenali mobil itu. Mobil itu adalah mobil milik orang tua Yesa. Biasanya, saat siang hari seperti ini, mobil itu tidak ada. Tapi entah kenapa, sampai saat ini mobil itu masih terparkir rapi di depan garasi.

Aku beranikan untuk melangkahkan kaki menghampiri bangunan itu. Dengan setengah mengendap-endap, aku menyelinap di balik mobil warna silver itu. Perlahan-lahan, aku taruh tiga tangkai mawar yang sedari tadi kupegang di atas kap mobil itu. Sepotong amplop kuletakkan tepat di atas ikatan mawar. Simpel, di atasnya tertulis dua kata. “Untuk Yesa”.

“Semoga bunga ini ga dibuang pembantu begonya. Argh, sudah lebih dari setahun aku menunggu momen ini. Akhirnya, aku bisa juga memberikan tangkai-tangkai mawar di hari ulang tahunnya, setelah dia mencampakkanku begitu saja. Andai saja itu tidak terjadi”.

Hinc dolor, lacrimae hinc

Dari sana asal dari duka,
Dari sana pula asal air mata
Tetes-tetes ini bukanlah air mata
Hanya tetes perih rindu,
Yang tertahan lama oleh waktu
Dari sanalah, aku hilang dalam sendu

Mata ini tak terasa berkaca-kaca. Seakan dari mata ini tercermin masa lalu kita berdua. Suram. Aku membalikkan badan. Melangkahkan kaki dengan berat, menyebrangi jalanan yang ramai oleh kendaraan lalu-lalang. Sekejap kemudian, aku sudah berada dalam mobil warna silver.

————————————————————————————————————————————————–

“Yesa, aku tahu, klo semestinya aku ga berhak lagi masuk ke kehidupanmu. Aku tahu klo aku udah buat kamu susah. Aku tahu, klo semestinya aku terima aj saat kamu ingin pergi dari aku Ga semestinya aku nahan kepergianmu. Ye, aku udah ga berharap kamu mo balik ma aku.Aku juga sama sekali ga bermaksud meminta kamu maafin aku. Tp Ye, aku Cuma mau minta satu hal. Biarkan aku mengirimkan tangkai-tangkai mawar di hari ulangtahunmu. Biarkan aku mengutarakan betapa rasa sayangku tidak akan pernah pupus ditelan waktu. Biarkan aku.
Yesa, aku hari ini sengaja mengirimkan tiga tangkai mawar merah untukmu. Jumlah tangkai ini menggambarkan rasa cintaku yang melingkupi semuanya Ye. Kamu pasti tahu, kalau cinta berdasarkan iman Kristen terbagi menjadi 3 macam yang paling krusial. Agape, Philia, dan Eros. Yesa, itulah cintaku, masa lalu, saat ini, dan masa datang. Dulu, aku mencintaimu layaknya seorang sahabat, bahkan seorang keluarga. Itulah cinta Philia, lalu setelah itu, aku mencintaimu layaknya seorang yang bener-bener menjadi satu-satunya harapanku. Itulah cinta Eros. Tapi kini,aku mencintaimu dengan sederhana, layaknya cinta seorang Allah yang tidak mengharapkan imbalan, cinta yang paling murni dan suci, Agape. Lagipula, angka 3 adalah tanggal pertama kita jadian. Kamu masih ingat ? Kita jadian tepat tanggal 3 September 2006. Tanggal 3 bulan 9 tahun 6. Itu semua adalah angka sempurna. Angka yang tepat habis dibagi tiga. Kamu adalah Tuhan Tritunggal bagi aku.
Yesa, setiap tahunnya,nanti aku akan mengirimkan tangkai mawar dengan jumlah kelipatan tiga.Kamu pasti tahu maksudnya kan ? Jumlah-jumlah ini menggambarkan cintaku yang tidak akan pernah pudar sepanjang tahun, malah sebaliknya, cintaku terus bertambah dan berlipat ganda.
Yesa, aku ga mengharapkan balasan apapun dari bunga-bunga ini. Aku juga tidak menyiratkan maksud agar kamu mau menyimpan tiap mawar yang aku berikan. Aku ga peduli mau kamu apakan mawar itu. Yang penting, kamu tau kalau setiap tahun aku masih sayang sama kamu.Yesa, met ultah yah. Semoga Tuhan Yesus memberikan yang terbaik untuk kamu.

I Love U.

—————————————————————————————————————————————————–

Sonet Untuk Yesa

Matamu berbinar merah
sangat marah
mungkin lebih malah
kaubuat ku terluka berdarah

Lemah, akupun susut
berharap ajal ‘kan surut
Menghela nyawa yang tercabut
Sisih dalam padatnya kabut

Aku yakin telah lenyap tiada
Menapaki lantai-lantai surga
Menyapa dia, sang mahakuasa
Yang menyepuh penat jiwa
Dengan seribu bahasa nirwana
Lalu kataku, “kau tuhanku, Yesa !”

~Yesa, sudahkah aku beribadah padamu ?~

Salinan surat yang kuberikan bersama tangkai-tangkai bunga tadi menemani sore ini. Aku sudah tidak peduli lagi apakah surat bersama tangkai-tangkai mawar itu telah sampai kepada Yesa atau belum. Aku lelah. Pikiran ini dari tadi telah berlari-lari menghindari kenangan-kenangan masa lalu yang menyakitkan. Aku sudah bertekad tidak akan menghubungi Yesa lagi. Biarlah tangkai-tangkai mawar itu yang menjadi penghubung komunikasi kita berdua.

Aku disini
diam sendiri
beku
kelu
putus
melayang jatuh
rapuh
ingin mencinta
tak kuasa
Menahan duka
Mengurai luka
Untuk Yesa

Sebersit sajak pendek tadi baru saja selesai kutulis di laptop ini, beberapa hari setelah aku memberikan tangkai mawar kepada Yesa. Aku mulai memejamkan mataku, tak lama berselang, mamaku menggedor pintu kamar.

“Jen, ada paket tuh buat kamu…”

“Dari sapa Ma ? Klo dari pak pos, terima aj napa ? “, sahutku malas.

“Engga, bukan le, yang nganter cewek koq, kayaknya temenmu. Katanya, dia mau ngomong langsung sama kamu tu. Cepetan, ditunggu t di teras…”, mamaku tampaknya tidak peduli dengan kegalauan pikiranku saat ini. Dengan malas, akhirnya aku keluar juga dari kamar. Kuhampiri pengantar paket itu. Betapa kagetnya ketika aku melihat sosok gadis cantik, mungil yang sosoknya memang sudah sangat kukenal dekat.

“Hi Jen ! Dah lama ga ketemu ya ? Kamu ga berubah ya ?”

“O, iy. Koq tumben kamu ke rumah ? G kuliah pa ?”, tanyaku penasaran.

“Bentar lagi aku kuliah koq, ni Cuma mo nganter titipan aj”, gadis itu lalu menyodorkan setangkai mawar warna hitam kepadaku.

Aku bingung, sambil terus mengamati tangkai bunga yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kelopak mawar itu berwarna hitam. Bukan karena dicat. Sangat alami, sepertinya memang itulah warnanya. Iseng-iseng, aku menghitung kelopak mawar yang setengah mekar itu. Ada 9 kelopak. Tiba-tiba aku tahu dari siapa mawar ini berasal. Ya, mawar ini bukan dari gadis yang mengantarkan mawar itu. Gadis itu hanyalah teman lama saja. Mawar ini bermakna lebih.

“Loh, Vik, ini dari Yesa ya ?”, tanyaku tiba-tiba.

Vika, gadis itu, menjawab tangkas, “Koq tahu ? O iy, Yesa juga nitip surat ini buat kamu.”

Vika menyodorkan secarik kertas warna hitam. Ya, lagi-lagi warna hitam. Tidak pekat, tetapi cukup hitam jika dibandingkan dengan kulit tubuhku. Aku buka perlahan-lahan lipatan kertas itu. Tetapi, dengan sigap, Vika memegang tanganku.

“Jangan dibuka sekarang, Yesa bilang kalo kamu baru boleh membukanya klo kamu udah pulang ke Bandung.”, sergah Vika.

“Emangnya ngapa Vik ? Koq aneh, pake acara nunda-nunda segala ?”

“Aku seh ga tau, Cuma itu permintaannya Yesa. Turuti aj, masakan kamu ga mau nurutin mantanmu sendiri ?”

“Ya udah deh, aku ngalah. By the way, koq kamu yang nganter ? Kenapa ga Yesa ? Kebetulan aku kangen banget ma dia.”

“Hm, katanya Yesa sih, dia ga mau ketemu kamu. Tapi, dia harus ngasih titipan ini ke kamu. Penting katanya. Eh, udah ah, aku mau pulang dulu, bentar lagi kuliah neh.”

“Hah ? Yesa ngomong gitu ? Ya udah deh, tengkyu berat yah Vik. Ati-ati di jalan !”

Vika, segera beranjak meninggalkan rumahku, ia segera berjalan menghampiri taksi yang memang sedari tadi sudah menunggunya. Tak lama, taksi itu sudah menghilang dari pandanganku.

*******************************************************************************************************************

Beberapa menit kemudian, aku sudah berbaring kembali di tempat tidurku. Tanganku memegang kertas itu. Menimbang-nimbang, apakah akan aku buka sekarang atau nanti saja. Pikiranku membayangkan sejuta Tanya dan sejuta jawab untuk pertanyaanku sendiri. Dalam kebingunganku, hpku berbunyi.

“Udah ujan, becek, ga ada ojek, capek dech…”

Dari nada deringnya, aku tahu kalau ada sms yang masuk.

1 message
received

Aku buka sms itu.

———————+62818027277**—————————
Jen, u udah trm dr vika?
Pokoknya, suratnya jgn dibaca di Jogja !

Sender :
+62818027277**
Message centre :
+6281100000
Sent :
5 November 2007
11:57:53

————————————————————————————–

Sms singkat itu langsung kukenali. Yesa. Senang campur penasaran ketika membaca sms darinya. Baru pertama kali setelah perpisahan kami dulu, ia mengirim sms ke aku.

——————————————————————
Udah Ye. Kenapa kmu krm itu ? Kamu trma bungaku ?
————————————————————————————-
Sent !!!

Rupanya, sms itu menjadi sms terakhir yang aku terima dari Yesa. Balasanku barusan pun tidak pernah dibalas lagi olehnya. Aku kecewa. Lagi-lagi, Yesa tidak menggubrisku. Dalam kekesalan, aku paksakan diriku untuk membaca surat yang telah ia berikan.

Surat itu terlipat rapi. Sangat rapi malah. DIlipat menjadi tiga bagian sama besar. Dan entah kenapa, aku rasa lipatan itu pun punya arti sendiri. Ketika lipatan itu sudah terbuka, tampak jelas tulisan-tulisan mungil dari Yesa. Hanya ada beberapa baris, tepatnya hanya ada 6 baris. Ditulis dengan tinta emas.

To : Wijen


Aku udah terima mawarmu. Makasih ya. Aku kira kamu udah ga inget lagi ma ultahku. Aku ga akan panjang lebar. Terserah kamu klo emang mau ngirimin aku mawar tiap tahunnya, tapi jangan pernah berusaha untuk mencari atau menemui aku. Biar saja, nanti aku yang akan mencari kamu. Atau, kamu boleh mencari aku lagi kalau mawar hitam yang aku berikan sudah berubah menjadi mawar putih. Saat mawar itusudah berubah menjadi putih, kamu boleh mencari aku, karena, saat itu aku pasti sudah memaafkanmu seutuhnya. Trims. Moga-moga kamu sukses terus. Jesus Love Us.

Aku hanya diam. Terus diam, mungkin selamanya. Aku tidak peduli. Yesa sudah pergi. Mana mungkin mawar hitam bisa menjadi putih ? Omong kosong apa pula itu ? Harapan yang ia berikan adalah utopis belaka. Sesuatu yang mustahil. Yesa, jika memang itu inginmu, apa dayaku ?

—————————————————————————————————————————————————-
To Be Continued….

P.S. Kepingan sampah sastra satu tahun lalu, yang maju ke final lomba cerpen on-line sebuah komunitas pecinta sastra.

1 Comment

  1. surya said,

    wekwekwek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: