Yesalover, It’s You ! (Bab II)

April 26, 2008 at 5:02 am (My Novel)

BAB II

“…-seni terbesar mereka adalah berbohong, pertimbangan mereka adalah penampilan dan kecantikan..”
(Nietzche, Beyond Good And Evil)

Waktu
telah membuang malam, dan memungut fajar. Ia juga mengarak mimpi-mimpi
ini, mimpi-mimpi yang aku harap nyata. Hanya mimpi itulah yang
membuatku tetap berpendar, walau sesekali memudar karena tertiup angin
senja. Mimpi inilah yang mengiring hariku, menjadi cakrawala yang
terbentang pada kalbu. Entah kapan aku terus hidup dalam mimpi, tanpa
pernah realita kudekati. Tapi, inilah satu-satunya penyambung rindu,
rindu yang takpernah sampai padamu

“Pagi yang indah, semoga
ini akan melepas jiwaku yang lelah”, pikirku sembari menguap. Pagi ini,
sebenarnya aku malas untuk menggerakkan tubuhku dari peraduan. Semalam
aku lagi-lagi tidur pagi. Seperti biasa, bayang-bayangnya menghantuiku,
membuatku terlalu takut untuk tidur. Aku takut jika esok aku tidak
dapat bangun sehingga aku tidak dapat merasakan bayang-bayang itu lagi.
Tapi, waktu tidur yang kurang sudah menjadi sesuatu yang sering aku
alami, yah setidaknya untuk 6 bulan belakangan ini. Hari ini, aku
siap-siap untuk mengikuti pelatihan hari pertamaku. Inilah tujuanku
berada di Jogja, untuk mengikuti pelatihan mengenai pasar modal di UGM.
Sebenarnya, aku malas mengikuti pelatihan ini, selain aku sudah bosan
dengan pelatihan yang serupa, aku juga merasa ingin cepat-cepat
meninggalkan kota ini, karena aku sudah mulai dirundung
kenangan-kenangan masa lalu. Tetapi, walau bagaimanapun, aku mencoba
bersikap professional. Aku mencoba menyingkirkan segala permasalahan
pribadiku, dan bergegas untuk segera berangkat ke UGM. Seperti
biasanya, sebelum aku pergi, kusempatkan untuk mengecup anjing-anjing
kecilku. Ya, aku memang mempunyai tiga ekor anjing berwarna hitam. Aku
sendiri kurang tahu jenisnya, tapi yang pasti mereka dijamin lucu. Dari
tiga ekor anjing itu, yang dua adalah kakak beradik. Maksudku adalah,
mereka masih saudara. Sebenarnya mereka itu tiga bersaudara,
masing-masing kuberi nama Yusak, Cika, dan Tofi. Nah, sebenarnya
nama-nama mereka itu punya arti sendiri. Seperti yang bisa diduga,
Yusak itu adalah nama seorang cowok yang dulu tergila-gila pada Yesa,
dan memang saat anjingku lahir, nama itu selalu membuat aku ingin
muntah. Maka dari itu, anjingku yang pertama kuberi nama Yusak.
Sedangkan yang kedua, Cika, sebenarnya juga nama lain dari Yesa. Dulu,
aku sempat memanggil Yesa dengan sebutan Cika. Nah, karena sejak dulu
aku ingin memisahkan Yusak dari Cika (baca : Yesa), aku merasa sangat
senang ketika ada seorang temanku, yang ingin mengadopsi salah satu
dari anjingku. Dengan senang hati aku memberikan Cika padanya, dengan
harapan aku dapat memisahkan Yusak dari Cika sehingga impianku terwujud
. Nah, itulah asal-usul nama anjingku, jahat ya ?  yah, hanya sekedar
menjadi spe alterius vitae saja….

Aku sudah berada di dalam
mobil, ketika tiba-tiba ponselku bordering. “Sial, sapa nih yang tlpn
pke private number?”, pikirku. Dengan menggerutu aku menerima panggilan
itu juga, “ Halo, sapa ya nih ??”. “Wijen yah ? Ini aku, masak ga tau
ma suaraku ?”, suara di ujung sana menyahut. Memang, suara itu sudah
sangat akrab di telingaku. Bagaimana tidak jika hampir tiap hari, suara
itu menyapaku. Dia itu salah satu wanita yang sangat dekat denganku,
bisa dibilang dia adalah TTMku (NB. TTM=Teman Tapi Mes..). Ok, untuk
menjaga kerahasiaannya, kita sebut saja dia dengan Mawar. Mawar adalah
adik tingkat di Bandung. Pada awalnya, kita akrab karena berada dalam
satu organisasi yang sama. Tapi entah kenapa, lama kelamaan ia mulai
menganggap aku yang enggak-enggak. Berawal, dari teman, kemudian ia
menganggapku kakak angkat, dan yang terakhir (dan ini sempat membuatku
bingung setengah mati) sebagai pacarnya. Dia memang orangnya cuek, ia
tidak peduli ketika aku berkali-kali mengungkapkan secara implicit jika
aku belum bisa jadian. Toh, tampaknya dia juga enjoy saja dengan
hubungan kita saat ini.

“Ko, lagi apa ? Koq tumben ga ngabari
aku kalo udah nyampe Jogja ? Kan kemaren koko janji mo ngabari..”,
seloroh Mawar. O iy, seperti yang sudah aku katakan, ia telah
menganggap aku sebagai pacarnya, jadi ia selalu menggunakan kata “koko”
sebagai ganti namaku (NB. Kata “koko” biasanya digunakan oleh orang
keturunan untuk memanggil kakaknya atau pacarnya). Aku sendiri tidak
pernah merasa keberatan dengan sebutan itu.

“Sori bgt Pey (NB.
Ini sebutanku untuk Mawar, yang kurang lebihnya berarti “cantik”), koko
emang belakangan lagi ga ada pulsa. Maklumlah, buat makan aj sulit,
hehehehehe…Btw, Pey-pey koq pake private number ? tadi takkira fansnya
koko yang laen tuh…ampir aj ga koko angkat. Pey-pey baru bangun yah ?
koq suaranya lemes bgt ? Ilernya dah dibersihin belum tuh ?”, aku
menyahut dengan setengah bercanda.

“Iy ko, pey baru aj bangun..eh tau ga, semalem pey mimpiin koko loh…”

“Biasa aj, koko emang tipe cowok yang sulit dilupain…”

“Iy
bener, koko emang sulit banget dilupain, gimana mo lupa kalo koko
selalu jadi setan dalam mimpi Pey. Pey kan jadi ketakutan ko…”

“Hu dasar…masakan Pey kalo mimpiin koko selalu jadi mimpi buruk…curang ah”

Begitulah, percakapan kami yang selalu berakhir dengan penuh canda
tersebut sempat menunda kepergianku selama beberapa menit. Andaikata
saja tadi aku tidak mengakhiri pembicaraan duluan, dia pasti bisa
nyerocos sampai sejam lebih. Akhirnya, aku menutup pembicaraan kita
dengan sebuah sajak pendek yang aku kirim kepadanya.

Dalam sipu, terajut sulaman hati;
Rapi berarak benang-benang rindu
Diselingi ornament-ornament waktu
Terbungkus kaku, oleh kasih suci
Mengharap kamu tuan dari rajutan itu

Walaupun
hubungan kami sudah sedemikian dekatnya, tetap saja perasaan ini tidak
pernah menyemai benih cinta padanya. Terkadang aku merasa kasihan juga
dengannya, karena hubungan kita yang tidak punya status jelas. Yah,
tapi mau bagaimana lagi, aku sudah mencoba menerangkan kepadanya
mengenai perasaan ini, toh dia juga tetap ga mau ambil pusing.

Sesaat kemudian, mobil Peugeot 306 keluaran tahun 1998 berwarna silver
ini mulai mengendus-endus aspal. Mobil ini sebenarnya dulu milik kakak
lelakiku, tetapi karena ia pindah kerja ke Malaysia (atau Malingsia ?),
maka mobil ini diberikan ke ibuku. Kakakku iba melihat kondisi ibuku
yang semakin renta, apalagi di usianya yang lanjut, beliau harus
berjuang sendiri untuk meneruskan usaha makanan kecilnya. Ayahku sudah
meninggal kira-kira setahun yang lalu. Sejak itu, ibuku terlihat sangat
kesepian. Ia harus tinggal sendirian di Jogja karena ketiga anaknya
merantau keluar kota. Kakak lelakiku,-anak pertama- sudah bekerja
sebagai senior engineer pada perusahaan telekomunikasi Cina di
Malaysia, sedangkan kakak perempuanku juga sudah bekerja di Jakarta
sebagai supervisor di sebuah perusahaan provider terkemuka, lalu aku
sendiri sekarang masih kuliah di Institut Teknologi Bandung.

Mobil silver ini terus melaju di tengah khayalku yang bersaing dengan
kepadatan lalu lintas kota Gudeg ini. Sesekali, suara lengkingan
klakson terlontar keras, seolah-olah singa yang menjadi emblem Peugeot
ini sedang mengaum, menandakan arogansinya sebagai sosok raja hutan.
Dari dalam mobil, aku bisa melihat polah-tingkah manusia yang beraneka
ragam. Mereka seakan saling berlomba untuk bertahan hidup dalam
kungkungan belenggu yang mengurung hakikat mereka sendiri. Di antara
kesibukan mereka, aku yakin betul jika sedikit saja dari mereka yang
benar-benar bisa lepas dari belenggu itu. Yah, secara tidak mereka
sadari, toh mereka sudah terbelenggu ketika mereka pagi-pagi melakukan
aktivitasnya hanya sebagai rutinitas belaka. Atau mungkin belenggu itu
berupa jerat dusta yang terlontar dari mulut sang hawa, sehingga ia pun
dapat memanfaatkan adam dalam upayanya bersembunyi dari murka tuhan
akibat tipu daya sang hawa.

Pernahkah terpikir jika hawa itu
benar-benar penuh tipu dusta ? Pada bible saja jelas dikatakan jika
hawa berhasil membujuk adam untuk memakan buah pengetahuan yang baik
dan buruk agar serupa dengan tuhan. Konon, pada script aslinya yang
terbuat dari papyrus, hawa diceritakan tidak saja berhasil memperdayai
adam, tetapi juga tuhan. Pada script asli tertulis bahwa pada awalnya
tuhan murka kepada hawa, tetapi karena hawa berhasil merebut hati
tuhan, maka adamlah yang menerima murka tuhan. Namun, setelah adam
bersikeras meyakinkan tuhan jika yang memberikan buah itu adalah hawa
atas bujukan ular, maka tuhan pun terbuka matanya, dan menimpakan
murkanya pada sang ular. Roma ditengarai telah menghilangkan beberapa
ayat dari kitab Kejadian sekitar tahun 325 M pada Konsili Nicea *).
Saat itu, Roma menilai ayat itu sangat membahayakan keilahian tuhan.
Ayat itu secara implicit menyatakan jika adam dan hawa memang telah
serupa dengan tuhan. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan hawa
memperdaya tuhan, sehingga tuhan sempat tidak menyadari kebenaran yang
sesungguhnya. Walaupun terlihat sepele, namun ayat ini jika tersebar
luas dapat merusak kepatuhan dan keyakinan para penikmat bible.

Kontroversi tersebut muncul ketika sekitar tahun 1920-an ditemukan
sebuah gulungan papyrus di sekitar Laut Mati yang tampaknya berisi
salinan dari kitab Kejadian dan Keluaran. Gulungan ini memang memiliki
umur yang hampir sama dengan gulungan yang menjadi sumber kitab
kejadian. Menurut analisis ahli sejarah, dilihat dari cara penulisan
dan gaya bahasanya, gulungan controversial ini ditulis oleh orang yang
berasal dari daerah dan masa yang sama dengan penulis pertama gulungan
kitab Kejadian. Sangat logis, jika aku tadi mengatakan kalau hawa itu
memang pandai berdusta. Dan itu bukanlah sesuatu yang tabu atau perlu
disembunyikan, sebaliknya itu suatu fakta dari nilai plus dan daya
tarik kaum hawa. Jika masih tidak percaya akan kehebatan lidah wanita,
kita bisa lihat banyak sekali lelaki dengan penuh kuasa, harta, dan
disegani oleh sekitarnya tunduk oleh lidah-lidah nakal wanita.
Contohnya saja, filsuf terkenal dari Jerman, Nietsche yang menjadi gila
karena ia menyadari jika wanita dalam hidupnya selama ini telah
berbohong dan akhirnya meninggalkannya dalam kesendirian. Atau sebut
saja mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, yang terkena
skandal wanita. Banyak sekali wanita dengan lidah dustanya membohongi
lelaki dan menjadikan lelaki sebagai tameng dalam hidupnya. Dan
hebatnya lagi, lelaki-lelaki ini sama sekali tidak merasa tertipu.
Lelaki malah terkadang bangga jika dapat meniduri banyak wanita,
padahal seks adalah satu-satunya cara paling ampuh yang digunakan
wanita untuk menikmati kenikmatan yang dimiliki oleh kaum adam. Masih
banyak korban-korban dari kejahatan tipu daya wanita, salah satunya ya
aku ini. Sudah lebih dari 3 tahun aku memberikan segala kepercayaan dan
harga diriku pada seorang wanita dengan penuh suka cita, padahal
akhirnya wanita itu hilang entah ke mana. Ini terjadi karena
ketidakwaspadaanku dan tentu saja akibat blandae mendacia linguae
**) dari wanita. Wanita itu kan mampu menyembunyikan dirinya sendiri di
balik make up tebal dan segala kegenitan yang mereka miliki. Itulah
wanita. Dan kita, kaum lelaki, justru tergila-gila akan hal ini. Ah, naiserie allemande ***).

“Damn
! “, aku berteriak sambil menginjak pedal rem dalam-dalam. Darah ini
serasa berhenti mengalir ke otakku. Aku diam. Untuk sesaat, aku tidak
mendengar lengkingan klakson kendaraan-kendaraan lain di belakangku
yang terus memakiku gara-gara aku berhenti mendadak. Aku kaget ketika
ada sepeda motor yang menyalip dari kiri secara tiba-tiba. Aku kaget
ketika sekilas melihat Yesa membonceng erat seorang pria pada motor
itu. Walaupun aku hanya dapat melihatnya sekilas dari belakang, tapi
aku nyaris yakin 100% jika itu memang Yesa. Aku sudah mengerti betul
bagaimana potongan rambutnya, apa saja setelan yang sering ia pakai,
dan perawakan fisiknya. Apalagi akhir-akhir ini aku masih sering
membuka Friendster-nya untuk menatap foto-foto ayu seorang wanita yang
sangat aku puja. Sambil aku mulai memacu kembali mobilku, aku mencoba
meyakinkan diri ini jika apa yang baru saja dilihat tidak mungkin ada.

“Ga
mungkin itu Yesa. Ngapain Yesa siang-siang gini lewat di jalan Mataram
? Dia kan rumahnya di Jalan Kaliurang, ngapain juga sampai sini ? Ga
mungkin itu Yesa. Setahuku dia belum punya pacar, dia juga jarang
boncengan sama cowok. Tapi, kalau itu bukan Yesa, koq perawakannya
mirip ? Rambutnya yang rebonding sepunggung dan dicat warna merah itu
benar-benar sama dengan Yesa.Ugh, apalagi baju yang tadi dipakainya.
Warna hijau dan berkerah, model polo. Seingatku, Yesa juga punya satu
baju seperti itu, itu kan kado dari aku dulu. Arrrghhh…”

Aku
malah semakin bingung dengan pikiranku sendiri. Hanya ada satu cara
untuk memastikannya. Aku harus mengikutinya dan melihatnya dari dekat.
Segera
aku pacu mobil ini dengan cepat. Semakin sering aku membunyikan klakson
sekedar untuk menyingkirkan motor-motor dari tengah jalan. Motor Supra
hitam yang ditumpangi “Yesa” telah melaju jauh di depanku. Perlu usaha
keras agar tidak tertinggal. Walaupun motor itu pelan, toh tetap saja
lalu-lintas ini terlalu padat sehingga aku kesulitan untuk menggeber
mobil agak cepat. Memasuki jalan Yos Sudarso, akhirnya aku dapat
memperkecil jarak dengan motor Supra itu. Kami hanya terhalang satu bus
saja. “Sante aj, bentar lagi kan lampu merah, motor itu pasti berhenti.
Aku pasti bisa mastiin langsung.”

Aku sudah tidak sabar untuk
memastikan apakah dia itu Yesa atau bukan. Lampu lalu lintas hanya
sekitar 100 meter lagi. Aku terus-terusan membunyikan klakson, berharap
bus di depanku segera menyingkir. Tapi, yang namanya bus dijamin keras
kepala, berlagak sebagai raja jalanan, bertindak semaunya. Bus itu
tetap tidak mau mengalah. Alhasil, aku hanya dapat mengumpat dalam
hati. Sesaat, motor Supra itu menghilang dari pandanganku, tertutup
oleh badan bus. Beberapa detik kemudian, bus itu menepi juga tepat
beberapa meter sebelum lampu lalu lintas persimpangan jalan. Mungkin
ada penumpang yang mau turun. “Akhirnya, busnya minggat juga..”.
Peugeot ini segera menyalip bus brengsek itu dan berhenti di
persimpangan jalan. Tapi, sial. Motor Supra itu ternyata tidak
berhenti. Ia terus berbelok ke kiri, dan lama kelamaan menghilang dari
pandanganku.

“Asu banget. Udah ngebut-ngebut, eee minggat
juga…Lon*e, jembat, kontil. Arghh, koq aku ga tahu kapan tu motor belok
? beleguk…bego banget !!!! “ Aku terus mengumpat. Kalau sudah begini,
segala umpatan pasti keluar. Penyesalan terus memaksaku untuk mengumpat
sampai beberapa menit kemudian hingga aku tiba juga di tempatku
mengikuti seminar.

*) Konsili Nicea diadakan pada
tahun 325 M. Pertemuan ini diadakan oleh Kaisar Konstantine untuk
menetapkan bentuk Alkitab saat ini, serta beberapa aturan gereja dan
ritus lainnya. Selain itu, konsili ini juga sebagai awal mulanya
dikenal konsep trinitas, konsep dasar dari ajaran Nasrani.
**) Blandae mendacia linguae : kebohongan lidah yang manis
Penulis ingin menggambarkan keahlian wanita dalam “mempergunakan lidahnya” sebagai sesuatu yang manis tetapi menyesatkan.
***) Naiserie allemande : (bahasa Perancis) kebodohan Jerman
Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan suatu kebodohan fatal, sama
ketika Jerman melakukan invasi besar-besar pada perang dunia II dengan
mengorbankan banyak warga Yahudi dan berakhir dengan kekalahan.

———————————————————————————————————————————————————————————————-

Pertemuan pertama begitu menggoda, selanjutnya membuat duka, dan akhirnya membuat gila…

Ad perpetuam rei memoriam

Setangan kenangan, diam
Berdebu dan bau
Setangan kenangan, geram
Bisu, tapi dendam
Setangan kenangan, terkoyak
Sobek dan berdarah
Setangan kenangan, semerbak
Amis, busuk nanah
Setangan kenangan, mati
Letih menanti
Jiwa abadi

to be continued………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: