Yesalover, It’s You ! (Bab I)

April 26, 2008 at 5:00 am (My Novel)

Bila
seseorang pergi, itu karena seseorang lain sudah waktunya datang-aku
akan kembali menemukan cinta “ (Paulo Coelho, The Zahir)

Bab I

Aku dan Masa Lalu

Tataplah bintang, karena dialah yang mengetahui masa lalu

Kalau ada yang tanya nama,

Itu bukan soal

Kalau ada yang tanya asal,

Itu tidak akan mengusik jiwa

Kalau ada yang tanya agama,

Itu hanya membual

Kalau ada yang tanya apakah sesal,

Itu hanya ada pada saya…

Malam
ini, aku berada di sebuah warung kopi, duduk di kursi sofa yang
menghadap ke jendela luar. Aku sendiri. Entahlah, mungkin aku sudah
menghabiskan setidaknya 2 cangkir cappuccino dan beberapa
lembar roti. Mataku berputar, mengarahkan pandanganku mengelilingi
ruangan itu. Sekilas, dibalik jendelanya yang serupa waterfall, aku
dapat melihat orang berlalu-lalang di trotoar jalan Kaliurang.
Orang-orang itu terlihat sibuk dengan urusan mereka –dan aku yakin-
tanpa mereka tahu betul mengapa mereka melakukan aktivitas mereka itu.
Manusia memang terkadang suka melakukan hal-hal yang berdasarkan
rutinitas belaka tanpa tahu betul mengapa mereka melakukannya dan akan
ke mana mereka melangkah. Warung kopi ini tak begitu luas, mungkin
hanya sekitar 36 meter persegi saja. Tetapi, di dalam ruangannya yang
kecil nan artistik tersimpan sebagian kecil sejarah hidupku. Memang
akhir-akhir ini, aku sering mengunjungi tempat ini, sekedar untuk
menyeruput secangkir hot chocolate sembari berharap andai-andai ia dapat kembali lagi.

Semenjak
peristiwa 6 bulan lalu, aku tidak pernah kembali lagi mengunjungi kota
asalku ini, Jogjakarta. Maklumlah, aku selama ini tinggal dan kuliah di
Bandung. Sebenarnya, aku masih sering merasa kangen akan
Jogjakarta. Hanya saja, kenangan 6 bulan lalu terasa menghalangi niatku
untuk pulang. Aku sendiri tidak tahu secara pasti, mengapa aku berada
di sini. Sendiri dan merasa kesepian di kota asalku. Yang aku ingat,
beberapa hari lalu, aku harus mengikuti training di UGM dari
salah satu unit kemahasiswaan universitasku. Awalnya aku menolak.
Tetapi, karena ketuaku terus memaksa dan mengatakan bahwa aku adalah
satu-satunya anggota yang tersisa-karena anggota lain telah pergi
liburan- sehingga mau tidak aku menerimanya. Yah, peristiwa yang lain
tidak begitu kuingat jelas. Sepertinya baru kemarin aku tiba di stasiun
Tugu, dijemput oleh sahabatku, Gregor. Ia begitu antusias melihatku,
seolah-olah ia bertemu dengan kekasihnya setelah berpuluh-puluh tahun
berpisah. Selama perjalanan dari stasiun ke rumahku, ia bercerita
banyak hal, mulai dari keadaan sahabat-sahabatku yang lain hingga
kehidupan pribadinya setelah ditinggal pergi oleh sang kekasih. Aku
sendiri saat itu sedang malas untuk berbicara banyak. Yang kulakukan
saat itu hanya menanggapi secara asal-asalan sembari sekali-kali
menguap. Aku masih ingat ketika Gregor menanyakan kabar wanita itu.
Sahabatku itu sepertinya memang sudah paham betul mengenai perasaanku.

“Jen, ngopo e koq meneng wae ? Wah, kowe kepikiran maneh karo temon kuwi yo ? Hm, by the way, selama
di Bandung, kabarmu piye ? Ketoke akhir-akhir iki kowe ra tau telepon
aku maneh, ra tau curhat neh. Hm, ternyata kamu mulai bisa menghadapi
kenyataan ?”

Ah, Gregor memang masih seperti dulu, jika berbicara masih menggunakan bahasa yang dicampur-campur, ga keruan.
Menanggapi pertanyaannya itu, aku cuma bisa menjawab lirih, “Ah, biasa
aj koq Greg. Nek kepikiran yo isih. Tapi, aku sadar, aku uda ngrepotin
kamu terlalu banyak. Aku takut kalau aku curhat lagi kamu bakal bosen.
Bukannya kamu udah denger curhatku tentang dia selama lebih dari 2
tahun ? “. Greg mungkin memang tidak tahu keadaanku yang sebenarnya
selama 6 bulan belakangan. Aku tidak tega untuk cerita kepadanya. Ia
salah satu sahabat terbaikku. Aku merasa telah cukup banyak
merepotkannya dengan segala masalah-masalahku, mulai dari masalah
kepengurusan di gerejaku, masalah orangtuaku yang nyaris bercerai
hingga masalah pribadiku dengan wanita itu. Untuk beberapa saat, aku
hanya diam selama di perjalanan. Pikiranku saat itu berkelana, mencoba
menerobos masuk semak-semak kegelisahan dan kekhawatiran akan keadaan
sahabat-sahabat yang lain, Ata, Rama, Vinz, Androz, Alf, ataupun Nova.
Walaupun begitu, toh tetap saja pikiranku seolah tidak mau lepas dari
bayangan keindahan wanita itu. Wanita yang telah mengajariku banyak
hal. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya api kehidupan yang
menerangi jalanku sekaligus membakar segala asa dan harga diriku.

Lamunanku buyar tatkala waitress
menawakan secangkir kopi lagi. Aku menolak dengan sopan. Segera, aku
berdiri dan beranjak dari warung itu setelah sebelumnya meninggalkan
selembar lima puluh ribuan di atas meja. Aku masih ada janji dengan Ata
untuk bertemu di atap Swaragama pukul 7 malam dan sekarang pukul
setengah enam. Banyak hal yang ingin kuceritakan padanya.
Awalnya dia bertanya, mengapa harus bertemu di tempat itu, mengapa
tidak bertemu di rumahnya saja. Aku beralasan jika aku hanya ingin
ganti suasana saja. Padahal, sesungguhnya –lagi-lagi- aku
ingin tenggelam dalam perihnya kenangan masa lalu. Atap Swaragama
adalah satu dari sekian banyak tempat yang pernah kukunjungi bersama
wanita itu. Di tempat itu, dulu, aku dan dia sering bercakap-cakap
mengenai filsafat. Aku sering bertanya padanya, apa makna hidup ini,
apa dia percaya jika ia menatap bintang berarti ia telah berhasil
meliht ke masa lalu. Ia selalu mengerenyitkan kening ketika aku
mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti itu. Dan aku senang
melihat ia dengan muka kebingungan setengah jengkel mendengar
pertanyaan-pertanyaanku. Jujur saja, ia tampak tambah imut ketika
sedang bingung. Dalam tubuhnya yang mungil, tersimpan sejuta bintang
yang tak dimiliki oleh wanita lain. Ia setahun lebih tua dariku, tetapi
kondisi fisik dan kecantikannya menyebabkan ia tampak lebih muda.
Sikapnya pun terkadang seperti anak kecil; lucu, polos, dan lugu.
Entahlah, ia terasa begitu berarti bagiku.

Perjalanan
untuk tiba di atap Swaragama tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 20
menit aku sudah tiba di sana. Atap Swaragama adalah balkon yang berada
pada lantai paling atas sebuah gedung perpustakaan milik UGM. Pada
lantai itu terdapat satu stasiun radio yang bernama Swaragama. Dari
situlah asal mula nama Atap Swaragama. Tergesa-gesa, aku segera meniti
anak tangga yang mungkin kalau dihitung berjumlah lebih dari 40 anak
tangga. Taklama kemudian, aku telah sampai di lantai paling atas. Di
situlah dulu aku sering melihat bintang-bintang tersipu malu,
bersembunyi di balik sekumpulan awan hitam. Pemandangannya sangat
mengesankan. Nyaris seluruh isi kota Jogja dapat aku cermati satu-satu,
di bagian selatan aku dapat melihat gedung pertokoan yang berdiri megah
mengepung perkampungan penduduk. Sejenak, aku berdiri di pinggir
balkon, memandang bintang-bintang yang asyik bercengkerama dengan
bulan, dan terlintas di pikiranku sebuah puisi yang kutulis untuk mengenang kepergiannya.

Kepada langit, kepala ini menengadah

Mengintip bulan mengerang lemah

Diam, sembilu, pucat, mungkin juga lelah

Sepi, menghantarkan khayal ini kepada malam

Yang perlahan hilang, semakin buram

Terpojok ia, dikelilingi ilalang

Seolah ada di tengah padang,

Luas dan penuh binatang jalang

Putus asa ia, mungkin

Redup, rapuh dalam nafas terputus yg dingin

Tangan ini menyodorkan,

Sederhana; ‘tuk menggapai tetesan,

Peluh dan air mata rembulan

‘tuk dipersembahkan pada setan,

Lebur dalam indahnya dendam,

Malam;

Yang sangat kelam.

Puisi
itu memang mengingatkanku akan adanya. Masih jelas terpatri di
ingatanku, jika saat itu, setelah ia mengucapkan kalimat yang membuatku
marah dan kecewa, aku segera pergi ke sini, berteriak seperti orang
gila, merasa jika tuhanku telah mati.. Aneh memang, padahal beberapa
bulan sebelum tragedy itu, aku masih sempat mengenakan sebuah kalung di
lehernya yang mungil –yang menurutku akan sayang jika tidak berada di
lehernya- sembari mengatakan jika ia benar-benar terlihat cantik.
Sungguh sangat romantic momen itu. Di bawah sinar bulan, dan disaksikan
oleh bintang-bintang, aku, seorang nista dan hina, berkesempatan untuk
mengenakan sebuah kalung di leher bidadari mungilku. Sebutan bidadari,
bagiku, tidak mengacu pada kecantikan wajahnya. Ia tidak tergolong
istimewa secara fisik, tetapi ia istimewa karena membawa banyak
perubahan fundamental di hidupku. Tetapi, saat itu aku merasa dia telah
berubah menjadi bidadari pencabut nyawa. Aku, yang selama ini
mendamparkan segenap asaku padanya, tiba-tiba dilempar olehnya ke
tengah lautan keputusasaan. Ia benar-benar berubah. Dan itu hanya
berlangsung dalam hitungan menit. Aku tahu, segalanya pasti berubah dan
tidak pernah ada yang sama. Apa kamu yakin jika kamu yang sekarang akan
sama dengan kamu pada 3 menit yang lalu ? Menurutku, kita mengalami
perubahan tiap milisekonnya, entah apapun itu. Mungkin saja dalam waktu
yang singkat itu, beberapa sel tubuh kita telah mati dan mengalami
regenerasi, atau mungkin saja pikiran kita telah berubah, yang pasti,
semuanya tidak sama dan telah berubah. Dalam galau itu, aku tulis puisi
tadi. Aku memang suka menulis, apapun itu, bisa kuubah menjadi tulisan,
termasuk perasaanku. Pernah sekali waktu, setelah kami berpisah, ia
menghapus namaku dari daftar teman pada friendsternya karena ia merasa terganggu dengan puisi-puisiku yang kutulis di bulletin friendster.
Aku sampai sekarang masih merasa jika ini semua adalah mimpi. Bagaimana
mungkin, baru beberapa bulan kami berdua masih menikmati kebahagiaan
bersama, dan beberapa bulan kemudian ia tiba-tiba membenciku. Ah,
memang benar, antara mimpi dan realitas hanya dipisahkan selembar tirai
tipis. Di tengah-tengah khayalanku, tiba-tiba sebuah suara yang sudah
takasing lagi memanggil namaku.

“Woi, Wijen ! Koq tumben ngajak ketemuan di sini ? Huehehehe, rambutmu tambah panjang aja. Tebak deh, siapa yang kubawa. “

Tiba-tiba,
beberapa suara yang memang sudah takasing lagi segera menyambutku.
Suasana sontak menjadi riuh. Ternyata Ata datang membawa Greg, Androz,
dan Nova. Suara-suara mereka segera mengisi sepinya malam itu. Mereka
secara spontan langsung menghujami pertanyaan-pertanyaan ke aku, mulai
dari masalah pacar, awewe-awewe Bandung, sampai masalah yang
sama sekali ga penting, seperti masalah pakaian dalamku. “Wah, gimana
Jen di Bandung, dah mulai berubah belum ? Dah punya pacar baru ?
Makanya, penampilanmu tu diubah, rambutmu dipotong, cawetmu diganti
tiap hari, biar cepet laku..”, cerocos Androz. “Gundulmu yo, tanpa
motong rambut aj, aku sekarang dah banyak dikejar-kejar cewek, apalgi
klo potong rambut”, timpalku ketus. Androz memang sahabatku yang paling
pintar melucu, dia selalu jadi individu penghibur bagiku. Beruntunglah
malam ini Ata datang bersama mereka karena itu berarti malam ini aku
tidak akan sendiri. Sepertinya Ata telah mengerti keadaanku yang memang
sedang ngarep sama masa lalu. Yah malam itu, aku akan kembali menceritakan segala keadaanku 6 bulan belakangan ini kepada mereka.

“ Aku ga ngerti,
kenapa sampai saat ini aku masih mikirin Yesa. Selama 6 bulan
belakangan ini, hari-hariku tetep aj diisi sama bayang-bayangnya.
Herannya lagi, bayang-bayang itu bukannya semakin samar, malah semakin
jelas dan akhirnya selalu menghantuiku tiap malam. “, aku memulai
pembicaraan itu.

“Sudahlah, lha kmu tu ya aneh, wong
dia juga udah ga ada koq kmunya masih mikir. Ga usahlah diambil pusing,
tar kmu sendiri to yang susah ? Kamu udah ngorbanin perasaanmu sama dia
terlalu banyak, Jen. Aku sendiri ga yakin klo dia bisa hargain
pengorbananmu”, Tiba-tiba Nova, satu-satunya sahabat cewekku menimpali.
Dan segera saja sahabat-sahabatku yang lain mengiyakan. Tampaknya
mereka setuju jika aku memang telah mengorbankan perasaanku tanpa aku
tahu apakah Yesa dapat menghargainya. Tapi,…

Biarlah aku memasung jiwaku,

Mengikatnya pada hamparan kayu

Terombang-ambing taktentu

Walau nanti ombak membuatnya tersapu,

Dan karang akan membenturkannya slalu

Biarlah, agar semua itu

Dapat membawaku pada ujung rindu

Aku sudah tidak peduli lagi

Jikapun dia tidak pernah mengerti

Semua makna pengembaraan ini,

Yang padanya kutempuh tepian ngarai

Yang untuknya kusulam hitamnya hari

Yang karenanya kutepis rayu bidadari

Sudahlah, biar aku menyiksa hati

Karena itu satu-satunya teman sepi

Ya,
aku memang terkadang merasa bersalah kepada sahabat-sahabatku. Kenapa ?
Karena di satu sisi, aku selalu merepotkan dengan cerita-ceritaku,
tetapi di sisi lain aku enggan menuruti nasihat mereka untuk melupakan
Yesa. Bukannya aku tidak mampu, tetapi hanya saja aku belum mau. Aku
masih menanti satu hari, ketika ia akhirnya mengerti seberapa jauh
pengorbananku untuknya. Ini semua hanya untuk membuktikan jika dia
memang wanita satu-satunya yang kuberikan segala asa dan jiwa. Malam
ini pun, sahabat-sahabatku hanya bisa mendengarkan cerita-ceritaku
tanpa mereka yakin jika nasihat-nasihat yang diberikan akan aku lakukan.

“Greg, Ta, Ndroz,
Nov, kalian kan tahu kalau aku sama dia itu cinta abadi, walaupun
terkadang aku sendiri juga ga ngerti apa ini Cuma sekedar obsesi ?
Selama 6 bulan yang lalu, aku memang tidak pernah bisa untuk mencari
wanita penggantinya. Kamu tahu ? Ada beberapa cewek yang memang Pdkt ma
aku, sampe akhirnya kita jadi TTM, tp ya just it, cannot more than
that. Aku ga bisa tuh kalo harus jadian sama cewek lain, sementara
hatiku masih ketinggalan di Yesa. Aku ngerasa bersalah aj. Aku kasihan
ma cewek yang mo takajak jadian…”, aku coba menjelaskan keadaanku
kepada mereka.

Segera, Greg
menimpali “Nah, itu ada yang naksir kamu. Itu kan jarang-jarang ada
cewek yang mau ma kamu…langka tuh. Kenapa ga ditembak aj ?? Daripada ga
ada dan kamu malah sakit lagi gara-gara Yesa ?? Mbok kamu tuh sadar
Jen, dengan karaktermu yang kayak gini, kamu sulit dapat pacar. Butuh
cewek yang bener-bener ngerti dengan karaktermu untuk bisa bersanding
ma kamu, dan itu berarti ga semua cewek yang bisa. Makanya kan, kamu
sendiri sering cerita kalo banyak cewek yang njauhin kamu begitu kenal
agak deket. Udahlah, mumpung ada yang mau ma kmu tuh…Forget the past,
Move forward lah…”

“Iy, Jen, aku aj
sebagai sahabat cewekmu kadang-kadang ga ngerti dengan prinsipmu. Aku
aja terkadang masih sulit memahami karaktermu. Padahal kamu tahu kan
klo kita dah deket semenjak SD. Bener bgt katanya Greg, udahlah lupain
Yesa, coba jadian ma ce lain dulu”, Nova pun ikut-ikutan menimpali.

Ah,
aku hanya bisa mendesah lemah. Aku mengerti maksud mereka, hanya saja
hal seperti itu sangat sulit bagiku. Aku sulit membohongi diriku dan
menjadikan orang lain sebagai pelarian masalahku. Aku tidak sama dengan
Yesa, yang dengan seenaknya menjadikan gereja, agama, dan pria sebagai
pelarian dari masalahnya. Aku merasa konyol jika harus seperti itu,
apalagi jika mengingat sikap Yesa belakangan ini yang menjadikan gereja
–atau lebih tepatnya tuhan- sebagai pelariannya. Ini bermula ketika aku
merasa ada yang aneh dengan Yesa semenjak ia pergi dari hadapanku. Ia
semenjak hari itu nyaris tidak pernah menghubungiku dan tidak mau aku
hubungi. Ia mungkin saat itu benar-benar ingin menghapus jejakku. Nah,
keanehan itu baru aku sadari ketika Yesa mulai aktif di sebuah gereja,
dan ia mulai mengkampanyekan cara hidup religious untuk melupakan
kepahitan. Ia di mataku saat itu cenderung munafik, karena sementara
dia bersikap religious, hatinya masih menyimpan kebencian padaku. Hal
ini benar-benar terbukti ketika aku berkali-kali ingin menghubunginya
untuk menjaga komunikasi pertemanan, tetapi Yesa sendiri selalu
mengacuhkannya. Aku menyimpulkan jika Yesa memang sangat menjaga
hubungan vertikalnya, tetapi cenderung melupakan hubungan
horisontalnya. Aku masih ingat benar saat aku mencoba bertahan tanpa
ada siapapun di sisiku, sementara dia seenaknya menjadikan tuhan
sebagai tempat pelarian. Menurutku, tuhan itu terlalu berharga jika
hanya dijadikan tempat pelarian, karena seakan-akan kamu datang hanya
pada saat ada masalah saja, dan berharap pelayananmu kepada tuhan dapat
untuk membayar dosamu di masa lalu, padahal kamu sendiri tidak pernah
berusaha untuk memperbaiki dosamu itu. Apa iya, manusia mencari tuhan
hanya untuk lari dari rasa bersalah. Jika ini memang benar, lalu
jangan-jangan surga itu Cuma khayalan manusia yang mendambakan
ketenangan akibat dosanya.

Aku bertanya padanya, di mana surga itu

Yang kudapat hanya setetes embun kalbu

Kucari di balik bangunan tua, yang katanya

Banyak lagu dan doa khusuk padanya

Tapi, yang kudapati hanya sekerat

Mayat, terpaku pada tiang salib

Aku bertanya padanya, apa bentuk surga itu

Yang kutahu ia hanya mengacungkan jarinya padaku

Kucoba lihat di sebuah buku tebal, yang katanya

Banyak orang berpegang teguh pada tiap kata

Tapi, yang kudapati taklebih dari

Tulisan membingungkan penuh doktrin

Aku mulai ragu untuk bertanya padanya apa isi surga itu?

Aku takut dia marah dan mengusirku tanpa mau tahu

Kuputuskan utk diam saja, sambil menerka-nerka

Dalam pikiranku terbayang ratusan kenikmatan dunia

Wanita bertelanjang dada penuh senyum ayu

khusus untuk nafsuku

Kubayangkan hidup bebas dari sengsara

penuh nikmat yang semua gratis kukecap

Tiba-tiba ia bangkit, marah rupanya

Dia katakan jika surga itu tidak ada

Surga cuma fenomena utopis belaka,

Agar manusia tunduk padanya

Katanya, surga itu cuma suap

biar manusia betah hidup di dunia pengap

dan dapat tidur lelap

Waktu
terus berlari, aku meminta sahabat-sahabatku untuk tidak lagi
menyinggung Yesa. Aku lelah dengan cerita-cerita tentangnya. Secara
bergiliran, aku meminta mereka untuk menceritakan kehidupan pribadi
mereka setelah aku berada di Bandung. Begitulah, kita mulai saling bercurhat-ria,
sembari sesekali diselingi canda tawa dan beberapa tetes air mata.
Malam itu terasa begitu melebur, antara kecewa maupun bahagia bercampur
dalam percakapan kita, mulai dari cerita Androz tentang pacar barunya
hingga cerita tentang Greg yang ternyata nyaris senasib sama aku, ngarep
pada seorang gadis yang tidak tahu arti pengorbanan. Aku mulai menguap
malas. Lelah memang hari ini, apalagi mengingat baru kemarin aku tiba
di kota Gudeg ini. Setelah kami terdiam beberapa saat dan mulai hanyut
pada dunia kami sendiri, aku menyudahi pertemuan kita hari ini. Capai,
itu alasanku kepada mereka, walaupun sebenarnya aku masih ingin
menyelesaikan beberapa naskah untuk novelku. Kami pun akhirnya sepakat
untuk segera pulang, dan berjanji akan bertemu kembali beberapa hari
kemudian. Bagi kami, pertemuan seperti ini dapat melepas segala penat
yang menyumbat segenap pori-pori pikiran. Dan bagi aku sendiri,
pertemuan dengan sahabat-sahabatku sangat berarti mengingat domisiliku
yang sudah bukan di Jogja lagi.

Malam ini, setelah terlalu lama

Kupanggul salib lewati lorong waktu

Kutemukan orang-orang yang mau;

Menyepuh darahku dengan tangannya,

Hingga wajah ini tercetak pada mereka

Tercetak dari peluh darah amis dan bau

Mereka memapah tiap jengkal salib ini

Walau aku tahu itu tidak akan lama,

Tapi itu cukup agar aku mampu merenda asa

Kembali tegak berdiri dan segera berlari

Untuk mencapai bukit golgota,

Yang katanya tersalib yesus yang suci

Tapi, apa itu yesus ?

Aku tidak peduli jika ia memang penebus

Tapi aku tahu mereka itu yang tulus,

Satu-satunya juruslamatku yang kudus

“…-seni terbesar mereka adalah berbohong, pertimbangan mereka adalah penampilan dan kecantikan..”

(Nietzche, Beyond Good And Evil)

Waktu
telah membuang malam, dan memungut fajar. Ia juga mengarak mimpi-mimpi
ini, mimpi-mimpi yang aku harap nyata. Hanya mimpi itulah yang
membuatku tetap berpendar, walau sesekali memudar karena tertiup angin
senja. Mimpi inilah yang mengiring hariku, menjadi cakrawala yang
terbentang pada kalbu. Entah kapan aku terus hidup dalam mimpi, tanpa
pernah realita kudekati. Tapi, inilah satu-satunya penyambung rindu,
rindu yang takpernah sampai padamu

“Pagi
yang indah, semoga ini akan melepas jiwaku yang lelah”, pikirku sembari
menguap. Pagi ini, sebenarnya aku malas untuk menggerakkan tubuhku dari
peraduan. Semalam aku lagi-lagi tidur pagi. Seperti biasa,
bayang-bayangnya menghantuiku, membuatku terlalu takut untuk tidur. Aku
takut jika esok aku tidak dapat bangun sehingga aku tidak dapat
merasakan bayang-bayang itu lagi. Tapi, waktu tidur yang kurang sudah
menjadi sesuatu yang sering aku alami, yah setidaknya untuk 6 bulan
belakangan ini. Hari ini, aku siap-siap untuk mengikuti pelatihan hari
pertamaku. Inilah tujuanku berada di Jogja, untuk mengikuti pelatihan
mengenai pasar modal di UGM. Sebenarnya, aku malas mengikuti pelatihan
ini, selain aku sudah bosan dengan pelatihan yang serupa, aku juga
merasa ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini, karena aku sudah mulai
dirundung kenangan-kenangan masa lalu. Tetapi, walau bagaimanapun, aku
mencoba bersikap professional. Aku mencoba menyingkirkan segala
permasalahan pribadiku, dan bergegas untuk segera berangkat ke UGM.
Seperti biasanya, sebelum aku pergi, kusempatkan untuk mengecup
anjing-anjing kecilku. Ya, aku memang mempunyai tiga ekor anjing
berwarna hitam. Aku sendiri kurang tahu jenisnya, tapi yang pasti
mereka dijamin lucu. Dari tiga ekor anjing itu, yang dua adalah kakak
beradik. Maksudku adalah, mereka masih saudara. Sebenarnya mereka itu
tiga bersaudara, masing-masing kuberi nama Yusak, Cika,
dan Tofi. Nah, sebenarnya nama-nama mereka itu punya arti sendiri.
Seperti yang bisa diduga, Yusak itu adalah nama seorang cowok yang dulu
tergila-gila pada Yesa, dan memang saat anjingku lahir, nama itu selalu
membuat aku ingin muntah. Maka dari itu, anjingku yang pertama kuberi
nama Yusak. Sedangkan yang kedua, Cika, sebenarnya juga nama lain dari
Yesa. Dulu, aku sempat memanggil Yesa dengan sebutan Cika. Nah, karena
sejak dulu aku ingin memisahkan Yusak dari Cika (baca : Yesa), aku
merasa sangat senang ketika ada seorang temanku, yang ingin mengadopsi
salah satu dari anjingku. Dengan senang hati aku memberikan Cika
padanya, dengan harapan aku dapat memisahkan Yusak dari Cika sehingga
impianku terwujud J. Nah, itulah asal-usul nama anjingku, jahat ya ? J

Aku sudah berada di dalam mobil, ketika tiba-tiba ponselku bordering. “Sial, sapa nih yang tlpn pke private number?”,
pikirku. Dengan menggerutu aku menerima panggilan itu juga, “ Halo,
sapa ya nih ??”. “Wijen yah ? Ini aku, masak ga tau ma suaraku ?”,
suara di ujung sana menyahut. Memang, suara itu sudah sangat akrab di
telingaku. Bagaimana tidak jika hampir tiap hari, suara itu menyapaku.
Dia itu salah satu wanita yang sangat dekat denganku, bisa dibilang dia
adalah TTMku (NB. TTM=Teman Tapi Mes..). Ok, untuk menjaga
kerahasiaannya, kita sebut saja dia dengan Mawar. Mawar adalah adik
tingkat di Bandung. Pada awalnya, kita akrab karena berada dalam satu
organisasi yang sama. Tapi entah kenapa, lama kelamaan ia mulai
menganggap aku yang enggak-enggak. Berawal, dari teman,
kemudian ia menganggapku kakak angkat, dan yang terakhir (dan ini
sempat membuatku bingung setengah mati) sebagai pacarnya. Dia memang
orangnya cuek, ia tidak peduli ketika aku berkali-kali mengungkapkan secara implicit jika aku belum bisa jadian. Toh, tampaknya dia juga enjoy saja dengan hubungan kita saat ini.

“Ko, lagi apa ? Koq
tumben ga ngabari aku kalo udah nyampe Jogja ? Kan kemaren koko janji
mo ngabari..”, seloroh Mawar. O iy, seperti yang sudah aku katakan, ia
telah menganggap aku sebagai pacarnya, jadi ia selalu menggunakan kata
“koko” sebagai ganti namaku (NB. Kata “koko” biasanya digunakan oleh
orang keturunan untuk memanggil kakaknya atau pacarnya). Aku sendiri
tidak pernah merasa keberatan dengan sebutan itu.

“Sori bgt Pey (NB.
Ini sebutanku untuk Mawar, yang kurang lebihnya berarti “cantik”), koko
emang belakangan lagi ga ada pulsa. Maklumlah, buat makan aj sulit,
hehehehehe…Btw, Pey-pey koq pake private number ? tadi takkira
fansnya koko yang laen tuh…ampir aj ga koko angkat. Pey-pey baru bangun
yah ? koq suaranya lemes bgt ? Ilernya dah dibersihin belum tuh ?”, aku
menyahut dengan setengah bercanda.

Begitulah,
percakapan kami tersebut sempat menunda kepergianku selama beberapa
menit. Andaikata saja tadi aku tidak mengakhiri pembicaraan duluan, dia
pasti bisa nyerocos sampai sejam lebih. Akhirnya, aku menutup
pembicaraan kita dengan sebuah sajak pendek yang aku kirim
kepadanya….(to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: