Untuk Yesa

September 13, 2007 at 8:54 am (Sastra dan Cinta)

Mengerjap kerlip bintang, lamunkan angan kenangan yg bermuara akan
kekaguman sosok ayu yang bersembunyi di balik tirai lugu. Ketika itu,
kalbu menderai sepi, sembari memasung satu hati. Luluh dalam sorot
mentari dan janji terpatri, menggulung seribu mimpi bersanding mesra
pada memori senja. Hanya sekali aku bersua, tuk menggenggam jiwa.

~Broken Hearted, 13 September 2007~
~Yesa, aku masih ingin menggenggam jiwa~

Powered by ScribeFire.

1 Comment

  1. rangga said,

    Tak lekang mata memandang, —-
    jauh menerawang awan terbentang—–
    menghalang cipta, rasa dan cita dan cinta—–
    membisukan nurani yang terbelah.——
    ————
    Perjalanan tak lagi bisa diulangi—-
    waktu telah memakan jiwa,—
    sesalpun tak lagi ada gunanya—
    maju saja selesaikan langkah.—-
    ————
    Mungkin awan memang harus menghalang—-
    mungkin nurani memang harus terbelah—-
    tapi tak lah harus mati langkah—-
    karena dari yang terbelah akan tumbuh tunas baru—-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: