BAB I

June 14, 2007 at 11:54 am (My Novel)

Yang, Tunggu Aku Yah…

 

Kembali lagi aku padamu,

Setelah surga memisahkan kita

Kan kunyanyikan lagu syahdu

Setelah ego membungkam segala fakta

Aku, akan kembali mengaku

Aku adalah binatang liar tak berguna

Jika tanpamu di sisiku

Keretaku, Lodaya, baru saja meninggalkan stasiun Bandung. Ia dengan tersipu-sipu menelusuri setiap jejak panjang yang ada, sembari sesekali menghela nafas panjang. Dalam gelapnya malam, ia terus berlari demi harapan-harapan penumpang untuk sampai di tujuan. Aku, duduk di gerbong nomor 2 kelas bisnis, di bangku no 15 D. Letak kursiku itu tidak jauh dari toilet. Jadi, sesekali aku dapat menghirup aroma khas dari segala macam kebusukan manusia yang keluar darinya, bercampur dengan kemunafikan yang mencoba menutupi kebusukan itu. Di sebelahku, duduk seorang pria –yang jauh lebih tua dariku- mengenakan setelan kemeja dan blue jeans. Ia dari tadi hanya diam, sembari terus mengipaskan ujung kerah bajunya. Ia mungkin merasa gerah. Maklum, walaupun di kereta bisnis disediakan kipas angin, sayangnya, kipas angin yang paling dekat denganku tidak dinyalakan. Mungkin rusak, karena biaya maintenance kereta sudah habis untuk membayar ongkos prostitusi atasan, atau mungkin juga sengaja dimatikan oleh penumpang di belakangku gara-gara ia takut kebusukan politisnya tercium dan tersebar ke mana-mana. Yang pasti, orang di sebelahku itu dari tadi terus menggerutu. Menurutku, dia lumayan bodoh untuk orang seumuran dia. Bagaimana tidak ?Mustinya dia tidak memakai kemeja di dalam kereta bisnis seperti ini. Apa dia tidak tahu jika iklim Negara ini dari hari ke hari makin panas ? Panas akibat illegal logging, panas akibat dagelan politis, ataupun panas akibat skandal-skandal anggota DPR. Ah, apa urusannya denganku ? Untukku, sudah jauh lebih cukup jika aku hari ini dapat kembali lagi pulang ke Jogjakarta. Momen ini memang sangat aku nanti-nantikan. Sudah lebih dari 2 bulan aku tidak kembali ke Jogjakarta. Selama 2 bulan itu, aku melakukan berbagai macam persiapan untuk mengikuti ujian seleksi perguruan tinggi. Alhamdulilah, aku akhirnya diterima di ITB. Kalau dipikir-pikir, hal ini tak ubahnya sebagai mimpi yang menjadi kenyataan untukku. Yah, untungnya aku sekarang sadar jika ini bukanlah mimpi, It’s real. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan aku malam ini sulit untuk memejamkan mata. Biasanya, jika aku melakukan perjalanan jauh di malam hari, aku pasti akan segera terlelap, berharap setelah bangun nanti, aku telah tiba di kota tujuan.

Banyak hal yang mengganggu pikiranku saat ini. Mulai dari berbagai pertanyaan filosofis mengenai hakikat manusia hingga mimpi-mimpiku di masa depan. Tetapi, dari sekian banyak pikiranku itu, ada satu hal yang benar-benar membuatku terjaga; rencanaku untuk kembali mencoba memeluknya. Aku dulu pernah berjanji pada diri sendiri, jika aku diterima di ITB, aku akan kembali mengutarakan perasaanku padanya. Sebelumnya, aku memang pernah mengutarakan perasaanku padanya, tetapi dengan alasan umur dan tingkat pendidikan, ia menolak untuk menerimaku. Nah, sekarang sudah lebih dari setahun semenjak itu, dan aku rasa sekarang umur kami sudah cukup untuk berpacaran. Jujur saja, aku bukan tipe manusia yang sangat membutuhkan keberadaan wanita di sisinya, tetapi, entahlah, semenjak aku mengenalnya, aku menjadi addicted akan keberadaannya. Bullshit ! Dulu aku berpikir begitu. Tetapi, memang ada satu hal yang berbeda dari wanita lain yang tidak aku jumpai dalam hidupku. She had changed me a lot ! Dia satu-satunya wanita yang mampu menjadikan rasioku tunduk tidak berdaya jika aku berada di dekatnya. Aku adalah orang bebas. Aku biasanya tidak mau tunduk terhadap peraturan manapun. Aku hanya tunduk oleh peraturan yang aku pigura sendiri. Jadi, hanya ada dua alasan yang menyebabkan aku tunduk pada peraturan. Peraturan itu sesuai dengan piguraku, atau peraturan itu hasil dari buatanku. Toh, pada dasarnya peraturan itu yang membuat juga manusia. Segala konsep moral yang ada itu subjektif, karena pada dasarnya ia sangat dipengaruhi entitas dan eksistensi pembuatnya.

Tak terasa, Alexander Christieku sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam dan nyaris semua penumpang yang ada dalam gerbongku sudah tertidur lelap. Dan aku ? masih saja sibuk mengurusi pikiranku yang semakin tidak jelas. Kali ini, aku malah teringat kejadian setahun lalu, saat-saat ketika aku mulai mengenalnya. Dia teman satu sekolahku. Awalnya hanya biasa saja. Aku dan dia hanya sebatas teman persekutuan dan teman gereja. Tidak lebih. Tetapi, setelah aku berada satu kelas dengannya –tepatnya ketika kita berada di kelas 2 SMA- kedekatan kami semakin nyata. Waktu itu, aku paling suka curhat kepadanya, terutama masalah keluargaku. Entahlah, menurutku dia bukan tipe problem solver yang baik, tetapi atensinya padaku sudah cukup untuk membuatku tenang. Ia juga tidak terlalu memikat secara fisik. Tubuhnya mungil, putih, dan ia berasal dari keluarga keturunan. Aku pikir, perbedaan di antara kita tidak akan jadi masalah, padahal justru hal itu yang memisahkan kita. Aku saat itu benar-benar berada dalam keadaan tertekan. Keluargaku akan bercerai, dan aku juga mempunyai masalah otoritas dalam kepengurusan di gereja. Kalau sudah begitu, aku akan melampiaskan segala kekesalanku pada sebotol vodka atau pada orang lain. Aku masih ingat betul, biasanya setiap malam minggu, aku akan berkumpul bersama teman-temanku, lalu kita akan minum-minum dan akhirnya keluar untuk mencari masalah dengan gank lain. Yah, bagiku, hal itu menjadi satu-satunya ajang balas dendam atas segala takdir ini. Nah, di saat itulah aku semakin dekat dengannya. Ia terus-menerus memintaku untuk menjauhi segala pelampiasan yang seperti itu. Anehnya, dia tidak pernah merasa takut ketika aku menceritakan hal-hal itu. Dia seolah-olah sangat tertarik ketika aku menceritakan kemenanganku dalam lomba minum vodka hingga paginya aku muntah-muntah, atau ketika aku dengan bangganya bercerita jika aku dan teman-teman berhasil membuat rusuh di salah satu sudut kota Jogjakarta. Aku benar-benar merasa diperhatikan. Sepertinya dia memang telah menerimaku apa adanya. Dari hari ke hari, aku semakin gencar untuk menceritakan segala permasalahanku, termasuk segala borok-borok keluarga. Pokoknya semua, tanpa tedeng aling-aling. Aku bercerita jika ayahku pernah terjerembab ke dalam dunia hitam. Ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah menghilang begitu saja untuk mengejar keris-keris pusaka, sepasang samurai, ataupun jenglot dan bathara karang. Hobi ayahku itu adalah akar dari segala keretakan rumah tangga keluargaku. Mamaku, yang memang religious –atau sok?- selalu menasehati ayahku untuk berhenti. Tapi tampaknya usahanya sia-sia. Ayahku sepertinya memang sudah telanjur maniak dengan dunia kebatinan dan mistik seperti itu. Beliau bahkan memutuskan untuk tidak mencari kerja lagi setelah pensiun ,agar dapat focus mendapatkan benda-benda yang tidak jelas tersebut. Ayahku memang sangat keras kepala. Walaupun nyaris semua harta kekayaannya telah habis terkuras, toh beliau tetap tidak mau berhenti. Mamaku, perlahan-lahan depresi akibat perlakuan ayahku itu. Pertengkaran-pertengkaran nyaris terjadi tiap hari, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk diam satu sama lain, tanpa mau bertegur sapa lagi. Orangtuaku memang telah lebih dari 5 tahun tidak bertegur sapa. Dan dalam kurun waktu itu, kata-kata yang keluar dari bibir mereka dapat dipastikan kurang dari 20 kata. Benar-benar gila. Mereka berada dalam satu rumah –walaupun beda kamar- dan mereka tidak pernah bertegur sapa. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi ? Nasibku saat itu benar-benar bak mati tak ingin hidup tak enggan. Bagiku, keberadaan seorang wanita yang mau jadi tempat curhatku benar-benar sangat membantu. Ia –wanita itu- mulai saat ini akan kupanggil dengan sebutan Mayang. Aku takut jika aku menggunakan nama yang sebenarnya, ia akan langsung jijik melihat tulisanku ini, dan yang lebih aku takutkan lagi, ia akan dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya sehingga mungkin ia akan segera berada di balik jeruji kebebasan. Singkatnya, hubungan kami semakin dekat. Lagi-lagi, aku merasa ia adalah satu-satunya wanita yang paling ingin kubahagiakan dan kulindungi. Aku, sebagai lelaki dengan pergaulan yang luas, tentu saja memiliki banyak teman wanita yang jauh lebih ideal dari Mayang. Tetapi, sekali lagi, Mayang sangat berarti untukku, bukan hanya karena ia telah lama menjadi teman curhatku, tetapi mungkin lebih karena aku tidak ingin kehilangan dia.Tiap malamnya, pikiranku selalu dihantui oleh kehadirannya. Ia selalu membayang-bayangi hidupku . Mungkin karena saking aku tidak ingin kehilangan dia, aku selalu membawa-bawa namanya dalam setiap bagian hidupku. Aku menciptakan puluhan lagu, menggubah puluhan puisi untuk didedikasikan padanya. Dan aku memang siap untuk mengorbankan segalanya hanya agar aku tetap dekat dengannya. Sahabat-sahabatku –mereka juga sekaligus sebagai advisorku- menganggap aku terlalu berlebihan. Tapi, bagiku, semuanya itu masih kalah berarti daripada eksistensi Mayang dalam setiap bagian hidupku. Aku semakin memanjakan dia. Aku mulai membelikan dia berbagai macam kado, mentraktir dia makan, dan mengantar-jemput dia. Sepertinya dia mulai membaca sinyal yang kuberikan padanya. Aku juga mulai meninggalkan pergaulanku dengan teman-teman gank. Aku perlahan-lahan berubah menjadi orang yang baik, karena aku takut akan membuatnya kecewa dengan sikapku.

 

Kutemukan sekeping pecahan kaca,

Darinya terpantul imaji surga;

di tengah kawah neraka nestapa.

Darinya terpancar aura cinta

Merasuk dalam pasung jiwa

Melepaskan dahaga

Mengusir duka

 

Aku masih ingat, tepat pada hari Valentine, aku memberikan dia sebuah kado dengan sepucuk surat di dalamnya –yang mewakilkan isi perasaanku padanya-. Aku katakan padanya jika aku sayang padanya, dan untuk detailnya dapat ia baca pada suratku. Aku memohon jawabannya tepat pada hari ulangtahunku, atau 6 hari setelah itu. Enam hari penantian kuhabiskan dengan terus-menerus berharap ia mau menemaniku ke jenjang hubungan yang lebih jauh. Dalam waktu penantian itu, aku mencoba bersikap seperti biasa, tetapi toh tetap saja berbagai macam perasaan bergejolak tidak karuan.

 

Kau lihat itu ? Jutaan bintang ada padamu

Kau sadar ? Kau adalah ratusan bunga yang terus mekar

Kau rasakan ? Segenap perasaanku telah kucurahkan

Kau tahu ? Aku di sini untuk menantimu

Agar aku boleh memiliki

Sebagian bintangmu itu

Agar aku boleh mencicipi

Wangi dari bungamu

Pada akhirnya, setelah aku menunggu jawabannya. Dan aku tahu, dia pasti akan menjawab itu. Dia dengan penuh pertimbangan menolakku, dia menjadikan umur sebagai benteng alasan. Dia berharap jawabannya tidak membuat hubungan kita jauh. Dia mengatakan jika waktunya sudah tepat, mungkin aku bisa mencobanya lagi. Ia menerka-nerka, mungkin setahun lagi adalah waktu yang tepat. Tetapi pada akhirnya, hubungan kami mulai meredup. Aku lupa mengapa. Tetapi, aku berpendapat ia semakin menjaga jarak denganku. Seolah-olah ia memang tidak mau terlibat lebih jauh denganku, apalagi dengan segenap masalah-masalahku. Akhirnya, setelah kami tidak satu kelas lagi, kami semakin jauh. Ia sibuk dengan urusannya, dan aku sibuk dengan masalah-masalah yang memang harus aku selesaikan sendiri. Semenjak itu, kami sangat jarang untuk bertemu, atau hanya sekedar menyapa. Kami bersikap acuh satu sama lain. Seingatku, pertama kalinya aku menyapa dia adalah ketika ia hadir dalam upacara kremasi ayahku, sekitar bulan April yang lalu. Saat itu ia datang bersama temannya untuk mengucapkan belasungkawa. Kesedihanku akibat kehilangan seorang ayah sedikit terobati dengan kehadirannya. Ia hanya sebentar, sekedar berbasa-basi denganku, lalu ia kembali pulang. Cukup singkat memang, tapi aku merasa seperti tanah kering yang baru mendapatkan setetes embun. Setelah itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, atau pun berkomunikasi ; hingga aku akan pergi ke Bandung. Tetapi aku beruntung, karena kekecewaan dan kesepianku itu masih dapat terobati oleh hadirnya sahabat dalam hidupku. Dan merekalah yang menjadi sumber kegembiraanku hingga saat ini.

Aku mulai mengantuk. Gerbongku semakin sepi dari suara manusia. Mungkin mereka telah masuk ke dunia mimpi, dan kembali kepada kepolosan mereka masing-masing, setelah sebelumnya mereka menjadi munafik dalam realitas hidup. Aku mulai bertanya-tanya, andaikata sebulan yang lalu aku tidak memberanikan diri untuk menghubungi ponselnya, mungkin hari ini aku tidak akan berada di dalam kereta. Sebulan belakangan, aku berhasil memperbaiki hubungan kami lagi, walaupun hanya melalu sms. Awalnya, ketika aku sms, dia tidak mau membalas. Aku bersikeras meneleponnya. Lalu dia katakan jika ia kehabisan pulsa. Aku tahu, itu hanya alasan agar aku tidak menghubunginya lagi. Tetapi aku telanjur kangen. “Biarlah, aku akan membelikan pulsa”, gumamku saat itu. Dan rencanaku berhasil, dia mulai membalas smsku. Tetapi, untuk beberapa saat kemudian, ia mulai lagi tidak membalas smsku. Kali ini alasannya berbeda, ia mengatakan jika aku harus mengganti kartu selularku agar sama dengannya dan lebih murah. Ah, dia masih sama dengan Mayang yang dulu, selalu perhitungan. Tentu saja setelah itu, aku segera mengganti nomorku. Aku tidak mau perbedaan kartu selular menjadikan komunikasi kami terhenti. Begitulah, akhirnya setiap seminggu sekali aku rutin mengiriminya pulsa minimal sepuluh ribu rupiah, malah terkadang lebih. Uang segitu tidak begitu berarti, aku cukup menebusnya dengan berjalan kaki jika akan bepergian. Ini bukan masalah besar untukku, apalagi setiap harinya aku hanya berjalan sekitar 15 km. Tidak masalah. Pengorbanan itu sepertinya setimpal dengan beberapa sms dari Mayang.

Aku terus menguap.Aku sudah malas memikirkan masa laluku lagi. . Aku lelah, setelah seharian mengurusi administrasi pendaftaran masuk kuliah. “Mau tidak mau aku harus segera tidur ”, pikirku. Besok aku harus menyusun banyak agenda untuk menemuinya, aku kangen. Aku harus memanfaatkan waktuku yang hanya beberapa hari di Jogjakarta nanti dengan baik. Aku mulai mengubah posisi dudukku, dan akhirnya aku berhasil memejamkan mata juga.

 

Dalam penatku, masih tersisa asa

Dalam lelahku, masih ada puing harapan

Sebuah ambisi untuk dapat kembali

Mendekapnya erat takkulepaskan

Berharap ku mampu menyapanya

Di sini atau di akhirat nanti

To be Continued…

Powered by ScribeFire.

2 Comments

  1. "Rebecca" said,

    sory telat aq baca tulisan mu eh maap ungkapan hati mu,
    aq tiga hari belakangan ini tidur malam n akhirnya bangun kesorean n langsung sibuk dengan urusan-urusan q,
    Boleh juga tu “Mayang”,lumayan bagus kok
    iya mungkin aq dapat kesempatan bertemu Mayang, di ultah temannya
    tapi aq gak tahu pasti.

    Man, don’t you stay with your mind
    try another options….

    “What I’ve Done”

    In this farewell
    There’s no blood
    There’s no alibi
    ‘Cause I’ve drawn regret
    From the truth
    Of a thousand lies

    So let mercy come
    And wash away
    What I’ve done

    ………………………..

    sepenggal lirik dari LP
    mungkin ini yang ingin kau dengar dari Mayang
    or maybye I’m wrong

    yah hidup mu memang berat tapi lihat
    setengah cangkir penuh bukn setengah cangkir kosong

    aq seneng km masuk itb n sukses dengan semua cita2 mu
    maap bukan untuk sok2an atau gimana
    namun hidup memng untuk berproses dan untuk menjadi sempurna
    baik kesempurnaan yang terlihat mata atau tidak,

    pandang Mayang sebagai tahap yang berarti ada yang hilang dari hidupmu
    pemecahan masalah hanya bagamana kau menemukan hal yang terhilang itu
    atau hal lain….

    aq punya saran yang mungkin kamu telang berulang kali mendengarnya
    read the holy bible,
    coba cari di situ…………

    but terserah u, aq ingat
    kamu menantang seorang cewek untuk membacanya
    ntah kamu masih ingat ato tidak…

    kalau kamu ingat berarti adahal yang pernah kau katakan tetapi
    belum kau laksanakan,

    yah itu hanya sekedar saran.

    namun yang pasti aku akan selalu mendukungmu,
    kau akan sukses dan berada di atas, ingat di atas anginnya tidak lagi sepoi-sepoi

    hidup wijen,
    you’re the man

  2. Ash said,

    Ati-ati aja, ntar tau-tau keduluan orang…kita tak pernah tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: