Tren Spiritualitas Bisnis

March 9, 2007 at 3:59 am (Pasar Modal, Ekonomi, dan Bisnis)

Bisnis, selama ini mempunyai stigma; sebuah organisasi profit oriented yang setiap aspek kegiatannya selalu mengutamakan perolehan keuntungan. Apapun agendanya, dunia bisnis sudah terlanjur sangat identik dengan keuntungan. Jangankan melaksanakan Good Corporate Governance (GCG), melakukan sumbangan dan aksi sosial saja, orang awam pasti tetap mengira ada “udang di balik batu”; ada maksud utk mengeruk keuntungan yang lebih dari setiap aksi dunia bisnis. Meskipun banyak perusahaan berusaha keras menjunjung nilai moral dan sosial dalam aspek kerjanya, tetap saja banyak orang menduga jika aksi perusahaan itu hanya sekedar utk meningkatkan citra dan brand image yang diusungnya. Sikap skeptis dan pesimis terus saja mengemuka, meskipun tema ini telah menjadi bahan kajian para penulis buku. Kita dengan mudah dapat menemukan buku2 yang menyinggung masalah spiritualitas dalam perusahaan, antara lain The Corporate Mystic karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman, Spiritual Quotient karya Danah Johar dan Ian Marshall, The 8th Habit dari Stephen Covey, dan Megatrend 2010 buah tangan Patricia Aburdene.

Dahulu, pengusaha sangat sulit membayangkan menggabungkan sebuah kata “spiritualitas” dengan kata “bisnis”. Dua kata ini sangat berseberangan dan klise. Bisnis selalu identik dengan rasionalitas, sesuatu yang memiliki parameter yang jelas dan terukur. Sebaliknya, spiritualitas kerapkali dinilai sebagai sesuatu yang irasional dan nilai kebenarannya pun sangat relatif. Oleh karena itu, menggabungkan dua kata di atas terkesan sangat utopis, mengada-ada, dan tidak rasional. Singkatnya, Aksi moral dan sosialis dalm dunia bisnis-apapun bentuknya-dipandang hanya akan bermuara pada value of money belaka. Akan tetapi, pada kenyataannya perusahaan2 memang tidak bisa terlepas dari unsur spiritualitas. Pelayanan mereka terhadap konsumen dan hierarki organisasi yang menuntut relasi yang baik dengan orang lain, menciptakan suatu kewajiban utk menerapkan prinsp spiritualitas. Lagipula, pada dasarnya setiap relasi manusia membutuhkan nilai2 spiritualitas yang kuat. Ini bukan sekedar masalah menaikkan citra perusahaan atau masalah sustainable perusahaan, tetapi lebih kepada makna dalam bekerja. Banyak pekerja mengeluhkan kurang bermaknanya kehidupan mereka. Mereka bekerja, tetapi tetap tidak menemukan sesuatu yang bermakna dan membahagiakan hidup mereka. Mereka bekerja dengan hampa. Inilah pentingnya nilai spiritualitas dalam perusahaan. Perusahaan tidak lagi dituntut sebgai sebuah perantara antara modal, pekerja, dan keuntungan, tetapi perusahaan dituntut utk memberi makna dan penghargaan tinggi terhadap nilai sosial, moral, dan spiritual terhadap para pekerjanya. Wujud dari penerapan prinsip spiritualitas ini sangat beragam, mulai dari GCG, CSR (Corporate Social Responsibility), training ESQ, hingga program ziarah dan naik haji bagi para karyawannya.

Nilai spiritualitas semakin terangkat ketika tahun 2006 Muhammad Yunus menerima hadiah nobel perdamaian yang membuat sontak dunia. Siapa Muhammad Yunus ?? Ia bukan seorang politisi, negarawan, atau seorang aktivis perdamaian yang vokal mengkampanyekan hak asasi manusia. Ia hanya seorang guru besar ekonomi dari sebuah negara miskin yang bernama Bangladesh. Ia berhasil merebut perhatian dunia melalui Bank yang didirikannya pada tahun 1976, Grameen Bank. Tentu saja, bank ini memiliki nilai lebih dari bank pada umumnya. Melalui bank inilah, Yunus menyusun pilar2 fondasi untuk mewujudkan perdamaian, memberantas kemiskinan di Bangladesh. Melalui Grameen Bank (yang berarti Bank desa), kredit puluhan juta dollar perbulan disalurkan. Kredit yang ditujukan untuk kaum marginal dan miskin ini, telah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa. Bank yang mayoritas nasabahnya adalh kaum hawa ini memiliki modal yang sebagian besarnya (94%) dipegang oleh kaum papa. Inilah yang menyebabkan Muhammad Yunus menjadi seorang pemenang hadiah Nobel. Selama ini, para pemimpin dunia terbentur oleh tembok polarisasi setiap mereka ingin mengatasi kesenjangan sosial. Pemimpin dunia cenderung berhenti tatkala wacana mereka sampai di meja perundingan, tanpa ada aksi nyata. Tetapi, melalui Yunus, dunia seakan ditampar, disadarkan utk menghargai aksi nyata pembebasan kaum papa dari kemiskinan. Saat ini, konsep Bank milik Yunus, yang mengutamakan kredit mikro, telah diadopsi oleh banyak instansi keuangan di dunia.

Selain mendapat inspirasi dari cerita Yunus tadi, tren spiritualitas berkembang pesat setelah terjadinya skandal finansial perusahaan2 raksasa, seperti Emron dan world.com. Perusahaan2 itu tidak menghargai nilai2 moral manusia dan alam. Walaupun dunia bisnis AS telah dibentengi dengan aturan Good Corporate Governance, perusahaan itu tetap saja mampu mempecundangi publik. Saat ini, para regulator di AS telah menerapkan aturan bisnis yang jauh lebih ketat, Sarbanne-Oxley Act -yang menjadi syarat listing di bursa New York. Tren spiritualitas di Indonesia disebarkan oleh perusahaan multinasional seperti Unilever, Panasonic, dan IBM. Ciri utama dari perusahaan yang telah menerapkan prinsip spiritualitas antara lain mempunyai tata-kelola yang baik (GCG), program2 sosial (CSR), adanya moralitas, dan penerapan prinsip caring-loving dalam setiap lini kegiatannya. Tren ini sangat berpengaruh terhadap usia dan sustainable perusahaan (meskipun dua hal ini tidak menjadi tuuan utama dari prinsip spiritualitas perusahaan), contohnya, di saat krismon dulu, hanya perusahaan yang menjunjung tinggi nilai spiritualitas yang dapat bertahan. Fenomena tren spiritual ini sangat terlihat pada perusahaan2 beraset besar dan berjaringan global, seperti Grup Medco yang bergerka di industri Migas. Di Medco, praktik spiritualitas dapat dijumpai pada penerapan nilai luhur perusahaan, yaitu Professional, Ethical, dan Innovative. Selain itu, perusahaan ini juga aktif membangun berbagai kegiatan CSR yang sering terkait dengan isu penting di Indonesia. Perusahaan ini juga mengembangkan aspek religius dalam hierarki organisasinya. Ia mendirikan sebuah Badan Dakwah Islamiyah (BDI) untk mempertebal iman dalam menghadapi godaan yang dapat mencoreng wajah integritas perusahaan. Melalui BDI, karyawan dan –tentu saja- segenap direksi melakukan kegiatan2 religius yang dibwakan oleh ustadz-ustadz berkompeten. Mereka dapat melakukan kajian Islamiyah, pengajian massal, ataupun aktivitas religius lainnya. Jika kita berbicara mengenai perumusan nilai-nilai luhur perusahaan, Astra telah selangkah lebih maju. Ia tergolong pionir, karena semenjak tahun 1984 Astra telah membangun falsafah perusahaan yang menjunjung tinggi prinsip spiritualitas. Falsafah ini dinamakan Catur Dharma, yang mengandung nilai adanya komitmen untuk:

(1) Memberikan yang bermanfaat bagi negara dan bangsa.

(2) Memberi pelayanan yang terbaik bagi konsumen.

(3) Saling menghargai dan membina kerja sama, dan

(4) Mencapai tujuan yang terbaik.

Selain berbicara mengenai falsafah, praktik spiritualitas yang mengarah ke hubungan horizontal dapat diterapkan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang unik itu telah ditempuh oleh PT. Internusa Hasta Buana. Perusahaan ini menginstruksikan seluruh cabangnya untuk mempekerjakan minimal dua orang cacat. Ia juga memberikan zakat, infaq, dan sedekah secara rutin sebagai wujud tanggung jawab sosialnya pada masyarakat.

Tak bisa dipungkiri, nilai spiritual yang diterapkan perusahaan-perusahaan tadi, tidak dapat lepas dari peran nilai agama dan moral yang dianut mayoritas pemimpin dan karyawannya. Dua prinsip tadi akhirnya dijadikan landasan dan fondasi terciptanya go spiritual company. Terciptanya sebuah perusahaan spiritual akan berujung pada keberlangsungan perusahaan dan sustainable perusahaan, sebgai konsekuensi logisnya. Yang pasti, peran pemimpin sangat menentukan keberhasilan terciptany perusahaan spiritual. Hal ini akibat dari budaya Indonesia yang masih terkontaminasi budaya paternalistik, sehingga teladan dan tingkah laku pemimpin menjadi parameter penting unsur keberhasilan dan kesuksesan dalam menerapkan nilai spiritualitas tadi. Semoga saja, nilai spiritualitas tidak ditujukan untuk mendongkrak omset, keuntungan, dan citra perusahaan semata, melainkan benar-benar ditujukan untuk mendongkrak kesejahteraan dan moral manusia.

~Broken Hearted, 8 Maret 2007, 20:20~

~Referensi : Majalah SWA, detikfinance, dan buku-buku lainnya~

4 Comments

  1. bluedee said,

    gw sih seneng kalo masih ada perusahaan yang peduli sama lingkungan sekitar apalagi yang mau memperkerjakan orang-orang cacat.

  2. diditjogja said,

    hampir semua perusahaan besar di USA punya CSR yg baek…
    sangat baek malah untuk ukuran indonesia!
    hampir semua juga tergabung ato punyua yayasan, support NGO ato apalah..yg punya arti buat masayakrat!
    bahakn seorang microsoft pun kalo nyumbang gak tanggung!!

  3. "Rebecca" said,

    yup,bagus kok

    km besok bikin usaha yang kayak gitu ya ….
    n tetep pertahanin apa yang kamu impikan
    n jangan cuma mocking bird aja tapi lakuin ya ….

    maju terus boss…

  4. savinton said,

    gw butuh bantuan neh….buku2 ttg CSR or CommDev ada ga? dmn ya?? gw lg skripsi ngebahas itu..help me ya.thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: