Obligasi

March 8, 2007 at 8:10 am (Pasar Modal, Ekonomi, dan Bisnis)

Obligasi atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bond merupakan surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan/swasta. Saat ini obligasi sudah bisa menjadi sarana investasi bagi masyarakat luas. Sebelum maraknya reksa dana, obligasi hanya menjadi sarana investasi bagi investor yang memiliki uang dalam jumlah yang cukup besar. Saat ini banyak reksadana yang menjadikan obligasi sebagai salah satu jenis investasi dalam komponen portofolio reksadana tersebut. Bahkan ada reksadana yang hanya terdiri dari satu jenis obligasi yakni surat utang Negara (SUN).

Obligasi merupakan salah satu instrumen keuangan yang cukup menarik bagi kalangan investor, baik individu maupun institusi. Investasi Rp 1 miliar merupakan awal yang umum dibutuhkan. Walau ada juga yang memecahnya menjadi satuan yang lebih kecil, misalkan Rp 50juta. Salah satu jenis obligasi yang diperdagangkan di pasar modal kita saat ini adalah obligasi kupon (coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku obligasi.

Berinvestasi dalam obligasi mirip dengan deposito pada bank. Bila Anda membeli obligasi, Anda akan memperoleh bunga/kupon yang tetap secara berkala, biasanya setiap 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun sekali sampai waktu jatuh tempo. Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, maka penerbit harus membayar kepada investor sesuai dengan nilai pari dari obligasi tersebut beserta bunga/kupon terakhirnya. Obligasi mengalami perkembangan yang berarti sebagai instrumen keuangan pada periode tahun 2000. Hal ini disebabkan pengetatan prosedur peminjaman di lembaga keuangan, yang menyebabkan kalangan pebisnis melirik instrumen pendanaan lain. Perusahaan meminjam dana dari kalangan investor untuk melakukan ekspansi usaha atau kebutuhan lain. Sebagai imbal balik, perusahaan akan memberikan tingkat bunga atau kupon yang akan dibayarkan 6 bulanan atau tahunan. Dari sisi prosedur, langkah ini dirasa lebih mudah dari pada proses peminjaman ke lembaga keuangan.

 

Hal yang sangat berpengaruh dalam harga pasar obligasi adalah perubahan suku bunga deposito. Naik turunnya suku bunga akan berpengaruh terhadap harga pasar suatu obligasi. Hubungan harga pasar obligasi dengan suku bunga deposito hubungan berbanding terbalik atau berkorelasi negative. Jika suku bunga depositi meningkat, harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika suku bunga deposito menurun harga obligasi akan meningkat.

Penjelasan secara sederhananya adalah jika suku bunga deposito lebih tinggi dari suku bunga obligasi, para investor akan lebih memilih menempatkan dananya di deposito. Hal ini mendorong pemegang obligasi untuk menjual obligasi yang dimilikinya dan mengubah menjadi deposito. Sehingga hal ini mengakibatkan penawaran obligasi akan lebih besar dari permintaan. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, jika penawaran lebih tinggi dari permintaan harga akan mengalami penurunan begitupun sebaliknya.

Hal diatas akan dilakukan para investor dalam mengahadapi suku bunga yang lebih tinggi jika dibandingkasn dengan harga obligasi, hal ini disebabkan resiko investasi depoaito lebih rendah dari investasi obligasi kecuali obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah . Fluktuasi harga dari sebuah obligasi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi dan resiko perusahaan yang mengeluarkan obligasi tersebut . Sebagai contoh bila perusahaan penerbit obligasi mengalami kesulitan keuangan, sehingga tidak mampu membayar bunga atau kupon ( default ), maka umumnya harga dari obligasi tersebut akan menurun tajam.

Untuk menilai keuntungan investasi obligasi, saya memberikan contoh sebagai berikut :

Jika kita membeli sebuah obligasi dengan nilai pari Rp 100 juta dengan harga Rp 90 juta (90% dari nilai pari), obligasi tersebut memberikan kupon tetap sebesar 16% per tahun dan dibayarkan setiap tahun. Obligasi tersebut memiliki masa jatuh tempo 5 tahun. Dari data tersebut kita dapat menghitung perolehan kupon atau bunga yakni sebesar Rp 16 juta per tahun (16% xRp 100 juta) selam 5 tahun dan diakhir tahun ke-5 kita juga memperoleh kembali nilai pari dari obligasi tersebut yakni sebesar Rp 100 juta . Seperti halnya investasi saham, investasi obligasi juga dapat memperoleh keuntangan capital gain.

Katakan diakhir tahun ke-1 setelah pembayaran kupon ke-1 kita dapatkan, ternyata harga dari obligasi tersebut meningkat menjadi Rp 95 juta . Agar kita dapat memperoleh capital gain dengan menjual obligasi tersebut di harga Rp 95 juta sehingga dari sisi harga beli dan harga jual obligasi kita dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp 5 juta ditambah dengan bunga/kupon yang telah kita terima sebelumnya sebesar Rp 16 juta. Maka total keuntungan kita dalam satu tahun adalah sebesar Rp 21 juta atau sebesar 23,33% pertahun {(Rp 5 juta + Rp 16 juta) / Rp 90 juta )}.

Resiko yang perlu kita perhatikan dalam investasi obligasi adalah :

Pertama, resiko tingkat suku bunga ( interest rate risk ) . Seperti telah dijelaskan diatas, jika tingkat suku bunga deposito meningkat maka harga obligasi akan menurun dan sebaliknya.

Kedua, gagal bayar (default risk ). Perusahaan penerbit obligasi dapat mengalami kesulitan keuangan karena proyeksi bisnisnya tidak sesuai dengan kenyataan atau bahakan ada salah manejemen sehingga perusahaan tersebut tidak dapat membayar kupon atau bungan obligasi setiap tahun dan lebih parah lagi bila terjadi gagal dalam membayar nilai pokok dari investasi ( nilai pari ). Bila hal ini terjadi, kita sebagai obligasi tersebut akan merugi. Secara lebih muda kita dapat menilai resiko sebuah perusahaan dengan melihat pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga resmi pemeringkat perusahaan seperti Pefindo dan Kasnic. Disana kita dapat melihat kategori perusahaan berdasarkan tingkat kesehatannya dari mulai sangat sehat sampai dengan perusahaan beresiko tinggi.

Ketiga, resiko pembelian kembali ( call Risk ). Ada jenis obligasi yang memiliki fitur pembelian kembali atau call, dalam arti perusahaan penerbit obligasi memiliki hak untuk membeli kembali ( buy back ) obligasi yang kita miliki pada harga tertentu ( call price ), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat bunga dipasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon ( Coupon Rate ). Jebis obligasi yang memiliki fitur pembelian kembali juga mengakibatkan potensi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual ( capital gain ) juga lebih kecil. Hal ini disebabkan harga pasar obligasi tersebut tidak akan dapat meningkat terlalu tinggi dari harga pembelian kembali (call price) yang telah ditetapkan dimuka.

Keempat, resiko likuiditas. Resiko likuiditas adalah resiko tingkat kesulitan untuk menjual kembali obligasi pada harga pasar dalam waktu singkat. Ada kemungkinan obligasi yang kita miliki tidak dapat kita jual segera karena obligasi tersebut tidak menarik buat investor lainnya sehingga jika kita tiba-tiba membutuhkan dana dalam jangka pendek maka tidak dapat dilakukan denagn segera atau bila tetap ingin menjual harus bersedia menjual dengan harga yang jauh lebih rendah dari nilai sebenarnya.

Kelima, Resiko inflasi. Bunga dan nilai pari yang kita terima nantinya secara real akan mengalami penurunan sejalan denagn tingginya angka inflasi yang mengakibatkan daya beli kita semakin menurun .

 

 

4 Comments

  1. bluedee said,

    wahahahaha….ada ga ya obligasi yang 50 rebu-an?

  2. "Rebecca" said,

    wah boss pintar juga….
    ilmunya dah nambah ayo maju terus n saingi kaum kapitalis yang ada

    hip2 hura

  3. delfi said,

    hmm.. bagus, trus gimana dengan obligasi syariah yang ada sekarang ini?????

  4. Raja said,

    Gimana caranya beli obligasi pemerintah? resiko ada kah? Bisa dapat capital gain/loss juga? pembayaran bunga gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: