Mengapa Saya Suka Menulis “Sampah Sastra” ?

March 4, 2007 at 4:16 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Ketika teman saya membuka blog ini, ia bertanya, “Loh koq puisinya banyak bgt ??”. “Puisi ?? Oh, tumpukan kata-kata itu ?? Aku rasa itu hanya sekedar sampah sastra aj. Mereka ga layak klo disebut puisi ato sajak, ato karya sastra laennya.”, jawabku dengan muka serius. Memang begitulah adanya, menurutku, tumpukan kata-kata yang disusun itu akan mempermalukan puisi dan sajak, atau bahkan mungkin akan menyakiti para pujangga dan penyair, jika “sampah sastra” itu diberi jabatan sebagai puisi/sajak. Mungkin, bagi orang yang membacanya, “sampah sastra” itu tidak lebih dari deretan kata yang membingungkan dan tanpa makna. Oh, tapi tidak demikian bagiku. Keping kata itu saya pungut dari kedalaman hati, di mana tak satu pun nalar mampu mencapainya. Saya bukanlah orang yang menyusun kata utk sekedar memberi keindahan pada bait-baitnya. Saya juga bukan tipe orang yang suka menyusun kata penuh makna, tanpa keindahan. Saya hanya orang yang mencoba utk mengumpulkan pecahan-pecahan kaca, yang tersebar di dalam jiwa, utk kemudian aku rangkai lagi, agar suatu waktu aku mampu melihat bayangan diriku padanya. Keping kata (kaca) itu –atau sampah sastra-, sangat bermakna bagiku. Merekalah satu-satunya objek di dunia ini, yang mampu menyusuri setiap detil dari jiwa ini. Yah, maklum saja, mereka kan sejenis cermin, yang mampu memantulkan bayangan dari tiap detil sudut jiwa ini. Hanya saja, -seperti yang telah saya katakan- mereka masih tercecer, masih berupa keping-keping. Tugas saya adalah untuk menyusun mereka jadi satu, merangkai sehingga tercipta wujud mereka yang asli, yang utuh. Keutuhan mereka akan menciptkan sebuah cermin refleksi jiwa yang sangat mengagumkan.

Wajar saja jika orang lain banyak melakukan kesalahan tafsir dalam melihat refleksi pada kaca itu. Lha wong kaca itu juga hanya dapat merefleksikan detil dari jiwa saya saja koq. Kalaupun ada yang mampu menerkanya, toh itu tak lebih dari semacam dugaan atau sekedar hipotesa. Yang pasti, kedalaman makna dan artinya hanya saya saja yang memilikinya. Lalu, mengapa saya suka merangkai keping kata itu ?? Hal itu disebabkan saya adalah pemulung. Pemulung yang ingin mengumpulkan mosaik2 yang dulu terpecah-pecah, akibat benturan-benturan kenangan yang hebat. Ahh, lagipula tidak ada salahnya kan kalau saya ingin memungut benda-benda masa lalu ?? Benda-benda itu punya seribu makna. Mereka mempunyai semacam kekuatan magis yang dapat membangkitkan khayal ini. Mereka dapat menyebabkan saya keranjingan, kecanduan. Saya rasa, hanya “soda pelangi” yang dapat menyaingi kenikmatannya. Anyway, “sampah sastra” itu sangat berarti untuk saya. Walaupun mereka mempunyai sebutan “sampah”, tapi saya tetap setia padanya. Tentu saja, saya bukanlah orang yang dengan mudah meninggalkan kesetiaan dengan mengatasnamakan agama, ras, atau latarbelakang. Ohhh, saya itu tetap setia, setia sampai mati. Walaupun suatu saat mereka tercecer lagi, pecah kembali menjadi keping-keping yang jauh lebih kecil, saya akan tetap dengan sabar merangkainya kembali. O iy, mungkin ada yang bertanya-tanya, dengan apa saya menyatukan kepingan itu ? Yang saya perlukan hanyalah sebotol cinta utk merekatkan mereka. Tentu saja, selain itu, saya juga harus tahan terhadap rasa sakit. Loh koq bisa ? Yah, walau bagaimanapun, saya harus sadar, jika mereka itu adalah keping-keping kaca, yang dapat melukai saya. Jadi saat saya memulungnya, saya harus menggunakan berbagai macam peralatan sebgai antisipasi, di antaranya adalah sepasang kasut kaki, sarung tangan, dan –tentu saja- sebuah batu untuk saya genggam. Yah kalau-kalau nanti saya tertusuk oleh kaca itu, setidaknya saya mempunyai batu utk menahan rasa sakit yang tidak kepalang lagi. Walaupun saya sadar terhadap resikonya, saya akan tetap setia untuk memungut mereka, menyusun mereka dalam pigura-pigura ketelatenan. Karena saya itu adalah pria setia, saya tidak akan pernah meninggalkan sesuatu yang telah menjadi bagian hidup saya. Meskipun saya tahu, bagian itu suatu saat akan melukai saya, atau bahkan mungkin akan membunuh saya.

Saya harap dengan adanya penjelasan ini, Anda dapat memahami latar belakang “sampah sastra” itu. Tenang saja, saya tidak mengharapkan penghargaan atau belas kasihan dari Anda. Saya merasa senang jika dapat merangkai keping itu menjadi satu. Sungguh puas rasanya jika dapat melihat cerminan jiwa dari keping-keping kata yang telah terangkai jadi satu dan melihat bayangan jiwa ini terpantul lemah padanya.

Vale !!!

~Broken Hearted, 3 Maret 2007, 09:09~

~Setia terhadap keping kata yang dari merekalah aku belajar tentang dunia~

1 Comment

  1. Mifka said,

    Salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: