Wanita = Objek Seksualitas Belaka ???

February 26, 2007 at 4:41 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Pertanyaan di atas bukanlah ingin menjadikan kaum hawa menjadi subordinatif, termarjinalisasi. Sebaliknya, melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk merefleksikan miskonsepsi mengenai wanita dalam kehidupan bermasyarakat kita. Tulisan ini sebenarnya merupakan salah satu bagian dari wacana yang ke depannya akan saya suguhkan dalam beberapa artikel terpisah. Pada kesempatan mendatang, saya akan secara berturut-turut menyuguhkan masalah gender dalam kehidupan sehari2. Tulisan saya yang nanti akan menyusul-dan yang akan mendukung keseteraan gender utk menghilangkn dominasi kaum adam-, menyangkut tentang feminimitas, sistem patriarki dan androsentrisme dalam sendi2 kehidupan ini, serta epistemologi wacana menyangkut tubuh wanita yang akan dicoba dikaji lebih dalam oleh penulis. Semua tulisan2 ini, penulis persembahkan untuk wanita-wanita yg selama ini telah melengkapi dan menyempurnakan kehidupan setiap pria, dan tanpa mereka pria tidak dapat berbuat apapun. Sebelumnya, penulis meminta maaf atas kekeliruan yang mungkin tertulis sebagai akibat dari epistemologi wacana dari penulis.

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan dan keprihatinan penulis terhadap budaya dan kehidupan sehari-hari. Penulis merasa stigma –bahwa wanita hanya objek seksualitas belaka- secara disadari ataupun tidak, telah menjadi wacana umum dalam masyarakat. Penulis sering kali melakukan survei, mengenai kriteria wanita yang diidamkan untuk dijadikan sebagai pacaran ataupun istri. Ironisnya, dapat dipastikan, mayoritas jawaban yang dicetuskan antara lain melihat tubuh dan keindahannya (kecantikan, kemolekan, serta bentuk tubuh yang ideal). Pendapat ini secara implisit telah menegaskan stigma bahwa wanita hanya mempunyai peran sebagai objek seksualitas, hanya itu satu-satunya keindahan dari wanita. Penulis sendiri mengakui pernah hanya menganggap wanita sebagai objek fantasi seksual belaka, tetapi belakangan, setelah merenung dan dengan dibantu oleh seorang wanita untuk benar2 mencari keindahan sejati wanita, penulis merasa bahwa stigma tadi harus diubah. Stigma itu hanya akan menurunkan derajat&martabat wanita, padahal, menurut pandangan subjektif penulis, wanita lebih dari itu, ia memiliki esensi yang menentukan. Berikut ini adalah bentuk2 stigma mengenai seksualitas wanita yang sering kita jumpai dalam masyarakat.

  • Wanita dilihat hanya dari tubuhnya, dari kecantikan dan kemolekannya

Saya yakin, jika kaum adam berada di tempat umum, lalu melihat seorang wanita cantik, ia pasti akan berdecak kagum, terutama jika wanita itu mempunyai kriteria fisik tertentu yang didukung oleh penampilan. Pada dasarnya dapat saya simpulkan wanita cenderung untuk menjadi bahan eksploitasi seksual. Apa sih sebenarnya yang menjadi kriteria wanita yang mampu membuat mereka tertarik ?? Kebanyakan teman saya mengatakan, wanita itu harus montok, pantatnya besar, dadanya juga besar, proporsional dengan tubuhnya, harus ideal, harus sensual dan merangsang. Benar-benar ironis, semua alasan itu non sense !! Inilah salah satu bukti kebobrokan tentang gender yang ada. Penulis bukanlah feminis, ataapun puritan, penulis hanya merasa kecewa dan khawatir akan stigma ini. Hal ini disebabkan penulis merasa bahwa wanita itu sangat berharga, valuable, bukan karena fisiknya, tetapi karena hakikatnya sebgai wanita. Penulis juga merasa telah diajari oleh seorang wanita bagaimana cara untuk menghargai wanita secara khusus.

  • Wanita kerapkali dijadikan objek daripada sebagai subjek dalam berbagai wacana publik

Disadari atau tidak, wanita telah dijadikan bahan konsumsi publik, dijadikan produk kapitalisme dan kaum industrialis. Yang dimaksud dengan objek adalah pengeksploitasian tubuh secara berlebih, bukan untuk menjadi fokus utama, tetapi hanya sebagai pelengkap, produk sekunder saja. Ironisnya lagi, jika kita lihat media massa;termasuk wacana2 yang ada, menjadikan wanita sebgai pribadi sekunder, sebagai objek dari media itu. Hal ini jelas berimplikasi pada semakin menguatnya stigma yang melekat pada kesucian wanita. Superioritas pria semakin ditekankan, dan mempersuasi publik secara latent melalui media tersebut.

  • Pembedaan peran wanita dalam kultur masyarakat

Objek seksualitas semakin kentara jika kita telah mulai memasuki dunia kultur, budaya, dan sosial dalam masyarakat. Persepsi yang salah mengenai wanita telah terbentuk dalam superstruktur dalam masyarakat melalui proses kolonialisme serta feodalisme. Anggapan bahwa peranan wanita hanya sebagai subjek untuk ’membuat’ keturunan, mengasuh anak, sebagai pelayan pria/suami, serta sebagai pelampiasan hasrat seksual bagi kaum adam. Hal ini dapat dilihat ketika pasangan telah memasuki pelaminan, kebanyakan pria menunggu malam pertamanya, buat apa???ya buat pelampiasan hasrat seksual. Selain itu, masih banyak orang yang memiliki orientasi perkawinan untuk menghindari zina, ini berarti wanita secara latent lebih dianggap sebagai pelampiasan hasrat belaka. Penulis sendiri sangat tidak setuju dengan pandangan seperti tadi. Toh, kaum adam juga mampu memuaskan hasratnya dengan tangannya sendiri, ga mesti melalui wanita kan??? Hehehehe…..

Tiga poin di atas, menurut penulis merupakan bukti krusial telah terjadi kekacauan dalam menyikapi masalah gender di masyarakat kita. Ironisnya lagi, masih sedikit wanita yang sadar dan berusaha untuk menghapus stigma itu tadi. Hebatnya, entah disadari atau tidak, wanita justru mempunyai andil untuk mempertahankan eksistensi stigma tadi. Bagaimana bisa??? Berikut ini akan diuraikan beberapa hal, yang menurut penulis sendiri sering dilakukan wanita untk mempertegas eksistensi hierarki miskoherensi gender.

  • Wanita cenderung untuk bangga dengan bentuk tubuhnya, sehingga mereka pun cenderung untuk berusaha menonjolkannya. Hal ini sangat kentara pada penampilan dan pakaian yang mereka kenakan. Disadari atau tidak, fashion sangat memperngaruhi eksistensi stigma pada kaum hawa. Hal ini bukan berarti wanita tidak boleh menggunakan baju yang fashionable, tetapi hendaknya disesuaikan dengan sikontol (situasi, kondisi, dan toleransi), termasuk disesuaikan dengan budaya setempat-apakah budaya masyarakatnya telah terbebas dari permasalahn gender seprti stigma tadi, dll-. Penulis tidak bermaksud menyalahkan wanita, hnya saja penulis ingin mengkritisi gaya hidup mereka yang terkadang kontraproduktif dgn semangat anti objektivitas seksual.

  • Kesalahan konsep tentang keindahan tubuh pada wanita. Wanita cenderung menyalahartikan dari keindahan tubuh, mereka juga termakan produk konsumis dan hegemoni industrialis-kapitalis. Mereka beranggapan, bahwa keindahan tubuh memiliki parameter tetap dan universal, sehingga bagi mereka yang tidak memiliki tubuh seperti parameter tadi berusaha untuk melakukan segala upaya menyamakan tubuh mereka dengan parameter tadi. Inilah salah satu alasan mengapa salon kecantikan dan therapi keindahan tubuh lainnya (termasuk operasi plastik) laris di kalangan wanita. Menurut penulis, kecantikan dan keindahan wanita tidak terletak pada tubuhnya semata, hakikat dan perbedaanya dengan pria justru merupakan keistimewaan tersendiri.

  • Pembenaran implisit lainnya dari wanita. Wanita kerapkali justru membenarkan stigma tadi secara implisit melalui berbagai hal, misalnya melalui tingkahnya, melalui kepasrahannya terhadap dominasi pria, melalui gaya bahsa dan tutur kata.

Sebenarnya masalah gender merupakan masalah mendasar, ia base of supra structure, merupkan masalah fundamental sehingga akan sulit untuk dicari simpulnya. Ini merupakan masalah kerangka berpikir, paradigma, pemikiran sosial yang semuanya sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitar. Pada tulisan berikutnya, penulis akan membeberkan sedikit cara yang harus ditempuh wanita untk memperjuangkan kesetaraan, dan menghilangkan dominasi pria dari hidup mereka. Penulis sendiri, dalam menulis artikel ini merasa malu, disebabkan ada beberapa tindakan yang baru saja dilakukan dirasa masih kurang menghargai wanita. Untuk itu, terlepas dari masalah budaya, penulis ingin meminta maaf sebesar2nya kepada wanita yang merasa telah diperlakukan tidak adil oleh penulis. Selain itu, penulis juga mengharapkan belas kasihan dan kesediaan hati dari wanita untuk mengkritisi dan terus memperbaiki sikap2 penulis.

.

~In Memoriam, My Past Article~

Bandung, 17 September 2006 (07 : 54)

The Broken Hearted

Seseorang yang hnya mengetahui jika ia tidak tahu apa-apa.

7 Comments

  1. diditjogja said,

    Mereka beranggapan, bahwa keindahan tubuh memiliki parameter tetap dan universal,

    bener!! bahkan pandangan terhadap kaum pria pun demikian! mereka menganggpa pria yang putih, tingg, kekar…lebih menarik di mata wanita!

    tapi memang stigma demikian tertancap erat di muka dunia, dari eropa hingga asia….
    eh, ada blogger yang bis baca buku tentang ginian
    http://denaredana.blogspot.com/

  2. "Rebecca" said,

    yoa

    gua pun demikian ……………

    yah emang si co/ce yang cantik or sexy enak dilihat

    tapi ahkirnya harus nya sadar bahwa itu semua gak selamamya

    n harus nya orang mulai mencoba memandang bukan dari segi cantik or cakep

    n biarkan dunia ini seimbang,………………

  3. anggrek said,

    bener sekali kata2 anda.memang benar,di zaman globalisasi,wanita yang dipandang sebagai makhluk yang lemah.harus tampil aktif dan kreasi,sehingga wanita tidak dipandang sebagai makhluk yang lemah……..
    padahal sesungguhnya wanita mempunyai bakat yang luar biasa dibandingkan dengan seorang laki2 dan berjuta2 laki2

  4. astar hadi said,

    anda punya pengamatan yang bagus soal (politik) tubuh wanita. tapi setidaknya ada dua poin yang diketik tebal (bold) perlu diedit lagi. apakah itu kesalahan redaksional atau memang anda berpikir begitu, saya tidak tau. anda mengatakan wanita sebagai SUBJEK daripada OBJEK dalam wacana Publik. tapi dari penjelasan anda sendiri justru sebaliknya…seharusnya yang pas adalah sebagai OBJEK daripada SUBJEK….

    wassalam
    Astarhadi di Malang
    sang Pecinta Wanita

    kita bisa berkomunikasi via blog, melalui http://www.astarhadi.blog.com

  5. yesalover said,

    iy bung..maaf, kesalahan redaksional, saya malah baru sadar sekarang.thx sarannya

  6. wildan88 said,

    Mengapa wanita cenderung menjadi obyek seksual salah satunya disebabkan oleh kultur atau budaya. Tentu saja semuanya bisa dirubah jika orientasi tujuan hidup bisa disebarkan, artinya seks bukan tujuan utama. Dalam pandangan barat yang diwakili oleh Sigmud Freud malah lebih jelas bahwa kehidupan adalah seputar pemenuhan nafsu birahi siapa yang berkuasa maka dia yang berkuasa atas nafsu birahi. Masyarakat bisa hidup tentram dan aman jika nafsu birahi ini dapat dapat disalurkan dengan baik baigaimana pun caranya, Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi laki laki tetapi juga wanita. Salah satu caranyanya adalah membolehkan jual beli atau sewa tubuh baik laki laki atau perempuan. Menurut pandangan hukum barat transaksi ini lebih fair karena kedua belah pihak merasa puas dengan apa yang mereka peroleh. Jika direnungkan lagi, maka perkawinan yang dilandasan pada nafsu birahi sebenarnya sama dengan prostitusi tersembunyi, dan terasa legal dan bermartabat atau beradap. Karena disitu pasti ada tawar menawar. Demikian juga pelacuran sama artinya dengan perkawinan sekejap. Lalu apa yang harus diperjuangankan selanjutnya persamaan hak kah? atau membalik wanita seharusnya menjadi subyek, ataukah persamaan derajat dan tanpa eksploitasi.
    Dari sisi pilihan pekerjaan misalnya sebenarnya sudah tidak ada lagi perbedaan atau diskriminasi antara laki laki dan perempuan. Justru perusahaan lebih memilih perempuan, nah kalau upaya upaya ini disebut menjadikan wanita sebagai objek, trus …kemanakah peran perempuan dikembalikan? Saya jadi ingat kata kata Cak Kartolo 25an tahun yang lalu: emang susah jadi perempuan jika kurus disebut i”wak klothok” (ikan yang diwetkan berhari hari) kalau gemuk disebut “tong ngglundhung”
    Nah Mbak Yesa bisa menjelaska type , format atau model perempuan atau wanita seperti apa yang diinginkan. Mandiri? pintar atau ibu rumah tangga yang bertanggung jawab pada anaknya..atau dua duanya..ntar diprotes sama Mulan : aku bukan wonder woman………salam

  7. herylady said,

    “Wanita kerapkali justru membenarkan stigma tadi secara implisit melalui berbagai hal, misalnya melalui tingkahnya, melalui kepasrahannya terhadap dominasi pria, melalui gaya bahasa dan tutur kata”, apakah ini pernyataan yang faktual ataukah hanya sebuah jeneralisasi dari satu atau beberapa wanita yang dikenal penulis? Apakah semua wanita menunjukkan kepasrahan terhadap dominasi pria? (Saya membuat pertanyaan terhadap pernyataan dalam tulisan di atas).
    mmmm? lagipula, jika ‘secara implisit’ belom bisa disimpulkan sebagai ‘sesuatu’ yang jelas, kan? kalo sudah eksplisit… Lha itu baru bisa jadi pembicaraan lebih lanjut.
    memangnya bentuk kepasrahannya terhadap dominasi pria yang penulis lihat itu yang bagaimana?
    gaya bahasa dan tutur kata wanita yang bagaimana yang membenarkan stigma di atas?
    apa benar bahwa masalah gender adalah masalah yang mendasar? saya tidak merasakannya. entahlah.. pasti ada sesuatu yang Anda rasakan dan belum dapat saya mengerti. Mungkin kapasitas saya untuk mengerti tidak sebesar kapasitas Anda. Entahlah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: