Sebuah Cerita Masa Lampau

February 26, 2007 at 4:35 am (Asal Ngomong dan Curhat)

Setelah seminggu belakangan halaman blog saya dipenuhi oleh artikel2 berat (mungkin sekitr 1-3 ton), akhirnya saya bisa take a rest in peace dulu, nggarap artikel2 ga mutu en bersifat personal aj. Ok pren, kali ini saya mo curhat, tentang beberapa masalah hidup saya.

Saya berasal dari keluarga baek2, cuma sedikit ga harmonis aj, ortu pernah nyaris cerai, en pernah dilanda masalah berat bgt (sori yg ini g bisa takcritain)…Karena itu pula, sempat saya nyicipin nikmatnya hidup dgn orang2 gali, preman, dan liar. Nyaris setiap seluk-beluk dunia hitam sempat saya masuki (walau ga lama). Kalo cuma minuman keras, dari vodka, sunrise, sampe ke lvel bawah, topi miring, dah jadi teman malem minggu saya. Klo ditanya apa pernah mukulin orang, saya dulu pernah mbachok orang pake pedang, untungnya cuma kena di bagian tangan (cuma waktu itu bareng2 sehhhh, itupun mbantu temn). Ganja pun rasa2nya pernah saya hisap (tp itupun ga sengaja, takkira itu rokok jhe). Intinya, dulu saya adalah I’m not the good one. Sebenernya perkenalan saya dengan dunia seperti itu bukan hanya disebabkan kondisi keluarga yg carut marut, tp juga disebabkan masalah2 remaja lainnya. Maklum, masih cari eksistensi. Tp itu ga berlangsung lama, sampe suatu hari saya jatuh hati ma seorang wanita. Dan dialah yg sering kasih nasihat ke saya. Step by step, saya berubah. Itupun demi dia. Karena perubahan saya itulah, saya dijauhi banyak teman. Teman se-genk yg dulu suka nggebukin orang di bunderan UGM klo pas malem minggu. Temen2 minum Vodka, yg kadang2 suka nyampur minumanny dengan bensin, xtrajoss, bodrex, sprite, dll. Pokoknya, semenjak saya mengenal wanita itu, saya sudah bertekad utk menjauhi hal2 maksiat (toh nyatanya sampe sekarang masih ketinggalan 1 biji). Dasar yg namanya cinta, ga pernah pake logika!! Saat itu, saya lebih mementingkan sang gadis daripada teman2 yg jumlahnya berjibun…Alhasil, kurang dari 3 bulan, saya berhasil keluar dari lingkaran “setan” (saya ga suka dengan istilah itu, karena justru di dalam lingkaran setan itu, saya menemukan komunitas yg sangat loyal dan setia kawan). Yah, saya harap dengan keluarnya saya dari dunia itu, mampu memikat hati sang gadis. Kepada dia jugalah, saya selalu cerita mengenai masalah keluarga. Pokoknya, dia jadi orang pertama yg tau masalah keluargaku. Tp entah kenapa, bertahun2 setelah kejadian itu, sang gadis malah pergi karena pada akhirnya dia ga tahan dengan masalaluku, dengan segala cerita2q, dan dengan segala masalalu keluargaku. Jadi, selama ini, setelah saya memberikan segenap kepercayaan saya padanya, ia justru malah tidak dapa menerima diri saya beserta masalalu ini. Atau mungkin keluarganya yang kaya raya (yg bisa beli seribu rumah mewah) melarang dia utk bergaul dengan saya. Atau mungkin juga doktrin agamanya yg sangat2 “baik dan bermoral” mengajarkan jika seorang hina seperti saya tidak layak di depannya ?? Ahh, rasanya berat sekali menjalani realitas ini, apalagi melihat fakta jika saya sudah berubah 180 derajat. Entahlah, mungkin memang, orang kumuh, miskin, dan hina ini tidak layak dengannya. Ya, saya tahu jika ia berbeda kelas dengan saya; dia pintar, saya bodoh (karena hanya dapat masuk ITB); dia (atau ortunya ??) kaya, saya miskin; dia dari keluarga religius (saking religiusny sampe menjauhi orang berandal seperti saya), saya dari keluarga yg ga jelas; dia dari keluarga terhormat (walau mungkin ga beradab), saya dari keluarga hina-yg selalu jadi bahan cemoohan orang2 gereja-; dia orang yg beriman sekale (saking berimanny dia ga pernah bisa terima kata “filsafat”), sedangkan saya hanyalah orang yg selalu bisa mempertanyakan keimanan itu sendiri melalui filsafat. Cukup !! itu pribadi saya yg dulu, saya berjanji jika esok, tidk akan kubiarkan orang2 seperti dia meremeh-temehkan saya, terutama keluarga saya, terutama lagi alm. Papa tersayang. One day, I’ll prove that a contemptible man like me, can beat her !!! Suatu saat, saya pasti dapat mengajarinya bagaimana mirisnya menjadi orang miskin, yg selalu direndahkan oleh orang2 seperti kaum mereka. At least, sekarang, melalui tulisan2 saya, saya mampu berbicara lantang, meneriakkan hak2 kaum hina seperti saya ini.

NB. Maaf g bisa cerita panjang lebar, karena bagaimanapun, kata2 adalah lebih tajam dari pisau.

 

~Sekedar refleksi aj, mengenang masalalu, didedikasikan utk orang2 hina dan bernasib sama~

~Broken Hearted, 24 Februari 2007, 15:24~

1 Comment

  1. arief and dhina said,

    slamt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: