Mimpi II

February 23, 2007 at 5:06 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Mimpi II

 

Masih ingat mengenai artikel mimpi saya terdahulu ?? Kali ini, saya ingin melanjutkan perenungan mengenai mimpi lagi.

 

Setelah saya mengungkapkan beberapa masalah mengenai mimpi pada artikel yg lalu, kali ini saya ingin menyajikan beberapa tambahan pertanyaan, dan bukannya jawaban atas artikel saya yg lalu. Toh, mengajukan pertanyaan terkadang jauh lebih sulit dari menemukan jawaban kan? Beberapa waktu lalu, saat saya sedang dalam perjalanan, tiba2 saya berpikir mengenai hakikat kesadaran. Awalnya hanya merenungkan kembali keragu2an Descartes-yg nantinya akan melahirkan cogito ergo sum-, sampai akhirnya pikiran ini dengan seenaknya masuk ke ranah identitas personal, membayangkan kapal2 Theseus yg mulai meninggalkan pelabuhan, dan akhirnya kembali merenungkan mengenai artikel saya sebelumnya;tentang mimpi. Andaikata, saya bermimpi, dan dalam mimpi itu, saya sadar jika saya sedang “mengalami” mimpi, dan pada akhrnya saya mampu mengendalikan jalan pikiran saya-yang tentunya berada dalam khasanah mimpi- berkat adanya kesadaran dalam mimpi itu sendiri. Bingung??? Ini masih belum bermasalah, pertanyaannya adalah : kesadaran itu miliknya sapa???milik sang mimpi atau milik pikiran kita?? Singkatnya, apakah saya benar2 merasa “sungguh” sadar ataukah saya sadar hanya sebagai bagian dari mimpi??? Yah, mungkin bagi orang skeptis, hal semacam ini bukan jadi suatu ganjalan yang berarti, atau mungkin bagi kaum2 positivis-yang notabene terdapat di ITB :p – hal ini masih kalah menarik daripada serentetan teorema kalkulus. Sedangkan utk orang penganut Ockham, bisa menjawab pertanyaan itu dgn metode “pisau cukurnya”, atau dengan metode reduction ad absurdum utk menguji argument tadi.

 

Terlepas dari metode utk menjawabnya (atau mencari jawab??), saya lebih tertarik utk mengajukan pikiran2 mengenai hakikat kesadaran itu sendiri ke sidang imajiner, di mana pembela dan jaksa penuntutnya bukannya bersaing utk menjadi yang benar, malah mereka bekerjasama utk mencari kebenaran itu sendiri. Hm, kalau begini, harus kembali dari awal, mengenai arti dari kesadaran itu; apakh ia berarti kemampuan kita utk mencerap alam beserta interaksinya, atau ia lebih kepada base-controlling-unit dari pikiran kita???Lah, di sini timbul pertanyaan yg jauh lebih besar, jika memang kesadaran itu sangat erat kaitanny dengan pikiran, semestinya kesadaran dan pikiran itu bergerak dalam suatu system yg sama. Mestinya lagi, jika pikiran itu ada dalam alam nyata, mk sudah selayaknya jika kesadaran itu juga ada dalam alam nyata. Loh????? Berarti jika kita sadar sedang ada dalam alam mimpi, jgn2 pikiran kita juga hanya ada dalam mimpi??Lha, klo gini tirai pemisah antara realitas dan mimpi semakin terkikis.

 

Beberapa saat setelah pemikiran-yg oleh sebagian org dinilai tidak waras-itu, saya secara kebetulan membaca salah satu karya Descartes yang membahas mengenai mimpi itu (ternyata pemikiran saya telah didahului beratus2 tahun sebelum saya dilahrkan T_T), ia menyodorkan suatu solusi-atau lebih tepatny spekulasi??-, yaitu pikiran kita telah dipengaruhi oleh “setan2” yang telah berhasil menipu pikiran ini. Pikiran kita menjadi tidak berdaya, dan akhrnya dapat disimpulkan jika ia tidak nyata, karena nilai kebenaran yang sesungghnya dari pikiran kita telah disembunyikan dan dimanipulasi oleh “setan2” itu. Lha koq??? Nek gini, Descartes seolah2 ingin menguatkan statement yg menyebutkan jika mimpi tidak beda dgn realitas. So????

 

Kalau saya pribadi-mengingat keterbatasan wawasan saya- lebih bertendensi utk tidak melihat jawaban apa yang saya peroleh, tetapi lebih kepada proses yang saya capai dalam mencari jawaban itu. Jujur saja, semenjak pikiran ini dihinggapi pertanyaan2 yang “tidak waras”, saya dapat memperkaya wawasan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah hidup, tanpa terpengaruh doktrin manapun. Yah, at least, kondisi saya yang seperti ini jauh lebih baik daripada sekedar orang yang melakukan sesuatunya berdasarkan norma2 terntu (terutama agama) tanpa mengerti makna dan tanpa mempertimbangkannya kembali.

 

~In Memoriam, Jakarta, 20 Desember 2006 09:14 AM~

4 Comments

  1. diditjogja said,

    bener mas! anda gak waras!!!

  2. yesalover said,

    Hihihihi..tergantung definisi waras dan tidak itu..bener to??

  3. "rebecca" said,

    kadang bener sih mimpi tu pencerminan realitas,…toh yang ada dalam realitas hidup kita kadang2 ke bawa ampe alam mimpi n kadang2 mimpi bukan hanya bunga tidur…mungkin bisa jadi sebuah keinginan or kepenatan yang dalam alam nyata hanya bisa di pendam atau pun sebuah solusi?….yah yang penting dalam mimpi banyak hal bisa terjadi baik fantasi ataupun edukasi(maksud na..?)…
    ya gitu deh dengan mimpi itu lah dunia kita jadi berwarna……..

    pisss……..

  4. ridwan said,

    Saya sedang meneliti tentang alam bawah sadar, semua yang anda alami itu benar terjadi, tulisan saya bisa menjawab semua keraguan anda. Doakan saya berhasil membuktikan secara fisika..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: