Filsafat, Apakah Itu ?

February 19, 2007 at 5:34 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Dear all bloggers,

Pada artikel ini, saya akan membahas sedikit mengenai pengertian dan sejarah dari filsafat. Hmm, apa yang ada di benak pembaca ketika mendengar kata ini ?? Kata “filsafat” dipandang sebagian (kebanyakan?) orang sebagai sebuah ilmu yg membingungkan, sesuatu yg sangat relatif, atau mungkin juga sesuatu yang tidak berguna karena hanya akan membuang waktu dan pikiran. Berdasarkan pengalaman saya, teman yang sebaya dengan saya, masih sangat sulit utk mau memahami dan belajar filsafat. Bahkan, dulu saya sempat dijauhi oleh teman-teman yg sangat fanatis pada ajaran agamanya karena saya selalu mempertanyakan ajaran agamany itu. Saya sempat dianggap gila dan atheis oleh beberapa rekan. Bagaimana tidak ? Remaja berumur 16 tahun, yg mestinya masih berkutat dengan masalah2 remaja (atau wanita ?), dengan lancangnya berani mempertanyakan –bahkan meragukan- sesuatu yg selama ini telah mendarah daging dalam peradaban manusia. Karena filsafat pula, saya sempat ditinggalkan oleh orang yg saya sayangi. Mereka pergi karena pemikiran saya tidak sesuai dengan apa yg mereka pegang (ajaran agama, tentunya ). Mereka menganggap, orang seperti saya, yg selalu mempertanyakan substansi ritus agama, adalah sesuatu yg berbahaya, yang dapat meracuni pikiran mereka. Hm, mungkin mereka takut jika saya menggoyang keyakinan yg selama ini mereka pegang. Saya itu sebenarnya cuma heran, koq masih ada orang yang mau mengikuti suatu aliran, dogma, atau ajaran tertentu –yang katanya mengandung nilai kebenaran-, padahal mereka sendiri tidak mengerti makna sebenarnya, sehingga mereka terkesan sebgai robot yg tahunya cuma diperintah dan melaksanakan perintah, tanpa peduli siapa yang memerintah ataupun tujuan mereka diperintah. Saya sendiri bukanlah atheis, bahkan saya orang yg sangat mengakui keberadaan suatu supra­-entitas yg mengatur seluruh jagad raya. Ok, anyway, saya akui, mungkin filsafat itu terlihat sulit dan tidak berguna (bagaimana tidak ??filsafat itu selalu mempertanyakan sesuatu yg tidak lazim dipertanyakan kan ?). Tapi yang mengherankan, secara tidak sadar, kalian pasti sering menggunakan filsafat dalam kehidupan sehari2. Hal ini disebabkan karena filsafat sangat dekat dan identik dengan kehidupan sehari2. Jika kalian pernah mempertanyakn asal-usul diri kalian, itu sama saja sudah berfilsafat, atau mungkin kalian pernah mempertanyakan tujuan hidup di dunia ini ?Nah, itu salah satu bentuk berfilsafat. J.G. Fichte, salah satu filsuf transedental idealisme dari Jerman, pernah mengatakan, “ Kembalilah pada dirimu sendiri; alihkan perhatianmu dari segala sesuatu yang ada di sekitarmu dan arahkan pada kehidupan batinmu; ini adalah syarat pertama yang dituntut filsafat pada muridnya”. Yang pasti, sulit atau tidaknya berfilsafat tergantung darimana sudut pandang orang itu. Sama halnya jika orang menganggap berbicara itu mudah, coba saja tanya pada orang yang mempunyai 15 sariawan di mulutnya, apa iy, bicara itu akan terlihat mudah bagi orang tersebut ?? ^_^.

Kembali ke topik, sebenarnya, karena filsafat sangat dekat dengan kehidupan manusia, sejarah awal mula filsafat sendiri tidaklah jelas. Akan tetapi, semestinya, filsafat sudah dikenal sejak manusia punya akal budi dan kesadaran akan sekitarnya. Filsafat, berasal dari bahasa Yunani, philosophia, “love of wisdom” yang berarti mencintai kebijaksanaan. Mencintai di sini bukan berarti mencintai secara pasif, tetapi sebaliknya, secara pro-reaktif, karena pada hakikatnya, berfilsafat berarti berusaha utk mencari kebijaksanaan. Nah, ‘kebijaksanaan’ sendiri, sepanjang pengetahuan manusia, ia memiliki makna yg bermacam2. Tp at least, karakteristik utama yg dimiliki oleh ‘kebijaksanaan’ itu pasti sama dengan pandangan umum. Banyak orang yang salah mengartikan filsafat, filsafat, mereka anggap hanya sebagai ilmu untuk mencari yang benar dan salah. Padahal, arti mencari kebijaksanaan itu tidak sesempit itu, toh , lagipula, mencari kebijaksanaan memiliki arti yang fundamentaly different dari mencari yang benar dan salah. Ok, so, adakah bukti tertulis mengenai sejarah filsafat/pendiri filsafat ?? Seperti yg telah saya kemukan di atas, sampai sekarang, sejarah pasti filsafat atau siapakah pendirinya masih belum jelas diketahui. Tapi, semenjak ratusan tahun SM, sudah dikenal banyak orang bijak yg bermunculan, sebut saja Budha dan Upanishad dari India, Lao Tze dan Confucious dari Cina, dll. Nah, berdasarkan kesepakatan, filsuf pertama yang dikenal adalah Thales dari Miletus. Ia salah satu dari kumpulan 7 orang bijak (seven wise men), atau yang disebut juga kaum Sophis. Tujuh orang itu adalah Thales dr Miletos, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, Solon dari Athena, Kleoboulos dari Lindos, Kiloon dari Sparta dan Periander dari Korintus. Thales termasuk dalam keategori filsuf pre-Sokrates, atau sering disebut juga filsuf alam, filsuf kosmologi dan metafisika. Sebutan ini diberikan mengingat fokus perhatian mereka terhadap asal usul alam dan dunia fisik. Pada awalnya, filsuf golongan ini menggunakan konsep monistik dalam memandang dunia, tetapi pada akhirnya, mereka juga menggunakan konsep2 pluralistik.

Thales, menurut Apollodorus dari Athena, lahir pada olimpiade ke 39 (sekitar tahun 624 SM). Ia menjadi filsuf pertama yang mengajukan teori single material substratum utk alam semesta. Ia percaya, jika segala sesuatu di dunia ini disusun berdasarkan satu substansi saja, yaitu cairan atau air. Ada kemungkinan, hal ini didasarkan pada pengalamannya yang melihat perubahan wujud air, air tidak dapat hilang, tetapi hanya berubah (cair, padat, gas). Ia juga menyatakan jika seluruh organisme di semesta, terdiri dai banyak kandungan air. Pandangan Thales yg menganggap air sebagai substansi esensial, dan melakukan simplifikasi terhadap paradigma-paradigma yg ada pada saat itu mengenai dunia (terutama pandangan mengenai Dewa) itulah yang disebut sebagai reduksionisme –melakukan simplifikasi-. Sumbangan terpentingnya dalam filsafat adalah pemikirannya mengenai akal, rasio untuk mengalahkan mitos/pandangan dewa dalam menjelaskan fenomena alam. Satu hal yang menarik dari Thales, menurut pujangga sekaligus filsuf Yuanni, Xenophanes; ia mampu memprediksi gerhana bulan yang mencegah perang antara Raja Alyattes dari Lydia dengan Raja Cyaxares dari Media. Akan tetapi, astronom masa kini, menyangsikan hal tersebut, sangat mustahil bagi Thales utk memprediksi gerhana matahari secara tepat dan akurat.

Nah, berdasarkan tulisan di atas, kita sudah mengetahui satu aliran filsafat yg cukup penting, yaitu Reduksionisme. Ironisnya, aliran ini mempunyai kelemahan, yaitu : ia terkadang akan memandang suatu masalah dengan sangat sederhana, cuma dilihat secara garis besanya, tanpa mau dikaji lebih dalam lagi. Tus, kita tentu saja dapat menjumpai contoh kongkrit dari aliran ini dalam kehidupan sehari2. Sebagai contoh, masih inget konflik di Poso ? atau Ambon ? Nah, kan masih banyak yg beranggapan jika konflik itu cuma sekedar konflik antar agama tok, ga ada sangkut-pautnya dengan yg lain. Atau, masih inget goyang kontroversialnya mba Inul ? kan masih banyak yg menganggap masalah itu sebagai masalah moral dan agama secara sempit. Pernahkah anda menonton infotainment, yang hobinya ngrecoki masalah rumah tangga orang lain ???Nah, kita dapat menemukan kelemahan reduksionisme dengan mudah di situ. Acara TV seperti itu, bertendensi utk menyimpulkan suatu peristiwa dengan sangat simpel (atau bodoh ??), misalnya kalau ada pasangan artis yang cerai, biasanya acara itu mengklaim jika penyebab perceraian mereka adalah pihak ketiga, atau masalah uang, atau yg lain. Padahal, tidak jarang, realitas yang dihadapi pasangan itu jauh lebih rumit dari yang dikemukakan oleh acara TV tersebut. Yah, yg pasti, relevansi dari ajaran filsafat itu sampai sekarang masih dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Itu juga yang menyebabkan, ilmu filsafat dianggap sebagai induk dari ilmu-ilmu yg lain; bisa dibilang, filsafat merupakan tingkatan tertinggi dalam sejarah intelektualitas manusia. Kalau sudah begini, apa iya, ilmu filsafat itu masih dianggap tidak penting ?? Apakah ilmu filsafat jauh lebih rendah kedudukannya dari kalkulus, fisika, atau kimia ?? Aristoteles pernah mengatakan, “ Sebab dari rasa ingin tahulah manusia saat ini dan pada mulanya mulai berfilsafat”. So, semestinya manusia berfilsafat terlebih dahulu, baru ia bisa keluar dan melangkah ke luar. Saya harap, bagi yang selama ini masih memandang filsafat dengan sebelah mata, sudi membuka sedikit jendela cakrawala dan meluruskan pandangannya yg masih menganggap filsafat sebagai ilmu yang rumit, membosankan, dan tidak berguna.

Sapere Aude !!!

~Broken Hearted, Bandung, 18 Februari 2007, 11:43~

10 Comments

  1. martin said,

    tolong bantuin saya untuk mencari tentang riwayat tentang thales
    t

  2. yesalover said,

    ok..minggu depan dah ada bos

  3. Carissa Stella Alim said,

    saya meruypakn pelajar disalah satu sekolah ITTC Gontor for girls 1 , saya mulai tertarik denggan ilmu filsafat ketika saya mendenggar cerita tentang Aristotle namun rasa penasaran dan ketertarikan saya ini mulai hilang karena sauya tak pernah menemukan keteranggan serta semua yang saya inggin ketahui daari ilmu filsafat bahkan pencarian saya melalui internetpun tak membuat saya lega , saya hanya mengetaahui bahwa filsafat adalah suatu uilmu yang mungkin membawa saya kepemikiran berbeda , yaitu pemikiran yang memang benar-benar membawa saya ke dunia lain

  4. yesalover said,

    mba stella, sblmnya terima kasih telah memberikan comment di blog saya. Sesungguhnya, segala macam referensi mengenai filsafat tidak dapat membuat seseorang mengerti apa hakikat filsafat itu sendiri…Hal tersebt hanya sebagai penuntun kita utk mengetahui arah jalan menuju hakikat itu, tetapi tidak menuntun kita ke jalan itu (hanya sbgai alat bantu)..Yang menjadikan kita mengerti hakikat filsafat adalah perenungan kita sendiri..Dulu saya juga sama persis seperti Anda, tidak menemukan kelegaan ketika mempelajari referensi filsafat, tetapi setelah saya merenungkannya sendiri, dan ternyta filsafat itu pada akhirnya membawa perubahan besar dalam hidup saya juga.

    NB. klo ingin berbincang lebih lanjut, silakan hubungi saya via email
    broken_hearted@telkom.net

  5. Tim Marx-Dostoevsky said,

    Uji pengetahuan anda tentang Marx, dengan menjawab pertanyaan yang tercantum di http://meontology.blogdrive.com , dan jawaban terbaik akan mendapatkan hadiah menarik…..

  6. afra said,

    Mmmm…..agak senasib kayanya kita….saya ketika masih berumur 14 tahun sudah dilabeli freak karena tidak taking for granted trhdp apa yang ada.sekarang saya berumur 19 tahun dan label itu masih melekat namun saya bersyukur melihat apa yang tidak mereka lihat. At least saya tidak ada di dalam false consciousness….dan dengan cara seperti itu saya mulai mendekonstruksi banyak hal….hehehe….btw nama aslinya siapa ya mas???

  7. Wijen said,

    coba aj mba liat di profile saya, kan ada tuh di hlaman ini

  8. vhie said,

    bagaimanakah manfaat pempelajari ilmu filsafat???

  9. zyaev al-isyraq said,

    bagaimana cara kita berfilsafat, bukan bagaimana cara kita belajar filsafat.
    bagi saya filsafat adalah jalan hidup

    [hanya satu yang saya tahu, bahwa saya tidak tahu?]

    aufklarung

  10. yudhi said,

    ketika orang menuhankan akal dan kirikan selamanya dia tidak akan menemukan suatu kebenaranan yang hakiki, karena otak sifatnya terbats dengang sistematik dan logika saja, namun ketika pada tahapan intuisi kadang diperlukan untuk mengetahui suatu kebenaran yang ada tp hanya sebagian saja yang digunakan. dan tetap hati yang suci dan bersih adalah satu-satunya jalan untuk mencari kebenaran yang hakiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: