Paradigma Mengenai Persepsi dan Objek (II) (Kajian dari Sudut Pandang Hume dan Locke)

February 13, 2007 at 4:41 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Seperti yg saya janjikan sebelumnya, saya akan membahas 2 filsuf terkemuka, saya akan menyoroti pendapat mereka tentang masalah persepsi. Pertama2 saya akan mulai dengan John Locke, lalu kemudian akan disusul dengan David Hume.

John Locke, dilahirkan tgl 29 Agustus 1632, di Wrington, Somerset, Inggris. Ia meninggal pada tanggal 28 Oktober 1704 di Essex. Ia merupakan filosof barat yang menjadi salah satu penerus Descartes. Dalam bukunya yg terkenal, “An Essay Concerning Human UnderStanding”, terlihat dengan jelas bahwa ia termasuk filosof yg lebih mengutamakan common sense daripada logika deduktif; dan menurutnya sendiri, kesimpulan-kesimpulan akhir yg dia capai lebih bersifat sementara, lebih rentan untuk keliru, daripada self- evident. Nyaris sama dengan pandangan Descartes, Locke juga sepakat jika manusia tidak dapat meragukan kesadarannya; apapun itu, ia benar-benar ada. Oleh Karena itu, kesadaran adalah sesuatu yang diketahui secara langsung dan tidak dapat diragukan. Kesadaran itu sedemikian rupa sehingga secara serta-merta kita dapat menganggap diri kita sebagai subjek yg secara eksternal berada dan eksis dalam dunia objek di luar kita. Namun, Locke berpendapat jika bukan hanya indra kita yang kadang kala terbukti menipu dalam memahamin sifat dan kualitas objek itu, melainkan juga terbukti jika indera kita selalu menipu secara sistematis dalam hal-hal yang sangat penting. Sebagai contoh, kita dapat memersepsi kualitas-kualitas dari objek fisik di sekitar kita, seperti warna, bau, suara, ataupun rasa. Nah, Locke berargumen jika sejumlah kualitas itu –yang tampak di hadapan kita- sebagai cirri-ciri dari sebuah objek, tetapi pada kenyataannya, kualitas-kualitas itu hanya akan eksis jika ada interaksi antara subjek yg memersepsi dan objek yg dipersepsi. Hal inilah yg menyebabkan objek itu tidak dapat dijustiikasikan begitu saja, memiliki kualitas yang menjadi cirri dari objek dalam dirinya sendiri secara independen dari yang memersepsinya. Inilah yang disebut Locke sebagai kualitas-kualitas sekunder. Sedangkan dalam gagasan Locke, kualitas primer adalah cirri-ciri yang dimiliki sebuah objek dalam dirinya sendiri, terlepas dari apakah benda itu sedang dipersepsi atau tidak. Namun, sayangnya, hal ini secara logika bukanlah jawaban yang cukup memuaskan bagi pertanyaan saya di awal. Sekalpiun daapt diterima, hal ini berarti bahwa hakikat dasar dari realitas fisik itu merupakan misteri yang tidak akan dapat dipecahkan. Pada dasarnya, bagi Locke, realitas-realitas itu akan selalu tersembunyi keberadaannya.

Masalah mengenai persepsi dijelaskan oleh David Hume, filsuf Skotlandia, dengan lebih memukau. Walaupun begitu, jika hanya membaca sekilas dan tidak mendalami lebih jauh karya-karya Hume, tetap saja penjelasannya akan terasa kering. Hume dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1799 di Edinburgh, Skotlandia, dan meninggal di kota yang sama pada tanggal 25 Agustus 1776. Ia berkeyakinan bahwa jika kita secara disiplin dan self-conscious¬, berupaya untuk menjadi seorang filosof, kita tidak dapat mencegah diri kita untuk mempercayai eksistensi dunia eksternal, meskipun kita tidak dapat membuktikan eksistensi tersebut. Hume menyangkal adanya landasan-landasan keyakinan yang tegas akan eksistensi Tuhan. Tus, hal ini malah menimbulkan salah sangka di kalangan akademisi, yang mengira jika ia seorang atheis, sedangkan pada kenyataanya, ia merupakan seorang agnostic (mengenai ini, lebih lanjut akan saya coba jelaskan di artikel yang lain). Ia menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat digunakan sebagai penjamin eksistensi apapun yang independen dari subjek. Namun, adanya fakta yang terbukti dengan sendirinya bahwa kita hidup dalam dunia objek materiil eksternal tidaklah bisa dijadikan dasar untuk menganggap jika dunia eksternal itu dapat disebut “sebagai diketahui”, andaikata memang anggapan itu tidak dapat divalidasi dengan pengalaman ataupun logika. Pada akhir kesimpulannya, Hume meyakini jika hal tersebut memang tidak dapat divalidasi. Hume berpendapat, jika manusia dalam hiupnya harus melibatkan berbagai macam pilihan dan keputusan, dan semuanya ini pasti berdasarkan suatu keyakinan yang kuat. Lebih dari itu, pemilihan keputusan tadi juaga akan melibatkan resiko-resiko sebagai konsekuensi logisnya. Sebagai contoh, jika kita hendak menyeberanga jalan, pasti ada resiko untuk tertabrak kendaraan yang melintas. Jadi, sepanjang waktu kita harus menjalani kehidupan atas dasar keyakinan mengenai realitas yang mendasar, meski kita memang tak pernah yakin seratus persen apakah keyakinan kita itu benar. Inilah yang disebut hume sebagai mitigated skepticism. Implikasi yang sama ialah penolakan terhadap kemungkinan membangun unitary system of explanatory thought, yang berarti ia menolak segala macam bentuk agama, ideology, dan system metafisika, karena jika memang tak ada sesuatu yang dapat membuat kita merasa pasti, akan terlihat sangat absurd jika kita mengklaim memiliki seuah penjelasan yang berdasarkan padanya dapat menjelaskan segala sesuatu.Dalam bukunya, “ A Treatise of Human Nature”, ia memberikan argument yang sedemikian rupa sehingga selain kita “dipaksa” untuk mengakui ketidakmampuan kita untuk membuktikan dunia eksternal, melainkan juga ternyata kita tidak dapat melakukan validasi mengenai hubungan sebab-akibat dalam realitas; bahwa sesungguhnya yang dinamakan logika induktif itu tidak dapat divalidasi; bahwa kita sebenarnya tidak pernah dapat merasa pasti akan eksistensi kita sebagai continous-self, apalagi mengenai kepastian mengenai eksistensi Tuhan. Tetapi, yang perlu saya tekankan di sini adalah Hume tidak secara tegas mengatakan jika dunia common sense yang eksternal itu tidak ada, melainkan ia hanya membuktikan jika dunia itu tidak dapat dibuktikan melalui pembuktian dan argument rasional. Bagi saya, karya Hume ini lebih bersifat kritikan terhadap kelemahan manusia yang serba terbatas, khususnya terbatas dalam hal pengetahuan. Hume mengklaim jika sebagian besar dari rasio tidaklah valid. Pikiran2 kita, segala persepsi kita pada dasarnya tidak terkait berdasarkan logika (Logic Based), melainkan berdasarkan dari asosiasi-asosiasi, derivasi-derivasi dan ide-ide. Perilaku kita pun hanya dibimbing oleh ekspektasi dari mereka, dan berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang.

Melalui karya2 besar dari dua orang filosof tadi, saya sejenak kembali merenung, bahwa ternyata manusia memiliki segala keterbatasan, dan ironisnya, banyak manusia yang menganggap bahwa mereka tahu akan segala hal, tahu aka nisi dari realitas eksternal tersebut. Pada kenyataannya, seperti Hume, saya meyakini jika segala sesuatunya perlu diragukan dan dipertanyakan terlebih dahulu, omnibus dubitandum. Alhasil, artikel ini bukan untuk diperdebatkan kebenarannya, tetapi lebih sebagai bahan perenungan semata. Vale!!! Sapere Aude!!!

~Broken Hearted, Bandung 13 Februari 2007, 05.00 AM-07.30 AM~
~ Didedikasikan untuk seseorang yang meyakini-sampai sekarang-jika keputusannya itu memang tepat, jika keyakinan akan ajaran agamany itu memang benar ~

6 Comments

  1. escoret said,

    setuju..!!!!!!
    postingane dowo bgt..!!!!

  2. yesalover said,

    diwoco ra kabeh??mesti ora???wong sing nulis wae males moco manehhh:)

  3. escoret said,

    halah..!!!!!
    podo wae..hehheheheh
    podo2 pekok….aku yo pekok..!!!!
    bos,bandung dimana?

  4. yesalover said,

    wakakakk…bandung, tinggal nya di buah batu..tp kul di ITB..lha sampeyan dari mana boz???

  5. cempaka said,

    tanggal lahire salah tuh !!!!!!!!!

  6. rier said,

    dua org filsuf di atas adlh tokoh empirikis yg notabene sgt mengedepankn indra sbg basis ilmu pengetahuan,mereka dgn teori2 filosofisnya tlh melakukan reduksi terhdp scop rasio yg mana tdk terbatas pd wilayah logika semata,pd hal rasio jg mencakup wilayah kesadarn dan mental yg kebenarnnya sgt berkaitan dgn realitas luar seperti hukum kausalitas dan mrk terlalu prcya pd kemampuan jndra pada bnyk hukum di alam ini yg kita rasakn manfaat nya tdk dpt ditangkp indra spt hukum gravitasi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: