Metafora2 dan Paradoks Dalam Filsafat II

February 10, 2007 at 6:32 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Zeno dan Kura-Kura
(Bandung, 9 Februari 2007, 05:06 PM)
Zeno, seorang murid Parmenides yang cerdas, ia dilahirkan di Elea, Yunani ,sekitar abad 490 SM. Mengenai ajaran dan posisinya, sangat jelas dideskripsikan dalam Dialognya Plato, bab I, Parmenides. Zeno termasuk dalam kategori filsuf reduksionis, karena ia menggunakan serangkaian keyakinan dan menarik kesimupan logis darinya. Salah satu peninggalan Zeno yang terkenal adalah paradox mengenai perlombaan lari antara Achilles dan kura2. Karena Achilles merupakan pelari handal, maka kura2 tersebut diberikan kemudahn dengan mengambil titik start 10 yard di depan Achilles. Jarak yang tidak begitu signifikan itu ternyata mampu menjadikan kura2 sebagai pemenang. Saat pertandingan dimulai, Achilles melesat dengan cepat dan dalam beberapa detik ia telah berhasil menghabiskan selisih 10 yard tadi. Namun, pada waktu yang bersamaan, sang kura2 telah bergerak ke depan sejauh 1 yard – di mana Achilles hanya perlu menghilangkan selisih itu dengan 1 lompatan saja-. Mesipun begitu, sekarang kura2 telah bergerak 3 inchi di depan Achilles. Demikian seterusnya, Achilles berusaha meningkatkan kecepatan utk menyusul kura2, tetapi itu semua sia2. Menurut Zeno, tidak peduli berapa cepat Achilles berlari, ia tidak akan pernah dapat mendahului kura2. Hal ini disebabkan, Achilles tidak mempunyai tingkatan start yang sama dengan kura2.
Zeno berpendapat, tingkatan itu tidak dapat diraih oleh Achilles karena sejauh apapun Achilles bergerak, ia memerlukan beberapa waktu –sesedikit apapun- untuk sampai di tempat kura2. Tetapi, yang menarik adalah, pada waktu yg bersamaan, kura2 memiliki waktu yg sama dengan Achilles utk bergerak 1 langkah lagi. Meski jarak di anatara mereka semakin pendek, tetapi tetap saja itu tidak pernah berkurang sampai habis. Dengan demikian, kura2 akan selamanya memimpin di depan. Jika Achilles masih belum cukup bingung, ia harus menerima kenyataan jika ia tidak akan pernah mencapai garis finish. Hal ini disebabkan –menurut Zeno- , utk mencapai garis finish, pertama2, ia harus menempuh setengah jaraknya terlebih dulu. Lalu setelah itu, masih ada setengah jarak lagi yg harus ditempuh, dan tampaknya jarak ini dapat dibagi 2 lagi. Akhirnya, Achilles harus menempuh pembagian2 jarak yang takterbatas dari jalur perlombaan tersebut. Karena masing2 segmen terdiri atas ebberapa jarak dan membutuhkan waktu utk menempuhnya, tetap saja pada akhirnya ia akan memerlukan waktu yg takterbatas utk menyelesaikan perlombaan.
Pada dasarnya, hal ini juga berlaku utk awal lomba. Achilles secara literer juga tidak pernah memulai larinya. Karena, sebelum ia mencapai setengah jalan, ia harus menempuh seperempatnya dulu, sebelum itu, ia harus menempuh seperdelapannya dulu, dan begiu seterusnya…. Karena tidak ada akhir dalam pembagian ini, ia sama saja terpaku, tidak bergerak, di garis awal selamanya. Masih menurut Zeno, paradox ini dapat dihilangkan dengan mengabaikan konsep pembagian yang ada. Tapi sayangnya, hal ini dapat menyerang akal sehat kita, Karena nyaris tak mungkin utk melewati jarak dan waktu tanpa adanya tenggat2. Untungnya, ilmu matematika masa kini dapat menyelesaikannya. Seperti yang kita ketahui, definisi penjumlahan takterbatas (Infinitive) adalah satu, dan bukannya takterbatas juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: