Mengajar untuk Belajar

February 7, 2007 at 5:42 am (Iptek dan Pendidikan)

           Kesan pertama sungguh menggoda ! Itu satu-satunya jawaban yang spontan keluar dari mulut saya ketika mendapat pertanyaan mengenai kesan yang telah diperoleh selama menjadi mahasiswa. Kalimat itu bukanlah mengada-ada, atau hanya sekedar meniru pameo belaka, tetapi memang itulah realitasnya. Kesan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan fundamental antara menjadi mahasiswa dengan hanya sekedar menjadi siswa biasa.
Berdasarkan pengalaman saya, seorang mahasiswa dituntut oleh lingkungan untuk berpikir lebih dewasa dan maju. Mahasiswa tidak selalu harus belajar dengan membaca buku setiap hari, ia lebih dituntut untuk dapat mengajar. Docendo discimus, dengan mengajar kita juga belajar. Mengajar bukan berarti mahasiswa harus turun langsung dalam institusi pendidikan, melainkan ia diharapkan dapat mengimplementasikan pengalaman dan hasil pembelajarannya selama ini. Mahasiswa itu lebih menekankan praktik daripada sekedar berteori. Nah, kesempatan untuk mengimplementasikan apa yang telah saya peroleh itulah yang membuat saya tergoda. Bagaimana tidak? Kultur pendidikan di kampus pun sangat menunjang terciptanya suatu system di mana mahasiswa lebih banyak memiliki peran dalam masyarakat. Mahasiswa dapat berperan lebih banyak dalam masyarakat melalui beragam kegiatan dan aktivitas kampus.
imgp3156.jpgIronisnya, hal-hal tersebut tidak dirasakan oleh semua mahasiswa. Beberapa golongan bahkan menafikan realitas ini. Eksistensi mahasiswa, mereka anggap hanya dapat dinilai melalui Indeks Prestasi (IP) belaka, melalui parameter akademis yang dapat dinilai dengan angka. Hal ini mengakibatkan hilangnya minat dan kesadaran untuk mengajar, mengimplementasikan teori dalam masyarakat. Parameter ini, menurut hemat saya, telah menyebabkan mahasiswa bertendensi untuk focus mencari nilai dan mengabaikan hakikat mahasiswa dalam mengajar. Mahasiswa seperti itu akan menghilangkan banyak kesan yang dapat diperoleh jika mereka mau mengajar dan tidak sekedar study oriented saja. Walaupun argument tadi telah menjadi wacana sehari-hari, saya yakin masih banyak mahasiswa yang skeptic dan sinis terhadap paradigma seperti ini.

~Broken Hearted, 6 Februari 2007, 10:05 PM~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: