Pereneungan Akan Hidup

February 5, 2007 at 12:31 pm (Filsafat dan Gaya Hidup)

Beberapa waktu belakangan ini, saya sempat mengalami hari2 terburuk dalam hidup saya. Kesepian, kesedihan, kepahitan, amarah, menjadi sarapan saya setiap harinya. Saat itu, saya memang sengaja tidak menyentuh filsafat sama sekali, sebaliknya, saya malah rajin beribadah. Tapi entahlah, gereja beserta kotbahnya benar2 tidak mampu membuat saya damai, sangat paradoksal memang. Entah kenapa, saya merasa, isi dari kotbah mengandung unsur2 neurosis yang coba disuntikkan oleh pembicara untuk membius para pendengarnya. Yang membuat saya semakin getir adalah,-baik pendengar maupun mungkin juga sebagian pembicara-, tidak mampu untuk mengimplementasikan doktrin2 yang didapatnya secara adaptatif dalam kehidupan sehari2. Kalau sudah begini, satu2nya hal yang dapat membuat saya lebih baik adalah melakukan perenungan, sembari memperhatikan alam di sekeliling saya. Saya suka menggunakan imajinasi saya, untuk mengembara dalam dunia yang sangat berbeda, dunia yang tentunya saya bangun sendiri dengan balok2 mimpi serta imajinasi. Akhirnya, saat saya berada di taman sekolah, sembari melihat padatnya lalulintas, perenungan yang saya lakukan berhasil menghasilkan damai yang luar biasa, atau tepatnya rasa syukur, sehingga saya dapat kembali merasakan indahnya isi alam ini.

                Pagi itu, tatkala saya tengah memperhatikan dedaunan di tengah taman, saya memperhatikan seekor ulat yang tengah merayap di tengah. Saya rasa ia pasti telah terjatuh, mungkin dijatuhkan oleh angin yang iri melihat keindahannya, atau mungkin juga oleh wanita yang iri akan kecantikannya. Lama kelamaan, pikiran saya mulai berlari liar, mencoba menembus lebatnya hutan2 realitas, hingga sampailah ia pada dunia lain, yang disebut dunia khayal. Walaupun dunia itu tidak nyata, tapi dunia itu mampu mengajarkan saya akan pentingnya kehidupan, sepertinya mungkin akan lebih baik jika dapat hidup di dunia kahayal seperti itu. Saya membayangkan, ulat tadi tiba2 tersesat, hingga ia tiba di tepi sebuah jalan dengan tingkat kepadatan lalulintas yang tinggi. Ulat itu mulai mengeluh,” ahh, ramai sekali jalan ini, apakah aku dapat menyeberanginya dengan selamat ???”. Dengan penuh keraguan, ulat itu mulai merayap perlahan, ia hanya pasrah, bersiap jika sewaktu2 sebuah truk dapat mengakhiri hidupnya. Awalnya, ia hanya dapat menempuh jarak 1 meter dalam waktu 20 menit, sejenak ia berhenti, sementara tepat di atasnya berseliweran mobil2. Anehnya, tidak satupun dari mobil itu yang dapat melindasnya, ia selalu lolos dari ban2 yang terobsesi untuk membuatnya jadi dendeng. Saat ia berhenti itulah, ia mulai menggumam, “Ahh, aku  rasa  Cuma dapat sampai di sini saja, seberang jalan masih sangat jauh, masih 3 meter  lagi. Jangankan sampai ke tepi, sampai di tengah2 saja mungkin aku tidak akan selamat.  Ahh, andaikata aku dapat terbang, pasti tubuh ini dapat menyeberang dengan mudahnya.” Begitulah, setiap 1 meter, ia berhenti dan mulai menggerutu. Tepat saat ia berada di tengah2 jalan, ia berhenti, ia mulai terbakar oleh panasnya aspal. Kaki2nya yang mungil menjadi merah akibat terbakar permukaan aspal. Saat itu ia semakin menggerutu, ia mulai mengomel, dan terus menghujat sekelilingnya. Ia berteriak lantang, berharap ada seorang manusia yang sudi membantunya, “ Panas sekali hari ini!! Sial, manusia sungguh beruntung, mereka dapat duduk dengan tenang dalam ruangan ber AC. Coba lihat aku!! Aku sekarang berada di tengah2 jalan, menyeberang dengan susah payah, sedangkan separuh dari kakiku telah melepuh akibat panas yang menyengat. Ahh, andaikata aku memiliki sepasang sayap, maka kakiku tidak akan melepuh seperti ini.” Begitulah, sembari bersungut2 ia terus menyeberang. Ajaibnya, setelah lebih dari 1 jam, ia berhasil mencapai tepi jalan. Ulat itu bergegas untuk memanja pohon terdekat. Beberapa waktu kemudian, ia telah berhasil mendapatkan pohon yang ideal, rindang dan penuh dengan daun. 

Beberapa minggu berlalu, ulat itu tetap saja berupaya untuk terbang, minimal semingu sekali ia menjatuhkan dirinya dari atas pohon, menggeliat2kan tubuhnya, berharap sepasang sayap dapat tumbuh dan membawanya pergi menembus awan. Yah, tentu saja usaha itu sia2, sampai akhirnya ia bosan dan putus asa. Keputusasaannya telah menghilangkan segenap nafsu makan yang ia miliki, ia tidak mau makan dan hanya menyendiri di ujung dahan. Sementara itu, teman2nya, sesama ulat, mulai bertingkah aneh, mereka malah makan sangat banya dan menghabiskan nyaris seluruh daun yang ada di pohon itu. Beberapa hari kemudian, ulat yang putus asa tadi melihat teman2nya mulai berubah wujud, mereka seakan2 bersembunyi di balik jubah yang menyelimuti seluruh tubuh mungil mereka. Ulat itu mulai semakin putus asa, ia merasa teman2nya tak lagi memperhatikannya, saat ia ingin bercerita pada teman2nya, mereka tidak menghiraukannya, mereka benar2 tidak mau keluar dari jubah mereka. Ulat itu kembali bersungut2, “Ahh, sialnya aku, mengapa tidak ada seorang teman pun yang peduli ??Mengapa mereka sangat angkuh, mentang2 mereka meperoleh jubah yang indah. Ahh, mengapa mereka tidak memberikan aku sebuah jubah yang sama ???Andaikata aku memilik sepasang sayap yang indah, tentu mereka tidak akan meremehkanku seperti ini, pasti mereka akan terkagum2 dengan sayapku.” Berhari2 kemudian, ulat itu tetap berkutat dalam kesendiriannya, ia tetap tidak mau makan, hingga pada suatu hari ia benar2 mati. Ia mati dalam kesendirian, dalam rasa kesal, dendam, serta kepahitan yang amat sangat. Taklama berselang, teman2 ulat itu mulai keluar dari jubah indah mereka, sejenak, mereka sangat gembira dapat bertemu dengan teman2 yang lain. Tetapi, mereka sangat terkejut, tatkala melihat salah satu temannya-seekor ulat yang putus asa tadi-, tergeletak membusuk di ujung dahan. Dengan kesedihan yang mendalam, mereka sepakat untuk membawanya ke seberang jalan, tempat di mana ulat putus asa itu berasal. Dengan beramai-ramai, mereka pun membawa jasad itu terbang menuju seberang jalan.

Dari imajinasi saya tadi, saya merasa benar2 ditampar. Alangkah bodohnya saya, seorang mahasiswa perguruan tinggi, tetapi dapat dikalahkan oleh imajinasinya sendiri. Saya sadar, terkadang saat masalah datang, saat kesendirian datang, saya selalu focus terhadap masalah itu. Saya menjadi sulit untuk melihat ke depan, melihat penyelesaian dan masa depan. Saya cenderung selalu meilhat ke masalah itu, tenggelam dalam penyesalan serta rasa tidak bersyukur yang berlarut2. Hingga pada akhirnya, masa depan saya pun hancur, musnah oleh penyesalan saya yang berlarut2 itu. Saya harap, teman2 blogger dapat belajar dari perenungan dan pengalaman saya, semoga saja, cerita ini dapat membawa faedah lebih dari mudharat. Semoga saja Wink.

 

 

~Broken Hearted, Bandung 3 Februari 2007, 09:02 AM~

1 Comment

  1. Agi Prasetiadi said,

    “Alangkah bodohnya saya, seorang mahasiswa perguruan tinggi, tetapi dapat dikalahkan oleh imajinasinya sendiri.”

    Kalau dipikir-pikir, nggak juga kok. Aku rasa justru kamu mau mengimajinasikan apa yang tidak diimajinasikan oleh orang lain, hal itu justru akan sangat membantu bagi mereka yang tidak mau meluangkan waktunya barang sedikit untuk mengimajinasikan pikirannya.

    Albert Einstein berkata (kurang lebih):
    Kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh 95% Imajinasi, dan 5% Teknik-nya…

    So, you are the part of them!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: