Substansi Representative (II)

November 21, 2008 at 5:36 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Masih bingung dengan artikel saya sebelumnya ? Semoga video singkat ini bisa menjelaskan 70 % apa yang saya maksud.

Best Regards,

Wijen Pontus

Permalink 1 Comment

Kartun = Simbol Setan

November 21, 2008 at 5:26 am (Berita Kontroversial)

Bagi penganut nasrani, mungkin beberapa waktu yang lalu, kita pernah dikejutkan dengan beredarnya kabar bahwa tokoh teletubbies adalah simbol setan dan gay. Nah, ternyata, setelah saya iseng mencari video mengenai kartun muhammad di video google, saya malah menemukan wawancara  yang menyatakan bahwa kartun (segala macam kartun, bahwa scooby doo) adalah representasi dari setan. So, bagi yang fanatik dengan agamanya, monggo silakan ditonton. Dan jangan salah, dalam video ini juga disampaikan bukti-bukti yang mendukung…

Part I :

Read the rest of this entry »

Permalink Leave a Comment

Pertanyaan Keheranan (I)

November 21, 2008 at 4:50 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

- Saya heran, mengapa kalau artikel saya mempertanyakan tentang Yesus, maka saya dianggap muslim, dan orang yang komentar di blog saya juga mencemooh saya. Tetapi, kalau saya mempertanyakan Islam, orang mengira saya non-muslim dan saya juga dicemooh oleh mereka.

- Saya heran, mengapa orang di dunia ini selalu meributkan sesuatu yang mereka buat sendiri, sesuatu yang mereka anggap buatan sang ilahi. Bukankah jelas, kalau agama itu sebagian besar disusun oleh manusia ? Mana bukti otentik yang menyebutkan kalau agama itu dari ilahi ? Tidak ada selain keyakinan manusia. Dan bukankah keyakinan manusia itu berasal dari dalam manusia ? Dengan kata lain, keyakinan itu dibuat oleh manusia ? Kalau tidak, mana mungkin sekarang banyak berkembang isu tentang “the power of mind” ? Jadi, bukankah agama itu rekaan manusia ? Masih tidak percaya ? Kalau agama itu sesuatu yang berasal dari sempurna, tidak mungkin ada cacatnya, maka tidak mungkin juga menjadi bahan perdebatan orang banyak. Coba lihat substansi “kesempurnaan” itu sendiri. Adakah yang mendebatnya ? Tidak ada bukan ? Karena “kesempurnaan” adalah sempurna dan tidak bercacat. Musykil bagi otak manusia yang tidak sempurna untuk mendebatnya. Dan musykil pula kalau kesempurnaan itu divisualisasikan, baik dalam berupa tulisan, gambar, maupun ajaran.

- Saya heran, mengapa orang tidak mau mengakui bahwa dirinya seorang fanatis ? Padahal, jelas-jelas, ketika saya mempertanyakan hal yang diyakininya, orang tersebut malah marah dan bahkan ada yang mengancam untuk membunuh saya. Bukankah ini aneh ? Semua serba kontradiktif. Katanya, ajaran A itu ajaran yang tidak mau diidentikkan dengan terorisme dan kekerasan, tetapi masih banyak orang dengan mengatasnamakan ajaran itu, melakukan perbuatan yang bertolak belakang. Aneh memang. Katanya enggak keras dan tidak teroris, kok malah mengeluarkan statement yang seakan-akan membenarkan kekerasan ?

- Saya heran, mengapa orang sulit sekali membedakan antara ketidaktoleransian dengan keingintahuan filosofis.

- Dan saya masih banyak menyimpan keheranan…

Best Regards,

Wijen Pontus

Permalink 7 Comments

Peringatan Keras Dari Hizbut Tahrir Atas Kartun Muhammad !

November 21, 2008 at 4:48 am (Berita Kontroversial)

Jakarta, 20 Februari 2008 M

PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Nomor: 126/PU/E/02/08

“Mengutuk Keras Penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw ”

Sehari setelah Badan Intelijen Denmark, PET (12/2/2008), mengklaim berhasil mengagalkan sebuah rencana pembunuhan terhadap Kurt Westergaard, pelukis kartun-kartun yang mengina Nabi Muhammad, keesokan harinya (13/2/2008), serentak sebelas media massa terkemuka di Denmark dan televisi nasional, termasuk Koran Jyllands-Posten memuat kembali karikatur yang melecehkan dan menghina Islam tersebut. Sedikitnya tiga harian di Eropa, yaitu Swedia, Belanda dan Spanyol, juga mencetak karikatur penuh kebencian itu. Anehnya, pada 13/2/2008, orang nomor satu PET, Jacob Scharf, segera membebaskan para tersangka dari tuduhan itu, yang tak lain adalah dua warga Tunisia dan seorang warga Denmark keturunan Maroko.

Pemuatan kembali kartun-kartun yang sangat menghina Nabi Muhammad itu mereka lakukan, konon sebagai pembelaan terhadap kebebasan berbicara. Padahal, ini jelas merupakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan Islam yang ke sekian kali. Dua tahun lalu, tindakan ini telah menuai kecaman luas di berbagai negara, bahkan diplomat Mesir, Palestina, Turki, Pakistan, Iran, Bosnia-Herzegovina, dan Indonesia memprotesnya. Namun, Pemerintah Denmark lewat PM Denmark Anders Fogh Rasmussen ketika itu berulangkali membela koran tersebut dengan alasan hak kebebasan berbicara. Tidak hanya itu, meski jelas-jelas telah menuai protes, gambar-gambar ini pada Januari 2006 dimuat di Norwegia, juga di berbagai koran seperti harian Perancis, France Soir. Dan kini semua kejahatan itu diulanginya lagi. Read the rest of this entry »

Permalink 14 Comments

Substansi Representative

November 21, 2008 at 3:38 am (Filsafat dan Gaya Hidup)

Berkaitan dengan komentar saya mengenai pemuatan kartun muhammad, saya ingin menyampaikan bela sungkawa atas matinya nalar pikir manusia, atas matinya independensi akal manusia -yang katanya membawa manusia ke peradaban-. Sepertinya, manusia (atau orang Indonesia kebanyakan ?) terlalu bodoh untuk dapat melihat substansi representative. Mungkin, mata mereka kena katarak, jadi hanya dapat melihat figur saja, padahal substansi representative yang ada di belakang figur itu malah ndak terlihat. Terlalu munafik, andai saja saya mengatakan agama itu tidak diperlukan oleh manusia. Beberapa substansi di dalamnya telah menjadi tuntunan orang selama ribuan tahun. Tetapi ironisnya, karena manusia telah lama dituntun oleh agama, sehingga kaki mereka menjadi lumpuh dan otak mereka menjadi tumpul. Manusia tidak mampu untuk berjalan sendiri, bahkan manusia pun tidak mampu untuk mencari tahu apa penyebab agama diperlukan sebagai penuntun mereka. Yang manusia tahu (manusia di sini adalah manusia kebanyakan, tetapi tidak semua) adalah bahwa mereka tidak perlu berjalan sendiri. Agama sudah menuntun mereka. Manusia tinggal bergelanyut saja padanya. That’’s enough. Maka itu dari, ketika saya bertanya, “Mengapa Anda dituntun oleh agama ?”. Mereka malah meludahi saya, sembari berkata, “Apa urusanmu ? Kamu menghina penuntun saya ? Kamu kira penuntun saya ini babu ? Atau malah kamu kira penuntun saya ini tidak mampu lagi menuntun saya ?”. Lalu, seketika saya akan menukas, “Tidak. Bukan maksud saya meragukan kapasitas penuntunmu. Saya hanya meragukan jika Anda sebenarnya memang benar-benar membutuhkan penuntun itu. Karena apa ? Karena saya melihat, sebenarnya kaki Anda masih utuh, fisik Anda masih kokoh, dan penglihatan Anda belum rabun. Lalu mengapa Anda butuh penuntun ?”.

Begitulah, percakapan pun berlangsung, dan berikut ini adalah cuplikannya.

Mereka : “Anda buta ya ? wong saya sedang dituntun. Berarti kalau saya dituntun, saya butuh bantuannya !”

Saya     : “Apakah Anda sudah mencoba untuk berjalan sendiri ?”

Mereka : “Anda buta ya ? Kalau saya dituntun, berarti saya tidak mampu berjalan sendiri. Jadi, mengapa saya harus repot-repot mencoba berjalan sendiri ?”

Saya    : (Tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin mereka tahu whether mereka bisa jalan sendiri atau tidak, wong mereka tidak pernah mau mencoba !) “Ok. Kalau begitu, saya ingin bertanya, mengapa penuntun Anda membawa Anda pergi ke arah timur ?” Read the rest of this entry »

Permalink 2 Comments