Kartun Nabi Muhammad WordPress
Lagi-lagi, penerbitan kartun muhammad menuai kotroversi…Ada dua blog yang berani menampilkan gambar-gambar itu, yaitu kebohongandariislam dan lapotuak. Saya heran, mengapa kebebasan itu selalu dihalangi oleh dogma-dogma murahan agama ? Mengapa wajah dari muhammad itu tidak boleh ditampilkan ? tuhankah dia ? atau jangan-jangan jika wajahnya ditampilkan, maka akan membakar mata tiap orang yang melihatnya. Sial, karena kebebasan berekspresi di negara ini selalu dibatasi oleh agama (islam terutama), maka saya terpaksa mencabut artikel saya tentang film FITNA. Damn, padahal itu bagus banget. Bagaimana sebuah doktrin buatan manusia mampu mengadu domba manusia juga. Inilah manusia, terlalu buta dengan doktrin agama. Adakah alasan logis yang diberikan oleh muhammad atas pelarangannya menampilkan wajahnya di media ? Atau jangan-jangan, saya malah curiga, ada yang tidak beres dengan doktrin agama satu ini, atau ada yang tidak beres dengan wajah muhammad ini, sehingga keberadaannya perlu ditutup-tutupi. Saya, sebagai orang yang mempunyai KTP dengan agama Kristen, tidak pernah merasa tersinggung jika ada karikatur tentang Yesus, atau pendapat-pendapat yang menyatakan Yesus bukan tuhan. Bagi saya, yang namanya tuhan, atau ajarannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan dan disingkirkan oleh manusia, sehingga tuhan berikut ajarannya tidak perlu mendapatkan perlindungan dari manusia yang tidak sempurna. Justru, kalau saya melihat saudara muslim yang ketakutan dan marah setengah mati ketika foto nabinya dieskpos atau ketika ajaran agamanya dipertanyakan, maka saya malah bertanya, sebenarnya jangan-jangan ada yang ditutupi dari agama ini ? Kalau agama dia berasal dari tuhan yang sempurna, mana mungkin ajaran itu cacat dan dapat disingkirkan oleh ocehan manusia ? Apa yang musti ditakutkan ? Lagipula, katanya umat Islam belum pernah lihat wajah nabi itu yang sebenarnya, lho koq bisa menjustifikasi jika foto yang beredar selama ini adalah fotonya ? Dari mana ? Atau sudah ada yang pernah lihat ? Nah, kalau sudah ada yang pernah lihat, berarti sudah ada pelanggaran sebelumnya donk. Saya malah semakin mempercayai keyakinan filosofis saya atas agama buatan manusia. Tidak lebih.
~Wijen Pontus~
(Jangan-jangan nanti saya ditangkap pula atas tulisan ini. Aneh memang Indonesia !)
(Diedit atas permintaan seseorang)















sukarto said,
November 19, 2008 at 6:50 pm
Saya sikit tanggapi tulisannya :
Lagipula, katanya umat Islam belum pernah lihat wajah nabi itu yang sebenarnya, lho koq bisa menjustifikasi jika foto yang beredar selama ini adalah fotonya ? Dari mana ? Atau sudah ada yang pernah lihat ?
Bang pontus, yang menyatakan gambar itu adalah Nabi muhammad adalah si pembuat kartun. Kalo ndak dibilang ya berati kartun yang lain kan?
Saya pikir memang ini provokasi aja dan sebuah Blasphemy. Tidak mau menghargai ajaran agama orang lain dan maunya “ngajak perang” secara non fisik “memanas-manasi kondisi” yang nantinya bisa menimbulkan kerusuhan fifik beneran.
Terkait dengan pernyataan anda :
Saya, sebagai orang yang mempunyai KTP dengan agama Kristen, tidak pernah merasa tersinggung jika ada karikatur tentang Yesus, atau pendapat-pendapat yang menyatakan Yesus bukan tuhan. Bagi saya, yang namanya tuhan, atau ajarannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan dan disingkirkan oleh manusia, sehingga tuhan berikut ajarannya tidak perlu mendapatkan perlindungan dari manusia yang tidak sempurna.
Itu bagi anda yang memang ajarannya membolehkan Tuhan digambar atau dibuat patungnya dalam berbagai versi. Sehingga kebolehan diajaran agama anda ya jangan digeneralisir untuk membolehkan suatu bentuk ajaran yang terlarang bagi agama lain.
Atau jangan-jangan memang saat ini kebanyakan orang beragama hanya untuk memenuhi administrasi saja macam KTP tapi tidak pernah mengamalkan kebenaran dari agama yang di KTP kita itu.
salam
Han said,
November 20, 2008 at 12:41 am
Saya Tidak sependapat dengan anda – anda itu. anda tidak tahu menahu mengenai ajaran islam. jd jangan sekali kali memberi komentar mengenai semua itu. perlu anda ketahui, Nabi Muhammad itu adalah tauladan bagi seluruh umat islam di dunia ini. nah jika kita samakan dengan komik yang beredar sekarang tentu saja salah besar. saya faham kenapa anda berpikiran begitu. karena anda – anda itu bukan Umat islam dan tidak mengerti sama sekali dengan ajaran islam yang sesungguhnya. mar kita lemparkan kejadian ini kepada diri kita pribadi. seandainya kita yang di buat dalam karikatur tsb pasti yang notabene tidak sesuai dengan kenyataaan atau kejadian yang sesungguhnya. pasti kita juga dan orang orang yang mencintai kita akan sakit hati mendengarnya. Muhammad bukan Tuhan, Tapi dia adalah AMIRUL UMAT. yang artinya tauladan yang baik bagi umat manusia. tidak seorang pun yang berhak untuk menampilkan fotonya, dan menuliskan yang macam – macam tentangnya. karena manusia sekarang adalah manusia yang tidak ber adap, sok pintar. seakan akan mereka tau semuanya. saya menghimbau kepada rekan – rekan sekalian. jangan sekali – kali berani mengeluarkan pernyataan seperti itu. jika kalian ingin berkomentar atau beraspirasi. silahkan 2 saja. tapi kalian harus tau Norma normanya. msh banyak yang anda 2 sekalian harus belajar. sebelum mengeluarkan pendapat seperti itu. mohon maaf jika tulisan saya ini menyinggung anda. ini sekedar mengingatkan anda tentang Norma untuk hidup dalam umat beragama. bukan hidup mengekuti kepintaran dan keangkuhan kita…..
XXXX said,
November 20, 2008 at 12:41 am
“SALAH SATU PENGHUNI NERAKA ADALAH PEMILIK BLOG INI
m Din said,
November 20, 2008 at 2:25 am
semoga arwah amrozi s bangkit dari tidur panjangnya…jangan selalu menghina sesama ummat agama …hidup amrozi. hidup imam samudera
koperasitaksi said,
November 20, 2008 at 2:25 am
sesama supir taksi dan supir angkot memang harus saling membela betul kan bang???
lexus said,
November 20, 2008 at 3:25 am
Dari bahasa anda, saya kira anda orang yang berpendidikan.. Tapi dari cara penyampaian, tidal mencerminkan itu.. Mungkin kartun2 itu kerjaan orang2 atheis yg memang sedang ngobrak abrik toleransi beragama yang sedang gencar2nya digalakkan.. Ayolah semuanya: bagimu agamamu, bagiku agamaku… Jangan terpancing sama hal-hal murahan seperti itu. Udah gag jamannya lagi ribut2 masalah agama.. Klo yakin dengan agama anda, silakan dijalankan dengan baik, saya punya sebagai Mslim yakin dengan agama saya.. Dan jujur saya pun sakit hati dengan adanya kartun itu… Apalagi anda menulis hal2 yang tidak Anda mengerti. Seharusnya anda memahami sesuatu hal dulu sebelum menulisnya, bukan?
Sekali lagi, jangan terprovokasi… Tolong pengertiannya untuk saling menghargai…Terimakasih…
Andri Haryono said,
November 20, 2008 at 10:08 am
jen…
lo kok jadi bego gini…
aneh lo kok bisa gitu???
gue jadi ragu dengan kapabilitas lo sebagai ketua unit ..
yesalover said,
November 20, 2008 at 10:16 am
Hahaha…ada kesalahan sedikit di sini.
Pertama, saya tidak beragama. Agama di KTP adalah formalitas belaka, saya maunya seh tidak beragama, sayangnya kondisi administrasi negara ini tidak mengizinkan. Coba saja baca artikel-artikel saya lainnya di blog ini, bahkan saya pun mempertanyakan keilahian Yesus sebagai tuhan. Apakah salah jika saya mempertanyakan hal-hal semacam itu ?
Kedua, karena saya tidak beragama, maka saya tidak percaya adanya neraka atau surga seperti yang orang kebanyakan percayai.
Ketiga, tidak ada tendensi apapun dalam menulis komentar di atas. Tulisan saya di atas juga sama sekali tidak ada maksud untuk mengurangi toleransi saya kepada umat lain. Hanya saja, saya selalu bertanya, mengapa hal-hal yang sebenarnya sepele semacam ini bisa merusak kerukunan umat beragama ? Mungkin Anda akan menyanggah semacam ini, “Bung Yesa, sepele itu menurut Anda, tetapi, bagi umat islam, hal ini sangat krusial.” Mbok coba Anda pikir lagi, bukankah yang menentukan parameter semacam gambar muhammad, dll itu adalah manusia juga ? Sudahlah, Anda boleh kecewa dengan ulah orang yang memang sengaja bertendensi untuk menjelekkan keyakinan Anda, tetapi apa pantas jika hanya gara-gara ini Anda nggebukin orang ? Saya tidak habis pikir mengapa toleransi selalu dikaitkan dengan doktrin ? Doktrin tidak menyuruh penganutnya untuk membelanya koq. Kalau Anda nggebukin orang hanya karena membela doktrin, itu hanya alasan pembenaran atas perbuatan Anda. Segala keputusan itu Anda yang buat bung. Ahhh, I just don’t get it how to deliver my message to u guys. Mungkin orang Indonesia agak susah kalau berdiskusi secara filsafat tanpa mempermasalahkan religius. Agak susah. Apa memang karakter bangsa ini yang melankolis romantis hingga sulit diajak diskusi keluar ranah umum ?
Sekali lagi, tulisan saya di atas SAMA SEKALI BUKAN BENTUK DUKUNGAN TERHADAP PEMBUAT KARTUN NABI. Tetapi, saya hanya ingin mengajak saudara-saudara berpikir lebih kritis dan lebih terbuka, keluar dari ranah keyakinan agama saudara. Kalau Anda tidak dapat berpikir keluar dari ranah agama, apa jadinya kalau terjadi salah persepsi dengan agama ? Ya pasti bentrok kayak yang sering terjadi di Indonesia ini.
yesalover said,
November 20, 2008 at 10:24 am
@ Andri : Omnibus Dubitandum…Just it, nothing more…
ashr said,
November 20, 2008 at 12:44 pm
ah jen.. menurut saya mah sebaiknya artikel ini diinvis aja.. soalnya saya rasa kamu waktu ngepost tulisan ini belum konsultasi dulu sama orang yg ngerti agama Islam..
setau saya, di agama saya itu ada larangan untuk mengkarikaturkan Muhammad (Sholallahu Alaihi Wassalam) -yah sebenarnya karikatur itu sendiri dilarang..- jadi wajar saja kalo umat Muslim protes dan bereaksi kalo ada karikatur dari nabi Muhammad SAW..
lagipula, setahu saya dari tempat dimana tulisan itu dimuat [blog yg pertama] udah jelas2 kalo blog itu emang berniat menyudutkan Islam,, jadi lucu aja sih Jen, kalo kamu bilang kamu tetap bersikap toleransi terhadap umat Islam [di blog kamu ditulis umat lain-kao g salah] tapi saat kamu menulis artikel, kamu mencantumkan source-nya dari sumber yang jelas2 menyudutkan “umat lain” tsb, dan sepertinya kamu blm berkonsultasi dengan orang yg cukup berilmu di kalangan “umat lain” tsb..
uhm,, coba deh cari tahu lagi apa arti kata toleransi.. [tanya Gilang kalo perlu..]
so, menurut saya mah Jen, sebaiknya tulisan ini diinvis aja.. sampe kamu berkonsultasi ama orang Islam yg cukup berilmu [bukan saya],, setelah itu, baru kamu pertimbangkan apakah akan tetap mempublish tulisan ini ato tidak, dengan mempertimbangkan toleransi yg kamu bilang..
mudah2an tulisan ini cukup sopan..
btw, komen2 yg ga cerdas g lebih baik diapus aja jen?
yesalover said,
November 20, 2008 at 12:57 pm
@ ashr : Shr, sekali lagi gw bilang neh yah, gw ga ada maksud mensudutkan muslim.Tolong coba tuliskan statement gw yang menyebutkan kalau gw mendukung penulis blog itu. Wong gw cuma bilang, “Saya heran, mengapa kebebasan itu selalu dihalangi oleh dogma-dogma murahan agama ? Mengapa wajah dari muhammad itu tidak boleh ditampilkan ? tuhankah dia ? atau jangan-jangan jika wajahnya ditampilkan, maka akan membakar mata tiap orang yang melihatnya.”. Gw cuma mempertanyakan, kenapa menampilkan wajahnya dilarang ? Gw tanya dunkz…Emang salah yah ? Soalnya, menurut parameter kebenaran gw, benar atau salah itu dihitung dari untung-rugi orang yg membuat keputusan itu di saat itu juga.
yesalover said,
November 20, 2008 at 12:58 pm
Gw ga akan ngehapus tulisan ini, karena gw ingin kalian lihat dari sudut pandang filosofis…
O iy, gw juga ga akan ngehapus komentar yang ada di sini. Itu haknya orang untuk kasih komen di blog ini.
yesalover said,
November 21, 2008 at 4:33 am
Eh di sini ndak ada yang bisa berpikir kritis filosofis dan keluar dari ranah keyakinan ? mbok coba, tolong tulisan saya dilihat dari sudut pandang yang bebas, tolong keyakinan Anda terhadap agama didekonstruksi dulu…Kalau fondasi ndak dibobol, gimana mau bisa terima bangunan lain ? Kalau keyakinan Anda ndak didekonstruksi sementara, gimana mau bisa melihat keyakinan orang lain ? Anda semua di sini memang aneh…
agipras said,
November 21, 2008 at 7:08 am
Yo~ Jen, iseng-iseng buka blog kamu tahu-tahu udah ada tulisan ini.
Mmm… Mungkin pertanyaan “Mengapa wajah dari muhammad itu tidak boleh ditampilkan ? tuhankah dia ? atau jangan-jangan jika wajahnya ditampilkan, maka akan membakar mata tiap orang yang melihatnya.” lebih menarik dibahas dulu. Yaa~, klo aku mencoba melihat dari kacamata orang yang mencoba pake “De omnibus dubitandum” pertanyaan seperti itu wajar muncul.
Klo coba kita tanyakan kepada orang yang percaya dengan ‘dia’ dengan perkataan, “Kenapa kamu marah ‘dia’ dikarikaturkan?”, alasan seperti “Di agama saya hal tersebut dilarang (Quote1)” mungkin akan keluar. Lalu kalau kita tanya lagi, “Kenapa kamu percaya dogma itu begitu saja?” Yah, mungkin jawaban yang keluar, “Karena saya percaya perkataan ‘dia’ dan agama yang dia bawa (Quote2)”.
Lalu pertanyaan yang biasa keluar mengejar, “Kenapa kamu percaya ‘dia’, bisa jadi ‘dia’ pembohong kan?” Mmm, mungkin kebanyakan orang yang dari kecil sudah lahir dan hidup dengan suatu dogma agama sedari kecil tanpa mengkritisi, dari alam bawah sadarnya sebetulnya dia sudah terlanjur tertutup kemungkinan untuk menerima hal-hal yang sama sekali bertentangan dengan keyakinannya. Mungkin hati kecil dia berkata, “Karena orang tua dan lingkungan saya melakukan hal seperti itu juga. Karena saya terbiasa diajarkan sisi-sisi indah dari ‘dia’ dan agamanya”.
Gua rasa, pertanyaan mendasar sebelum menjawab kenapa mereka marah dengan karikatur ‘dia’ adalah, “Kenapa kamu beragama?” Ini butuh pembahasan yang panjang. Salah satunya adalah sebagai jaminan ketenangan. Jaminan ketenangan selama hidup dan sesudah mati. Yah, ada yang lain sih. Karena jika orang sudah terlanjur percaya dengan pangkal sebuah agama, maka apapun yang dikatakan agama tersebut akan dianggap sebagai kebenaran universal. OK, gua paham ‘kebenaran universal’ dari suatu agama kamu sebut sebagai dogma. Karena dogma terkesan sangat mengukung alam pikir manusia untuk berpikir kritis. Atau ada yang bilang juga dogma itu menuntun. Terserah, yang pasti jika percaya kepada sesuatu maka dia pasti akan percaya apa-apa yang keluar dari sesuatu itu.
Sekarang klo gua coba lihat dari sisi orang lain ya, Quote1 bisa jadi hanya satu jawaban dari kemungkinan jawaban. Anggap saya punya orang yang saya sangat sayangi, ibu saya misalnya. Dari kecil sampai besar, saya seakan-akan sangat dekat dan mengenal dia, dan saya sangat menghormati dia. Dan ketika saya dewasa dan saya melihat ada seseorang yang membuat karikatur yang sangat menghina ibu saya (yang sangat saya hormati), reaksi saya bisa bermacam-macam. Jika saat itu saya sedang dalam good mood dan well educated, saya akan diam melihat dan mencoba menahan kekecewaan saya. Bisa jadi, ketika saya bad mood dan unwell educated, saya bakal robek karikatur itu, bakar, atau datangi orang yang membuatnya dan saya pukul dia. Untuk kelakuan terakhir itu, itu kondisi ketika saya sedang labil, tanpa berpikir, spontan, dan …, lugu.
Di dunia ini banyak orang dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Dan tidak bisa dipungkiri, pers akan sangat suka dengan sesuatu yang sifatnya heboh. Moral mungkin. Jadi, ekspresi paling barbar bisa jadi adalah berita terbaik dan paling menarik. Yah, bisa dibilang, kemarahan orang-orang atas karikatur tersebut, adalah ekspresi lugu, ekspresi polos sekelompok manusia yang sangat alamiah…
Untuk Quote2, itu adalah dasar dari pertanyaan kenapa seseorang memilih percaya dan tidak percaya kepada sebuah agama. Entahlah, yang ini jelas butuh diskusi yang panjang. Karena toh manusia juga harus menyeimbangkan, logika, hati/perasaan, moral, hukum, kehidupan sehari-harinyalah~ Yah, semuanya bakal sampai juga, untuk apa semua itu? Aku pribadi berpikir, aku ingin hidup tenang, bahagia dan ada jaminan. Tapi aku nggak tahu baik juga lho apa pandangan kamu atas buat apa kita hidup.
Sorry panjang. Hahaha… Terus berpikir Jen~
arjuna said,
November 21, 2008 at 7:25 am
coba anda pikirkan lagi arti kebebasan. tidak ada kebebasan yg sebebasnya, semua ada batasannya. Sebagai contoh anda ingin mengekspresikan kebebasan anda dengan berjalan toples di tempat umum, pasti anda akan ditangkap Polisi, karna apa? norma2 yg ada di masyarakat melarangnya (bahkan ada UU di USA yg melarang itu).
Dan orang non-islam selalu mengatas namakan kebebasan untuk justifikasi menghina agama islam. tapi ketika orang muslim ingin berekspresi memperlihatkan jati dirinya sebgai muslim malah dilarang (perancis melarang wanita muslim pakai jilbab) kasus terakhir malah di Indonesia, sebuah RS swasta memecat pegawainya krn pakai jilbab. mgkn banyak juga di perusahaan2 lainnya yang tidak terangkat. Coba anda ulas di blog anda mengenai hal itu. Agar anda yg mengaku atheis(bukan nasrani) imbang dalam ulasan mengenai kebebasan dan tidak berat sebelah selalu menyudutkan umat islam (seperti mayoritas suratkabar dan tv yg tidak pernah berimbang)
Tidak ada yang menghalangi kebebasan seseorang, tapi jika atas alasan kebebasan anda melukai atau meresahkan masyarakat, apa jadinya? apabila hal itu tidak dilarang maka akan ada sikap pembalasan dari sisi lain, maka jelas tidak akan damai di bumi ini. Apakah anda ingin menjadi salah satu yang berkontribusi dalam hancurnya kedamaian?
Saya memilih Islam dan anda memilih Atheis. berikan terbaik untuk keyakinan. saya bisa saja mengatakan keyakinan anda bodoh, karna tidak percaya pada Tuhan yg telah menciptakan. dan anda akan membalikkan bahwa agama2 di dunia bukan dari Tuhan tapi buatan manusia dan hal itu akan terus berlangsung dan akhirnya saling menyakiti.
Nabi Muhammad bukan Tuhan kami. Agama islam melarang melarang pemunculan apapun wajah Nabi Muhamad. bila ada yang melaukannya wajar bila kami memprotes bahkan marah. apalagi dalam karikatur tersebut menghina Nabi kami. Umat lainpun saya yakin akan melakkan hal yg sama. Saya yakin anda akan begitu. Sebagai contoh jika Ibu yang anda hormati dan sayangi di buat karikatur yg sangat menghina (karna anda tidak beragama) apakah anda tidak marah? Orang2 non-islam tahu bahwa itu akan menimbulkan protes keras dari orang muslim, tapi kenapa mereka terus melakukannya? karna ini bukan kali pertama yg terjadi, bukan kah dapat ditarik kesimpulan bahwa orang2 non-islam telah menabuh genderang perang?
Untuk ku agama ku dn untuk mu agama mu, bila anda ingin bebas silahkan, tapi jangan sekali2 mengusik keyakinan kami. Islam menyuruh umatnya agar saling mengasihi antara manusia tanpa melihat perbedaan.
analis said,
November 21, 2008 at 10:46 am
saya sudah melihat email anda, yang baru2 ini dan sebelum2nya, dengan melihat jumlah comment dan cara anda berpikir
saya menyimpulkan anda cuma blogger yang malang..
orang yang punya hasrat untuk mengumpulkan komen, ya dengan cara menampilkan sesuatu yang kontroversial..
ckckckck…
kasihan ni orang
udah tambahin aja komennya dia, ga penting jg ga apa2
hahahaha
khansa said,
November 22, 2008 at 5:43 am
Jangan banyak berkata tanpa ilmu..Suatu saat nanti anda pasti tahu tentang keheranan atau pertanyaan2 anda itu..yah bila tidak di dunia ini,,nanti setelah ajal menjemput anda,,dan pastilah anda akan menyesal nantinya..saya merasa kasihan dengan orang yang punya blogger ini..
Allahu a’lam
khansa said,
November 22, 2008 at 5:43 am
Jangan banyak berkata tanpa ilmu..Suatu saat nanti anda pasti tahu tentang keheranan atau pertanyaan2 anda itu..yah bila tidak di dunia ini,,nanti setelah ajal menjemput anda,,dan pastilah anda akan menyesal nantinya..saya merasa kasihan dengan orang yang punya blogg ini..
Allahu a’lam
yesalover said,
November 22, 2008 at 8:21 am
@ Agi –> Thx Gi, orang semacam kmu yang bakal bisa membawa enlightment di negeri ini…
@yang lain, sori, dari cara kalian menulis, kalian sama sekali bukan educated people…saya masih mengharapkan tanggapan-tanggapan kritis seperti sahabat saya Agi…
P.S. Saya tidak butuh HITS sepertil lapo tuak…saya hanya joker yang memang ingin mengguncang kenyamananan Anda, termasuk kenyamanan iman Anda…
Silakan Anda baca tulisan-tulisan saya berikutnya. Anda akan mengerti apa yang saya maksudkan.
Best Regards,
Wijen Pontus
sayapbarat said,
November 24, 2008 at 9:46 am
Saya pikir, tidak ada siapapun yang berhak mengatakan bahwa dia lebih ahli dalam urusan agama.. banyak sekalia dialektika tidak sehat di sini dengan menganggap bahwa seseorang harus beragama tersebut dahulu sebelum memposting tentang agamanya. Sekarang, saya tanya kepada siapapun yang sudah mepresearch ttg agama islam. Apakah dalam Al Quran terdapat larangan menampilkan wajah Mohammed?? (Jika tidak, maka premis tersebut lemah!!)
Untuk Yessa, hmm.. aku pikir sebaiknya lebih berhati2 dalam menyinggung masalah seperti ini, karena manusia Indonesia teridir dari tingkat pendidikan, emosional, dan gizi (jelas gizi mempengaruhi kinerja dan pembentukan otak) yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan.
Dalam hukum, ada pasal yang menjamin kebebasan berpendapat, namun, hal tersebut dibatasi oleh pasal tentang keberagamaan. Jelasnya, jangan menyentuh wilayah SARA, sayangnya, lagi2 parameter tersevut tidak jelas parameternya tentang apa paremeter “menyinggung tersebut”.
Di dalam dialektika ini sepertinya ada juga yang menyinggung ateisme. Saya pikir, seorang ateis tidak perlu mengadu domba agama, wong agama sendiri saling mengadu domba. Tidak perlulah kita menjelek2an non-beliver. apakah sekarang manusia indonesia melihat manusia lainnya dari AGAMA saja?? Kebebasan non-beliver masih diperbolehkan di negara demokrasi, walau tidak ada pasal yang mengatur. Hanya, non-beliver tidak boleh menyebarkan non-belivernya (Lucunya, dari mana ketahuan non-belivernya?? bukannya di KTP tidak ada agama “Non-Beliver”)
oya, sedikit koreksi : “De Umnibus Dubitandum ” (Reene Descartes)
sayapbarat said,
November 24, 2008 at 9:49 am
oya, mau menambahkan.. Tidak beragama bisa berarti dia Ateis, Agnostik, Deis..
skalanya juga berbeda…
defindal said,
November 25, 2008 at 9:18 am
great thinking anyway.. sincere and brief enough..
tapi ga ilmiah menurut definisi yang saya terima ..
kenapa ? karena terlalu banyak asumsi dan prediksi..
btw,menurut saia banyak hal lain yang bisa bermanfaat untuk dilakukan selain membahas hal-hal seperti ini ..
if u ask me “what’s the example?” , i will answer “meneketehe..” haha..
xxxx said,
November 25, 2008 at 9:37 am
anda tidak tau tewntang ajaran islam jadi jangan seenak jidat lo ngomong yg ga..ga makanya belajar islam klo mau tau
Someone said,
November 25, 2008 at 10:10 am
Coba baca artikelnya yesalover yang lain seperti di sini, di situ, atau yang lainnya…
yesalover said,
November 25, 2008 at 10:19 am
@ sayap barat : Hehehhe, sebenarnya gw ga ada maksud mengadu domba/menjelekkan, hanya mempertanyakan, tp mungkin bahasa gw sarkastik kale yah ? tapi udah takperbaiki di penjelasan gw tentang substansi representative koq…Gw minta maaf ya sayap baratku yang cantik….
Btw, bener omnibus dubitandum…gw ada kamusnya soalnya, itu artinya semuanya perlu ditanyakan…sejalan dengan kalimat, “dubitando ad veritatem pervenimus” (dengan menyangsikan kita sampai pada kebenaran)…
??? said,
November 26, 2008 at 11:34 am
anda slalu mengajak orang untuk berpikir kritis, keluar dari ranah keyakinan.
saya memahami jika anda adalah seorang atheis, tapi maaf… di dalam agama dan keyakinan saya, kadang banyak hal yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. manusia itu tidak sempurna. anda tidak akan mendapatkan jawaban yang ingin anda temukan sampai anda gila sekalipun.
menurut saya, segala sesuatu tidak bisa terlepas dari agama. ya nanti, dampaknya akan seperti anda, slalu brtanya-tanya…
yesalover said,
November 26, 2008 at 1:04 pm
@ ??? Hahaha…saya juga tidak pernah mengklaim kalau saya menemukan apa yang saya cari. Justru saya sekarang dalam perjalanan untuk mencari. Tetapi, saya jadi bertanya2, apa jadinya kalau pulau yang Anda yakini tidak akan tenggelam itu hanyalah sebatas punggung penyu raksasa dan nantinya si penyu itu akan kembali menyelam ke laut ? Bukankah nanti Anda juga akan tenggelam ? Ah, lebih baik saya, walaupun terombang-ambing tidak jelas di atas rakit kecil saya, toh saya masih bisa memancing dan minum dari embun pagi…
Jelas saya tidak akan tenggelam, toh, saya juga selama ini sudah terbiasa dengan badai lautan koq…
??? said,
November 27, 2008 at 4:41 am
saya akui kalo anda lebih pintar dari apa yang saya bayangkan!!!
itu hak anda untuk mengibaratkan apapun. tapi, bagi saya keyakinan yang saya pegang tidak diibaratkan dengan apapun. bahkan dengan ‘atom’ sekalipun.
dilihat dari tulisan anda di artikel ini, anda slalu saja bertanya, dan jawaban apa saja yang sudah anda temukan?
tolong jawab pertanyaan saya, menurut pemikiran anda yg kritis dan logis itu,
“mengapa anda bisa ada di dunia ini?”
apakah anda yang menentukan kehidupan anda sendiri?
kalau dalam artikel anda, anda mengatakan bahwa anda curiga bahwa agama itu adalah buatan manusia, lalu apa anda bisa menciptakan manusia?
anda terlalu memutar otak anda untuk berpikir secara “KRITIS FILOSOFIS”.
segala sesuatu pasti mempunyai tujuan. dan tujuan akhir hidup saya adalah meraih kebahagiaan diakhirat. dan agama merupakan pegangan dan patokan untuk mencapai tujuan itu.
jika anda tidak beragama, maka anda tdk memiliki tujuan dunks? karena anda hidup hanya diperbudak oleh pikiran anda yang “KRITIS DAN LOGIS” itu.
saya tidak bisa membayangkan, bagaimana hidup seperti anda yang terombang-ambing tanpa arah dan tujuan.
yah… seperti pengibaratan anda saat terombang-ambing di rakit kecil itu…
saya mungkin tdk sepintar anda, tapi saya masih bisa untuk membedakan, mana hal yang bisa dipikirkan secara kritis dan tidak.
PLEASE, ANSWER MY QUESTIONS!!!!
yesalover said,
November 27, 2008 at 6:36 am
@ ???
Nice question, sebelumnya terima kasih atas diskusi Anda…Diskusi inilah yang saya harapkan.
Pertanyaan pertama :
Ok, apa yang saya temukan selama ini memang bukan jawaban pasti (satu arah) seperti yang bung bayangkan dalam agama. Tetapi, apa yang saya dapatkan selama ini adalah prosesnya bung. Analoginya sama seperti ketika Anda pergi dari Jogja ke Bandung menggunakan kereta api. Tujuan final Anda adalah Bandung. Tetapi, karena yang (mungkin) Anda tuju hanya Bandung, maka Anda melewatkan pemandangan-pemandangan selama di perjalanan. Saya dalam kasus ini sedikit berbeda dengan Anda, jika Anda selama di kereta hanya tidur, sebaliknya saya malah jalan-jalan dalam kereta, ngobrol dengan penumpang lainnya, melihat pemandangan, menikmati karunia tuhan yang tercermin dari alam sekitar, dll. Hanya itu. Jelas saya sampai saat ini belum mencapai tujuan Bandung, berbeda dengan Anda, yang mungkin (bermimpi) telah tiba di Bandung -atau minimalnya Anda telah merasa pasti bahwa kereta yang Anda tumpangi saat ini tidak salah tujuan, dan pasti -tanpa kecelakaan- akan tiba di Bandung-. Perbedaannya hanya pada proses dan hasil. Saya lebih melihat proses selama di perjalanan, bagi saya, tidak masalah andaikata kereta itu tidak menuju ke Bandung, atau bahkan kecelakaan. Bagi saya, experience yang saya dapat selama perjalanan itu lebih berharga.
Pertanyaan kedua : “Mengapa saya bisa ada di sini”
Sampai sekarang, saya masih ragu, apakah saya bermimpi atau tidak, atau apakah ini yang namanya “realitas biasa” atau “realitas lainnya”. Tetapi, yang jelas, tujuan saya ada di dunia ini adalah untuk memaknai hidup ini. Dan pemaknaan hidup itu adalah seperti ini. So, saya bisa ada di sini karena ada suatu entitas yang “menyebabkan” saya ada di sini. Perlu dicatat, jika “menyebabkan” itu bukan seperti yang Anda gambarkan (semacam penciptaan oleh “tuhan”). Saya tidak peduli, apakah yang menyebabkan saya adalah “tuhan” atau hanya hubungan seksual. Bagi saya, bukan itu yang penting, tetapi makna dari entitas lain (bisa jadi hubungan seksual tadi, “tuhan”, atau yang lainnya), yang menyebabkan saya ada. Bahkan, ini tidak menutup kemungkinan filsafat descartes, “cogito ergo sum”.
Pertanyaan ketiga :
Ini pertanyaan yang agak sulit. Perlu ditanyakan kembali, apakah yang dimaksud dengan “sendiri” ? Apakah ini pemikiran ? Lalu, pemikiran itu sendiri apa ? Apa ini hanya subjek nama individu ? Ini perlu diluruskan, saya takut kalau kita beda persepsi. Tapi, bagi saya, “sendiri” itu bermakna suatu entitas substansial yang berbeda dari roh, fisik…Maaf, saya belum bisa menjelaskan hal ini kepada Anda. Karena saya masih belum dapat menemukan kata/kalimat/simbol yang tepat/mendekati tepat untuk definisi ini. Saya rasa tidak semua apa yang ingin diungkapkan dapat digambarkan dengan “sesuatu”.
Pertanyaan keempat :
Tergantung, apa yang Anda maksud menciptakan manusia “real”. Bagi saya, manusia yang ada dalam pikiran saya adalah real, dia punya pikiran sendiri, seperti Sophie dalam “Sophie’s World”. Kalau Anda pernah membaca novel ini, mungkin Anda akan mengerti. Tetapi, kalau yang Anda maksud itu menciptakan manusia seperti Anda “sekarang”, ya maaf, saya tidak bisa.
Pertanyaan kelima :
Saya memang tidak beragama, tetapi bukan berarti saya tidak memiliki tujuan hidup. Apakah setiap orang beragama pasti mempunyai tujuan hidup ? Coba saja lihat di sekitar Anda, berapa banyak orang yang mengaku beragama (bahkan taat), tetapi masih tidak mengerti tujuan hidupnya. Tujuan hidup saya dapat dilihat pada jawaban pertanyaan pertama. Apakah Anda yakin, jika orang yang terombang-ambing di lautan tidak memiliki tujuan ? Bagaimana jika dia memang hanya ingin menikmati sepoi-sepoinya angin laut, atau menikmati ganasnya ombak ?
Sungguh aneh menurut saya, kalau kekritisan berpikir dibatasi oleh “sesuatu”. Bagaimana mungkin Anda bisa kritis, kalau Anda sendiri dibatasi oleh “sesuatu”. It just doesn’t make sense for me…Ah, tetapi mungkin ini adalah salah satu kelemahan linguistik kita…Mungkin ?
Nah, sekarang, gantian saya yang mengajukan pertanyaan ke Anda. Boleh kan ?
1. Apa yang akan terjadi kalau keyakinan (agama) Anda salah ?
2. Mengapa Anda yakin kalau keyakinan Anda tidak salah ?
3. Adakah sesuatu yang memang benar-benar dapat dijadikan bukti atas keyakinan Anda ? Semacam pernyataan non-hegelian ? (yang tidak membentuk pola sinthesis-asinthesis-sinthesis ? Karena menurut saya, bukti yang nyata adalah bukti yang tidak memenuhi hukum hegelian ini. Semacam, segala hal itu tidak sempurna, kecuali kesempurnaan itu sendiri. Kalimat ini tidak memenuhi hukum Hegelian, karena kata “sempurna” sudah sedemikian rupa hingga sulit didekonstruksi, sehingga ia akan lebih sulit lagi untuk dikonstruksi (andaikata ia mampu didekonstruksi).
4. Tuhan dalam definisi Anda itu tuhan yang semacam apa ? Apakah ia milik semua manusia ? Atau hanya milik segelintir orang ? Bagaimana mungkin tuhan -yang katanya menciptakan seluruh manusia- terkotak-kotak hingga tiap golongan manusia mendefinisikan tuhannya sendiri. Tetapi, kalau memang tuhan itu universal, bagaimana mungkin hanya sebagian orang yang meyakininya, sedangkan golongan lain juga meyakini tuhan yang berbeda ? Apa benar memang tuhan itu ada banyak ? tuhan milik golongan A, B, C, dll ?Katanya tuhan itu esa ? Esa menurut golongan tertentu ? Berarti kalau begitu, tuhan itu relatif ? Lalu, dari sekian banyak tuhan itu, manakah yang paling hebat ? Pasti ada satu yang lebih di antara yang lain, karena itu adalah hakikat berpikir manusia. Bagaimana kita dapat memastikan kalau salah satu dari banyak tuhan itu yang paling hebat/benar ? Ada yang salah dengan logisme dari kalimat ini.
5. Saya tidak mengerti dengan kalimat Anda yang mengatakan jika saya diperbudak oleh pemikiran saya sendiri. Mungkin benar. Tetapi, bukankah Anda juga mengalami hal yang sama dengan saya ? Hanya saja, Anda diperbudak oleh pemikiran agama. At least, banyak orang yang pemikirannya dibutakan oleh agama dan intrepetasinya sendiri terhadap ajaran agama tersebut. Nyatanya, semenjak artikel ini dimuat, sudah ada minimal 4 orang penelpon gelap -yang mengancam untuk membunuh saya- dan email-email yang bernada sama. Ini apa namanya, kalau bukan misintrepretasi terhadap ajaran agama ?
Maaf, saya malah tidak memberikan jawaban, tetapi memberikan lebih banyak lagi pertanyaan di benak Anda.
P.S. I’m not smart guy, just an ordinary guy.
Sapere Aude,
Wijen Pontus.
yesalover said,
November 27, 2008 at 7:33 am
@ ???
Saya jadi tertarik dengan Anda. Sudikah Anda memberikan profile, atau sekedar penjelasan singkat tentang diri Anda ? Agar fair, silakan Anda melihat penjelasan mengenai diri saya sendiri sehingga ke depannya kita dapat berdiskusi lebih lanjut. Saya sangat appreciate dengan orang yang mau mengajukan pertanyaan kepada saya.
??? said,
November 30, 2008 at 8:59 am
Terimakasih karena anda mau menjawab pertanyaan saya dan saya dengan senang hati akan menjawab pertanyaan anda juga.
Namun sebelumnya, saya akan menanggapi analogi anda.
Mengapa saya hanya tertidur, tdk seperti anda yang jalan-jalan, mengobrol dengan penumpang lain dan menikmati pemandangan sekitar. Karena saya adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip saya. Jika saya naik kereta api jurusan bandung, ya itulah tujuan saya. Apalah artinya ‘experience’ kalau ternyata saya tidak sampai ke bandung.
Pertanyaan 1:
Saya rasa anda tau kalau saya tidak akan menjawab pertanyaan anda yang satu ini. Keyakinan saya beragama (islam) melebihi dari keyakinan bahwa saat ini saya hidup didunia. Keyakinan saya melebihi keyakinan pada apapun. Jadi mengapa saya harus berandai-andai?
Pertanyaan 2:
Mugkin jawabannya sangat singkat. Karena tidak semua hal saya pikirkan secara “kritis” seperti anda.
Pertanyaan 3:
“SUBHANALLAH…” saya sangat bersyukur dengan karunia Allah SWT yang telah menciptakan suatu pengetahuan di dunia ini, namun sayang sekarang manusia malah menyalahgunakan pengetahuan itu.
Saya tidak pernah terlalu berpatok pada ‘teori’ yang datangnya dari manusia. Karena manusia bisa saja salah. Nampaknya anda yang terlalu berpatok kepada teori yang datangnya dari manusia (makhluk seperti anda). pedoman hidup saya hanyalah Al-qur’an dan as-sunnah. Ayat alqur’an yang bukan diciptakan oleh manusia dan tidak pernah lekang hingga akhir zaman sekalipun.
“innaddiina ‘indallahilislaam”
“Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah hanyalah Islam”.(QS. Ali Imran : 19)
Kalau selama ini anda banyak membaca buku buatan manusia, cobalah anda membaca dan pelajari Al-qur’an, beserta tafsirnya. Kalau perlu tanyakan dengan orang yang ahli. Disana ada sebab musabab apa yang anda pertanyakan, mungkin Al’qur’an bisa membantu anda untuk hal yang anda cari selama ini dan bisa memberikan jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan anda.
RENUNGKANLAH!!!
Bukan hanya dengan pikiran anda yang ”KRITIS”itu. Tapi juga dengan “HATI”. Sayang sekali kan, jika Tuhan telah menganugerahkan anda hati namun tidak dipergunakan untuk mengimbangi pikiran anda?
Setelah itu, baru sampaikan pada saya, apa yang anda temukan dari Al’qur’an, masihkah anda berpikir kalau Tuhan itu tidak ada dan hanya buatan manusia?
Pertanyaan 4:
Tuhan dalam definisi saya Tuhan semacam apa?
Rasanya saya ingin mencontek kalimat anda untuk menjawab pertanyaan ketiga saya: “saya rasa tidak semua apa yang ingin diungkapkan dapat digambarkan dengan sesuatu”.
Dan bagi saya, Tuhan tidak bisa digambarkan. Namun dapat dirasakan keberadaanNya beserta keagunganNya.
Apakah Ia milik semua manusia atau hanya segelintir orang?
Jawabannya “semua manusia milik Tuhan”. Saya rasa anda dapat menyimpulkan sendiri kalimat saya itu.
Pertanyaan anda selanjutnya…
Yang perlu digarisbawahi disini, atas dasar apa Tuhan yang menciptakan manusia terkotak-kotak hingga tiap golongan mendefinisikan Tuhannya sendiri? Dari perilaku manusianya, bukan? Lalu sebenarnya siapa yang mengkotak-kotakkan Tuhan? Nyatanya, bukan Tuhan yang mengkotak-kotakkan dirinya, namun sebagian orang dengan egonya masing-masing.
Apa tuhan itu ada banyak?
Saya tekankan pada anda. Agama saya Islam. Tuhan saya Allah.
Silahkan baca dan fahami surat Al-Ikhlas!
Pertanyaan 5:
Wow… anda paling bisa membalikkan pernyataan.
Wajar saja kalau saya diperbudak oleh “agama”. Dan saya tidak merasa keberatan dengan itu. Karena saya bisa hidup, merasakan kenikmatan dunia, menghirup udara segar, merasakan bagaimana rasanya menyayangi dan disayangi, dan beribu kenikmatan lainnya atas dasar kekuasaan Allah. Apa salah jika saya diperbudak oleh pemikiran agama untuk mengucap syukur?
Renungkan oleh anda, apa pikiran ‘kritis’ anda yang membuat anda bisa hidup seperti sekarang?
Jika anda aneh dengan kekritisan yang dibatasi “sesuatu”, saya malah jauh lebih aneh. Mengapa “agama”(yang didalamnya terdapat hubungan manusia dengan Sang pencipta) dibatasi atau malah dipikirkan secara “kritis”.
Siapa yang memberi pikiran kepada anda sehingga anda bisa berpikir kritis, kalau bukan Tuhan? Lalu anda malah menggunakan “pikiran yang kritis”itu untuk mengkritisi agama?mengkritisi Tuhan?
A’udzubillahi min dzalik….
Sungguh, beribu-ribu keanehan yang saya rasakan….
Bayangkan anda sedang dalam pesawat, saat itu pesawat yang sedang anda tumpangi oleng, pesawat itu sebentar lagi akan terjatuh ke bawah. keadaan itu sangat mendesak, keadaan antara “hidup dan mati”. Mungkin anda termasuk orang yang tidak takut akan kematian, tapi jika pada saat itu masih ada urusan yang harus anda selesaikan dan anda belum mau mati, kepada siapa anda akan minta tolong? Sementara tak ada seorang manusia pun disana yang dapat menolong anda. Jangan jawab pertanyaan saya ini, tapi cukup tanyakan ke hati kecil anda.
Untuk permintaan anda tentang penjelasan mengenai diri saya,
Saya tidak dapat panjang lebar mengutarakan siapa saya.
Karena berbeda dengan anda yang menganalogikan diri anda seperti joker, saya hanyalah manusia biasa yang berusaha untuk menikmati atas setiap helaan nafas yang Tuhan berikan.
Dirumah sakit saja, orang yang kehabisan nafas harus membeli oksigen untuk bisa bernafas kembali. Sementara manusia… sejak dilahirkan, bernafas dengan “gratis” dari nafas yang telah Tuhan anugerahkan.
Jika anda selalu menanyakan dan mencari tahu dengan melakukan ‘proses’, saya adalah orang yang mengagumi kekuasaan Tuhan. Bukan untuk mencari tahu mengapa, namun untuk belajar bagaimana caranya berterimakasih, mensyukuri atas karunia-Nya dan mengagumi kehebatannya yang sungguh luar biasa.
Saya adalah orang yang tidak perlu “mempersulit” hidup saya dengan sesuatu yang membuat saya jatuh nantinya.
Thanks…
klentheng said,
November 30, 2008 at 2:23 pm
Keyakinan apapun harus dihormati. Wijen masih dlm tahap mencari, seorang yg mencari kebenaran memang paling baik melepaskan dulu apa yg pernah dimilikinya, mengambil jarak terhadap semua agama, supaya fair. Setelah ini, apapun yg ditemukannya dlm pencarian adalah benar2 hasil pengembaraan intelektual dan jiwanya. Meskipun itu nanti diperoleh dgn cara yg susah, pilihan ini tetap harus dihargai.
Seorang yg berani mencari dan bertanya, saya pikir jauh lebih baik daripada orang yg menerima begitu saja apa yg disuruhnya untuk ditelan sedari kecil oleh orang tua, keluarga dan lingkungan.
Sdr ??? demikian, bedanya hanyalah wijen berani mempertanyakan keyakinannya sendiri, ??? menerima begitu saja.
Sebetulnya secara jujur, agama yg kita percayai sekarang bukanlah hasil pilihan kita, itu hanya warisan yg diturunkan dari orangtua, keluarga dan/atau lingkungan kita.
Seandainya orang2 diberi kebebasan penuh untuk memilih agama apapun atau tidak beragama sejak lahir, tentu ceritanya lain. Anggaplah, orang tua tidak mengajarkan agamanya pd anaknya, murni etika, dan budi pekerti tanpa harus dikaitkan dengan embel2 agama, atau bahkan mengajarkan semua agama dan aliran kepercayaan yg ada pd anak2nya, menyerahkan pilihan pada anak2nya ketika dewasa kelak.
halida said,
December 2, 2008 at 7:35 am
ehm…numpang komen.
pertama, tentang pertanyaan wijen mengenai muhammad. mengapa tidak boleh dikarikaturkan? mengapa tidak boleh ditampakkan wajahnya?
sejauh yang saya tau, hal ini berdasarkan kekhawatiran, bahwa jika wajah muhammad ditampilkan, maka umat muslim yang berpikiran pendek akan menyembahnya. menjadikannya berhala. menuhankan dia. seperti yang terjadi pada nabi isa.
sesimpel itu sebenarnya. mudah-mudahan lebih bisa diterima logika.
kedua, tentang masalah beragama.
saya setuju dengan anggapan klentheng. wijen, saya, anda, kita semua sedang berproses. jadi sepertinya kurang bijak jika kebebasan berproses justru dicela dan digiring untuk mengikuti sebuah agama tertentu.
maaf ???, saya juga muslim seperti anda. saya menghargai semua kebenaran yang anda katakan karena saya juga meyakini hal yang sama.
tapi sebuah keyakinan tidak dapat dipaksakan.
jadi meskipun saya atau anda tidak mendukung apa yang wijen pilih tentang keyakinan hidupnya, bukan berarti dengan ‘mencela’ dan menunjukkan bukti2 kebenaran agama kita, dia lantas akan semudah itu mengubah keyakinannya.
bukankah dalam islam juga menyebutkan bahwa “tidak ada paksaan dalam agama”.
jadi kita bebas untuk memilih menjadi siapa dan berpikir senjelimet apapun juga. toh yang pusing bukan kita. tapi dia. hehe.
untuk wijen, teruslah berpikir kritis.
saya teringat kata2 teman saya, kalau mau jadi muslim, jadilah muslim tulen. kristen, jadilah kristen tulen, jadi atheis pun, jadilah atheis tulen. jadi jangan setengah-setengah!
saya percaya, yang mencari pasti akan menemukan.
tapi akan ada saat-saat logika tidak akan bisa menjawab semua pertanyaan kita.
dan saya pribadi sampai saat ini masih percaya (dan semoga sampai seluruh umur saya habis di dunia ini), bahwa hanya Dia lah pemilik jawaban atas segala tanda tanya.
selamat berfilsafat!
taufik said,
December 3, 2008 at 6:25 am
apa yang terjadi setelah budha itu diwujudkan?
apa yang terjadi setelah yesus itu diwujudkan?
apa yang terjadi setelah agama mewujudkan sosok dalam agama tersebut?
semua orang hanya akan menyembah foto…patung… atau bentuk lain sebagainya..
apakah itu tuhan semua orang…
itulah mengapa islam mengharamkan muhammad saw diwujudkan
entah dalam bentuk foto..gambar..atau lain sbagainya..
kalau ingin meyakinkan diri…
bacalah injil…
bacalah Al qur’an…
bacalah wreda…
bacalah tripitaka…
bacalah semua kitab yang ad dimuka bumi ini
pelajari dan pahami…
mana yang lebih masuk akal??????
mana yang lebih sesuai dengan anda??????
kalau anda memang mengaku orang yang dapat berpikir….
pikirkanlah bagaimana anda masih ada sampai sekarang…..
yesalover said,
December 3, 2008 at 9:40 am
@halida : Jawaban Anda adalah salah satu jawaban yang paling saya harapkan dari orang “beragama” seperti Anda. Saya tahu, dengan sudut pandang Agama, mestinya jawaban seperti Anda inilah yang pas untuk menjawab pertanyaan saya tentang muhammad. Ironisnya, bukannya orang menjawab pertanyaan saya, malah mencela dan memaksakan keyakinannya. Koq njawab kayak Bung aj, yang lain pada ga bisa yah ?
@taufik : saya memang belum mempelajari semua agama secara proposional, wong semenjak kecil saya dijejali kristianitas…kalau saya mau adil, maka saya membutuhkan waktu yang minimalnya sama untuk mempelajari tiap agama, itu berarti, minimalnya saya membutuhkan waktu 18 tahunan untuk mempelajari tiap agama. Saya rasa itu tidak perlu. Saya lebih suka berpikir secara out of the box terlebih dahulu. Btw, apakah bung sendiri sudah mempelajarinya secara proporsional ? Saya rasa tidak mungkin. Mengenai pertanyaan Anda yang terakhir, tentu saja itu sudah menjadi pertanyaan wajib bagi saya. Dan jawabannya, saya rasa juga sudah ada pada tanggapan saya di atas.
@??? :
Terimakasih karena anda mau menjawab pertanyaan saya dan saya dengan senang hati akan menjawab pertanyaan anda juga. Namun sebelumnya, saya akan menanggapi analogi anda. Mengapa saya hanya tertidur, tdk seperti anda yang jalan-jalan, mengobrol dengan penumpang lain dan menikmati pemandangan sekitar. Karena saya adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip saya. Jika saya naik kereta api jurusan bandung, ya itulah tujuan saya. Apalah artinya ‘experience’ kalau ternyata saya tidak sampai ke bandung. Tanggapan : Inilah bung yang ingin saya sampaikan. Jika Anda focus hanya pada tujuan, dan jika tujuan itu tidak tercapai, otomatis Anda akan menyesal –sangat dalam-. Berbeda ketika Anda tidak tidur, andaikata Anda tidak sampai pada tujuan, Anda tidak akan terlalu menyesal, toh Anda juga sudah menikmati perjalanannya –apalagi kalau Anda kenalan dengan cewek cantik dan sexi- Hehehe…Ah, tapi apa gunanya juga, wong Anda sudah menutup kemungkinan untuk tidak tercapainya tujuan Anda itu koq… Pertanyaan 1: Saya rasa anda tau kalau saya tidak akan menjawab pertanyaan anda yang satu ini. Keyakinan saya beragama (islam) melebihi dari keyakinan bahwa saat ini saya hidup didunia. Keyakinan saya melebihi keyakinan pada apapun. Jadi mengapa saya harus berandai-andai? Pertanyaan 2: Mugkin jawabannya sangat singkat. Karena tidak semua hal saya pikirkan secara “kritis” seperti anda. Pertanyaan 3: “SUBHANALLAH…” saya sangat bersyukur dengan karunia Allah SWT yang telah menciptakan suatu pengetahuan di dunia ini, namun sayang sekarang manusia malah menyalahgunakan pengetahuan itu. Saya tidak pernah terlalu berpatok pada ‘teori’ yang datangnya dari manusia. Karena manusia bisa saja salah. Nampaknya anda yang terlalu berpatok kepada teori yang datangnya dari manusia (makhluk seperti anda). pedoman hidup saya hanyalah Al-qur’an dan as-sunnah. Ayat alqur’an yang bukan diciptakan oleh manusia dan tidak pernah lekang hingga akhir zaman sekalipun. “innaddiina ‘indallahilislaam” “Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah hanyalah Islam”.(QS. Ali Imran : 19) Tanggapan : Anda terjebak di dalam gua Plato ? Atau tersesat dalam labirin Knossos dan Anda kehilangan benang Ariadne ? Hm, agak susah juga kalau kasusnya seperti Anda…Ya sudah, sepertinya diskusi ini sulit untuk diteruskan. Kalau selama ini anda banyak membaca buku buatan manusia, cobalah anda membaca dan pelajari Al-qur’an, beserta tafsirnya. Kalau perlu tanyakan dengan orang yang ahli. Disana ada sebab musabab apa yang anda pertanyakan, mungkin Al’qur’an bisa membantu anda untuk hal yang anda cari selama ini dan bisa memberikan jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan anda. Tanggapan : Saya sudah pernah belajar Alquran, langsung dari seorang ulama, gara-gara zaman SMA dulu saya dikira mau pindah agama. Sayang sekali, baru pertama kali pertemuan, saya sudah bisa membaca pikiran ulama tersebut, yang memang rata-rata seperti Anda. Bagaimana saya bisa mendapatkan jawaban, wong saya saat itu tidak pernah boleh untuk mengajukan pertanyaan ? Dan pasti beliau hanya berkata, “Semua ada di Alquran…” RENUNGKANLAH!!! Bukan hanya dengan pikiran anda yang ”KRITIS”itu. Tapi juga dengan “HATI”. Sayang sekali kan, jika Tuhan telah menganugerahkan anda hati namun tidak dipergunakan untuk mengimbangi pikiran anda? Setelah itu, baru sampaikan pada saya, apa yang anda temukan dari Al’qur’an, masihkah anda berpikir kalau Tuhan itu tidak ada dan hanya buatan manusia? Tanggapan : Anda ini mungkin terbiasa untuk tidak pernah mencerna informasi yang masuk sepertinya. Sejak kapan saya menyatakan kalau saya tidak bertuhan ? Saya percaya adanya tuhan Bung ! Hanya saja dengan definisi yang beda dengan Anda. Tuhan saya kekal, entitas yang tidak tergapai oleh manusia, dan –oleh karena itu- tidak perlu dibela oleh saya. Pertanyaan 4: Tuhan dalam definisi saya Tuhan semacam apa? Rasanya saya ingin mencontek kalimat anda untuk menjawab pertanyaan ketiga saya: “saya rasa tidak semua apa yang ingin diungkapkan dapat digambarkan dengan sesuatu”. Dan bagi saya, Tuhan tidak bisa digambarkan. Namun dapat dirasakan keberadaanNya beserta keagunganNya. Tanggapan : Nice… Apakah Ia milik semua manusia atau hanya segelintir orang? Jawabannya “semua manusia milik Tuhan”. Saya rasa anda dapat menyimpulkan sendiri kalimat saya itu. Tanggapan : Berarti Tuhan milik semua manusia kan ? Nice… Pertanyaan anda selanjutnya… Yang perlu digarisbawahi disini, atas dasar apa Tuhan yang menciptakan manusia terkotak-kotak hingga tiap golongan mendefinisikan Tuhannya sendiri? Dari perilaku manusianya, bukan? Lalu sebenarnya siapa yang mengkotak-kotakkan Tuhan? Nyatanya, bukan Tuhan yang mengkotak-kotakkan dirinya, namun sebagian orang dengan egonya masing-masing. Apa tuhan itu ada banyak? Saya tekankan pada anda. Agama saya Islam. Tuhan saya Allah. Silahkan baca dan fahami surat Al-Ikhlas! Tanggapan : Nice…Anda sendiri yang menyimpulkan yah, kalau ego manusia yang mengkotak-kotakkan tuhan. Nah, bukankah dari tadi Anda mencoba mengkotak-kotakkan tuhan dengan definisi yang Anda buat sendiri ? (mungkin termasuk saya juga ?) Wong saya berpendapat tuhan itu seperti itu, lalu Anda menyanggah kalau tuhan itu seperti ini…Bukankah kita ini juga mengkotak-kotakkan tuhan ? Apakah mungkin tuhan itu hanya terbatas pada definisi yang Anda maksud atau definisi yang saya maksud ? Kalau tidak terkotak-kotak, tuhan itu bukan milik definisi saya atau definisi Anda bukan ? Pertanyaan 5: Wow… anda paling bisa membalikkan pernyataan. Wajar saja kalau saya diperbudak oleh “agama”. Dan saya tidak merasa keberatan dengan itu. Karena saya bisa hidup, merasakan kenikmatan dunia, menghirup udara segar, merasakan bagaimana rasanya menyayangi dan disayangi, dan beribu kenikmatan lainnya atas dasar kekuasaan Allah. Apa salah jika saya diperbudak oleh pemikiran agama untuk mengucap syukur? Tanggapan : Ya wong Anda terlalu nyaman dengan bayangan Anda yang terpantul di dinding koq, sehingga Anda tidak merasakannya. Terkadang saya juga merasakan kalau saya terperangkap dalam gua plato kekritisan saya sendiri, tetapi dengan mempertimbangkan dan memikirkan pendapat orang lain (termasuk Anda), saya juga akhirnya sering dapat melihat sesuatu yang lain di luar gua saya. Hal ini terkadang menjadikan saya berani memalingkan muka dan melongok ke luar gua. Anda tidak seperti saya bukan ? Renungkan oleh anda, apa pikiran ‘kritis’ anda yang membuat anda bisa hidup seperti sekarang? Tanggapan : Tidak. Tetapi pikiran kritis ini yang menyebabkan saya sadar kalau saya hidup dan membuat saya mampu lebih memaknai hidup ini. Jika anda aneh dengan kekritisan yang dibatasi “sesuatu”, saya malah jauh lebih aneh. Mengapa “agama”(yang didalamnya terdapat hubungan manusia dengan Sang pencipta) dibatasi atau malah dipikirkan secara “kritis”. Siapa yang memberi pikiran kepada anda sehingga anda bisa berpikir kritis, kalau bukan Tuhan? Lalu anda malah menggunakan “pikiran yang kritis”itu untuk mengkritisi agama?mengkritisi Tuhan? A’udzubillahi min dzalik…. Sungguh, beribu-ribu keanehan yang saya rasakan…. Tanggapan : Anda lupa kalau tuhan itu tidak dapat disamakan dengan agama. Anda harus mengakui kalau agama terpengaruh oleh kultur, social, dan politik lingkungan asalnya. Tuhan –dengan definisi kebanyakan- juga sama, tetapi tuhan yang universal tidak seperti itu. Anda mestinya mendekonstruksi terlebih dahulu agama itu. Bayangkan anda sedang dalam pesawat, saat itu pesawat yang sedang anda tumpangi oleng, pesawat itu sebentar lagi akan terjatuh ke bawah. keadaan itu sangat mendesak, keadaan antara “hidup dan mati”. Mungkin anda termasuk orang yang tidak takut akan kematian, tapi jika pada saat itu masih ada urusan yang harus anda selesaikan dan anda belum mau mati, kepada siapa anda akan minta tolong? Sementara tak ada seorang manusia pun disana yang dapat menolong anda. Jangan jawab pertanyaan saya ini, tapi cukup tanyakan ke hati kecil anda. Tanggapan : Saya akan meminta tolong pada sesuatu entitas di luar rasio –yang mungkin bisa disebut sebagai tuhan bagi saya saat itu-. Tentu saja, itu mungkin bukan tuhan yang ada di definisi Anda. Untuk permintaan anda tentang penjelasan mengenai diri saya, Saya tidak dapat panjang lebar mengutarakan siapa saya. Karena berbeda dengan anda yang menganalogikan diri anda seperti joker, saya hanyalah manusia biasa yang berusaha untuk menikmati atas setiap helaan nafas yang Tuhan berikan. Dirumah sakit saja, orang yang kehabisan nafas harus membeli oksigen untuk bisa bernafas kembali. Sementara manusia… sejak dilahirkan, bernafas dengan “gratis” dari nafas yang telah Tuhan anugerahkan. Jika anda selalu menanyakan dan mencari tahu dengan melakukan ‘proses’, saya adalah orang yang mengagumi kekuasaan Tuhan. Bukan untuk mencari tahu mengapa, namun untuk belajar bagaimana caranya berterimakasih, mensyukuri atas karunia-Nya dan mengagumi kehebatannya yang sungguh luar biasa. Saya adalah orang yang tidak perlu “mempersulit” hidup saya dengan sesuatu yang membuat saya jatuh nantinya. Tanggapan : Apakah dengan saya mempertanyakan hal-hal semacam ini, maka saya tidak dapat dikatakan bersyukur ? Seenaknya saja Anda menjustifikasi saya kalau saya tidak bersyukur, hanya berpikir ‘proses’ saja. Tanya dulu sama tuhan, apakah saya tidak bersyukur di mata tuhan ? Kalau tuhan sudah menjawab, baru Anda bisa menjustifikasi saya. Justru dalam ‘proses’ ini, saya merasa bisa jauh lebih bersyukur dengan hidup saya –berbeda dengan sebelumnya-. Thanks… Tanggapan : Sama-sama. Thanks juga…
yesalover said,
December 3, 2008 at 9:52 am
@klentheng :
“Sebetulnya secara jujur, agama yg kita percayai sekarang bukanlah hasil pilihan kita, itu hanya warisan yg diturunkan dari orangtua, keluarga dan/atau lingkungan kita.
Seandainya orang2 diberi kebebasan penuh untuk memilih agama apapun atau tidak beragama sejak lahir, tentu ceritanya lain. Anggaplah, orang tua tidak mengajarkan agamanya pd anaknya, murni etika, dan budi pekerti tanpa harus dikaitkan dengan embel2 agama, atau bahkan mengajarkan semua agama dan aliran kepercayaan yg ada pd anak2nya, menyerahkan pilihan pada anak2nya ketika dewasa kelak.”
Tanggapan :
Inilah, makanya saya selalu menyarankan untuk mendekonstruksi dulu -minimalnya orang harus menyadari ini dulu-, kalau ini saja tidak bisa, ya tidak mungkin bisa melangkahkan kaki ke tahap berikutnya. Dengan adanya dekonstruksi, manusia dapat menghindarkan resiko terabaikannya hal-hal di atas, semacam asal-usul, tanpa batasan historis, kultural -bahkan linguistik-. Lha kalau hal-hal sepele itu saja diabaikan, bagaimana manusia bisa mendapatkan esensinya ? Di sinilah fungsi filsafat sebagai alat diagnostik bekerja. Terkadang, saya heran -sekaligus mentertawakannya- ketika melihat orang dengan salah kaprah mengidentikkan filsafat dengan nir-tuhan, atheis, tidak beragama, atau semacamnya. Kalau hal sederhana semacam ini saja, orang tidak mengerti, bagaimana dapat memahami apa yang mau disampaikan oleh filsafat ?Konyol….
Mestinya manusia masih berada dalam pencerahan, bukan tahap tercerahkan, sehingga dia masih mau dan kritis untuk menyempurnakan pandangannya dari waktu ke waktu. Bagi saya, pencerahan adalah kedewasaan, sedangkan kedewasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pemahamannya sendiri dalam menentukan otorisasi kehidupan manusia itu dengan bimbingan lain yang seminimalnya -atau bahkan tanpanya-. Mestinya -menurut saya-, pencerahan harus memutus rantai ketergantungan dengan otoritas lain -termasuk agama-, memutuskan rantai bukan berarti harus menolaknya mentah-mentah, atau berkontradiktif dengannya, tetapi ini lebih berarti pada tingkat pemahaman dan kedewasaan manusia untuk berpikir.
yuan said,
December 11, 2008 at 2:41 am
alalala……………. kalo gak suka jangan diliat atau dibaca. semua orang punya hak untuk berepreksi, komentar, dan memberi pendapat. tapi gak semua setuju dengan komentar atau pendapat seseorang. mengapa ada yang sampai menghina umat muslim dengan menggunakan foto nabi? mungkin karena banyak kekerasan dan teror yang mengatas namakan islam. sehingga orang2 picik memanfaatkan hal tersebut untuk mengadu domba antara orang muslim dengan pemeluk agama lain. yg jelas saya rasa pembuat karikatur tsb berhasil membuat panas orang2 muslim.
hamka said,
December 17, 2008 at 5:33 am
jujur gw 50% ga ngerti isi tulisan blog ini (karna rada bego n miskin kosakata
nanggapin komen klenteng, benar agama ga sepenuhnya hasil pilihan, karna kurang lebih dipengaruhi orang tua dan lingkungan. Tapi mempunyai Tuhan, itu fitrah manusia, seperti makan, minum . Kalo lo liat sejarah manusia, peradaban manusia mana sih yang ga punya tuhan? Coba ada bayi lahir di tengah hutan ga pernah nemu siapa2, setelah sekian tahun, berani taruhan, dia pasti punya tuhan modelnya sendiri. Gw pilih islam, karna agama ini sempurna dan mengatur semua isi kehidupan manusia (Syarat masuk islam, yaitu sudah baligh alias sudah dewasa, jadi anak kecil walaupun dikasih agama orang tua, belum termasuk islam atau kafir). Semua orang pasti punya alesan pilih tuhannya masing-masing. Jadi gw ga yakin kalo lo atheis, kalo lo pinter, pasti nyadar ada kekuatan yang maha sempurna yang mengatur semesta
Tentang kartun Nabi Muhammad , gw sepenuhnya ga setuju dan mengutuk orang yang sengaja mengkarikatur dan menyebar luaskan. alesannya karena itu udah jelas-jelas dilarang dalam hadist. Trus knapa gw ikutin? ,itulah yang namanya keimanan , knapa gw harus sholat 5 x sehari? puasa? zakat? ngaji? .Kalo mikir logis, ngapain buang-buang waktu 5 x 10 menit di musholla, toh yang namanya Tuhan sempurna pasti ga butuh sesembahan manusia. Tapi itu perintah yang tertulis di kitab alqur’an dan hadist (googling aja). Gw berusaha untuk jadi orang beriman dengan menjalankan perintah dan larangannya. Mungkin kedengerannya seperti kerbau dicocok hidung, disuruh perintah ini-itu mau aja, tanpa tanya alesan, itulah yang namanya iman, gw percaya akan janji-Nya kalau petunjuknya akan membawa manfaat bagi semesta alam, janjiNya akan keselamatan di hari pembalasan.
Analoginya begini, kalau gw beriman/percaya sama si X , gw pasti mau disuruh ngerjai PR, beliin buku, ato ngerjain apa aja. Suatu saat gw protes ke X, knapa sih gw harus ngerjain PRnya? beliin bukunya? , saat itu iman gw lagi lemah. trus si X njawab = “tenang aja PR dan buku ini bikin lo pinter dan ntar kalo udah slesei gw beliin permen”. Gw akhirnya kembali percaya (walaupun belum dibeliin permen) dan kmbali ke pekerjaan.
(Mungkin,itu juga alasan Tuhan-ku rutin menyuruh sholat 5 waktu, agar keimanan umatnya tetap terjaga )
sori, gw ga tau komen ini berhubungan dengan postingan lo apa nggak
bayu ahadi artanggaprana said,
December 17, 2008 at 10:24 am
dalam artikel ini saya setuju sama diva and agi, sorry yang lainnya, gak sempet baca. Kalo mau tau tentang gw, nanti gw buat di blog gw deh. Lebih rinci masalah keberimanan.
Well, pendapatnya Agi bener banget. I will do the same if my mother got abused (phisically, mentaly, and/or phisiologicly).
Yah bisa cukup terjawab dengan komentar dari Agi. Saya ingin menambahkan, boleh ya? KAlo nggak boleh tetep saya tulis.
Saya orangnya memberi kebebasan kepada setiap orang untuk berpegang teguh pada simbol apapun. Tapi ada syaratnya, tidak membebaskan sesorang memaksakan kehendak seenaknya tanpa dasar apapun. Dan saya memberi makna dari apa yang saya pegang teguh semampu saya.
Di blog ini saya baru tahu tahu kalo kamu berpikir agosnitik (maaf kalo salah). Yah kalo sederhananya agama KTP.
Masalah karikatur itu sih saya berpendapat cuma orang yang cari sensasi aja. Cuma setelah ditilik, bakal ada impact yang besar buat masyarakat sana tentang seseorang yang sekitar 1,3 miliar orang di bumi ini kagumi. Bayangkan ada sebanya 1,3 milyar orang termasuk Hizbut tahir.
Pencitraan lewat karikatur itu dapat disalahpahami oleh orang di luar Islam. Sampai sekarang saya belum tahu yang mana karikatur buatan orang Denmark itu.Yang saya tahu adalah orang dengan citra Arabic, bersorban, berjanggut dan berbom dikepalanya. Sekilas melihat gambar itu, ya keawa donk, lucu bagi saya. Tapi mungkin tidak bagi yang lain.
1. Orang lain dapat mengambil kesimpulanbahwa orang Islam dikepalanya cuma ada bom-bom-bom dan bom. Kesimpulan akhir Islam identik dengan kekerasan. Kesimpulan lanjutan, adanya perselisihan antar Muslim dan non-musilim. Well itu yang dibelain abis-abisan sama FPI supaya dicegah. Soalnya setahuku Islam cinta damai.
2. Di dalam agama ku, Muhammad berkata untuk tidak menyimbolkan sesuatu apapun darinya. Baik itu gambar maupun lukisan. Ini ada maksudnya. Ingat pemaknaan simbol yang kamu tulis kan. Orang bisa salah memaknai simbol tersebut. Lukisan bukan untuk disembah. Orang muslim terdahulu disiplin hingga sekarang menjalankan apa yang dikatakan orang kebanggaannya, Muhammad.
Sebagian dari muslim menganggap bahwa Muhammad memiliki sifat keilahan. Hal ini yang diwasiatkan Beiau untuk dicegah. Mencegah adanya suatu penghambaan atas diri Muhammad utnuk kaum berikutnya. Jadi gitu. Suatu alasan utama mengapa muslim sangat menghindari keilahan lain selain keEsaan yang tunggal.
Coba kamu iseng deh, dengerin adzan atau nonton tv pas maghrib. Cuma saran. Seruan terakhir adalah Laa illaha illAllah. Artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Ini adalah syarat utama dan pertama untuk menjadi seorang muslim dan ini selalu berulang-ulang untuk mengingatkan kami, Muslim. Banyak tingkatannya untuk menjadi muslim sejati. Kalo ditanya, apa gw muslim sejati. Gw dengan berani bilang, belum, saya belum menjadi muslim sejati. Tapi itu yang terus diraih dan dijaga setiap muslim di dunia.
3. Well, gimana saya nanggepin kamu? Balik lagi, saya orangnya memberi kebebasan kok untuk memahami simbol yang ada. Karena kamu punya pemaknaan tersendiri. Yang saya perbuat disini adalah meluruskan pemaknaan kamu yang “kurang”. Tidak ada ang ditutup-tutupi kok. ini kembali lagi masalah pemaknaan. Kalo masalah karikatur adalah masalah wasiat beliau, yaitu tidak boleh ada penggambaran beliau dalam bentuk apa pun.
Hah nulisnya kebanyakan ya? Maaf ya, abis beneran pas hari ini aku ketemu kamu, langsung penasaran siapa sih yesayalover.
Semangat ya sisdignya. Semoga kamu bertambah ilmunya yang menjadi penuntunmu untuk mencapai kebenaran yang absolut.
Peace with you.
Arya Febiyan said,
December 22, 2008 at 5:29 am
La Kum Di Nukum, Wa Li Yadin.
Inna Dinna Indallahil islam.
rousyan said,
December 25, 2008 at 9:18 am
menarik..
sayang belum sempet baca semua komennya..
to hamka said,
January 2, 2009 at 1:11 pm
@ Hamka
Hamka said : Kalo lo liat sejarah manusia, peradaban manusia mana sih yang ga punya tuhan?
Waduhhh anda ini rupanya berpikir sangat pendek sekali. Justru sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, anda akan sadari bahwa bagian terbesarnya adalah bagian tanpa agama dan Tuhan. Kalo pengertian Tuhan yang anda maksud adalah monotheis, Tuhan yg Maha Esa, Tauhid.
Monotheis baru mulai muncul sejak Yahudi, lalu Kristen dan Islam yg terakhir. Kristen banyak mengambil tradisitradisi Yahudi, demikian pula Islam mengambil tradisi Yahudi dan Kristen plus budaya Arab. (ini yang buat saya heran, kok ya banyak ayat Kitab Suci Quran yg ‘benci’ sama Yahudi, lha wong banyak tokoh Yahudi dijadikan nabi di Islam kok, mis:raja Yahudi Daud dan Salomo/Sulaiman, Musa dll)
Seblm itu..huaahhhh ratusan mungkin ribuan “agama” atau kepercayaan.
Pada intinya sih manusia merasa kemampuan nya terbatas, lalu mencari ‘jalan’ utk menenangkan dirinya, mencari pegangan pd kekuatan yg mereka anggap ’sempurna’, kepada sosok itulah kemudian harapan akan digantungkan.
Makanya manusia mulamula itu menyembah fenomena2 alam…petir, matahari, bulan, hujan, laut dll dalam bentuk dewa2.
Seiring bertambah majunya peradaban manusia, dan ketika fenomena2 alam itu sudah mulai bisa dijelaskan, maka ‘agama’ manusia juga makin maju. Akhirnya timbul monotheisme.
Tapi apakah anda tahu bahwa agama monotheis tertua adalah Zoroasther yang dianut bangsa persia/parsi…?
Trilogi agama tim-teng, Yahudi, Kristen dan Islam, bukanlah agama yg pertamtama memiliki ide tentang Tuhan YME.
Sayang sekali, anda mahasiswa terpilih di institusi ternama, anda ngomong sejarah tapi anda tidak tahu sama sekali tentang sejarah.
eko ahmad rifky said,
January 11, 2009 at 3:00 pm
yesalover aku ingin bunuh kamu dari F.P.I
putu rocky arcony said,
January 15, 2009 at 1:46 am
Kita dilahirkan di dunia kan bukan atas kemauan kita, pasti ada yang punya kemauan. Barang siapa yang sedikit saja ingin mencari Tuhan Nya ( yang menyuruh kita hidup di dunia ini ) dengan pikiran ( kaji proses terjadinya manusia, kaji peran masing-masing organ tubuh kita kalau bosNya banyak apa nggak kacau tubuh kita ) dan hatinya ( dalam hati kita mempunyai kefahaman untuk dapat berbuat baik atau buruk tanpa ada yang mengajari/given ), Insya Allah, Allah SWT akan memeperjalankannya ( ada prosesnya ) mudah-mudahan akan mendapatkan hidayah dariNya. Selamat bersilancar untuk mencari Tuhan mu saudaraku ( Allah SWT ), kami doakan saudaraku masuk Islam dalam keadaan Kafah ( total ), sebelum ajal menjemputmu, amiin. ( Saya pernah merasakan seperti apa yang saudaraku alami, dan betapa nikmatnya memeluk Agama Islam karena hanya agama Islamlah yang sangat lengkap panduannya untuk mengelola jiwa raga kita, dan Allah SWT akan memberi petunjukNya bagi yang mau diberi petunjuk, mudah-mudahan saudaraku termasuk ciptaanNya yang mau diberi petunjukNya, amiin )
Permana Jayanta said,
January 15, 2009 at 5:45 am
Mantap deh yang punya blog ini … ada beberapa hal yang baru saya sadari setelah baca-baca disini …
- Orang tidak beragama bukan berarti tidak percaya tuhan walaupun sering diartikan tidak percaya tuhan
- Atheist. Bukan tidak percaya tuhan, tapi tidak memihak agama.
- Orang atheist bersikap jauh lebih baik dari orang yang beragama. Misalnya aja, orang atheist lebih baik sikapnya dibanding seorang kyai yang mencabuli santrinya, betul?
Saya bukan islam, tapi hindu. Dan saya melihat kenapa orang-orang beragama terlalu mengagung-agungkan nama tuhan dalam agama mereka?
AGAMA ADALAH ALAT UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA
Terserah mau pakai alat yang namanya hindu, islam, kristen, katholik, budha, atau bahkan atheist. Yang penting hasilnya adalah kita semakin dekat dengan Tuhan dan selalu dilindungi olehnya. Jagalah selalu hubungan kita antar manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya, dan manusia dengan tuhan.
Entah dengan yang lain, tapi guru agama hindu saya selalu bilang … jangan membeda-bedakan orang dari agama. Apakah ada guru agama lain yang berkata seperti itu?
Sebagai tambahan ..
… benar-benar tidak menghargai perbedaan …
Saya sangat menyayangkan ada agama yang mengatakan dosa bagi umat yang ingin menggunakan alat yang berbeda untuk mendekatkan diri dengan tuhan. Bahkan katanya harus sampai dihukum mati
Haris Pratama Loeis said,
January 18, 2009 at 10:41 pm
gw islam. tapi gw orang yang cenderung ignorant untuk masalah pertikaian agama atau apapun yang dibahas disini.
ada kesalahan2 kecil dari tulisan lo, yang gw nilai di komen ini tanpa ada motif ketersinggunggan secara agama dan gw paparkan hanya sebagai bentuk ‘kekecewaan seorang penulis terhadap penulis lain yang berbakat namun hanya berpikir dari satu perspektif dan satu level”
PERTAMA
di satu sisi gw setuju sama pernyataan lo. kebebasan berekspresi harus dijunjung. gw setuju sama hal ini. tapi inget mas, hak asasi ada batasnya. semua hak ada batasnya, kecuali hak untuk hidup. itu satu2nya yang diperbolehkan untuk dituntut setinggi-tingginya dalam ICCPR (internasional convention on civil and political rights). perlu waktu yang lama untuk memahami prinsip-prinsip hak asasi dan gw bukan seorang dosen pintar yang bisa menjelaskan dalam waktu singkat ke lo. namun secara garis besar prinsip HAM itu adalah: hak seseorang boleh dituntut setinggi-tingginya, namun akan gugur apabila hak tersebut merugikan pihak lain. dan dalam kasus yang lo bawa: hak sang ilustrator untuk mempublikasikan gambar ciptaannya akan gugur apabila ada pihak yang berpikir bahwa “gambar ini melecehkan saya/melecehkan agama saya”. hal ini bahkan berlaku ketika hanya satu orang anak kecil yang tersinggung.
dengan prinsip tersebut, larangan untuk publikasi gambar tersebut adalah tindakan yang sepenuhnya tepat. dan TOLONG jangan mempertanyakan atau memperdebatkan masalah pelarangan ini. karena lo bahkan belum mengkaji dan mengerti mengenai masalah pembatasan hak asasi, tapi sudah berani berkoar-koar mengenai pembatasan kebebasan berekspresi. kebijakan ini merupakan buah pemikiran dari praktisi dan pakar internasional, yang dikumpulkan dari berbagai disiplin ilmu dan dirumuskan setelah perdebatan panjang. sedangkan lo masih terlalu muda ratusan tahun untuk sekedar nunjuk tangan dalam perdebatan masalah ini. muda di sini bukan masalah umur, tapi cara berpikir. oke lo bukan anak politik atau hukum, tapi gw ga liat effort untuk riset sama sekali. lo bahkan bertanya “lho koq bisa menjustifikasi jika foto yang beredar selama ini adalah fotonya ?”. menurut gw ini adalah tindakan mempermalukan diri sendiri, dimana seseorang dengan entengnya mengatakan bahwa ada tulisan yang secara lugas mengatakan bahwa itu gambar Rasul. hal ini membuktikan lo sudah berkomentar sebelum mengetahui detail-detail dari gambar yang menjadi perdebatan. cuma asal berpendapat cas-cis-cus. sekali lagi, hanya satu sudut pandang dan satu level berpikir. lo penulis berbakat, tapi kalau hal ini tidak diperbaiki, lo hanya akan jadi penulis kelas blog atau diary. inget, tulisan kontroversial bisa masuk koran atau media besar lain, asal cerdas.
KEDUA
gw memperhatikan bahwa lo selanjutnya pengen nanya “kenapa gambar gitu doang menyinggung?” nah disini gw bingung stance lo apa. pengen nanya ke orang islam atau memanas-manasi orang islam.
kalau pengen nanya mengenai mengapa hal seperti gambar karikatur seperti itu membuat orang islam tersindir, jangan lo gunakan kata-kata yang offensive. “membakar mata tiap orang yang melihatnya” memberi kesan bahwa umat islam secara general merupakan golongan yang tak terdidik dan percaya hal-hal mistis. mungkin bukan itu yang lo maksud, tapi itu yang gw tangkep. selain kesalahan pengintepretasian maksud tulisan karena salah membaca atau tidak membaca tulisan secara lengkap, gw percaya bahwa salah intepretasi 100% salah penulis yang belum bisa menulis dengan bahasa yang komunikatif. kembali ke masalah tadi, gw sebagai pribadi bukan orang yang akan tersinggung karena statement-statement profokatif tapi sepele seperti itu, tapi apa semua orang seperti itu? komentar “yesalover aku ingin bunuh kamu dari F.P.I” membuktikan hal tersebut. diantara masyarakat indonesia masih ada golongan yang cara berpikirnya tidak sama dengan lo atau gw. bila masih ada golongan yang tersinggung sampai pada level bunuh-membunuh, berarti masih ada noda-noda dalam tulisan lo yang profokatif. padahal, apabila kita kembali ke pertanyaan lo yang diatas, justru orang seperti orang yang mau membunuh lo itulah tipe orang islam yang bisa menjawab pertanyaan lo, bukan orang islam yang seperti gw. apabila anda memang butuh jawaban, bertanyalah dengan menyesuaikan etika lo dengan orang yang sekiranya bisa memberikan jawab. kalau butuh jawaban dari orang tua, berdandan rapihlah dan bersikap manislah. kalau butuh jawaban dari preman, berdandanlah ala berandal dan berikan mereka uang. lo bahkan terbukti ga ngerti apapun tentang riset sosial. butuh jawaban tapi ga ngerti cara nanyanya. sampai kapanpun orang berkomentar atas tulisan lo yang diatas, yang akan ada hanyalah makian, pujian, dan beberapa jawaban yang tidak memuaskan.
itu kalau lo emang butuh jawaban seperti yang lo koar-koarkan dari awal. tapi kalau lo cuma pengen ngehina-hina si saran gw cuma satu. ati-ati. agama tuh kasus sensitif. misalkan lo ga punya maksud ngehina aja ada yang mau bunuh. orang yang gw katakan sebagai ‘islam radikal’ ada banyak dan hidup di sekitar kita. lo anak kuliah pula, institusi yang sangat pluralitasnya sangat tinggi. gw yakin adalah lebih dari 50 orang di itb yang menanggap bahwa lo adalah ‘bajingan yang patut mati dan masuk neraka’. ini saran dari gw, bukan ancaman atau hal sejenis.
KETIGA
terlalu banyak perbedaan antara karakter diri lo yang tersirat dalam tulisan lo dengan karakter diri lo yang lo gembar-gemborkan. lo menggembar-gemborkan kebebasan berpendapat dan berekspresi. sebagai contoh, lo sangat menekankan bahwa lo ga pernah satu kali pun tersinggung kalau jesus digambar macem-macem atau apalah. ya tapi itu lo. kenapa ketika orang lain berpendapat bahwa menggambar Rasul adalah tindakan yang salah, lo menganggap pendapat mereka sebagai perilaku negatif? kalau lo menghargai perbedaan, hargai pendapat yang berbeda dari pendapat lo itu. jangan membanding-bandingkan dengan pendapat lo. cari tau kenapa mereka berpendapat seperti itu. kalau pendapat itu lo rasa baik dan memberi nilai tambah bagi lo, ambil dan pelajari. kalau ga, ya jangan. gampangnya seperti gini deh, gw ga peduli abang nasgor mau masak telor gw kayak gimana, entah dicampur, diceplok, atau didadar. ade gw cuma suka kalo didadar. gw pernah nanya ke dia kenapa dia kayak gitu, tapi sampai detik ini gw ga pernah protes. oke, levelnya nasgor dan telor, tapi tetap saja pada akhirnya prinsip inilah yang terbaik untuk diaplikasikan pada kasus ini.
yah pada akhirnya ‘kekecewaan seorang penulis terhadap penulis lain yang berbakat namun hanya berpikir dari satu perspektif dan satu level” hanya sampai disini. gw bukan seorang penulis yang jenius atau sempurna, tapi gw ngerasa lo belom waktunya membuat tulisan seperti yang telah lo tulis. waktu disini sekali lagi bukan masalh umur, tapi ilmu dan otak. argumen lo cetek. kejadian sosial yang skalanya luas ga pantes dibandingkan dengan perasaan atau cara berpikir pribadi. nulis tanpa riset dan hanya mengandalkan pendapat pribadi dan pengetahuan seadanya adalah dosa besar, gw bahkan ga melihat usaha lo untuk bahkan nengok dikit ke situs untuk riset kecil-kecilan macam wikipedia. baca, belajar, baru nulis. kalau udah baru otak lo siap untuk mensubmit tulisan seheboh ini..
asah ya otaknya
risyad tabattala said,
January 19, 2009 at 6:46 pm
-”Saya, sebagai orang yang mempunyai KTP dengan agama Kristen, tidak pernah merasa tersinggung jika ada karikatur tentang Yesus, atau pendapat-pendapat yang menyatakan Yesus bukan tuhan….”
trus kenapa?
apakah dengan anda tidak perduli kepada yesus kristus, jutaan umat kristiani lainnya juga tidak perduli dengan yesus kristus?tentu tidak kawan. apakah bila anda tidak menyukai es teh, otamatis seluruh mahasiswa itb menyukai teh juga?logika yang menuruy saya cukup sederhana sebetulnya. entah kenapa anda masih juga tidak mengerti.
-”Adakah alasan logis yang diberikan oleh muhammad atas pelarangannya menampilkan wajah gantengnya di media?…”
satu alasan terbaik yang bisa saya berikan: muhammad adalah seorang rasul dalam ajaran islam. islam sendiri melarang umatnya untuk membuat ilustrasi muhammad, dan umat islam yang MENCINTAI nabi muhammad sendiri tidak menghendaki akan adanya ilustrasi muhammad.titik,habis perkara.
ketika ada orang yang bahkan diluar islam dan tidak mengenal muhammad nekat membuat ilustrasi muhammad (apalagi ilustrasi tersebut sangat bertentangan dengan karakter muhammad yang sesungguhnya) sangat wajar bila umat islam bereaksi keras. itu reaksi yang wajar karena ilustrator tidak menghargai keyakinan mereka yang tidak menghendaki penggambaran visual dari muhammad. singkatnya kenapa pemuatan ilustrasi muhammad banyak ditentang?karena umat islam akan tersinggung bila hal itu terjadi.sungguh sesederhana itu. apakah hal itu kurang logis wahai orang yg merasa pintar?
ini bukan soal kebebasan dalam berekspresi. ini soal menghargai keyakinan orang lain. persoalan benar atau tidaknya keyakinan tersebut, itu bukan urusan anda. sepertinya anda belum memahami makna real dari toleransi.
kebanyakan bokep sih lo pantas otak ga jernih.hahahah
abdulkarim said,
January 20, 2009 at 5:10 pm
salam sejahtera buat saudaraku wijen pontus
anggap saja saya sms anda untuk sebuah diskusi, kemudian kita bertemu disebuah kafe,
pesan teh, dan makanan kecil. saya duduk di depan anda, saling senyum dan berjabat tangan. sedikit perkenalan, saya abdul karim, seorang manusia yg sering tersalah apalagi pelajar yg msh belajar. lalu saya keluarkan notebook kecil untuk mencatat bbrp poin dan pertanyaan penting.
sebelum diskusi saya mau bertanya, anda benar2 sedang mencari Tuhan ataukah hanya membuang waktu bermain kata2 dan menggoyang iman orang2? kalau memang mencari Tuhan saya harap saya bisa belajar dari yg sudah anda temukan dan sedikit berdiskusi dengan yg saya percayai. anda mengaku atheis tapi percaya pada ke-eksist-an Tuhan. hanya masih dalam pencarian, saya berharap anda mencari apa yang anda cari. benar kata anda, kebanyakan dari kita beragama karena dorongan orang tua dan lingkungan. Dalam sebuah hadist pun Nabi Muhammad saw pernah menyebutkan bahwa semua bayi itu fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan mereka Muslim, Nasrani, Majusi dll. Nabi Ibrahim As pun punya orang tua penyembah berhala tapi menolak karena buatan manusia, berpindah ke matahari tapi ia terbenam, kepada api tapi ia padam sampai akhirnya Tuhan kita (dalam bhs arab adalah Allah) memberinya petunjuk. karena pencariannya ia sampai pada tujuannya
karena melalui posting ini kita hanya bisa berkomunikasi 1 arah, maka saya akan mengomentari bbrp pernyataan di blog ini…saya g ngomentarin blognya karena tmn almamater saya haris pratama sudah menjawabnya dengan sangat baik, bahkan dari kacamata hukum, bukan dari kacamata islam. Memang, banyak dari pernyataan dan pertanyaan yg saudara wijen pontus ajukan belum bisa saya jawab. tapi ada beberapa yg ingin saya tanggapi.
Bismillah
saya ingin mengomentari pertanyaan yg anda tanyakan pada saudara ???
1 apa yg terjadi kalau ternyata keyakinan anda salah?
anda tentu menginginkan jawaban yg “keluar dari pondasi agama”. Menurut saya, manusialah yang tersalah, salah mengerti atau memaknai. anda pula khan yg menulis “Bagi saya, yang namanya tuhan, atau ajarannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan dan disingkirkan oleh manusia, sehingga Tuhan berikut ajarannya tidak perlu mendapatkan perlindungan dari manusia yang tidak sempurna.”
2 Mengapa anda yakin kalau keyakinan anda tidak salah?
Karena Kitab Suci yang masih saya pelajari memberi banyak bukti yang nanti dijelaskan pada jawaban pertanyaan ketiga
3 adakah sesuatu yg benar2 dapat dijadikan bukti atas keyakinan anda?
saya harap anda bersedia meluangkan sedikit waktu u/ sedikit mempelajari bbrp ayat yg mnrt saya adalah bukti dari kebenaran bahwa kitab suci yg saya yakini adalh benar datangnya dari Tuhan.
QS 96 al-Alaq ayat ke 2: kholaqol insaana min alaq. terjemahnya dalam bahasa indonesia yg menciptakan manusia dari segumpal darah (ada jg yg menterjemahkan sebagai segumpal daging). Tuhan memilih kata Alaq, bukan Damm yg artinya juga darah, juga bukan lahm yang artinya daging.. Tuhan memilih kata Alaq yg artinya “yang tertanam”…kalau anda kurang mengerti masalah biologi anda bs tanyakan kepada almamater saya Alvin pradana, saya rasa anda kenal dia. bahwa ovum yang telah dibuahi sperma (Zigot) akan dibawa ke rahim. setelah sampai di rahim, zigot tersebut akan tertanam pada dinding rahim dan berkembang menjadi bayi… apakah Muhammad SAW yg buta huruf memiliki ilmu sampai skala mikrobiologi seperti ini? Beliau hidup pada abad ke 6 masehi lho…u get the point
QS 23 alMu’minun ayat 14 yg terjemahan dalam bahasa indonesianya kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah lalu segumpal darah itu kami jadikan daging, segumpal daging itu kami jadikan tulang lalu kamu bungkus dengan daging lalu kami jadikan dy makhluk yg berbentuk lain. saya yakin tidak ada pakar biologi terlebih yg mendalami masalah embriologi tidak terkesan dengan ayat yg turun pada abad ke 6 masehi ini…penjelasannya begitu detil dan tepat bisakah anda jelaskan darimana Muhammad SAW yg buta huruf dan belumada mikroskop saat itu bs mengarang ayat tsb? benarkah islam buatan manusia?
4. Tuhan dalam definisi Anda itu tuhan yang semacam apa ? Apakah ia milik semua manusia ? Atau hanya milik segelintir orang ?
sudah dijawab bagus sekali oleh saudara ???
Bagaimana mungkin tuhan -yang katanya menciptakan seluruh manusia- terkotak-kotak hingga tiap golongan manusia mendefinisikan tuhannya sendiri. Tetapi, kalau memang tuhan itu universal, bagaimana mungkin hanya sebagian orang yang meyakininya, sedangkan golongan lain juga meyakini tuhan yang berbeda ? Apa benar memang tuhan itu ada banyak ? tuhan milik golongan A, B, C, dll ?Katanya tuhan itu esa ? Esa menurut golongan tertentu ? Berarti kalau begitu, tuhan itu relatif ? dst
Pertanyaan anda sudah anda jawab sendiri, “Bagi saya, yang namanya tuhan, atau ajarannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan dan disingkirkan oleh manusia, sehingga Tuhan berikut ajarannya tidak perlu mendapatkan perlindungan dari manusia yang tidak sempurna.” Apakah kalau saya mengatakan bahwa anda kalau tidur suka mengigau maka anda benar2 mengigau? Padahal saya belum benar2 kenal dengan anda, kita sama2 sedang mengenali Tuhan
5. Saya tidak mengerti dengan kalimat Anda yang mengatakan jika saya diperbudak oleh pemikiran saya sendiri. Mungkin benar. Tetapi, bukankah Anda juga mengalami hal yang sama dengan saya ? Hanya saja, Anda diperbudak oleh pemikiran agama. At least, banyak orang yang pemikirannya dibutakan oleh agama dan intrepetasinya sendiri terhadap ajaran agama tersebut.
Jadi anda meminta saya berpikir tidak dengan kacamata islam. Beberapa yg saya coba adalah dari kacamata sains, bagaimana 2 ayat diatas dan masih bnyk ayat yg lain dapat menjelaskan hal ilmiah ketika belum ada disiplin ilmu yg mengkaji hal tersebut.
Saya harap anda bersedia mendiskusikan bbrp hal yg anda ragukan dan yakini mengenai ketuhanan agar saya bisa belajar dari yg telah anda temukan dan kita saling berbagi. Anda bias kirimi saya imel, saya tidak akan melayani anda chatting karena hal2 yg ingin anda sampaikan pada saya dan sebaliknya akan jauh lebih mudah tersampaikan melalui surat daripada chatting.
Abdul_karim_amrulloh@yahoo.com
iyan said,
January 20, 2009 at 7:06 pm
Saya heran, mengapa kebebasan itu selalu dihalangi oleh dogma-dogma murahan agama ? Mengapa wajah dari muhammad itu tidak boleh ditampilkan ? tuhankah dia ? atau jangan-jangan jika wajahnya ditampilkan, maka akan membakar mata tiap orang yang melihatnya. Sial, karena kebebasan berekspresi di negara ini selalu dibatasi oleh agama (islam terutama)
melihat potongan statement diatas, penulisnya jelas bukan orang yg faham dan menghargai agama. atau mungkin saja dia faham tapi bukan untuk di imani,malah dibuat bahan olok-olokan(liat kaliamat atau jangan-jangan jika wajahnya ditampilkan, maka akan membakar mata tiap orang yang melihatnya) penulis benar2 penganut faham kebebasan tanpa batas.dia menyebut dogma-dogma agama dengan kata2 murahan seperti murahannya para pelacur yg menjajakan kehormatanya dipinggir jalan. dia begitu bebas bertanya2 ttg Nabi Muhammad.
sejarah selalu terjadi berulang-ulang. dulu Nabi muhammmad dihujat, dilempari batu oleh kafir Quraisy. dan sekarang pun kejadian-kejadian tersebut terulang dengan hinaan dan cercaan dalam format yg berbeda, itulah prilaku orang2 yg tidak beriman. kita hanya bisa mendoakan mereka agar mendapat hidayah dr Allah SWT.
imul assiddiqi said,
January 20, 2009 at 7:20 pm
kebenaran hakiki adalah kebenaran yang membenarkan kebenaran dan sesuai dengan fihtrah manusia
Alfi Nurcahyo said,
January 21, 2009 at 5:22 am
terima kasih bung Joni Pamungkas.
apakah bung Joni (a.k.a risyad tabattala) mempunyai waktu untuk berdiskusi dengan saya.
akan saya suguhkan teh dan makanan kecil.
back to topic:
sangat setuju dengan bung abdulkarim.
well written.
sangat berisi, mencerminkan pribadi yang telah bercape-lelah menimba ilmu di negeri seberang dekat perbatasan Gaza.
bung wijen, mungkin dapat membahasnya dengan saudara abdulkarim lewat imel nya.
teman2 almamaterku ternyata orang hebat. saya baru menyadarinya.
Smokin' Buddy said,
January 21, 2009 at 10:36 am
Langsung aja bung.
Kebebasan berekspresi memang boleh, dalam agama Islam pun hal itu tidak dipungkiri lagi. Namun, kebebasan itu juga ada batasnya. Saya tekankan bahwa kebebasan berekspresi itu tidak dibatasi oleh dogma agama namun dibatasi noma-norma yang ada. Kalo dari sudut pandang keimanan, karikatur nabi-nabi atau orang-orang yg dianggap suci dlm islam itu tidak dieksperesikan karena ditakutkan akan menyebabkan sebuah pengkultusan yang berlebihan (anggapan bahwa mereka itu setara dengan tuhan) terhadap orang-orang tersebut. Islam tidak mengajarkan adanya penyembahan atau pengkultusan yg berlebihan kepada selain ALLAH, Tuhan semesta alam. Itulah salah satu alasannya, bukan karena ada kecacatan atau apa pun.
Menganiaya orang lain adalah salah satu bentuk ekspresi. Jika ada yg menganiaya anda dan keluarga anda, maka anda tidak boleh protes karena itu adalah salah satu bentuk kebebasan berekspresi yg tidak dibatasi oleh norma apa pun (sama halnya dengan statement anda di atas & pembuatan karikatur nabi Muhammad SAW). Rasional bukan (menurut cara pikir anda)?! Jika anda pikir hal tersebut tidak rasional & logis, maka begitu pula dengan statement anda di atas karena pada hakikatnya itu adalah hal yang sama.
Saya sarankan kepada anda, sebelum anda melakukan kritikan atau tuduhan terhadap seseorang, agama, atau apa pun, alangkah baiknya jika anda mengkaji dahulu, jangan langsung ceplas-ceplos aja tanpa rasionalitas yang ada karena menurut saya yg tidak rasional itu anda bung!
Masalah anda tidak mengakui adanya Tuhan, saya tidak peduli karena toh yg akan menyesal di akhir anda juga. Untuk anda renungkan, siapa yg menciptakan alam semesta ini??? Tidak mungkin hal tersebut ada begitu saja tanpa ada yg menciptakannya. Ingat, dogma agama itu sesungguhnya rasional tapi hanya akal manusia saja (termasuk akal anda bung!) yg tidak mampu memahaminya secara sempurna & rasional karena tidak ada manusia yg sempurna & kita ini diciptakan dengan akal yg terbatas.
Dilihat dari sudut pandang mana pun, statement anda itu kurang rasional & logis. Hanya orang-orang yang kurang berakal sehat saja yg bisa mengeluarkan statement seperti itu.
Lakum Dinukum Waliyadin…
adam said,
January 21, 2009 at 3:55 pm
Otong, anda komentarnya terlalu merefleksikan dua hal utama
1. HATRED anda.
2. TIDAK PROPORSIONAL untuk komentar seorang pure non-believer.
sebenarnya pertanyaan2 anda mengenai tidak bolehnya kartun itu jelas-jelas karena menghina, dan selain itu dogma dalam islam semuanya EXPLAINABLE, kenapa tak boleh bergambar? karena tentu saja sederhananya tidak ada yang pernah melihat nabi Muhammad, selain itu, dengan bervariasinya imaji seseorang akan sosok Muhammad, tentu banyak mengundang kontroversi. itu saja alasan utamanya.
MENURUT SAYA ANDA CUMA SEORANG KRISTEN YANG KEMUDIAN MENCACI-MAKI ISLAM DENGAN HAL-HAL YANG SUBSTANSINYA GAK ADA. KEMUDIAN MENGAKU ATHEIS.
KALO MAU MEMBANDINGKAN MISALNYA DENGAN KRISTEN, ADA HAL SANGAT MENGGELIKAN DALAM KRISTEN : ANDA MUSTINYA HARUS TAU KALO JESUS SECARA “GOTONG ROYONG” DIANGKAT JADI TUHAN SETELAH SEKIAN LAMA ISA DIANGKAT KE LANGIT (DALAM ISLAM YANG DIBUNUH ITU ADALAH JUDAS).
BANYAK HAL LAIN YANG HARUS ANDA DALAMI DAN KRITISI, TERUTAMA AGAMA ANDA SENDIRI. KENAPA NABI MUHAMMAD JADI LIFETIME PEOPLE DI MAJALAH TIME. PENILAINYA JUGA BUKAN ORANG ISLAM (MEREKA MELIHAT DARI ASPEK HUMANIS, PSIKOLOGIS, DLL)….
KENAPA ISLAM BERKEMBANG PESAT DI TENGAH MASYARAKAT “RASIONAL” EDOPA ??????
ANDA CUMA CEMBURU DENGAN INI SEMUA DAN AKHIRNYA MENYERANG ISLAM SECARA SPORADIS TAK BERDASAR.
>>>>>>kami orang islam DILARANG OLEH NABI KAMI MUHAMMAD UNTUK MENHYERANG AGAMA LAIN, KARENA MEREKA AKAN KEMBALI MENYERANG KAMI (al-hadist *intinya gt deh)
tapi saya kini harus berbuat dosa dengan membalas anda.
abdulkarim said,
January 21, 2009 at 11:14 pm
mohon maaf, ad kesalahan hadis pada tulisan saya karena saya sebutkan secara tersirat.yg tepatnya adalah setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yg menjadikan mereka yahudi, nasrani atau majusi. dan kata alaq ada yg menafsirkan sebagai yg menggantung….bisa ditanyakan kepada saudara alvin kembali bahwa bentuk bayi dalam rahim pun tergantung pd tali pusar kalau tidak salah
i'm moslem and i'm proud of it said,
January 22, 2009 at 4:44 am
sangat naif kalo anda dan siapapun yg menganggap bahwa konsep keimanan atas diri seseorang ialah dapat dipahami hanya berdasarkan rasio dan bentang pikir wawasan mahluk rendah seperti kita manusia. sebab itu adalah hal yg hakiki dan secara fitrah menyertai manusia sejak kali pertama ia menghirup udara kehidupan. jangan pernah bermimpi dapat menganalisa secara logis kadar keimanan seseorang, itu adalah hubungan vertikal antara individu terhadap Tuhannya, dengan didasari oleh latar belakang dan motivasi yg berbeda2. tidak ada yg dpt memaksa manusia untuk mengingkari fitrahnya, baik orang tua, lingkungan, negara, bahkan hukum sekalipun. suatu contoh, seorang anak yg lahir dlingkungan agama Nasrani apakah dia dapat dipastikan tetap berkeyakinan teguh thdp keimanannya? bgitu jg thd keyakinan2 yg lain, hindu, buddha, majusi, islam, bhkan penganut okultisme atau pemuja setan sekalipun, apa yg mendasari mereka mengambil jalan hidupnya? yaitu fitrah mereka sebagai manusia yg secara hakiki menghamba pada suatu Dzat, karena apa? mereka sadar bahwa ada kekuatan lain yang MAHADAHSYAT MAHAPERKASA MAHAKUASA atas diri mereka. mgkn beberapa dari kita ada yang tidak mengakui adanya kekuatan tersebut, atau bahkan menyangkalnya, atau bahkan menghujatnya, atau bahkan dgn konyol dan sangat lucu berusaha menyaingi dan berfikir seperti-Nya, dapatkah kita bertanya? setangguh apakah kita? dibakar kita hangus, ditenggelamkan kita basah dan mati, dijatuhkan kita hancur berkeping2, bahkan hanya dgn berpikir pun kita bisa gila, apakah memang mahluk seperti itu yang diharapkan bisa bertanggung jawab atas seluruh sistem alam semesta baik secara fisik maupun gaib (bagi yg percaya bhw alam gaib ialah ada).
tidak perlulah kita membanding2kan dasar hukum swt keyakinan dgn keyakinan lain, ckp kita pahami, yakini dan amalkan sendiri. Tidak perlulah kita mengusik konsep keyakinan agama satu dgn yg lain, masalah resiko, masalah pasti dan tidak pastinya surga neraka, namun satu hal yang harus kita pahami, setiap keyakinan baik islam, nasrani, penyembah api, buddha, dan lain sebagainya, punya kode etika sendiri, punya batasan2 norma yg tidak boleh siapapun melanggarnya. bagi kami, Rasulullah Muhammad SAW ialah panutan, dalam hal keimanan dan perilakunya didunia, bagi kami ia terlalu mulia untuk kami gambarkan secara fisik sehingga cukup kami hanya mengenang dan meneladaninya, tapi kami sekalipun tidak akan MENYEMBAHNYA karena tetap ia adalah seorang manusia biasa. hal itu adala etika dan norma keyakinan kami, dan tidak ada satu hal pun yg bersifat permisif untuk dapat menggeser atau merubah etika tersebut, apalagi mengkritisi/membanding2kanny dengan konsep “open-mind”, keluar dari dogma, norma2 yang mengekang, dan segala hal. tolong anda sebagai mahluk yang berakal (dan mgkn ber-hati, krn sbgn kita manusia sudah tidak lagi memiliki hati)
HORMATI ETIKA KAMI-sebagai harga mati.
silahkan anda dan mereka2 yang sepemikiran dgn anda memilih jalan anda sendiri, dan biarkan kami memilih keyakinan dan ber etika sesuai keyakinan kami. Keyakinan kami tidak pernah mengajarkan/menganjurkan untuk mencari ribut, tapi apapun hal yang menistakan maupun menghujat atas keyakinan kami, yakinlah bahwa semua umatnya baik dari pemuka agama hingga pemadat sekalipun akan berdiri di baris terdepan bahkan rela memberikan nyawanya untuk membela keyakinan yg mereka pegang teguh, kami tidak akan pernah tinggal diam menyaksikan landasan fitrah kami diludahi oleh orang lain.
jangan anda mulai berpikir tentang logika, filsafat, historis dan apapun sisi yang anda kaitkan. Karena kami yakin bahwa apa yg kami anut ialah benar.
jika ada dari anda atau siapapun yang merasa tersinggung maupun geram thd tulisan ini, saya akan ada di:
Rahmat R.K
Jl. Kaliwaru I/28 Surabaya
yesalover said,
January 22, 2009 at 2:46 pm
font face=”Times New Roman”>gw islam. tapi gw orang yang cenderung ignorant untuk masalah pertikaian agama atau apapun yang dibahas disini. ada kesalahan2 kecil dari tulisan lo, yang gw nilai di komen ini tanpa ada motif ketersinggunggan secara agama dan gw paparkan hanya sebagai bentuk ‘kekecewaan seorang penulis terhadap penulis lain yang berbakat namun hanya berpikir dari satu perspektif dan satu level” PERTAMA di satu sisi gw setuju sama pernyataan lo. kebebasan berekspresi harus dijunjung. gw setuju sama hal ini. tapi inget mas, hak asasi ada batasnya. semua hak ada batasnya, kecuali hak untuk hidup. itu satu2nya yang diperbolehkan untuk dituntut setinggi-tingginya dalam ICCPR (internasional convention on civil and political rights). perlu waktu yang lama untuk memahami prinsip-prinsip hak asasi dan gw bukan seorang dosen pintar yang bisa menjelaskan dalam waktu singkat ke lo. namun secara garis besar prinsip HAM itu adalah: hak seseorang boleh dituntut setinggi-tingginya, namun akan gugur apabila hak tersebut merugikan pihak lain. dan dalam kasus yang lo bawa: hak sang ilustrator untuk mempublikasikan gambar ciptaannya akan gugur apabila ada pihak yang berpikir bahwa “gambar ini melecehkan saya/melecehkan agama saya”. hal ini bahkan berlaku ketika hanya satu orang anak kecil yang tersinggung.Tanggapan : Kalau HAM itu didefinisikan seperti itu, bagaimana dengan rasa tidak suka seseorang terhadap suatu hal ? Bukankah itu merugikan untuk orang tersebut ? Sangat subjektif menurut saya. dengan prinsip tersebut, larangan untuk publikasi gambar tersebut adalah tindakan yang sepenuhnya tepat. dan TOLONG jangan mempertanyakan atau memperdebatkan masalah pelarangan ini. karena lo bahkan belum mengkaji dan mengerti mengenai masalah pembatasan hak asasi, tapi sudah berani berkoar-koar mengenai pembatasan kebebasan berekspresi. Tanggapan : Berarti negara pencipta HAM dunia juga belum mengerti sepenuhnya bukan ? Anda tentu tahu maksud saya, karena mayoritas negara cikal bakal HAM tidak terlalu mempermasalahkan ini (tentu masih diproses secara hukum, tetapi tidak akan dibunuh atau diancam dibunuh seperti di negara lain). kebijakan ini merupakan buah pemikiran dari praktisi dan pakar internasional, yang dikumpulkan dari berbagai disiplin ilmu dan dirumuskan setelah perdebatan panjang. sedangkan lo masih terlalu muda ratusan tahun untuk sekedar nunjuk tangan dalam perdebatan masalah ini. muda di sini bukan masalah umur, tapi cara berpikir. oke lo bukan anak politik atau hukum, tapi gw ga liat effort untuk riset sama sekali. lo bahkan bertanya “lho koq bisa menjustifikasi jika foto yang beredar selama ini adalah fotonya ?”. menurut gw ini adalah tindakan mempermalukan diri sendiri, dimana seseorang dengan entengnya mengatakan bahwa ada tulisan yang secara lugas mengatakan bahwa itu gambar Rasul. hal ini membuktikan lo sudah berkomentar sebelum mengetahui detail-detail dari gambar yang menjadi perdebatan. cuma asal berpendapat cas-cis-cus. sekali lagi, hanya satu sudut pandang dan satu level berpikir. lo penulis berbakat, tapi kalau hal ini tidak diperbaiki, lo hanya akan jadi penulis kelas blog atau diary. inget, tulisan kontroversial bisa masuk koran atau media besar lain, asal cerdas. Tanggapan : Trims infonya, karena sewaktu saya membuka blog ini, sudah tidak ada satupun tulisan yang menyebutkan itu adalah foto Muhammad. Mungkin pada awalnya, blog itu menampilkan kata Muhammad. Maaf atas kelalaian saya. KEDUA gw memperhatikan bahwa lo selanjutnya pengen nanya “kenapa gambar gitu doang menyinggung?” nah disini gw bingung stance lo apa. pengen nanya ke orang islam atau memanas-manasi orang islam. Tanggapan : Saya hanya menginginkan orang-orang seperti Anda dapat berpikir seperti bung Halida. Jawaban yang netral seperti itu yang saya harapkan. kalau pengen nanya mengenai mengapa hal seperti gambar karikatur seperti itu membuat orang islam tersindir, jangan lo gunakan kata-kata yang offensive. “membakar mata tiap orang yang melihatnya” memberi kesan bahwa umat islam secara general merupakan golongan yang tak terdidik dan percaya hal-hal mistis. mungkin bukan itu yang lo maksud, tapi itu yang gw tangkep. selain kesalahan pengintepretasian maksud tulisan karena salah membaca atau tidak membaca tulisan secara lengkap, gw percaya bahwa salah intepretasi 100% salah penulis yang belum bisa menulis dengan bahasa yang komunikatif. kembali ke masalah tadi, gw sebagai pribadi bukan orang yang akan tersinggung karena statement-statement profokatif tapi sepele seperti itu, tapi apa semua orang seperti itu? komentar “yesalover aku ingin bunuh kamu dari F.P.I” membuktikan hal tersebut. diantara masyarakat indonesia masih ada golongan yang cara berpikirnya tidak sama dengan lo atau gw. bila masih ada golongan yang tersinggung sampai pada level bunuh-membunuh, berarti masih ada noda-noda dalam tulisan lo yang profokatif. padahal, apabila kita kembali ke pertanyaan lo yang diatas, justru orang seperti orang yang mau membunuh lo itulah tipe orang islam yang bisa menjawab pertanyaan lo, bukan orang islam yang seperti gw. apabila anda memang butuh jawaban, bertanyalah dengan menyesuaikan etika lo dengan orang yang sekiranya bisa memberikan jawab. kalau butuh jawaban dari orang tua, berdandan rapihlah dan bersikap manislah. kalau butuh jawaban dari preman, berdandanlah ala berandal dan berikan mereka uang. lo bahkan terbukti ga ngerti apapun tentang riset sosial. butuh jawaban tapi ga ngerti cara nanyanya. sampai kapanpun orang berkomentar atas tulisan lo yang diatas, yang akan ada hanyalah makian, pujian, dan beberapa jawaban yang tidakmemuaskan.Tanggapan : Terima kasih atas masukannya, memang saat saya menulis, masih sangat terpengaruh emosi kekecewaan saya, tetapi saya sudah memperbaikinya dalam esai singkat saya tentang agama (Substansi Representative Di Balik Simbol Religiusitas I (Pendahuluan) ). Dan bahkan, ketika saya menanggapi komentar-komentar pembaca yang lain, saya sudah bersikap lebih santun. Saya memang sengaja tidak mengedit tulisan saya, karena saya memang ingin mengetahui seberapa dangkal pemikiran orang Indonesia kebanyakan, yang menanggapi suatu hal tidak dengan pemikiran jernih. Tetapi, sekali lagi, saya minta maaf, karena memang pada kenyataannya, masih banyak orang yang tidak dapat berpikir jernih. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saya, mengapa di Indonesia sering terjadi konflik. Ketika satu orang berada dalam keadaan emosi, pihak lain malah menanggapi pula dengan emosi… itu kalau lo emang butuh jawaban seperti yang lo koar-koarkan dari awal. tapi kalau lo cuma pengen ngehina-hina si saran gw cuma satu. ati-ati. agama tuh kasus sensitif. misalkan lo ga punya maksud ngehina aja ada yang mau bunuh. orang yang gw katakan sebagai ‘islam radikal’ ada banyak dan hidup di sekitar kita. lo anak kuliah pula, institusi yang sangat pluralitasnya sangat tinggi. gw yakin adalah lebih dari 50 orang di itb yang menanggap bahwa lo adalah ‘bajingan yang patut mati dan masuk neraka’. ini saran dari gw, bukan ancaman atau hal sejenis. Tanggapan : Saya bersyukur sampai sekarang belum mendapat ancaman dari pihak kampus. KETIGA terlalu banyak perbedaan antara karakter diri lo yang tersirat dalam tulisan lo dengan karakter diri lo yang lo gembar-gemborkan. lo menggembar-gemborkan kebebasan berpendapat dan berekspresi. sebagai contoh, lo sangat menekankan bahwa lo ga pernah satu kali pun tersinggung kalau jesus digambar macem-macem atau apalah. ya tapi itu lo. kenapa ketika orang lain berpendapat bahwa menggambar Rasul adalah tindakan yang salah, lo menganggap pendapat mereka sebagai perilaku negatif? kalau lo menghargai perbedaan, hargai pendapat yang berbeda dari pendapat lo itu. Tanggapan : Bertanya bukan berarti tidak menghargai pendapat orang lain. Anda telah salah mengintrepretasikan kalimat saya. Kalau saya tidak menghargai pendapat orang lain, lantas mengapa pendapat-pendapat orang semacam Anda masih ada di blog saya ? Saya dapat dengan mudah menghapusnya. jangan membanding-bandingkan dengan pendapat lo. cari tau kenapa mereka berpendapat seperti itu. Tanggapan : Tidak ada satupun hal di dunia ini yang dapat menilai sesuatu untuk mencari yang lebih baik tanpa membandingkan. Kalau ini salah, mungkin Anda bisa membantu untuk memberikan contoh ? kalau pendapat itu lo rasa baik dan memberi nilai tambah bagi lo, ambil dan pelajari. kalau ga, ya jangan. gampangnya seperti gini deh, gw ga peduli abang nasgor mau masak telor gw kayak gimana, entah dicampur, diceplok, atau didadar. ade gw cuma suka kalo didadar. gw pernah nanya ke dia kenapa dia kayak gitu, tapi sampai detik ini gw ga pernah protes. Tanggapan : Lagi-lagi Anda salah persepsi, saya hanya bertanya, tidak protes. Toh, ketika jawaban telah saya peroleh (dari Sdr. Halida, dan yang lain), saya juga terima. oke, levelnya nasgor dan telor, tapi tetap saja pada akhirnya prinsip inilah yang terbaik untuk diaplikasikan pada kasus ini. yah pada akhirnya ‘kekecewaan seorang penulis terhadap penulis lain yang berbakat namun hanya berpikir dari satu perspektif dan satu level” hanya sampai disini. gw bukan seorang penulis yang jenius atau sempurna, tapi gw ngerasa lo belom waktunya membuat tulisan seperti yang telah lo tulis. waktu disini sekali lagi bukan masalh umur, tapi ilmu dan otak. argumen lo cetek. kejadian sosial yang skalanya luas ga pantes dibandingkan dengan perasaan atau cara berpikir pribadi. nulis tanpa riset dan hanya mengandalkan pendapat pribadi dan pengetahuan seadanya adalah dosa besar, gw bahkan ga melihat usaha lo untuk bahkan nengok dikit ke situs untuk riset kecil-kecilan macam wikipedia. baca, belajar, baru nulis. kalau udah baru otak lo siap untuk mensubmit tulisan seheboh ini..Tanggapan : Mohon Anda membaca sedikit esai saya yang lain, yang berada pada kategori “Filsafat dan Gaya Hidup”. Seperti yang Anda tahu, tulisan ini saya masukkan dalam kategori “Berita Kontroversial”. Tentu saja, nilai dan gaya bahasanya sedikit berbeda. asah ya otaknya. Tanggapan : Mungkin Anda bisa menuliskan satu contoh tulisan Anda sendiri yang menurut Anda lebih cerdas dari saya ?
yesalover said,
January 22, 2009 at 3:00 pm
risyad tabattala said, January 19, 2009 at 6:46 pm -”Saya, sebagai orang yang mempunyai KTP dengan agama Kristen, tidak pernah merasa tersinggung jika ada karikatur tentang Yesus, atau pendapat-pendapat yang menyatakan Yesus bukan tuhan….”
trus kenapa?
apakah dengan anda tidak perduli kepada yesus kristus, jutaan umat kristiani lainnya juga tidak perduli dengan yesus kristus?tentu tidak kawan. apakah bila anda tidak menyukai es teh, otamatis seluruh mahasiswa itb menyukai teh juga?logika yang menuruy saya cukup sederhana sebetulnya. entah kenapa anda masih juga tidak mengerti. Tanggapan : Jelas betul, apa yang menurut saya benar, belum tentu orang lain menganggap benar pula. Anda jangan memotong tulisan saya setengah-setengah. Apakah Anda masih belum jelas juga jika yang ingin saya ketahui adalah alasan “mereka yang menyukai teh” ? -”Adakah alasan logis yang diberikan oleh muhammad atas pelarangannya menampilkan wajah gantengnya di media?…”
satu alasan terbaik yang bisa saya berikan: muhammad adalah seorang rasul dalam ajaran islam. islam sendiri melarang umatnya untuk membuat ilustrasi muhammad, dan umat islam yang MENCINTAI nabi muhammad sendiri tidak menghendaki akan adanya ilustrasi muhammad.titik,habis perkara.
ketika ada orang yang bahkan diluar islam dan tidak mengenal muhammad nekat membuat ilustrasi muhammad (apalagi ilustrasi tersebut sangat bertentangan dengan karakter muhammad yang sesungguhnya) sangat wajar bila umat islam bereaksi keras. itu reaksi yang wajar karena ilustrator tidak menghargai keyakinan mereka yang tidak menghendaki penggambaran visual dari muhammad. singkatnya kenapa pemuatan ilustrasi muhammad banyak ditentang?karena umat islam akan tersinggung bila hal itu terjadi.sungguh sesederhana itu. apakah hal itu kurang logis wahai orang yg merasa pintar? Tanggapan : Bukankah saya sudah katakan jika jawaban itu sudah saya peroleh melalui pernyataan saudara Halida ? Apakah hal itu kurang wahai orang yang mengatakan saya merasa pintar ? Eniwei, saya berterima kasih atas jawaban Anda ini. ini bukan soal kebebasan dalam berekspresi. ini soal menghargai keyakinan orang lain. persoalan benar atau tidaknya keyakinan tersebut, itu bukan urusan anda. sepertinya anda belum memahami makna real dari toleransi. Tanggapan : Silakan Anda tanyakan orang yang mengenal saya dan bergaul dengan saya sehari-hari, apakah saya kurang toleran ? Menghargai keyakinan orang lain bukan berarti tidak boleh untuk mempertanyakannya bukan ? kebanyakan bokep sih lo pantas otak ga jernih.hahahaha. abdulkarim said, January 20, 2009 at 5:10 pm salam sejahtera buat saudaraku wijen pontus anggap saja saya sms anda untuk sebuah diskusi, kemudian kita bertemu disebuah kafe,
pesan teh, dan makanan kecil. saya duduk di depan anda, saling senyum dan berjabat tangan. sedikit perkenalan, saya abdul karim, seorang manusia yg sering tersalah apalagi pelajar yg msh belajar. lalu saya keluarkan notebook kecil untuk mencatat bbrp poin dan pertanyaan penting. sebelum diskusi saya mau bertanya, anda benar2 sedang mencari Tuhan ataukah hanya membuang waktu bermain kata2 dan menggoyang iman orang2? kalau memang mencari Tuhan saya harap saya bisa belajar dari yg sudah anda temukan dan sedikit berdiskusi dengan yg saya percayai. anda mengaku atheis tapi percaya pada ke-eksist-an Tuhan. hanya masih dalam pencarian, saya berharap anda mencari apa yang anda cari. benar kata anda, kebanyakan dari kita beragama karena dorongan orang tua dan lingkungan. Dalam sebuah hadist pun Nabi Muhammad saw pernah menyebutkan bahwa semua bayi itu fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan mereka Muslim, Nasrani, Majusi dll. Nabi Ibrahim As pun punya orang tua penyembah berhala tapi menolak karena buatan manusia, berpindah ke matahari tapi ia terbenam, kepada api tapi ia padam sampai akhirnya Tuhan kita (dalam bhs arab adalah Allah) memberinya petunjuk. karena pencariannya ia sampai pada tujuannya karena melalui posting ini kita hanya bisa berkomunikasi 1 arah, maka saya akan mengomentari bbrp pernyataan di blog ini…saya g ngomentarin blognya karena tmn almamater saya haris pratama sudah menjawabnya dengan sangat baik, bahkan dari kacamata hukum, bukan dari kacamata islam. Memang, banyak dari pernyataan dan pertanyaan yg saudara wijen pontus ajukan belum bisa saya jawab. tapi ada beberapa yg ingin saya tanggapi. Bismillah saya ingin mengomentari pertanyaan yg anda tanyakan pada saudara ??? 1 apa yg terjadi kalau ternyata keyakinan anda salah?
anda tentu menginginkan jawaban yg “keluar dari pondasi agama”. Menurut saya, manusialah yang tersalah, salah mengerti atau memaknai. anda pula khan yg menulis “Bagi saya, yang namanya tuhan, atau ajarannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan dan disingkirkan oleh manusia, sehingga Tuhan berikut ajarannya tidak perlu mendapatkan perlindungan dari manusia yang tidak sempurna.” Tanggapan : Berdasarkan jawaban Anda, apakah tidak mungkin jika intrepretasi pemuka agama di dunia ini salah ? Selanjutnya, Anda bisa mengikuti alur berpikir saya selanjutnya. Karena saya cukup heran dengan kekerasan kepala banyak manusia yang menganggap ajaran agamanya mutlak benar, padahal mereka tidak memungkiri banyaknya peran manusia dalam penafsiran ajaran mereka. 2 Mengapa anda yakin kalau keyakinan anda tidak salah?
Karena Kitab Suci yang masih saya pelajari memberi banyak bukti yang nanti dijelaskan pada jawaban pertanyaan ketiga 3 adakah sesuatu yg benar2 dapat dijadikan bukti atas keyakinan anda?
saya harap anda bersedia meluangkan sedikit waktu u/ sedikit mempelajari bbrp ayat yg mnrt saya adalah bukti dari kebenaran bahwa kitab suci yg saya yakini adalh benar datangnya dari Tuhan. QS 96 al-Alaq ayat ke 2: kholaqol insaana min alaq. terjemahnya dalam bahasa indonesia yg menciptakan manusia dari segumpal darah (ada jg yg menterjemahkan sebagai segumpal daging). Tuhan memilih kata Alaq, bukan Damm yg artinya juga darah, juga bukan lahm yang artinya daging.. Tuhan memilih kata Alaq yg artinya “yang tertanam”…kalau anda kurang mengerti masalah biologi anda bs tanyakan kepada almamater saya Alvin pradana, saya rasa anda kenal dia. bahwa ovum yang telah dibuahi sperma (Zigot) akan dibawa ke rahim. setelah sampai di rahim, zigot tersebut akan tertanam pada dinding rahim dan berkembang menjadi bayi… apakah Muhammad SAW yg buta huruf memiliki ilmu sampai skala mikrobiologi seperti ini? Beliau hidup pada abad ke 6 masehi lho…u get the point. QS 23 alMu’minun ayat 14 yg terjemahan dalam bahasa indonesianya kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah lalu segumpal darah itu kami jadikan daging, segumpal daging itu kami jadikan tulang lalu kamu bungkus dengan daging lalu kami jadikan dy makhluk yg berbentuk lain. saya yakin tidak ada pakar biologi terlebih yg mendalami masalah embriologi tidak terkesan dengan ayat yg turun pada abad ke 6 masehi ini…penjelasannya begitu detil dan tepat bisakah anda jelaskan darimana Muhammad SAW yg buta huruf dan belumada mikroskop saat itu bs mengarang ayat tsb? benarkah islam buatan manusia? Tanggapan : I’ve heard that before, many years ago. Mohon coba tanyakan ke teman-teman Anda yang beragama lain dan mendalami agamanya, apakah hal-hal berbau saintifik seperti itu tidak ada pada Kitabnya ? Saya tidak ingin menjawabnya, karena saya memang bukan orang ahli dalam bermacam-macam agama. 4. Tuhan dalam definisi Anda itu tuhan yang semacam apa ? Apakah ia milik semua manusia ? Atau hanya milik segelintir orang ?
sudah dijawab bagus sekali oleh saudara ??? Bagaimana mungkin tuhan -yang katanya menciptakan seluruh manusia- terkotak-kotak hingga tiap golongan manusia mendefinisikan tuhannya sendiri. Tetapi, kalau memang tuhan itu universal, bagaimana mungkin hanya sebagian orang yang meyakininya, sedangkan golongan lain juga meyakini tuhan yang berbeda ? Apa benar memang tuhan itu ada banyak ? tuhan milik golongan A, B, C, dll ?Katanya tuhan itu esa ? Esa menurut golongan tertentu ? Berarti kalau begitu, tuhan itu relatif ? dst
Pertanyaan anda sudah anda jawab sendiri, “Bagi saya, yang namanya tuhan, atau ajarannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan dan disingkirkan oleh manusia, sehingga Tuhan berikut ajarannya tidak perlu mendapatkan perlindungan dari manusia yang tidak sempurna.” Apakah kalau saya mengatakan bahwa anda kalau tidur suka mengigau maka anda benar2 mengigau? Padahal saya belum benar2 kenal dengan anda, kita sama2 sedang mengenali Tuhan. Tanggapan : Anda betul sekali, maka dari itu, karena kita sedang belajar mengenali tuhan, mengapa kita harus bersikeras kalau ajaran salah satu pihak yang paling benar ? Lalu, menutup pintu atas kebenaran pendapat orang lain. Bukankah itu yang sering orang lakukan Bung ? 5. Saya tidak mengerti dengan kalimat Anda yang mengatakan jika saya diperbudak oleh pemikiran saya sendiri. Mungkin benar. Tetapi, bukankah Anda juga mengalami hal yang sama dengan saya ? Hanya saja, Anda diperbudak oleh pemikiran agama. At least, banyak orang yang pemikirannya dibutakan oleh agama dan intrepetasinya sendiri terhadap ajaran agama tersebut.
Jadi anda meminta saya berpikir tidak dengan kacamata islam. Beberapa yg saya coba adalah dari kacamata sains, bagaimana 2 ayat diatas dan masih bnyk ayat yg lain dapat menjelaskan hal ilmiah ketika belum ada disiplin ilmu yg mengkaji hal tersebut. Saya harap anda bersedia mendiskusikan bbrp hal yg anda ragukan dan yakini mengenai ketuhanan agar saya bisa belajar dari yg telah anda temukan dan kita saling berbagi. Anda bias kirimi saya imel, saya tidak akan melayani anda chatting karena hal2 yg ingin anda sampaikan pada saya dan sebaliknya akan jauh lebih mudah tersampaikan melalui surat daripada chatting. Tanggapan : Baik Bung, nanti kalau saya sempat, saya akan berkirim email. Saya ingin tekankan, bagi saya amatlah konyol orang yang menganggap keyakinannya paling benar, sedangkan keyakinan orang lain adalah salah. Saya pun masih mencoba untuk tetap objektif, oleh karena itu, ketika terdapat pendapat orang lain dalam blog ini yang saya anggap lebih baik, saya tidak sungkan-sungkan untuk mengakuinya. Abdul_karim_amrulloh@yahoo.com Joni Pamungkas said, January 20, 2009 at 6:27 pm Alfi Nurcahyo, komentar Anda sangat tidak kreatif & seharusnya tidak usah berkomentar. Saya tahu Anda tampan, tapi bukan berarti Anda bisa seenaknya berkomentar. Lihat lah Saudara Haris, dia begitu serius menjabarkan komentarnya. Orang seperti Haris Pratama Loeis lah yg komentarnya kita butuhkan saat ini.
harispratama said,
January 22, 2009 at 5:02 pm
ckck begini saudara yesalover. kecerdasan itu tidak bisa dinilai dan dibandingkan. einstein menciptakan berbagai rumus yang spektakuler, sedangkan marco materazzi membawa italia merebut piala dunia. keduanya memiliki kecerdasan yang berbeda dan tidak bisa dibandingkan. banyak dari teman saya yang lebih mengagumi einstein, mungkin termasuk anda. tapi untuk saya pribadi, saya menganggap jasa materazzi lebih material bagi saya.
begitu pula dengan tulisan anda. saya menanggapnya tidak lebih dari racauan imaterial seorang pendosa. sedangkan saya menanggap tulisan saya sendiri adalah tulisan seorang pendosa yang sedang bosan meracau, dan karena itu menghasilkan tulisan yang cenderung material. apa anda mengerti mengenai konsep material/imaterial? bila belum, itu berarti anda belum membaca buku ‘the legal journalist’ karangan gregory allmond, shame on you..
saudara yesalover, nampaknya anda memiliki pola pikir yang terlalu sempit berkat paksaan untuk berpikir secara bebas. mengutip kata-kata haikal azizi, seorang pemikir sosiologi besar era orde baru, “orang yang berpikir lepas dari ranah agama akan menjadi pihak yang cenderung acuh tak acuh pada isu-isu yang menyangkut SARA, karena di indonesia merupakan negara yang masih pluralistik, bukan negara plural”. seperti yang kita tahu, haikal azizi dihukum mati berkat bukunya lalu digantikan kun maryati..
mengenai masalah HAM dan toleransi beragama, saya akan memberikan contoh dengan menceritakan kisah saya di masa lalu..
35 tahun yang lalu ketika saya kuliah di sebuah universitas negri di east hampshire, united kingdoms, saya berpapasan dengan para personil led zeppelin di depan studio rekaman headly grange. memang selama ini santer beredar rumor bahwa band kesayangan saya tersebut akan merekam studio album ke-6 mereka, physical grafitty. mungkin karena mereka melihat saya sebagai seorang indonesia, mereka memanggil saya dan bertanya,
“aren’t you a muslim?”
“yes, what’s wrong?”
“so what’s with the sideburn? nice one by the way.”
“it’s a long story, robert. it started way back in 1971, where i worked in a record store.”
“no, i mean aren’t you muslims just a bunch of bearded people? not that its wrong having a beard. but a kickass sideburn? wow, you’re way ahead of the pack.”
“we have a liberal way of thinking when it comes to shaping our facial hair”
“cool, and you work at a record store. nasheed?”
“nope. rock. by the way, your records gave us a fortune. there is this guy named steven hyde. he loves you guys”
“rock? wow. i thought it’s just nasheed for your ears.”
“that’s prejudice done cruelly”
“yeah sorry for that. i got a go man, later.”
lalu mereka pun pergi dan saya pun berteriak dengan sedikit nada,
“ROXANNE!”
mereka lalu berbalik badan dan salah satu dari mereka, saya lupa siapa, tersenyum dan berkata,
“that’s not our song dude”
saya tersipu dan berpikir, ternyata masih banyak stereotype-ing di dunia ini, namun alangkah indahnya jika mereka menjadi seperti led zeppelin. rocknroll dan penuh toleransi. mereka tetap mengajak saya berbicara meski tadinya mengira orang muslim adalah sekumpulan orang yang membosankan. tapi pada akhirnya mereka mengajak saya berbicara baik-baik, bahkan di kemudian hari kami pun berteman baik hingga john bonham meninggal. terakhir kami bertemu ialah pada saat mereka reuni di o2 arena pada akhir 2007 yang lalu.
cih tentu saja saya hanya membual dengan cerita di atas. dan pada kehidupan nyata saya masih mahasiswa berumur 20 tahun. tapi saya memberi bukti bahwa saya mengetahui dengan jelas apa saya bicarakan. tulisan yang penuh fakta meski fiktif..
btw, selamat. nampaknya blog anda sebentar lagi akan menjadi arena melawak para pendosa cendekia yang berpaham morgasme. yeah
saya cinta pak bon said,
January 22, 2009 at 5:29 pm
-Jelas betul, apa yang menurut saya benar, belum tentu orang lain menganggap benar pula. Anda jangan memotong tulisan saya setengah-setengah. Apakah Anda masih belum jelas juga jika yang ingin saya ketahui adalah alasan “mereka yang menyukai teh”
oke, jawaban sudah diberikan. akan sangat bodoh bila anda bertanya kembali, “apa alasan dibalik jawaban itu….?” karena kami akan menjawab sesuai dengan latar belakang kepercayaan kami yang kebetulan tidak anda percayai.
-Silakan Anda tanyakan orang yang mengenal saya dan bergaul dengan saya sehari-hari, apakah saya kurang toleran ? Menghargai keyakinan orang lain bukan berarti tidak boleh untuk mempertanyakannya bukan ?
hei moron, kalau begitu pasang pengumuman besar2 : “BAGI YANG INGIN BERKOMENTAR, WAJIB BERKENALAN LEBIH DAHULU DENGAN SAYA. TTD:YESALOVER aka WIJEN ELEKTRO 06″ di blog ini, agar org2 tau bagaimana sifat anda sebenarnya. kami bereaksi atas apa yg anda tulis, bukan bagaimana anda sebenarnya.
-Adakah alasan logis yang diberikan oleh muhammad atas pelarangannya menampilkan WAJAH GANTENGNYA di media ?
kata “WAJAH GANTENGNYA” disana mengandung majas sinisme, sedangkan anda (bahkan umat muslim sekalipun) sama sekali tidak mengetahui bagaimana wajah MUHAMMAD sesungguhnya. menurut hemat saya, anda sebaiknya berhati2 dalam mencela wajah orang lain, apalagi mencela wajah dari sosok yg dihormati org bnyk seperti muhammad. terlebih, seperti yang sudah dibilang sdr. saya cinta pak bon, anda tidak pantas mencela wajah orang lain karena wajah anda sendiri sangat biasa sekali. (majas eufemisme dari: wajah anda jelek)
saya ingin bertanya, apa maksut anda memberi tanda petik pada kata beragama pada jawaban anda untuk saudara halida di komen nomer 35?
jawaban mengenai kenapa umat muslim tidak berkenan atas adanya ilustrasi muhammad telah kami berikan, sesuai dengan keinginan anda. kalau anda orang yang fair, seharusnya anda sekarang bisa memaklumi atas reaksi umat muslim tsb. dan pemakluman itu seharusnya ditulis dalam sebuah pernyataan yang jelas.
itu kalau anda fair. kalo nggak ya berarti anda pengecut.ho ho ho ho
eldhianto said,
January 23, 2009 at 11:51 am
hi Yesa lover
saya sanga tertarik bagaimana anda berusaha berargumentasi mengenai fenomena penggambaran ilustrasi kartun muhammad dan anda sangat mendukungnya. Tetapi sebagai manusia yang beragama saya akan berusaha “berdiskusi” dengan anda.
Saya mengatakan berdiskusi karena saya tidak ingin berdebat kusir dengan anda. Yang saya inginkan adalah terbukanya perspektif anda untuk memandang dinamika bagaimana agama dipercayai oleh manusia. mari kita mulai mas
Cara saya membuka perspektif anda adalah dengan menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin dapat membuaka wacana berpikir saya
Pertanyaan: Orang2 beragama adalah orang2 berpikiran subjektif dan tidak logis?
jawaban saya: benar! pemikiran agama adalah sesuatu yang subjektif dan saya berani untuk memberikan justification mengapa hal itu dapat dibenarkan.
Premis pertama: agama itu subjektif. ya agama sangat subjektif karena bagaimana agama itu dijalankan oleh pemeluknya sangat dipengaruhi oleh bagaimana manusia menginterpretasikan agama. Di dalam agama bisa terjadi multiple interpretation. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sekte dan aliran di dalam agama. Contoh: islam memiliki sunni, syi’ah, ahmadiyah, dsb. Umat nasrani terbagi kedalam Katolik dan Protestan, belum termasuk sub-sub sekte didalamnya. Hindu mengenal Hinayana dan Mahayana (koreksi saya apabila salah)
apakah pemikiran manusia itu subjektif atau tidak itu tidaklah menjadi masalah. karena apa yang terpenting dari agama adalah mereka mengajarkan kebaikan dan umat manusia mengerjakannya. yang terpenting adalah bagaimana manusia mendapatkan manfaat dari pengamalan agama itu sendiri.
apabila ada argumentasi mengatakan ‘ah, orang yang punya agama juga melakukan maksiat2 aja tuh!” saya akan menjawab: agama itu dibuat untuk diamalkan ajarannya sehari. apabila manusia mengerjakan amalan2 yang dianjurkan agama setiap hari, niscaya ia tidak akan berbuat maksiat. analoginya adalah penggunaan sabun cair. mengapa kita mandi setiap hari? toh kita akan kotor2 aja kan? jawabannya tentu mandi dan sabun harus digunakan setiap hari, sama dengan ajaran agama yang harus diamalkan ssehari2 agar maksiat dapat dikurangi.
Oleh karena itu, saya rasa tidak bijak bila kita menyalahkan orang lain itu subjektif, karena bagaimana pun juga mereka tetap mendapatkan manfaat dari ajaran agama mereka. Kita seharusnya memberikan toleransi, bukan mengatai bahwa pemeluk agama adalah orang yang idiot dan subjektif. manusia adalah manusia yang penuh dengan subjektifitas. Dan saya rasa manusia yang mengagung2kan logika justru manusia yang berpekiran sempit yang bahkan lebih buruk dari manusia yang subjektif
korelasi dengan kartun muhammad? ada beberapa orang yang sangat subjektif (termasuk saya) bahwa muhammad adalah makhluk yang sangat sempurna dan berpendapat tidaklah pantas manusia lain yang penuh kecacatan berusaha memberikan gambaran seperti apa muhammad itu. keyakinan ini sangat subjektif karena saya hanya taken for granted kalau muhammad adalah manusia sempurna dari Alquran. Dan saya mendapatkan manfaat dari hal itu
(tulisan akan dilanjutkan untuk menjawab Mengapa agama itu tidak logis dan itu “dibenarkan”,
saya terburu2 ada acara, mungkin besok saya lanjutkan)
zeaww said,
January 24, 2009 at 8:34 am
woi wijen,,
tampakny anda adalah salah satu dari sekian orang apatis yang dulu ga ikut oskm lalu coba2 meng-eksis-kan diri lewat artikel kontroversial..ah,coba anda post ini di rileks dan milis2 himpunan…pasti anda akan lebih terkenal dari shana,dan menang pemilu KM-ITB 2010..
yesalover said,
January 24, 2009 at 10:34 am
atas permintaan sahabat yang mengatasnamakan kaum pecinta morgasme…saya menerima ajakannya untuk sedikit bermain2, dan tidak kelewat serius…so let’s play the game dude…Pertama, saya sudah memblok komentar2 yang tidak berbobot dan hanya berisi pendiskreditan belaka…Kedua, komentar tidak dapat diposting begitu saja, harus melalui persetujuan saya. Ini sama sekali tidak membatasi teman-teman untuk berargumen, asalkan sesuai dengan topik dan tidak menyimpang ke mana2. Selama ini, saya lihat ada kecenderungan untuk mendiskreditkan saya, termasuk mengatai sama homo, hingga menggunakan ID atas nama saya atau (alm.) Bapak saya. Ketiga, disiplin ini saya terapkan karena ada segelintir golongan (saya sudah tahu IP dan asalnya) dengan menggunakan bermacam2 ID, padahal itu berasal dari IP yang sama. Oknum tersebut, bahkan berasal dari universitas terkemuka. Saya lebih senang menyebut mereka pengecut, yang hanya berani mengatai orang lain tanpa identitas jelas, bahkan ketika saya balik menantang mereka untuk mengajukan tulisan dengan argumen tepat sebagai oposan terhadap tulisan-tulisan saya -sekaligus juga untuk membuktikan jika saya memang bodoh dan merekalah yang pintar-, mereka jelas-jelas tidak merespon. So, siapa yang pengecut ?
Ok, tanggapan saya terhadap komentar teman-teman akan menyusul…
Terima kasih.
yesalover said,
January 24, 2009 at 10:36 am
@zeaww
Sepertinya situ yang apatis…Saya ikut OSKM koq…coba tanya teman situ yang jadi panitianya, liat di daftar pesertanya bung…Saya menulis tidak untuk mencari publicity belaka…lebih kepada luapan pemikiran saya bung…