Pemaknaan Hidup
Akhir-akhir ini saya sedang tidak bahagia. Entahlah, kehidupan saya semenjak kepergian bapak, terasa sangat sulit. Saya semenjak itu, lebih sering menghabiskan waktu dengan merenung, diam, dan meratapi hidup ini. Sempat terpikir di benak saya kala itu, apakah hidup ini jika saya merasa tertekan dan depresi ? Semenjak itu pula, saya merasa, hidup ini tak punya makna, hingga suatu waktu, saya bertemu dengannya. Dia tuhan bagi saya. Melebihi Yesus. Dia tuhan bukan karena dia maha kuasa. Dia bahkan tidak pernah melakukan apa-apa. Tetapi, dia membuat saya sadar, jika hidup ini meaningful dan penuh warna. Entahlah, saat itu, semenjak dia ada, saya merasa sangat “hidup”. Tidak pernah terpikir di benak saya kalau hidup itu membosankan, toh saya juga tidak pernah merasa khawatir mengenai kuliah saya. Tapi itu hanya berlangsung singkat, taklebih dari 4 bulan. Setelah itu, dia mati dan disalib, seperti Yesus. Dia disalib pada kayu kemunafikan dan kebohongan. Saat itu, saya merasa tertekan lagi. Sempat saya gontai dan tidak punya pegangan. Saya merasa sendiri, nobody there. Itu merupakan momen paling desperate dalam hidup saya. Setiap malam, saya selalu disibukkan oleh pikiran-pikiran yang mempertanyakan kembali, apa makna hidup itu, apa itu kebahagiaan, dan apa itu manusia ? Saking sibuknya dengan perenungan-perenungan sederhana saya, saya seringkali lupa tidur. Begitulah rutinitas saya sekitar 1 tahun lalu. Berangkat pagi untuk datang kuliah, di dalam kelas hanya merenung, tidak pernah terpikirkan untuk memperbaiki IP saya, lha gimana mau memperbaiki IP, jika saat itu, saya tidak mengerti kenapa saya harus kuliah. Saya seringkali saat itu berada di kampus hingga malam, mencari tempat sepi, lalu surfing sendirian sembari mengisi lembar-lembar blog dengan puisi kesendirian. Kuliah saya berantakan, bahkan hingga sekarang. Saya tidak peduli, apakah besok ujian atau tidak (bahkan saat ini saya tidak ikut UTS Sinyal&Sistem). Read the rest of this entry »
Transcript of Barrack Obama’s Speech (From CNN)
————————————————————————————–
Hello, Chicago.
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and four hours, many for the first time in their lives, because they believed that this time must be different, that their voices could be that difference.
It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled. Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states.
We are, and always will be, the United States of America.
It’s the answer that led those who’ve been told for so long by so many to be cynical and fearful and doubtful about what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day.
Watch Obama’s speech in its entirety »
Pidato McCain (Transcript of McCain’s Speech); Sebuah Pembelajaran (Lagi) Bagi Indonesia
Berikut ini, saya kutip pidato dari Senator McCain, sesaat setelah ia dipastikan kalah. Pidato ini saya ambil dari situs CNN.
————————————————————————————-
McCain: Thank you. Thank you, my friends. Thank you for coming here on this beautiful Arizona evening.
My friends, we have — we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.
A little while ago, I had the honor of calling Sen. Barack Obama to congratulate him.
To congratulate him on being elected the next president of the country that we both love.
In a contest as long and difficult as this campaign has been, his success alone commands my respect for his ability and perseverance. But that he managed to do so by inspiring the hopes of so many millions of Americans who had once wrongly believed that they had little at stake or little influence in the election of an American president is something I deeply admire and commend him for achieving.
This is an historic election, and I recognize the special significance it has for African-Americans and for the special pride that must be theirs tonight.
I’ve always believed that America offers opportunities to all who have the industry and will to seize it. Sen. Obama believes that, too.
But we both recognize that, though we have come a long way from the old injustices that once stained our nation’s reputation and denied some Americans the full blessings of American citizenship, the memory of them still had the power to wound.
A century ago, President Theodore Roosevelt’s invitation of Booker T. Washington to dine at the White House was taken as an outrage in many quarters.
America today is a world away from the cruel and frightful bigotry of that time. There is no better evidence of this than the election of an African-American to the presidency of the United States. Read the rest of this entry »
Kemenangan Obama dan Pembelajaran Bagi Indonesia
Obama, hari ini sudah dapat dipastikan menang. Hasil terakhir dari Electoral Vote menyatakan jika Barrack Hussein Obama telah berhasil mengantongi 338 suara. Ini sangat mengejutkan, saya rasa, karena jumlah ini berbeda jauh dengan yang diperoleh oleh McCain, yaitu hanya 160 suara. Sangat menarik memang pesta demokrasi yang diselenggarakan oleh Negara yang mengagungkan kedemokratisan ini. Wajar saja, jika seluruh dunia mau tidak mau tersedot perhatiannya oleh ajang pemilihan presiden 4 tahunan ini. Ada hal yang saya soroti dari proses kampanye lalu hingga proses pemilihan tadi berlangsung. Dan hal-hal tersebut saya kira dapat menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi kehidupan demokrasi di Indonesia, apalagi, sebentar lagi Indonesia juga akan mengadakan pesta serupa. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu digarisbawahi.
- Masa kampanye yang sangat fair. Ya, seperti yang telah kita saksikan belakangan ini, kampanye dua kandidat presiden AS berjalan sangat fair. Walaupun sering terjadi perang karakter, toh tetap saja mereka berdua melakukan kampanye, maupun debat dengan kepala dingin. Tidak ada teriakan-teriakan penuh emosi seperti debat-debat yang sering kita lihat di TV One. Tidak ada keengganan untuk saling memuji lawan mereka (Obama dan Mccain tidak melulu selalu melecehkan lawannya saja). Hal ini saya lihat tidak terjadi di Indonesia. Alih-alih untuk memuji, para politis lebih suka untuk saling mencari-mencari kesalahan lawan politiknya, layaknya seorang farisi, bahkan terkadang, kesalahan-kesalahan tersebut terlalu dibuat-buat dan tidak relevan lagi. Kita dapat melihat, akhir dari masa kampanye ditutup dengan melakukan “silahturahmi” antar dua kandidat itu. Kita juga sempat menyaksikan, ketika Obama dan McCain saling melempar pujian dan jokes dalam acara tersebut. Seingat saya, sejak saya lahir hingga sekarang, politikus Indonesia tidak pernah melakukan hal ini.
- Peran serta sukarelawan yang besar. Nah, ini adalah hal yang paling mencolok pada pemilu AS ini. Pemilu ini melibatkan banyak sekali sukarelawan dari berbagai golongan, ada yang mahasiswa, ibu rumah tangga, employee, hingga bos-bos perusahaan. Mereka dengan sukarela membantu keberlangsungan pesta ini, ini dapat terlihat dari election-election centre di tiap negara bagian, hingga maraknya lembaga-lembaga counter di sana. Berbeda dengan Indonesia, yang katanya menganut paham gotong royong, nyaris tidak ada sukarelawan yang dengan sepenuh hati mau membantu keberlangsungan pesta demokrasi semacam ini. Orang Indonesia mau membantu, asalkan dapat kaos, sembako, dan tentu saja, fresh money. Read the rest of this entry »














