Sonet Untuk Yesa II
Aku takmau tenggelam pada
rembulan
Terombang-ambing oleh angin malam
Yang menyapa pasangan dalam peraduan
Menyambut datangnya sang kalam
Aku takingin lepas bebas ditelan sepi,
Hanyut akan liur binatang-binatang jalang
Mencoba menggerogoti sisa-sisa cinta ini
Yang masih tersisa dari ladang gersang
Aku taksanggup lama-lama berendam
Pasrah
pada lumpur yang menghisap habis
Tiap jengkal jejak-jejak asa; terpojok diam
Menanti tali surga mengecup sang gadis
Aku takmau, takingin, taksanggup jika harus
Meretas pagi, menjemput senja tanpa mimpi
~Vera, Yesa, sama
saja suatu yang menyesakkan dada~
Powered by ScribeFire.
Sonet Untuk Yesa I
Matamu berbinar merah
sangat marah
mungkin lebih malah
kaubuat ku terluka berdarah
Lemah, akupun susut
berharap ajal ‘kan surut
Menghela nyawa yang tercabut
Sisih dalam padatnya kabut
Aku yakin telah lenyap tiada
Menapaki lantai-lantai surga
Menyapa dia, sang mahakuasa
Yang menyepuh penat jiwa
Dengan seribu bahasa nirwana
Lalu kataku, “kau tuhanku, Yesa !”
~Broken Hearted, 18
Septermber 2007~
~Yesa, sudahkah aku
beribadah padamu ?~
Powered by ScribeFire.
Untuk Yesa II
Kutenun kabut,
yang aku cabut
bersama dingin
dan tiup angin
Aku ‘kan serahkan
semua kenangan
dan kurelakan
dirimu tuk setan
Powered by ScribeFire.
Untuk Yesa
Mengerjap kerlip bintang, lamunkan angan kenangan yg bermuara akan
kekaguman sosok ayu yang bersembunyi di balik tirai lugu. Ketika itu,
kalbu menderai sepi, sembari memasung satu hati. Luluh dalam sorot
mentari dan janji terpatri, menggulung seribu mimpi bersanding mesra
pada memori senja. Hanya sekali aku bersua, tuk menggenggam jiwa.
~Yesa, aku masih ingin menggenggam jiwa~
Powered by ScribeFire.
Sonet Untuknya
Katamu aku buta tak punya mata
toh aku tak merasa redup
atau bahkan gelap gulita
toh kutetap mendengar angin sayup
Katamu aku tuli, takdapat mendengar
Tidak, aku dapat menyimak setiap
dengkur kuncup yang mekar
dari jiwa lelah dan tertidur lelap
Aku selalu diam, pasrah, dan hening
saat kau perkosa kuncup itu
di balik bilik dan dinding
Ketika aku melihat, mendengar
kamu melengos penuh nafsu
aku mengerti dan akhirnya sadar !
~Siapa yang buta, siapa yang tuli, hanya hati yang mengerti~
Powered by ScribeFire.
Memoar Aku
menatap nirwana
mengurai warna dunia
bergelut melawan duka
Aku…
melawan waktu
mengangkangi nafsu
mencari dia satu
Aku…
tertatih letih
menyisir butir kasih
walau trus tersisih
Aku…
diam, kelu, teronggok
sampah yang terpojok
hina penuh borok
Aku..
menanti tiap luka
menjadi bara
tuk kembali padanya
~Broken Hearted, 10 September 2007~
~Sajak untuk jelitaku kelak~
Powered by ScribeFire.
Indonesiaku
kutertawa mendengar itu
Kudengar mereka berteriak;
‘Indonesia’, aku pun terisak!
Lucu, saat kata bangga
melantun di mulut mereka
apa kata dunia?
bangga akan apa?
Lihat, bocah lapar dahaga
mereka tidak butuh retorika
apa kita bangga?
Pengemis itu tertawa bung!
Ketika koruptor merajalela
dan kita ? diam takberdaya
Apa kita bangga?
basuh mulutmu dengan utopia,
yang penuh luka menganga
Indonesia tidak perlu retorika,
atau simbol belaka
Indonesia perlu aksi nyata
bukanlah arogansi swasta !!!
~Arogansi swasta, kebodohan nyata Indonesia~
Powered by ScribeFire.
Sang Dara
Senyummu…
membuatku kaku
diam lesu
Tatap sayu
menjadikanku bisu,
diam kelu
Inikah cinta itu ?
atau hanya nafsu,
atas tubuh mungilmu
Melambai dan mengalir
jatuh dan tertunduk
mengurai ulir
pasrah bak anjing buduk
Terhenti nalar
rapuh pula pikir
Diam dan nanar
menerka takdir
Powered by ScribeFire.
Dedicated 4 Her
kutoreh sejenak penat,
luka yang merupa
Seiring dengan tangis para perawan
kulepas segala harapan
yang berdiam;teronggok kelam
Lamunan terhenyak reda
tatkala ia berlari cepat
menyepuh beranda luka
~Bandung, 8 September 2007~
~Relung hati dengan luka pasti~
Powered by ScribeFire.














